Tukang kritik

plus-and-minusTukang kritik atau orang yang senantiasa mengkritik banyak kita temui disekelliling kita. Ada yang sangat kritikal, sampai hal yang remeh-temehpun dikritik. Kita tidak tahu apa motivasinya. Namun saya dapat mengklasifikasikan tukang kritik ini kepada dua kelompok. Kelompok pertama iaitu yang kritiknya memberikan efek positif, dan kelompok kedua, tukang kritik yang kritiknya memberikan efek negatif. Biasanya saya hanya akan mendengar dan memberikan respon jika kritik itu positif, dan tidak mengabaikan kritik yang negatif.

Kritik yang positif mesti didasarkan kepada dua hal, pertama, kritik tersebut mesti didukung oleh data-data yang akurat dan benar, dan kedua, kritik tersebut disampaikan dengan cara yang beradab. Sebagai muslim, sikap yang beradab itu harus didasari oleh sopan santun yang didasarkan kepada aturan Islam. Jika tidak beradab, maka kritik itu akan memberikan efek yang negatif.

Dalam surat Maryam [19]: 41- 45, dapat kita baca bagaimana kesopanan Nabi Ibrahim mengkritik ayahnya yang dimulai denganya “ya abati” yang artinya “Wahai Ayahanda tercinta”.

“Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi (ayat 41). Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya: “Wahai Ayahanda tercinta, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? (ayat 42). Wahai Ayahanda tercinta, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. (ayat 43). Wahai Ayahanda tercinta, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. (ayat 44). Wahai Ayahanda tercinta, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan (ayat 45).”