Pesan untuk Presiden Joko Widodo: “Hentikan pengiriman tenaga kerja Indonesia yang tidak terdidik ke luar negeri”

Tanggal 16 Oktober 2014 saya berangkat ke Ouarzazate, Maroko untuk memenuhi undangan dari International Renewable and Sustainable Energy Conference 2104 (IRSEC’ 14) sebagai keynote speaker di konferensi tersebut. Perjalanan dimulai dari kampus UTM ke Changi Airport dan dilanjutkan ke Doha dan Casablanca sebelum terbang selanjutnya ke Ouarzazate. Setelah konferensi, saya kembali ke Malaysia dengan melalui rute yang sama.

Dalam perjalanan yang panjang ini, saya bertemu dengan beragam rupa orang, ada yang berbangsa Arab, Eropa, Cina dan Afrika. Mungkin karena wajah saya khas orang Melayu, salah seorang penumpang wanita berumur sekitar 30 tahunan, warga negara Indonesia, berpenampilan lusuh, yang nampak kebingungan, mendekati saya di lapangan terbang Doha. Beliau bercerita bahwa akan bekerja di Arab Saudi, dan akan terbang ke negara itu beberapa jam lagi. Beliau kebingungan karena tidak bisa berbahasa Inggris sehingga meminta bantuan saya menunjukkan dimana terminal keberangkatan di lapangan terbang Doha.

Sewaktu pulang, saya juga melihat seorang wanita yang berpenampilan lusuh dan lugu juga ikut dalam penerbangan dari Casablanca ke Doha dan ke Singapura dengan menggunakan Qatar Airways. Kebetulan dalam penerbangan ke Singapura, wanita yang juga berumur sekitar 30 tahun tersebut, bernama Muminah, duduk di kursi di depan saya. Seringkali beliau melihat kebelakang memandangi saya. Nampaknya berkeinginan berbicara dengan saya. Akhirnya beliau berhasil menarik perhatian saya dan menunjukkan dokumen perjalanan beliau kepada saya. Dari dokumen tersebut ada surat yang menyatakan beliau mengidap Hepatitis B sehingga beliau dipulangkan ke Indonesia oleh majikannya. Dia belum mendapat gaji karena belum sampai sebulan berada di Casablanca, Maroko. Namun sayang, tiket yang dibelikan oleh majikan wanita ini hanya sampai di Singapura saja, bukan sampai ke Jakarta. “Tolonglah Pak”, katanya dengan wajah yang memelas. Karena kasihan, akhirnya saya berikan 215 Dollar Singapura saya yang tersisa kepada beliau untuk membeli tiket penerbangan dari Changi Airport ke Jakarta.

Melihat ekonomi Maroko yang tidak begitu bagus, yang relatif sama dengan Indonesia, agak mengherankan juga bagi saya karena ada juga orang Indonesia yang mau bekerja sebagai pembantu rumah tangga di tempat yang sangat jauh, di Maroko.

Pengalaman di atas memberikan pesan kepada saya, bahwa masih banyak yang perlu diperjuangkan oleh pemerintah Indonesia yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo. Memandang kepada nilai-nilai kemanusiaan, menurut saya, pengiriman tenaga kerja yang tidak terdidik ke luar negeri harus dihentikan. Seperti yang telah diberitakan di media massa, banyak pihak yang mengeksploitasi tenaga kerja Indonesia sehingga harkat dan martabat mereka sebagai manusia jatuh ke tahap terendah karena diperdagangkan, dan juga ditipu.

Pendidikan adalah jalan satu-satunya untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa ini. Ini adalah pekerjaan yang sangat berat bagi pemerintahan Joko Widodo yang baru dilantik. Kebetulan dalam konferensi yang saya hadiri di Maroko, banyak saintis-saintis hebat Maroko yang berkarir di luar Maroko, seperti di Perancis dan Amerika Serikat datang menghadiri konferensi dan membicarakan mengenai bagaimana mereka dapat berkonstribusi dalam bidang pendidikan, riset dan juga entrepreneurship di Maroko. Di antara mereka adalah Prof. Rachid Yazami, penemu lithium ion battery yang juga penerima Draper Prize 2014. Mereka adalah contoh tenaga kerja terdidik Maroko yang bekerja di luar Maroko.

[Tulisan ini ditulis di atas pesawat terbang dari Doha ke Changi Airport menggunakan Qatar Airways pada 22 Oktober 2014. Dari renungan dari langit ini, saya hanya berdo’a supaya bangsa ini maju, dan harkat dan juga martabat rakyat dari bangsa ini dapat ditinggikan oleh Allah SWT]