Akidah, ibadah dan muamalah

Akhir-akhir ini kita melihat cara berpikir yang membingungkan tentang prinsip-prinsip yang harus dipatuhi dalam memandang kehidupan beragama, sosial, politik, dan bernegara. Orang seringkali tidak bisa mengkategorikan dan mencampuradukkan prinsip-prinsip keimanan dalam beragama dan prinsip-prinsip bernegara. Hal ini menyebabkan kerancuan dalam cara berpikir.

Dalam Islam terdapat tiga ruang dengan prinsip yang berbeda, yaitu ruang akidah, ruang ritual peribadatan, dan ruang muamalah. Ruang akidah pada prinsipnya tidak boleh dikreasikan seperti rukun Iman dan Islam karena ini adalah pokok-pokok keyakinan. Kedua, ruang ibadah seperti shalat dan haji yang sama dengan akidah, juga tidak bisa dikreasikan. Ruang ketiga adalah ruang muamalah. Ruang muamalah merupakan ruang yang dapat dikreasikan, seperti ruang sosial, budaya, politik, dan ekonomi. Ruang muamalah pada prinsipnya berbeda dengan ruang akidah dan ruang ritual peribadatan. Prinsip ruang muamalah adalah ibadah ijtihad yang membutuhkan kreativitas dan inovasi. Oleh karena itu Islam tidak pernah menentukan sistem ekonomi dan politik. Kita berhak berkreativitas dalam ruang muamalah.

Namun, sistem ekonomi dan politik ini perlu mengikuti prinsip-prinsip yang sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi dan pemerintahan Islam. Kita dipersilakan untuk berkreasi sesuai tuntutan zaman dan kondisi kita. Kita bisa berijtihad bersama-sama dan sepakat untuk menentukan dasar negara kita. Kita telah memutuskan bahwa Indonesia harus berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Kita dapat melihat bahwa kesepakatan ini adalah islami atau tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.

Print Friendly, PDF & Email

Published by

Hadi Nur

This blog is mainly written for my own purposes. There has never been any claim that this is an original work.