Masa depan mahasiswa pasca sarjana

Saya telah menjadi dosen sejak tahun 2003 setelah postdoc selama 4.5 tahun di UTM dan di Hokkaido University. Lebih dari 30 mahasiswa Ph.D. dan M.Sc. yang telah saya bimbing selama saya menjadi dosen di UTM. Dua orang telah menjadi profesor di Indonesia, di ITS dan UNMUL. Satu orang menjadi associate professor di Hongkong City University. Ada juga yang berprofesi sebagai guru, peneliti dan juga ibu rumah tangga, walaupun telah lulus Ph.D. Dan akhir-akhir ini, karena keadaan ekonomi dunia yang tidak begitu baik, ada beberapa dari mereka masih belum mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian dan tingkat pendidikan mereka.

Ada baiknya kita melihat berbagai perspektif mengenai tujuan pendidikan pasca sarjana. Perspektif itu akan berbeda-beda, bergantung siapa dan bagaimana memandangnya. Terdapat banyak cara pandang. Perspektif dari universitas belum tentu sama dengan cara pandang dosen, dunia kerja, mahasiswa, orang tua dan pemerintah.

Saya baru saja membaca diskusi di grup whatsapp majlis profesor UTM mengenai banyaknya lulusan Ph.D. yang tidak mendapat pekerjaan. Dan ada dari lulusan tersebut yang menderita depresi. Ada yang kehilangan arah dalam menjalani kehidupan. Perspektif dan cara pandang yang berbeda-beda inilah yang menyebabkannya. Orang tua berkeinginan agar anaknya mendapatkan pekerjaan yang bagus setelah mendapat Ph.D. Universitas berkeinginan mendapatkan mahasiswa Ph.D. sebanyak mungkin untuk menaikkan ranking universitas walaupun pasaran kerja tidak dapat menampung lulusan Ph.D. Dosen pula berpacu untuk mendapatkan mahasiswa Ph.D. sebanyak mungkin untuk memperbanyak publikasi ilmiah untuk menenuhi syarat kenaikan pangkat dan prestise.

Apakah kita bisa menyatukan semua perspektif tersebut? Tentu sukar. Yang terpenting adalah semua itu perlu dikembalikan kepada tujuan asal dari pendidikan tersebut yaitu menjadikan manusia menjadi mahluk yang berguna untuk peradaban yang maju. Dalam hal ini, pemerintah perlu memainkan peranan penting. Pendidikan perlu dipandang sebagai kebutuhan dasar manusia untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Pendidikan mesti berperan meningkatkan fikir dan rasa supaya manusia mendapat hidayah dan menemukan hikmah kehidupan. Menjadi intelektual atau ulul albab.

Oleh karena itu, kembalikanlah pendidikan, termasuk pendidikan tinggi kepada tujuan asal dan fungsinya. Untuk perguruan tinggi, profesor mesti memainkan peranan penting. Jika profesor tidak arif, maka tidak ariflah universitas.

Rujukan

H. Nur, “Kearifan sebuah universitas“, Pidato penganugerahan adjunct professor di Universitas Negeri Malan (UM) pada 29 Agustus 2017.

Published by

Hadi Nur

An ordinary man living in Johor Bahru, Malaysia who likes to write anything. This is table of content of my blog posts.