Kebahagiaan seorang penyelidik

Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya. (Surat Hud Ayat 108)

Sampai saat ini “kebahagiaan” menjadi mimpi dan tujuan dari manusia, dan juga sulit dimengerti. Semua orang, termasuk saintis, ekonom, filsuf dan psikolog telah mencoba mendefinisikannya. Bahkan ada cabang khusus dalam ilmu psikologi yang membahas masalah ini, iaitu psikologi positif. Menurut para pakar psikologi kebahagiaan bukan sekadar suasana hati yang positif, kebahagiaan lebih daripada itu. Kebahagiaan mencakup kehidupan hidup dengan kepuasan yang mendalam dalam memaknai kehidupan.

Penjelasan Prof. Jeffrey Lang, profesor matematika di Kansas University, seorang mualaf, mengenai tujuan hidup sangat menarik dan didasarkan kepada tiga prinsip yang saling terkait, iaitu manusia adalah mahluk intelek, mahluk yang mempunyai pilihan dan mengalami penderitaan dalam hidup di dunia.

Gambar di bawah ini dapat menjadi rujukan mengenai kebahagiaan seorang penyelidik atau peneliti (researcher). Ketiga prinsip di atas dapat dirasai dalam proses penyelidikan, jika penyelidikan tersebut dilakukan dengan motivasi (niat) dan cara yang benar.

happines

Inilah kebahagiaan “hakiki”, bukan kebahagiaan dari faktor eksternal, seperti bibliographic indicators yang termasuk h-index dan jumlah publikasi. Apalagi semua indikator tersebut dicapai dengan cara yang tidak baik dan permainan angka.