Apakah politik bipolar itu baik?

Walaupun pemilihan umum untuk memilih Presiden Republik Indonesia sudah usai sejak beberapa tahun yang lalu, ternyata perseteruan antara pendukung kedua calon presiden masing berlangsung sampai sekarang. Sebutan bagi kelompok pendukung tokoh tertentu menguat di tengah masyarakat. Sinisme dibangun oleh dua kubu. Di media sosial, muncul sebutan bagi pendukung Presiden Joko Widodo, yaitu kecebong. Sementara pendukung tokoh selain Jokowi disebut kampret. Fenomena ini terjadi sejak Jokowi bertarung dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dalam pilpres 2014. Sinisme tersebut berlanjut hingga kini. Terjadilah apa yang disebut sebagai politik bipolar.

Polaritas dalam politik adalah di mana dua atau lebih kekuatan politik saling berhadapan untuk mendapatkan kekuasan. Unipolaritas hanya ada satu kekuatan politik, sedang multipolaritas mempunyai lebih dari dua kekuatan politik. Para ahli berbeda pendapat apakah unipolaritas, bipolaritas atau multipolaritas yang cenderung menghasilkan hasil yang paling stabil dan damai. Oleh karena itu, timbul pertanyaan, apakah politik bipolar di Indonesia saat ini baik?

Di bawah ini adalah beberapa argumen dan fakta mengenai polarisasi politik di Indonesia.

  • Polarisasi tidak hanya dibentuk oleh ideologi, tetapi komitmen kuat terhadap kandidat turut mempengaruhi terbentuknya polarisasi.
  • Dapat meningkatkan partisipasi politik massa.
  • Polarisasi terjadi karena pembelahan membentuk dua kubu dan meningkat sejak Pilkada DKI tahun 2017. Terlihat dengan jelas politik identitas menjadi alat dalam pertarungan ini. Akal sehat dikalahkan oleh emosi.
  • Berbahaya jika menggunakan narasi memecah-belah.

Dua hal terakhir dari argumen dan fakta di atas membahayakan kestabilan politik di Indonesia. Perlu usaha-usaha untuk mengatasinya. Wallahu a’lam bishawab.

Print Friendly, PDF & Email

Published by

Hadi Nur

This blog is mainly written for my own purposes. There has never been any claim that this is an original work.