Key performance indicator (KPI)

Saya sudah menjadi pensyarah selama 16 tahun dan sebelumnya 4.5 tahun sebagai postdoc. Selama postdoc di Hokkaido University pada tahun 1999 – 2002 saya tidak mengenal istilah Key Performance Indicator (KPI). Yang saya tahu adalah saya mesti melakukan riset dengan baik, dari membuat proposal, eksperimen, menulis laporan, presentasi dan memublikasikannya di jurnal ilmiah. Setiap hari Sabtu, walaupun adalah hari libur, kami melakukan diskusi mengenai hasil penelitian untuk mendapatkan data yang baik untuk menyelesaikan permasalahan penelitian. Selama saya postdoc, saya hanya menghasilkan 3 publikasi yang diterbitkan di jurnal ilmiah yang standar, Chemical Communications, Journal of Catalysis, dan Langmuir. Satu publikasi per tahun. Kalau saya tidak salah, istilah KPI menjadi gencar diperkenalkan sekitar tahun 2005, dan dipakai di dunia pendidikan tinggi di rantau ini sejak itu.

Pengamatan saya akhir-akhir ini, Key Performance Indicator (KPI) telah banyak disalahgunakan di dunia pendidikan tinggi. Dalam prakteknya, mengontrol Key Performance Indicator (KPI) cukup sulit karena juga berkaitan dengan indikator yang tidak dapat diukur. Moral adalah salah satu parameter yang tidak mungkin diukur. Oleh karena itu, KPI hanya dapat digunakan sebagai panduan kasar saja, dan tidak dapat digunakan sebagai ukuran kualitas yang tepat. Kadangkala, Key Performance Indicator (KPI) dapat memberikan penilaian yang salah terhadap kualitas sebenar dari sebuah pekerjaan, terutama dalam dunia pendidikan.

Data-data statistik yang digunakan kadangkala dapat memberikan pemahaman yang salah terhadap kemajuan dan seringkali juga diragukan. Sebagai contoh, jumlah publikasi di jurnal-jurnal ilmiah terbukti efektif dalam melihat keaktifan penelitian di sebuah universitas atau lembaga penelitian, tetapi ini menyesatkan ketika digunakan untuk mengukur tujuan akhir dari penelitian ilmiah tersebut, karena jumlah publikasi ilmiah tersebut tidak tergambar dari impaknya terhadap kemajuan sektor ekonomi dan juga industri, dan juga pembangunan manusia.

wisdom

Published by

Hadi Nur

I enjoy living in Johor Bahru area and always seek the truth.