Asas kepatutan

Seringkali kita terperangah atau berdecak kagum terhadap prestasi manusia. Ada manusia yang mempunyai kekuatan yang luar biasa, daya ingat yang luar biasa, dan kemampuan-kemampuan lain yang luar biasa. Banyak diantara kita yang suka berkhayal menjadi Superman, X-Men, dan manusia super hero — manusia yang luar biasa, yang tidak sepatutnya disebut sebagai manusia normal. Oleh karena itu, kita harus sadar bahwa kemampuan manusia mempunyai batas. Banyak prestasi yang kadang-kadang kita anggap hebat padahal secara hakikatnya sebenarnya tidak hebat. Manipulatif! Hal ini banyak ditemui dalam publikasi ilmiah. Saya perlu melihat hal ini dari asas kepatutan. Patut atau tidak patut? Berimpak atau tidak berimpak?

Di bawah ini ada contoh publikasi dari seorang peneliti yang tidak memenuhi asas kepatutan. Coba analisis publikasi di bawah ini.

Banyak lagi contoh-contoh yang lain. Tapi karena pengarang tersebut kenal baik dengan saya, tidak etis saya menampilkannya disini.

Apa pendapat anda? Coba perhatikan, tidak satupun dia menjadi corresponding author dan hanya menjadi orang yang meramaikan daftar pengarang. Coba perhatikan juga negara dari corresponding author. Yang membuat kita terperangah adalah dalam waktu 5 tahun dia mempublikasikan 800 paper!

Menurut saya, ini perlu menjadi bahan pelajaran untuk kita semua. Apakah dengan cara seperti ini kita dapat menjadi negara maju?

Print Friendly, PDF & Email

Published by

Hadi Nur

Get in touch with me online. This blog has a table of content and mainly written for my own purposes and based on "Google here, Google there." There has never been any claim that this is an original work. You can use the customized search engine to search for anything on this website.