Menilai sebuah prestasi – Manusiakan universitas

Kadang-kadang kita sangat takjub bagaimana seseorang atau organisasi dapat berprestasi tinggi. Untuk menilai prestasi, digunakanlah instrumen penilaian yang terukur yang disebut sebagai Key Performance Indicator (KPI). KPI menjadi bahan perbincangan hangat di universitas di Malaysia dan juga Indonesia karena digunakan untuk kenaikan pangkat dosen atau pensyarah. Hal ini bagus karena dapat mendorong prestasi. Semua staf dinilai dengan KPI, yang terukur dan diterjemahkan kepada angka-angka. Nah, angka-angka inilah yang dikejar oleh dosen atau pensyarah. Bagaimana cara mengejarnya adalah urusan lain. Boleh dengan cara yang bijak dan manusiawi atau dengan cara sebaliknya. Cara-cara inilah yang kadangkala tidak nampak karena semuanya sudah dibutakan dengan tujuan angka-angka tersebut. Banyak indikator yang diperlukan untuk kenaikan pangkat, seperti publikasi di jurnal ilmiah, jumlah dana riset dan lain sebagainya.

Untuk mengejar angka-angka tersebut, dosen dan pensyarah mempunyai banyak strategi. Strategi yang paling manjur adalah dengan memperbudak mahasiswa. Hal ini sama sekali tidak boleh dilakukan oleh seorang dosen atau pensyarah, karena tujuan seseorang menjadi dosen atau pensyarah adalah untuk mendidik mahasiswanya. Saya melihat sendiri kolega yang “mempergunakan” mahasiswanya untuk mengejar KPI dengan cara yang saya nilai tidak patut. Tersenyumpun mahasiswa tersebut tidak bisa karena dilingkungi oleh suasana stress yang berlebihan karena ditekan untuk mengejar KPI dosen atau pensyarahnya. Dosen atau pensyarah tersebut dapat berkilah jika ditanya kenapa mereka melakukan hal tersebut. Jawabannya adalah, ini adalah bahagian dari proses pendidikan katanya. Tentu hasilnya dapat kita bayangkan. Produktivitas dalam menghasilkan data-data penelitian dan akhirnya publikasi meningkat. Nah, apakah ini dapat kita lihat sebagai sebuah prestasi? Kita perlu bijak melihat hal ini, terutama untuk saya dan juga rekan-rekan yang bekerja di universitas. Jangan lupa, tujuan utama sebuah universitas didirikan adalah untuk mendidik generasi penerus. Pikirkan dan renungkanlah.

“Memanusiakan manusia”, kata Profesor Fuad Hassan, mantan menteri pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia. Atau “Humanizing the University”, kata Profesor Graham Spainier, mantan presiden University of Penn State.

http://news.psu.edu/story/141425/2000/01/01/research/humanizing-university

Published by

Hadi Nur

I enjoy living in Johor Bahru area and always seek the truth.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s