Kearifan

Dengan membaca buku ini, “Berpikir positif orang Jawa” oleh Prof. Suwardi Endaswara, dosen Universitas Negeri Yogyakarta, membuat saya menjadi lebih paham dengan “wisdom” atau kearifan teman-teman saya yang luar biasa dan hebat yang berlatar belakang budaya Jawa. Prinsip “ngalah”, harmoni melalui pasrah, prihatin, “nrimo” dan “rasa pangrasa” merupakan sebahagian dari falsafah yang mendasari kehebatan teman-teman tersebut.

24903715738_b2eb2a0f9b_b

Salah satu sifat dalam budaya jawa yang adalah blaka suta, yang maksudnya adalah berterus-terang tanpa ada yang ditutup-tutupi. Sifat ini ditemui pada Bima, seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Jiwa terbuka ini juga disebut sebagai blak kotangBlak-blakan bermaksud mengemukakan sesuatu dengan jujur dan apa adanya. Pengakuan diri merupakan wujud dari keterbukaan yang akan menciptakan rasa tenteram. Bagaimanapun juga, blak-blakan secara langsung, atau berbicara secara langsung sukar dilaksanakan oleh orang Jawa. Dalam budaya Jawa, pembicaraan seringkali dilakukan dengan cara tidak langsung, atau sinamun ing samudana. Orang Jawa adalah orang yang menjaga keharmonisan, sehingga sukar berbicara langsung (straight to the point). Seringkali berputar-putar dulu. Budaya Jawa menjauhi konflik yang terbuka.

Disamping tidak bicara langsung dan tidak agresif, budaya Jawa menuntun manusia Jawa membina hubungan baik dengan orang lain,  mampu mengendalikan kemarahan, dalam pengertian bicaranya tetap rasional, dan mempunyai kepercayaan diri yang besar. Boleh dikatakan manusia Jawa tersebut bersifat diplomatik, sehingga tidak menyakitkan hati lawan bicara. Prinsip “ngalah”, harmoni melalui pasrah, prihatin, “nrimo” mendasari semua tindakan yang dilakukan oleh orang Jawa. Terus terang saya kagum dengan kawan-kawan saya yang berlatar belakang Jawa ini.