Kepercayaan dan iman

Sebagai seorang dosen dan peneliti saya selalu berdebat dalam hal-hal yang berhubungan dengan sains. Saya tahu batas dalam berdebat. Saya juga pernah menghentikan perdebatan dengan seorang teman karena sudah masuk dalam masalah keimanan. Saya selalu menolak perdebatan yang berkaitan dengan metafisik, termasuk hal yang berkaitan dengan keyakinan.

Keyakinan adalah keadaan psikologis di mana seseorang menganggap proposisi atau premis adalah benar, dengan atau tanpa bukti untuk proposisi tersebut. Keimanan adalah keyakinan terhadap sesuatu yang belum terbukti. Dalam Islam, keyakinan seorang mukmin adalah aspek metafisik yang disebut sebagai Iman (الإيمان ), yang merupakan penyerahan penuh kepada kehendak Tuhan. Seseorang harus membangun imannya di atas keyakinan yang beralasan tanpa keraguan dan di atas ketidakpastian. Menurut Quran, Iman harus disertai dengan perbuatan benar (QS 6:32). Dalam Hadis Jibril, diterangkan bahwa Islam, Iman, dan Ihsan adalah pilar yang membentuk tiga dimensi agama Islam. Ihsan adalah ibadah tertinggi dan keunggulan dalam melakukan pekerjaan dan interaksi sosial.

Terdapat enam rukun iman dalam Hadis Jibril: “Iman adalah bahwa kamu beriman kepada Allah dan Malaikat-malaikat-Nya dan Kitab-Kitab-Nya dan Rasul-Nya dan Akhirat dan nasib baik dan buruk [ditetapkan oleh Tuhanmu].” Lima yang pertama disebutkan bersama-sama dalam Al-Qur’an (QS 2:285). Al-Qur’an menyatakan bahwa iman dapat tumbuh dengan mengingat Allah (QS 8:2). Al-Qur’an juga menyatakan bahwa tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang lebih disukai oleh seorang mukmin sejati selain iman (QS 9:24).

Kepercayaan dan Iman adalah motivasi kehidupan, dan menjadi alasan setiap kali kita bangun di pagi hari. Kepercayaan dan Iman dapat memandu keputusan hidup, mempengaruhi perilaku, membentuk tujuan, dan menciptakan makna.

Print Friendly, PDF & Email

Published by

Hadi Nur

This blog is mainly written for my own purposes. There has never been any claim that this is an original work.