Kangen Indonesia

Orang Jepang saja kangen, apalagi saya. Ada satu perkataaan yang sesuai untuk ini, yaitu “nostalgia”. Perkataan nostalgia yang berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu nóstos yang artinya “pulang ke rumah” dan álgos yang artinya “sakit”, adalah menggambarkan bahwa keinginan untuk pulang itu adalah untuk mengobati rasa kangen.

Di bawah ini adalah beberapa paragraf dari prolog buku menarik yang dikarang oleh Hisanori Kato yang berjudul “Kangen Indonesia: Indonesia di mata orang Jepang”, yang tinggal di Indonesia selama beberapa tahun. Sangat membuka mata mengenai nilai-nilai kemanusiaan. Saya tersenyum membacanya.

Sewaktu bekerja di Jakarta International School dari tahun 1991 sampai tahun 1994, kehidupan di Jakarta terasa menyiksa batin saya. Hari-hari yang saya lalui jauh berbeda dengan kehidupan sewaktu di Jepang dan Amerika. Tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan pergaulan terbatas hanya dengan kolega orang Eropa dan Amerika di sekolah. Saya merasa hari-hari berlalu begitu hampa. Meskipun jaraknya dekat jika dibandingkan dengan Amerika dan secara geografis memiliki kesamaan dengan negara Asia yang lain, Indonesia betul-betul "luar negeri bagi saya. Pada tahun 1991, McDonald hanya ada satu di pusat kota Jakarta. 

Di masa-masa ketika mengajar di International School, saya yang tidak bisa berbicara bahasa Indonesia dengan baik ini, bagi orang Indonesia mungkin hanya dianggap sebagai "orang asing yang kaya". Meski saya berkeinginan membiasakan diri dengan Indonesia, ingin tahu tentang Indonesia, tetapi hanyalah kesusahan yang saya temui. Di bus yang hampir tidak pernah digunakan orang asing, entah berapa kali dompet saya dicuri. Saya bahkan pernah ditodong dengan pisau, uang serta jam tangan saya diambil. Pernah juga uang saya dicuri oleh pembantu di rumah. Setiap kali saya mengalami peristiwa seperti itu, pikiran saya untuk meninggalkan negeri ini pun memenuhi benak saya.

Suatu ketika saya naik bus di Jakarta, tanpa diduga-duga ada pengamen yang "mengalunkan" lagu. Sehabis menyanyikan lagu, mereka meminta uang kepada penumpang, lalu turun tanpa membayar ongkos bus. Melihat hal itu, langsung terlintas di benak saya, "Saya mau balas dendam pada Indonesia, saya mau mengambil kembali uang saya yang dicuri dan dengan menjadi pengamen".

Saya memutuskan mengajak teman sesama Jepang yang bisa bermain gitar, lalu membentuk duo dadakan yang saya namakan "The Selamat". Lalu saya mengamen di bus kota jurusan Blok M-Kota, Kalau tidak salah itu terjadi pada bulan April tahun 1994. Dengan bahasa Indonesia yang pas-pasan, kami mulai beraksi di bus yang bergoyang-goyang. Ketika saya berteriak "kami datang dari Jepang, silakan dengarkan lagu-lagu kami", semua penumpang serentak mendongakkan kepala mereka dan tampak terkejut melihat penampilan The Selamat.

Ketika dentingan gitar mengiringi saya bernyanyi orang-orang Indonesia mulai bertepuk tangan. Kelihatannya mereka semua senang, tetapi di antaranya ada juga yang menahan tawa. Selesai menyanyikan tiga buah lagu, seketika saya membuka topi lalu saya berkeliling ke semua penumpang untuk meminta uang dan hampir semua penumpang memberi saya uang. Ada juga yang memberi seribu dan lima ratus ruplah. Padahal ongkos bus waktu itu tiga ratus rupiah. Sejak saat itulah perasaan saya terhadap Indonesia mulai berubah. Merekalah yang mengubahnya, para penumpang bus yang menerima pengamen asing yans tiba-tiba muncul di dalan bus. Balas dendam saya terhadap Indonesia menjadi "anugerah" besar yang mengubah pandangan saya terhadap Indonesia dan orang Indonesia.

Di zaman sekarang ini, istilah internasionalisasi begitu disanjung. Pentingnya mempelajari bahasa asing diserukan, dan banyak orang yang mengeluarkan uang untuk belajar di sekolah bahasa asing. Pada umumnya mereka mengartikan bahasa asing adalah bahasa Inggris. Namun tidak hanya terbatas pada bahasa Inggris, dalam "internasionalisasi" bahasa asing sangatlah penting, Kita tidak bisa mengatakan bahwa tidak ada masalah jika tidak mempelajarinya. Tetapi, jauh sebelum istilah itu didengung-dengungkan, para penumpang bus di Jakarta misalnya, mereka bergembira dan mengatakan "menarik" pengamen asing yang jelas-jelas berbeda dengan diri mereka. Bahkan berkeinginan untuk bernyanyi bersama dengan pengamen itu. Hal ini membuat saya berpikir, bukankah itu sesungguhnya langkah awal sebuah "internasionalisasi"? Dalam pengertian tersebut, Indonesia adalah negara yang maju dalam internasionalisasi. Yang saya catat di sini adalah beberapa pengamatan saya yang sangat subjektif pada tentang Indonesia.

Pada bagian epilog, Hisanori Kato meletakkan lirik lagu “Indonesia Pusaka” karya Ismail Marzuki, lagu yang mengingatkan beliau akan Indonesia. Begitu juga untuk saya.

Print Friendly, PDF & Email

Published by

Hadi Nur

This blog is mainly written for my own purposes. There has never been any claim that this is an original work.