Mengapa kita tidak menyukai orang asing?

Saya telah menjadi orang asing di negara orang sejak tahun 1995, dan saya sering merasakan ketidaksukaan orang terhadap warga negara asing, terutama disebabkan oleh rasa iri atau cemburu.

Pada tahun 1992, Samuel Huntington, meramalkan benturan peradaban, konflik antara “kita dan “mereka” atau antara “saya” dan “orang lain.” Istilah “orang lain” adalah menggambarkan cara kita mencoba membangun identitas yang positif kepada diri kita sendiri dalam hubungannya dengan orang lain yang dianggap lebih rendah kedudukannya. Cara berpikir ini didasarkan pada dikotomi: laki-laki ↔ perempuan, manusia ↔ hewan, rasionalitas ↔ emosionalitas, dan kita ↔ orang lain. Dari sudut pandang psikoanalisis, kita harus mendefinisikan “orang lain” untuk mengembangkan diri. Kita membutuhkan orang lain untuk membedakan diri kita dari orang lain tersebut, dan juga untuk menegaskan keberadaan diri. Tanpa keberbedaan, pasti tidak akan ada opini dan juga konflik.

Pola dasar pembedaan antara “kami” dan “orang lain” mengambil berbagai bentuk: etnis (hitam ↔ putih), regional (utara ↔ selatan), nasional (Indonesia ↔ Amerika ), ideologis (liberal ↔ konservatif), agama (Muslim ↔ Kristen), seksual (pria ↔ wanita). Dikotomi yang dirasakan seseorang bukanlah masalah karena ini adalah perbedaan yang nyata. Masalahnya adalah bahwa perbedaan digunakan untuk menghakimi orang lain atau sekelompok orang, misalnya, orang tersebut menghakimi atas keunggulan peradaban satu dari yang lain dan menganggap orang lain tidak beradab. Hal ini juga berlaku ketika melihat orang lain berbeda dari kita, apakah itu lebih unggul atau lebih rendah dari kita. Walaubagaimanapun, sebagai Muslim, kita perlu merujuk kepada Al-Quran surah Al-Hujurat ayat 13:

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS 49:13)

Oleh karena itu, janganlah saling berbangga karena tingginya nasab, kedudukan, dan kekayaan, karena yang dapat dibanggakan adalah ketakwaan. Semoga Allah SWT melindungi kita dari godaan iblis dan gangguan manusia yang mempunyai sifat iblis.

Print Friendly, PDF & Email

Published by

Hadi Nur

This blog is mainly written for my own purposes. There has never been any claim that this is an original work.