Penyebab konfrontasi Indonesia-Malaysia tahun 1963-1966

Saya sudah tinggal di Malaysia lebih dari dua puluh tahun, dan saya merasakan banyak kesamaan antara dua negara yang bertetangga ini. Salah satu peristiwa yang merusak hubungan Indonesia-Malaysia adalah konfrontasi pada tahun 1963-1966. Saya mencoba mencari mengapa konfrontasi ini terjadi.

Walaupun konfrontasi Indonesia-Malaysia juga dapat dibaca di Wikipedia, namun tidak ada penjelasan atau analisis mengenai apa motivasi dari konfrontasi ini. Saya menemukan tesis M.Sc. mengenai ini di Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang berjudul “Konfrontasi: rethinking explanations for the Indonesia-Malaysia confrontation, 1963-1966,” yang ditulis oleh LuFong Chua. Tesis ini menyimpulkan bahwa politik dalam negeri Indonesia pada waktu itulah yang menyebabkan konfrontasi ini terjadi, yang tujuannya adalah untuk mengalihkan perhatian. Konfrontasi menolong Sukarno untuk menyatukan dua kekuatan politik, yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI) dan tentara yang berseteru, untuk mempertahankan kekuasaannya. Mungkin ini argumennya: “Untuk bersatu kita perlu mencari musuh bersama.” Di bawah ini adalah abstrak dan tesis tersebut.

Tesis ini merupakan kajian tentang sebab-sebab Konfrontasi, yaitu perang berintensitas rendah yang dilakukan oleh Republik Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Sukarno, melawan Federasi Malaysia yang merdeka pada tahun 1963. Konfrontasi tersebut berlangsung antara 1963 dan 1966. Tesis ini membandingkan tiga kategori hipotesis atau argumen untuk penyebabnya - ancaman, ideologi, dan politik dalam negeri - dan mengevaluasi setiap jenis argumen secara keseluruhan. Argumen "ancaman" mengklaim bahwa Malaysia merupakan ancaman keamanan bagi Indonesia, dan bahwa Konfrontasi adalah hasil dari dilema keamanan antara kedua negara. "Ancaman" Malaysia memiliki beberapa elemen substantif yang diperlukan untuk membenarkan agresi Indonesia, tetapi hal itu terbukti sebagian besar merupakan klaim yang dilebih-lebihkan, dan tidak memberikan motif yang memadai untuk konflik tersebut. Argumen "ideologi" mengklaim bahwa Konfrontasi Indonesia didorong oleh ideologi Revolusi Indonesia dan peran sentral Indonesia dalam memimpin perjuangan Kekuatan Baru yang Muncul melawan Kekuatan Lama Neo-kolonialisme, kolonialisme dan imperialisme. Ditunjukkan bahwa argumen ini memiliki substansi lebih dari argumen "ancaman", karena ideologi Indonesia menelusuri keberadaannya secara independen ke pengalaman sejarah Indonesia sebelumnya, dan Konfrontasi tidak dapat dirasionalisasikan tanpa mengandalkan prinsip-prinsip ideologis. Namun, tesis ini juga menunjukkan bagaimana hipotesis "ideologi" untuk Konfrontasi terlalu ditentukan, karena ideologi Indonesia tidak serta merta menjadikan Konfrontasi sebagai hasil yang tak terhindarkan dan perlu. Ideologi diperlukan, tetapi tidak cukup untuk memotivasi keputusan untuk menghadapi Malaysia. Akhirnya, argumen "politik dalam negeri" menarik klaimnya dari gagasan bahwa Konfrontasi Indonesia adalah "perang pengalihan" melawan Malaysia, di mana Malaysia berperan sebagai "kambing hitam", "bogeyman" atau "katup pengaman". Menurut argumen ini, Konfrontasi dimulai untuk menahan perpecahan internal yang serius dalam pemerintah Indonesia, terutama antara tentara dan partai komunis yang berkuasa, dan untuk menyatukan elemen-elemen yang saling bertentangan ini dalam tujuan nasionalis. Tesis ini menemukan bukti dan dukungan teoretis terbesar untuk penjelasan "politik dalam negeri" tentang Konfrontasi ini, dan menganggap penjelasan ini sebagai argumen yang paling konsisten dan memuaskan.

Rujukan: LuFong Chua, “Konfrontasi: rethinking explanations for the Indonesia-Malaysia confrontation, 1963-1966“, M.Sc. thesis, Massachusetts Institute of Technology (MIT), 2001.

Print Friendly, PDF & Email

Published by

Hadi Nur

This blog is mainly written for my own purposes. There has never been any claim that this is an original work.