Menulis makalah ilmiah dari penjara

Penulis paper di atas adalah Valéry Fabrikant, seorang profesor di bidang teknik mekanik yang mengalami penolakan untuk di-promosikan sebagai tenured professor di Concordia University, Montreal, Kanada. Fabrikant mulai mengalami masalah kesehatan dan kejiwaan setelah dinyatakan tidak lulus menjadi tenured professor. Dia merasa bahwa penolakan tersebut adalah sebuah konspirasi dan tindakan tidak adil, dan mulai mengajukan tuntutan hukum yang banyak dan kurang beralasan di pengadilan.

Pada tanggal 24 Agustus 1992, dia membunuh empat koleganya di kampus universitas, dan melukai seorang sekretaris, menggunakan senjata api yang dia beli dengan izin terbatas. Fabrikant akhirnya dihukum penjara seumur hidup karena pembunuhan tersebut.

Fabrikant bekerja di bidang teori elastisitas, sebuah bidang antara matematika terapan dan teknik mesin, dan profilnya di Google Scholar memberikan hasil penelitiannya. Namun, sifatnya yang sulit membuat persidangan menjadi sirkus sejati: ia memecat sepuluh pengacara, akhirnya membela dirinya sendiri, menghina ahli dan hakim. Setelah dipenjara, ia terus melakukan protes, bahkan dinyatakan sebagai querulante (“vexatious litigant”) oleh Pengadilan Banding Federal, yang membatasi kemampuannya untuk mengajukan tuntutan hukum. Selain itu, ia juga tidak diizinkan untuk keluar sementara dari penjara, bahkan tidak dengan pengawalan.

Karena tragedi di Concordia, universitas membentuk dua komite untuk menyelidiki kejadian tersebut. Investigasi pertama dipimpin oleh John Scott Cowan (Universitas Ottawa), dan laporannya dikenal sebagai “Lessons from the Fabrikant Files” atau “Cowan Report”. Yang kedua dipimpin oleh Harry A. Arthurs (Universitas York), dan laporannya dikenal sebagai “Integrity in Scholarship” atau “Arthurs Report”.

Tujuan dari kedua laporan ini adalah untuk menyelidiki kejadian tersebut, melihat sejarah akademik Fabrikant, dan menganalisis tuduhan yang diajukan oleh Fabrikant terhadap rekan-rekannya. Konsekuensi dari kasus ini adalah analisis kebijakan internal dan prosedur terkait etika penelitian, dan dilakukan inisiatif untuk meningkatkan hal-hal ini. Universitas Concordia juga bergabung dalam perjuangan untuk mengendalikan senjata di lingkungan universitas.

Kisah Fabrikant memberikan pelajaran tentang etika akademik yang harus dijunjung tinggi di setiap pusat penelitian. Otoritas akademik harus waspada agar masalah yang muncul tidak menjadi neraka bagi individu dan lingkungan sekitarnya. Universitas dan organisasi sering memiliki Kode Etik dan Komite Etik yang memastikan kepatuhan terhadap kode-kode tersebut. Kita harus memperhatikan hal ini agar tidak menyesal di kemudian hari, seperti yang terjadi pada kasus Valery Fabrikant.

Catatan

Sebagai catatan, saya pernah mengalami kejadian berhadapan dengan seseorang yang menyerupai Valéry Fabrikant di Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Kejadian ini terjadi ketika orang tersebut gagal naik pangkat, merasa kecewa dan cemburu dengan orang-orang di sekitarnya, termasuk saya. Dia menyerang saya secara pribadi dan universitas dengan cerita-cerita yang seolah-olah benar, padahal tidak terbukti terjadi. Akibatnya, saya mengalami fitnah yang merugikan. Pengalaman ini sangat buruk dan berharga bagi saya selama saya bekerja sebagai dosen di UTM.

Published by

Hadi Nur

This blog is primarily written for my own purposes, and there has never been any claim that it is an original work.