Tak dapat dipungkiri bahwa saat ini kita membutuhkan banyak ulama yang mencerahkan. Saya melihat masih banyak orang yang dianggap ulama, tetapi tidak mencerahkan. Mengapa kita memerlukan ulama yang mencerahkan? Sebab ulama yang mencerahkan tidak hanya mengajak kita untuk taat terhadap perintah agama, tetapi lebih dari itu, ia mendorong kita untuk mempertanyakan manfaat dari perintah tersebut. Dengan kata lain, ulama yang mencerahkan menegaskan bahwa selama sesuatu itu bermanfaat, maka kita patut melakukannya. Namun, jika tidak bermanfaat, maka kita berhak untuk mempertanyakan dan mencari tahu alasan di balik perintah tersebut.
Lebih menarik lagi, ulama yang mencerahkan memiliki gaya berceramah yang serius dan penuh makna. Mereka tidak hanya menakut-nakuti dengan konsep surga dan neraka, tetapi justru mengajak kita untuk memahami konsep tersebut dengan baik. Dalam pandangan mereka, surga dan neraka bukanlah tujuan akhir dari agama, tetapi hanya sebatas konsep yang harus dipahami dan diterapkan untuk kebaikan manusia.
Tentunya, pemikiran kritis yang diusung oleh ulama yang mencerahkan tidaklah mudah diterapkan. Namun, jika kita mampu mengikuti jejak mereka, maka kita akan menjadi pribadi yang lebih berkualitas dan mampu berpikir secara mandiri. Dalam konteks keagamaan, kita tidak hanya dihadapkan pada perintah yang harus dijalankan, tetapi juga harus mampu memahami dan menerapkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Kita membutuhkan lebih banyak ulama yang mencerahkan yang mampu mengajak kita untuk berpikir kritis, menggugah nurani, serta memperkuat nilai-nilai agama yang sebenarnya. Tanpa pemikiran kritis, kehidupan kita akan terjebak pada monoton dan terhambat dalam mencapai kemajuan peradaban yang lebih baik.