Ir. Tubagus Furqon Sofhani, M.A., Ph.D.
Institut Teknologi Bandung
Belajar dari “buku” diri sendiri
Tafakur, yang berasal dari bahasa Arab, adalah sebuah istilah yang merujuk pada refleksi mendalam dan introspeksi tentang kehidupan, keberadaan, dan nilai-nilai spiritual. Dalam Islam, tafakur sering diasosiasikan dengan ibadah, karena dianggap sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui refleksi atas ciptaan-Nya dan pengenalan terhadap diri sendiri sebagai makhluk-Nya.
Melalui tafakur, kita dapat memperoleh wawasan yang lebih dalam tentang diri kita sendiri dan keberadaan kita dalam alam semesta yang luas. Hal ini dapat membantu kita memahami tujuan hidup kita, menemukan kekuatan batin yang lebih besar, dan mencapai kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup.
Manusia itu microkosmos adalah sebuah ide yang berasal dari pemikiran para filosof dan ahli metafisika kuno. Mereka memandang bahwa manusia sebagai refleksi dari seluruh dunia. Dalam pandangan ini, manusia memiliki berbagai elemen dan aspek yang mirip dengan elemen dan aspek yang ada di alam semesta. Sebagai contoh, manusia memiliki emosi dan pikiran yang merupakan refleksi dari keadaan bumi, seperti ketenangan dan kerusuhan. Manusia juga memiliki energi dan kekuatan yang sama dengan kekuatan alam semesta, seperti gravitasi dan elektromagnetisme.
Kemudian, di sisi lain, kita juga bisa memandang diri kita sebagai sebuah kitab selain Al Quran dan Hadis. Kita memiliki sejarah hidup, pengalaman, pemikiran, dan nilai-nilai yang membentuk identitas kita. Kita perlu belajar dari pengaman hidup kita. Semua itu adalah kekayaan dan harta yang bisa kita gunakan untuk menuntun diri kita menuju kebaikan dan keberhasilan. Namun, tentu saja, kita harus tetap mengambil nilai-nilai Al Quran dan Hadis sebagai pedoman utama dalam hidup.
Kesombongan
Ajaran agama Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu berasal dari kehendak Allah SWT dan segala kemampuan yang dimiliki manusia juga berasal dari-Nya. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Kahfi ayat 39, “Dan mengapa kamu tidak mengatakan, ketika kamu masuk ke dalam kebunmu, ‘Masya Allah, laa quwwata illa billah’ (Maha Suci Allah, tidak ada kekuatan selain dari Allah).”
Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan manusia yang luar biasa hanya mungkin terjadi karena rahmat Allah SWT dan bukan semata-mata hasil usaha dan kecerdasan manusia itu sendiri. Oleh karena itu, manusia seharusnya tidak sombong dan merasa bahwa segala pencapaian yang ia raih adalah hasil dari kemampuannya sendiri. Sombong merupakan perilaku yang diharamkan dalam Islam karena bertentangan dengan sifat rendah hati yang dianjurkan dalam ajaran agama.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT juga mengingatkan manusia agar tidak sombong dan merendahkan diri di hadapan-Nya. Firman-Nya dalam Surat Al-Hadid ayat 23, “Agar kamu jangan merasa putus asa terhadap apa yang luput dari kamu dan jangan (pula) merasa terlalu sombong terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.”
Oleh karena itu, sebagai umat manusia yang beriman, kita harus selalu mengembangkan rasa rendah hati dan bersyukur atas segala kemampuan yang diberikan oleh Allah SWT. Dengan cara ini, kita dapat menjaga diri dari perilaku sombong dan merendahkan diri di hadapan-Nya.
Self-control
Ramadan, sebagai bulan suci dalam agama Islam, merupakan waktu yang sangat baik untuk melatih self control atau kendali diri. Dalam bulan ini, kita diajarkan untuk menahan diri dari makan, minum, dan aktivitas lainnya selama waktu yang ditentukan. Dengan demikian, kita dapat memperkuat kemampuan untuk mengendalikan diri dan menumbuhkan rasa disiplin dalam hidup kita. Selain itu, Ramadan juga merupakan waktu untuk introspeksi, membaca Al Quran dan Hadis, serta melakukan amal kebaikan. Hal-hal tersebut dapat membantu kita untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Mendekati diri kepada Al Quran
Ide ini mengajarkan kita untuk memposisikan diri kita dalam situasi dan peran yang dijelaskan dalam Al Quran ketika membaca dan mempelajarinya. Ini bertujuan untuk membantu kita lebih memahami dan merasakan pesan-pesan yang terkandung dalam Al Quran.
Dalam contoh yang diberikan, ketika membaca tentang orang kafir, kita diminta untuk memposisikan diri sebagai orang kafir. Hal ini akan membantu kita merasakan dan memahami bagaimana perasaan dan pikiran orang kafir yang dijelaskan dalam Al Quran, serta memberikan sudut pandang yang lebih luas dan mendalam dalam memahami makna ayat-ayat tersebut.
Dengan memposisikan diri kita dalam peran yang dijelaskan dalam Al Quran, kita dapat belajar lebih banyak tentang kebijaksanaan dan ajaran yang terkandung di dalamnya. Kita akan lebih terbuka terhadap pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh Allah SWT melalui Al Quran.
Namun, penting untuk diingat bahwa ketika memposisikan diri kita dalam peran tertentu dalam Al Quran, kita harus tetap menjaga akhlak dan memperlakukan semua orang dengan hormat dan adil, terlepas dari peran yang kita mainkan dalam pembacaan Al Quran. Kita harus selalu memahami bahwa Al Quran adalah kitab suci yang memberikan nilai-nilai moral dan etika yang tinggi, dan kita harus berusaha untuk mengambil manfaat dari pesan-pesan yang terkandung di dalamnya dengan penuh rasa hormat dan kesadaran.
Ringkasan
- Tafakur merupakan refleksi mendalam dan introspeksi tentang kehidupan, keberadaan, dan nilai-nilai spiritual untuk memperoleh wawasan yang lebih dalam tentang diri sendiri dan keberadaan kita dalam alam semesta yang luas.
- Manusia dipandang sebagai refleksi dari seluruh dunia, memiliki berbagai elemen dan aspek yang mirip dengan elemen dan aspek yang ada di alam semesta.
- Kita bisa memandang diri kita sebagai sebuah kitab selain Al Quran dan Hadis dengan sejarah hidup, pengalaman, pemikiran, dan nilai-nilai yang membentuk identitas kita.
- Kesombongan dapat muncul karena kemampuan manusia yang luar biasa, sehingga penting untuk selalu bersyukur dan mengembangkan rasa rendah hati.
- Ramadan merupakan waktu yang baik untuk melatih self-control atau kendali diri, yang dapat memperkuat kemampuan untuk mengendalikan diri dan menumbuhkan rasa disiplin dalam hidup kita.
- Mendekati diri kepada Al Quran dengan memposisikan diri dalam situasi dan peran yang dijelaskan dalam Al Quran ketika membaca dan mempelajarinya dapat membantu kita lebih memahami dan merasakan pesan-pesan yang terkandung dalam Al Quran. Namun, kita harus tetap menjaga akhlak dan memperlakukan semua orang dengan hormat dan adil.