Memilih pekerjaan

Dua puluh delapan tahun yang lalu, tahun 1992, setelah saya lulus sarjana dari Jurusan Kimia, Institut Teknologi Bandung (ITB), saya melamar bekerja di PT Ultrajaya Milk Industry di Padalarang, Bandung. Berita mengenai lowongan kerja ini saya terima dari teman yang juga alumni ITB. Saya diwawancara dan langsung diterima bekerja disana sebagai Quality Control Supervisor. Pada hari pertama berkerja saya diantar oleh staf yang juga alumni Kimia ITB berkenalan dengan beberapa orang penting di perusahaan tersebut. Salah seorangnya adalah seorang warga negara asing, kalau tidak salah dari Denmark (?) yang menjadi kepala pabrik disana.

Selama beberapa hari mulailah saya belajar bagaimana menjadi seorang Quality Control Supervisor, dari mengecek kualitas susu sampai mengecek kualitas produk yang dihasilkan. Hanya beberapa hari saya bekerja disana, saya merasa bahwa pekerjaan ini sangat monoton dan membosankan. Saya merasa bahwa ini bukanlah pekerjaan yang sesuai untuk saya. Tidak ada ide-ide yang boleh saya terapkan dalam pekerjaan ini, karena semuanya sudah baku. Singkat cerita, saya menulis surat untuk berhenti dari pekerjaan tersebut. Saya hanya bekerja beberapa hari disana.

Pengalaman ini juga yang menjadi salah satu pendorong saya untuk bercita-cita menjadi dosen. Pada masa itu, saya berpikir bahwa pekerjaan ini sesuai untuk saya karena tidak monoton dan saya bisa berdiskusi setiap hari dan mengaplikasikan ide-ide saya. Lebih tepatnya saya menjadi orang yang merdeka. Nilai kemanusiaan kita akan lebih tinggi jika kita merdeka. Apa gunanya gaji yang tinggi jika kita tidak merdeka dan tertekan oleh pekerjaan?

Print Friendly, PDF & Email

Published by

Hadi Nur

My name is Hadi Nur, a professor at Universiti Teknologi Malaysia (UTM) and an adjunct professor at Universitas Negeri Malang (UM). I can be reached easily online. Here, the table of content of my blog posts and search what you are looking for here.