Kearifan lokal dalam pengembangan universitas di Ternate dan Tidore

Catatan kunjungan ke Universitas Khairun (UNKHAIR) dan Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) di pulau Ternate dan Universitas Nuku (UNU) di pulau Tidore pada 15-17 Agustus 2018.


Dalam program Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) Seri II Tahun 2018 (SCKD 2018), saya sangat bersyukur mendapat kesempatan mengunjungi beberapa universitas di Maluku Utara, provinsi yang indah yang memiliki indeks kebahagiaan tertinggi di Indonesia (menurut BPS tahun 2017). Selama dua hari di Maluku Utara saya mengunjungi tiga universitas, yaitu Universitas Khairun (UNKHAIR) dan Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) di pulau Ternate dan Universitas Nuku (UNU) di pulau Tidore. UNKHAIR adalah universitas negeri, dan UMMU dan UNU adalah universitas swasta. Jika dibandingkan dengan universitas-universitas besar di pulau Jawa dan Sumatera yang pernah saya kunjungi, secara umum sarana fisik dari ketiga-tiga universitas tersebut masih tertinggal jauh. Pada ketiga-tiga universitas tersebut saya lebih banyak berdiskusi mengenai tata kelola universitas dibandingkan dengan masalah riset.

Seperti yang sudah dimaklumi riset akan menjadi maju jika tiga komponen dasar dari riset yaitu; kualitas dosen dan mahasiswa (pasca sarjana), infrastruktur yang memadai dan juga dana yang cukup tersedia di universitas. Riset yang baik akan sangat sukar dilakukan jika tiga komponen dasar tersebut tidak dipunyai oleh universitas. Perlu audit dari tiga komponen tersebut untuk mengetahui apakah sebuah institusi dapat melaksanakan riset dengan baik atau tidak. Ujung dari riset adalah publikasi ilmiah dan juga intelllectual property yang berkualitas. Publikasi yang baik tidak akan dapat diperolehi jika kualitas dosen dan mahasiswa tidak baik, infrastruktur tidak memadai, dan dana tidak tersedia. Inilah kendala utama yang saya temui selama berkunjung ke UNKHAIR, UMMU dan UNU. Saya menyimpulkan ketiga-tiga universitas ini masih belum mampu untuk melaksanakan riset dengan baik walaupun ada beberapa dosen yang sudah bergelar doktor yang sangat bersemangat untuk melakukan riset. Oleh karena itu kualitas risetpun menjadi rendah dan sukar untuk dipublikasikan dalam jurnal yang baik. Jadi, pembicaraan bagaimana menulis hasil penelitian untuk diterbitkan di jurnal menjadi tidak relevan.

Teman-teman dosen-dosen di UNKHAIR, UMMU dan UNU dihadapkan kepada dilema ketika riset dan teknologi disatukan dengan pendidikan tinggi. Hikmah atau esensi dari pendidikan tinggi adalah menghasilkan kebijaksanaan (wisdom). Lulusan dari perguruan tinggi, disamping memperoleh ketrampilan, tetapi juga memperoleh wisdom dari proses pendidikan tersebut. Dilain pihak, hikmah dari riset dan teknologi adalah produk. Sangat jelas, hikmah dari riset dan teknologi dan pendidikan tinggi itu tidak sama. Indikatornya juga berbeda. Sehingga terjadi dilema terhadap kebijakan yang diambil untuk memajukan riset dan teknologi dan pendidikan tinggi secara sekaligus, karena hikmahnya berlainan. Pendidikan menjadi kehilangan fokus kepada pembangunan manusia, karena juga mengejar fokus yang lain.

