Mengapa mereka mengkritik negara asalnya?

Setelah hampir 27 tahun tinggal di luar negeri, akhirnya kerinduan saya untuk pulang pulang ke tanah air dikabulkan oleh Allah SWT. Kini saya sudah tinggal di negara sendiri, tepatnya di Malang sebagai profesor di Universitas Negeri Malang (UM). Namun, ada beberapa teman saya yang memilih tetap untuk tinggal di luar negeri dan pindah warga negara yang tampaknya selalu sinis dan terus mengkritik negara kelahiran mereka. Mereka sepertinya tidak pernah melihat sisi positif dari pembangunan yang terjadi di negara asal mereka.

Mengapa ini terjadi? Ada beberapa alasan mengapa seseorang bisa mengkritik negara asalnya secara berlebihan setelah pindah ke negara lain. Dari perspektif filosofis, relativisme budaya adalah jawabannya. Ada pandangan bahwa tidak ada budaya yang lebih superior atau lebih baik daripada budaya lainnya, dan setiap budaya memiliki hak yang sama untuk dihargai. Dalam konteks ini, individu yang pindah ke negara baru mungkin merasa bahwa budaya atau nilai-nilai negara baru mereka lebih unggul dibandingkan dengan negara asal mereka, sehingga mereka merasa lebih terikat dengan negara baru dan menolak negara asal mereka.

Alasan kedua adalah eksistensialisme, dimana menurut pandangan ini, manusia harus menciptakan makna dalam hidup mereka sendiri. Dalam konteks ini, seseorang yang pindah ke negara baru mungkin merasa perlu menciptakan identitas baru untuk diri mereka sendiri dan mengembangkan makna kehidupan mereka sendiri, yang melibatkan penolakan terhadap asal-usul mereka.

Sementara nihilisme adalah pandangan bahwa tidak ada yang memiliki nilai intrinsik. Individu yang mengalami nihilisme mungkin merasa bahwa tidak ada yang memiliki nilai intrinsik, termasuk negara atau budaya mereka sendiri, sehingga mereka tidak merasa terikat atau memiliki rasa cinta kepada tanah air mereka.

Dari perspektif psikologis, mekanisme pertahanan diri adalah penjelasan terhadap fenomena ini. Ini adalah upaya individu untuk mengurangi perasaan tidak aman atau ketidakberdayaan yang mereka alami dalam situasi yang sulit. Mengkritik negara asal mungkin menjadi cara untuk melindungi diri dari perasaan tidak aman atau ketidakberdayaan yang mereka alami saat beradaptasi dengan negara baru. Sementara itu, kompensasi adalah upaya untuk mengkompensasi perasaan tidak memiliki identitas atau rasa tidak memiliki dalam diri mereka dengan menolak negara asal dan mengidentifikasi diri dengan negara baru.

Dari sudut pandang lain, hal ini adalah mekanisme untuk mempertahankan diri, dengan apa yang disebut sebagai proyeksi. Proyeksi adalah mekanisme pertahanan psikologis di mana individu memproyeksikan perasaan negatif yang mereka miliki terhadap diri mereka sendiri atau situasi pribadi mereka ke negara asal, sebagai cara untuk mengatasi perasaan tersebut. Sedangkan, pencarian identitas terutama terjadi pada generasi muda, yang merasa perlu mengekspresikan kritik terhadap negara asal untuk menegaskan identitas baru mereka.

Dalam rangka untuk lebih memahami dan mendukung individu yang mengalami perasaan seperti ini, penting untuk mengembangkan empati dan berusaha memahami alasan di balik perasaan dan tindakan mereka. Kita juga harus menciptakan lingkungan yang inklusif dan toleran, sehingga individu merasa diterima dan dapat mengembangkan identitas mereka dengan cara yang sehat dan positif.

Published by

Hadi Nur

This blog is primarily written for my own purposes, and there has never been any claim that it is an original work.