Filsafat lebah dalam melakukan penelitian

[Insya Allah, tulisan ini juga menjadi nasehat untuk diri saya sendiri]

Dalam Al-Quran terdapat dua surah yang bercerita mengenai binatang dan dapat dikaitkan dalam budaya meneliti atau menyelidik di universitas iaitu budaya semut (surah Al-Namal) dan budaya lebah (Al-Nahl).

Semut mempunyai budaya yang rakus dan tamak, iaitu budaya menumpuk. Semut adalah binatang yang rajin. Semut mengumpulkan makanan dalam jumlah yang lebih banyak dari keperluannya dan jangka masa yang lama, dan mereka hanya menumpuk tanpa mengolah dan memanfaatkannya.

Berbeda dengan semut. Lebah mencari makanan dari bunga dan mengolahnya untuk dijadikan madu. Madu yang dihasilkan lebah sangat bermanfaat. Lebah sangat disiplin dan bekerja dengan rajin dan menyelesaikan masalah dengan menggunakan komunikasi yang sangat demokrasi.

Jadi, janganlah berbudaya semut, yang menumpuk hasil penelitian berupa publikasi dan membuat publikasi hanya sekedar menjadi karya tanpa manfaat, hanya untuk keperluan prestise semu, seperti “bibliometric and bibliographic indicators”, yang kadang-kadang juga dihasilkan tanpa proses penelitian (research) yang baik. Jadilah seperti lebah yang mencari makanan dengan cara dan dari sumber yang “baik” dan mengolahnya menjadi madu yang bermanfaat.