Dalam diskusi dengan rektor-rektor dan staf di UNKHAIR, UMMU dan UNU, saya menekankan supaya ada inisiatif baru dan berdampak tinggi untuk membawa universitas kelevel yang lebih tinggi. Perlu transformasi ke arah itu. Budaya kerja dan struktur organisasi yang mendukung riset perlu diubah dan ditingkatkan. Strategi yang tepat juga perlu direncanakan dengan matang. Saya melihat budaya kerja dan ilmiah adalah hal yang paling sukar diubah untuk menjadikan UNKHAIR, UMMU dan UNU menjadi universitas riset. Faktor pertama adalah, budaya lokal menjadikan mereka sangat puas dan bahagia menikmati kondisi mereka saat ini, dan didukung oleh alam yang indah dan kaya dengan hasil alam — dan ditambah lagi dengan masyarakat yang religius. Inilah yang menjadikan Maluku Utara sebagai provinsi yang mempunyai indeks kebahagiaan tertinggi di Indonesia. Hal ini dapat diperhatikan di pulau Tidore yang digelari sebagai pulau seribu masjid. Satu kampung bahkan mempunysi 6-10 masjid. Faktor ini mengalahkan pesona dari riset dan publikasi ilmiah di universitas. Mereka mungkin sudah sampai pada tingkat yang tinggi dalam memaknai kehidupan. Para rektor yang berdiskusi dengan saya juga menyampaikan kesukaran mereka dalam memotivasi dan mendisiplinkan staf-staf mereka. Faktor kedua adalah kehomogenan dosen dan mahasiswa. Hampir semua dosen berasal dari Maluku Utara yang berlatar belakang budaya yang sama.

Apa yang perlu dilakukan?

Penyeragaman kebijakan kepada semua universitas dapat mengakibatkan keunikan dan potensi setiap universitas yang beragam itu menjadi hilang. Tidak semua universitas mempunyai potensi dan kemampuan yang sama. Kebijakan yang hanya memperhatikan hasil daripada proses, yang kadang-kadang menghasilkan prestasi semu (pseudo achievement) dengan keluaran angka-angka yang kehilangan makna dan tidak memperhatikan pembangunan manusia, lebih baik dihindari. Fokuskan kepada proses dan pembentukan ekosistem pendidikan tinggi yang sehat untuk menghasilkan manusia yang unggul. Sebagai contoh adalah Universitas Nuku di pulau Tidore. Dengan hanya mempunyai 38 orang dosen dan sarana kampus yang sangat terbatas, penelitian dan publikasi yang baik sangat sukar dapat dihasilkan. Universitas ini sangat berpotensi diarahkan untuk melakukan service community (layanan komunitas), bukan untuk penelitian. Ada baiknya komponen riset dapat dimasukkan dalam program layanan komunitas. Hal yang sama juga berlaku untuk Universitas Khairun dan juga Universitas Muhammadiyah Maluku Utara.

Dalam diskusi dengan pimpinan di tiga universitas ini, saya menyarankan Universitas Khairun (UNKHAIR), Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) dan Universitas Nuku (UNU) perlu memikirkan arah tuju yang fokus pada bidang-bidang tertentu dan mempunyai keunikan tersendiri. Saya menyarankan agar kebesaran Kesultanan Tidore dapat digunakan sebagai keunikan Universitas Khairun (UNKHAIR), dan Universitas Nuku (UNU) yang sepertinya tidak nampak ditonjolkan.

Langkah konkrit yang akan dilakukan pada waktu terdekat adalah mengikutsertakan Universitas Khairun (UNKHAIR) dan Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) di Ternate dan Universitas Nuku (UNU) dalam Indonesia-Malaysia Research Consortium (I’MRC) yang telah disepakati bersama antara Kemenristekdikti dengan Kementerian Pendidikan Malaysia dalam kunjungan delegasi Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia yang diketuai Menteri Pendidikan Tinggi Malaysia, Dato’ Seri Idris Jusof, pada kunjungan resmi ke Kemenristekdikti pada 2 Oktober 2017 di Jakarta. Pada akhir tahun ini I’MRC akan mengadakan forum yang melibatkan universitas-universitas di Indonesia dengan Universiti Teknologi Malaysia (UTM) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sebagai koordinator. Mudah-mudahan platform ini dapat berjalan dengan baik dengan pembentukan bidang-bidang kerjasama yang spesifik, seperti nanotechnology cluster, renewable energy cluster, dan lain-lain bidang yang disepakati bersama yang akan diketuai oleh universitas-universitas di Indonesia-Malaysia.

Saya sangat mengapresiasi usaha-usaha yang dilakukan Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi dalam memajukan riset, teknologi dan pendidikan tinggi Indonesia. Alhamdullilah dan Tahniah!

Rujukan

 

Published by

Hadi Nur

I enjoy living in Johor Bahru area and always seek the truth.