Pendidikan sebagai bahan permainan

googleHNSadar atau tidak sadar manusia dilahirkan dengan dorongan intrinsik untuk bermain. Ada permainan untuk anak-anak, remaja dan juga orang dewasa. Hidup ini adalah permainan. Sebagai seorang guru, saya juga merasakan bahwa dunia pendidikan modern sekarang ini juga sudah menjadi bahan permainan. Untuk tingkat yang lebih serius dan ilmiah, ada yang disebut sebagai teori permainan (game theory). Teori ini biasanya digunakan untuk pengambilan keputusan.

Dalam game theory,  zero-sum game atau permainan penjumlahan nol adalah representasi matematis dari situasi di mana keuntungan atau kerugian setiap peserta yang ikut dalam permainan diimbangi dengan kerugian atau keuntungan peserta lainnya. Jika total keuntungan dan kerugian dijumlahkan hasilnya adalah nol. Contohnya dalam memotong kue. Potongan kue yang lebih besar akan mengurangi jumlah kue yang tersedia untuk orang lain. Ini adalah  zero-sum game dimana semua peserta menghargai setiap unit kue secara sama. Sebaliknya, jika jumlahnya tidak nol, ini disebut sebagai non-zero-sum game karena jumlahnya tidak nol karena ada yang rugi dan ada yang untung. Zero-sum game adalah permainan yang sangat kompetitif karena ada pihak yang menang dan kalah, sedangkan non zero-sum game dapat bersifat kompetitif atau non-kompetitif.

Kalau kita perhatikan, sistem pendidikan sekarang mirip dengan zero-sum game. Sangat kompetitif. Baru saja saya membaca 130 perguruan tinggi swasta di Indonesia ditutup sepanjang 2015-2019, diantaranya karena kekurangan mahasiswa. Universitas-universitas ini kalah bersaing dengan universitas-universitas negeri yang juga membuka kelas tambahan non-reguler, yang biayanya jauh lebih mahal dari kelas reguler. Biasanya calon mahasiswa tentu akan memilih universitas negeri dibanding swasta.

Kompetisi menjadi lebih jelas terlihat dan terasa oleh universitas-universitas ketika pemerintah menetapkan indikator-indikator yang terukur untuk meranking universitas-universitas. Salah satu indikator adalah publikasi ilmiah. Publikasi ilmiah yang baik hanya bisa dihasilkan melalui riset yang baik. Seperti yang sudah dimaklumi riset akan menjadi maju jika tiga komponen dasar dari riset yaitu; kualitas dosen dan mahasiswa (pasca sarjana), infrastruktur yang memadai dan juga dana yang cukup tersedia di universitas tersedia. Riset yang baik akan sangat sukar dilakukan jika tiga komponen dasar tersebut tidak dipunyai oleh universitas. Publikasi yang baik tidak akan dapat diperolehi jika kualitas dosen dan mahasiswa tidak baik, infrastruktur tidak memadai, dan dana tidak tersedia.

Karena jumlah publikasi di jurnal telah menjadi salah satu indikator, maka pengetahuan telah menjadi komoditi, dan juga menjadi lahan untuk mendapatkan keuntungan dari penerbit-penerbit besar seperti Elsevier, Springer dan lan-lain yang sekarang ini telah mengontrol publikasi ilmiah di dunia. Walaubagaimanapun, sekarang ini, masih banyak yang yakin dan percaya bahwa persaingan adalah cara yang paling paling efisien untuk mengatur dunia pendidikan tinggi.

Ada pertanyaan yang perlu dipikirkan jawabannya oleh pemerintah, apakah sistem pendidikan yang kompetitif ini adalah sistem yang terbaik untuk pendidikan?

Published by

Hadi Nur

An ordinary man living in Johor Bahru, Malaysia who likes to write anything. This is table of content of my blog posts.