Pertimbangan sebelum pamer

Di tengah era materialisme yang semakin mendominasi, penting bagi kita untuk menjaga perasaan sesama dan mengedepankan kepedulian terhadap orang lain. Agama Islam mengajarkan kita tentang kebersamaan, persaudaraan, dan kepedulian. Namun, di zaman yang serba glamor ini, banyak individu tidak menyadari betapa pentingnya menjaga perasaan orang lain dan malah memamerkan semua pencapaian mereka, baik harta maupun prestasi. Dalam konteks psikologi, hal ini dapat dijelaskan dengan konsep “social comparison” atau perbandingan sosial yang dikemukakan oleh Leon Festinger pada tahun 1954.

Sebagai contoh, membangun rumah mewah di tengah pemukiman kumuh menunjukkan kurangnya kepekaan dan empati terhadap kondisi masyarakat sekitar. Aksi seperti ini dapat menciptakan perasaan iri dan ketidakadilan sosial. Dalam filsafat, Aristoteles pernah menegaskan bahwa kebahagiaan terletak pada praktik kebajikan dan keadilan. Bukankah lebih mulia jika kita menggunakan harta yang kita miliki untuk membantu meningkatkan kualitas hidup mereka yang membutuhkan? Hal ini sesuai dengan konsep utilitarianisme yang dikemukakan oleh Jeremy Bentham dan John Stuart Mill, yang menyatakan bahwa tindakan terbaik adalah tindakan yang menghasilkan kebahagiaan terbesar bagi jumlah orang terbesar.

Kita harus ingat bahwa kekayaan materi dan memiliki prestasi tidak selalu menjamin kebahagiaan. Sebaliknya, kebahagiaan sejati datang dari kepuasan batin ketika kita mampu berbagi dan membantu orang lain. Dalam psikologi, konsep ini dikenal sebagai “eudaimonic well-being,” yang menekankan pentingnya makna dan tujuan dalam hidup.

Pamer prestasi dapat memotivasi orang lain untuk berusaha lebih keras dan mencapai kesuksesan serupa. Namun, perlu diingat untuk melakukannya dengan cara yang bijaksana dan tidak menyakiti perasaan orang lain. Jaga sikap rendah hati, bersyukur atas pencapaian yang kita peroleh, dan berbagi kisah sukses serta strategi yang membantu kita mencapai prestasi tersebut. Filsafat stoik, yang dicetuskan oleh Epictetus dan Marcus Aurelius, mengajarkan kita untuk fokus pada hal-hal yang dapat kita kendalikan dan menjalani hidup dengan integritas serta kebijaksanaan.

Mari kita fokus pada pencapaian pribadi, memperkaya diri kita sendiri secara materi dan non-materi, serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Dalam psikologi, teori kebutuhan Abraham Maslow menjelaskan pentingnya aktualisasi diri, yang merupakan pencapaian tertinggi dari potensi individu. Dengan mengedepankan kepedulian, empati, dan sikap rendah hati, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dan inklusif, serta meningkatkan kualitas hidup bagi diri kita dan orang lain.

Published by

Hadi Nur

This blog is primarily written for my own purposes, and there has never been any claim that it is an original work.