Kekeliruan Mc Namara dan manajemen mikro dalam pendidikan tinggi

Sebagai seorang dosen dan peneliti dalam bidang kimia, saya melakukan penelitian dengan metoda kuantitatif dengan cara berpikir induktif dalam mengambil kesimpulan. Oleh karena itu, saya cukup terlatih dalam menilai sesuatu secara kuantitatif. Walaubagaimanapun saya juga tidak mengetepikan cara berpikir secara kualitatif — yang biasanya dilakukan oleh peneliti-peneliti dalam bidang sosial dan humaniora. Penelitian kuantitatif berkaitan dengan angka dan statistik, sedangkan penelitian kualitatif berkaitan dengan kata dan makna. Keduanya penting untuk memperoleh jenis pengetahuan yang berbeda.

Sepatutnya kita tidak hanya berpatokan kepada sudut pandang kuantitatif saja, aspek kualitatif yang berkaitan dengan makna dan hikmah juga sangat penting — terutama untuk hal-hal yang berkaitan dengan bidang-bidang non-eksakta seperti pendidikan, hukum, dan politik. Seringkali kita kehilangan perspektif yang lebih besar dalam memandang sesuatu. Kita hanya terpaku dan dipengaruhi oleh angka-angka yang seringkali menyesatkan dan mengelirukan.

Pandangan kualitatif diungkapkan dengan kata-kata. Ini digunakan untuk memahami konsep, pemikiran atau pengalaman. Hal ini memungkinkan kita mengumpulkan wawasan mendalam tentang topik yang tidak dipahami dengan baik.

Key Performance Indicator (KPI) yang gagal

Key Performance Indicator (KPI) atau indikator kinerja utama adalah salah satu indikator kuantitatif yang banyak digunakan dalam penilaian individu atau organisasi. Dalam praktiknya, mengawasi indikator kinerja utama tidaklah mudah. Beberapa indikator seperti moral staf mungkin tidak mungkin diukur. Walaupun demikian, KPI hanya dapat digunakan sebagai panduan kasar daripada pengukuran yang tepat. KPI juga dapat menyebabkan kerugian karena mengorbankan kualitas atau nilai sebenarnya dari staf yang bekerja dengan pengukuran tertentu.

Terkadang data statistik dapat digunakan untuk pemahaman yang lebih baik tentang masalah sehingga penggunaan KPI dapat menghasilkan kemajuan dalam mencapai tujuan. Walaubagaimanapun penggunaan KPI tidak selalu berhasil. Contoh yang paling terkenal adalah perang Vietnam yang melibatkan Amerika Serikat. Data KPI yang digunakan yang berasal dari jumlah musuh yang dibunuh okeh tentara Amerika Serikat dapat mengelirukan ketika digunakan untuk mengukur tujuan untuk menguasai dan mengalahkan Vietnam. Hal ini disebabkan karena ada faktor lain yang tidak dipertimbangkan secara kualitatif.

Orang yang bertanggungjawab dalam mengambil keputusan penting dalam perang Vietnam adalah Robert Strange McNamara, Menteri Pertahanan Amerika Serikat yang kedelapan. Ia menjadi Menteri Pertahanan A.S. di bawah pemerintahan Presiden John F. Kennedy dan Lyndon Johnson dari tahun 1961 sampai tahun 1968 selama Perang Vietnam. Kekalahan Amerika Serikat dalam perang Vietnam disebabkan oleh pengambil keputusan yang hanya didasarkan oleh KPI yang bersifat kuantitatif, yang dikenal sebagai McNamara Fallacy atau kekeliruan Mc Namara.

Sumber: https://www.geckoboard.com/uploads/mcnamara-fallacy.pdf

Kekeliruan McNamara disebabkan karena perang direduksi menjadi model matematika, dimana dengan meningkatkan kematian musuh dan meminimalkan kematian pihak sendiri, kemenangan dijamin. Jumlah tubuh musuh yang dibunuh dianggap sebagai ukuran keberhasilan yang tepat dan obyektif. Perang gerilya dan perlawanan yang meluas dapat menggagalkan formula ini. Robert McNamara juga menerapkan manajemen mikro (micromanagement) dalam perang Vietnam.

Pelajaran untuk kita dari kekeliruan Mc Namara

Untuk mendapatkan pemahaman yang baik, kita seharusnya tidak hanya bertumpu kepada hal-hal yang bersifat kuantitatif. Aspek yang berkaitan dengan makna dan hikmah juga sangat penting untuk dipahami. Seringkali kita dikaburkan oleh hal-hal kuantitatif yang kehilangan makna — sehingga kita tidak mencapai tujuan yang sebenarnya. Hal ini berlaku dalam pendidikan tinggi, dimana ada kecenderungan segala sesuatu hanya dinilai dengan KPI, dengan angka. Hindari juga supaya kita tidak terjebak dengan micromanagement dalam mengelola pendidikan tinggi.

Print Friendly, PDF & Email

Published by

Hadi Nur

This blog is mainly written for my own purposes. There has never been any claim that this is an original work.