Psikologi dari publikasi ilmiah

Sudah semua maklum dan mengetahui bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia. Dalam tulisan ini, saya ingin mengaitkan perilaku dengan publikasi ilmiah. Publikasi ilmiah adalah tulisan ilmiah yang dipublikasikan oleh manusia yang melakukan penelitian. Biasanya publikasi ilmiah ini diterbitkan di jurnal-jurnal ilmiah. Ada jurnal ilmiah yang ternama dan ada pula jurnal yang hanya sekadar untuk menampung tulisan-tulisan ilmiah yang tujuan dipublikasikannya adalah hanyalah untuk keperluan bukan ilmiah. Idealnya, tujuan untuk mempublikasikan hasil penelitian adalah untuk menyebarkan ilmu pengetahuan dan juga untuk mengembangkan ilmu itu sendiri. Namun, sekarang ini, itu bukan menjadi tujuan yang utama. Kadang-kadang hanya untuk menaikkan prestige universitas. Ada yang namanya impact factor dan h-index, yang merupakan istilah yang dipakai untuk keperluan bibliografi. Jujur saja, saya tidak mengenal istilah ini sewaktu saya postdoc di Hokkaido University tahun 1999-2002. Pada waktu itu, hal yang saya pikirkan adalah bagaimana membuat penelitian dengan sebaik-baiknya dan mempublikasikan di jurnal yang dikenal.

Melihat perkembangan saat ini, universitas-universitas di negara-negara berkembang lambat laun ingin meningkatkan profile universitas mereka sehingga menjadi universitas yang dikenal. Salah satu caranya adalah mengikut kriteria ranking yang ditetapkan oleh badan-badan tertentu, yang sebahagian dari badan-badan tersebut adalah perusahaan swasta, contohnya adalah QS Quacquarelli Symonds Limited. Sudah pasti tujuan utama dari perusahaan swasta ini adalah mendapat keuntungan finansial. Caranya adalah, mereka menetapkan kriteria ranking, dan universitas-universitas yang ingin masuk ranking mengikut program-program yang dibuat oleh perusahaan ini, yang biasanya mahal, untuk meningkatkan ranking mereka. Salah satu kritera dari ranking adalah jumlah dan juga citation dari publikasi ilmiah. Alhasil, banyak strategi dan upaya dilakukan, diantaranya adalah dengan memberikan reward oleh universitas. Contohnya adalah dengan insentif berupa uang dan kenaikan pangkat atas hasil publikasi ilmiah.

Alhasil, hal ini memberikan dampak yang saya pikir tidak begitu sehat dalam dunia pendidikan tinggi, dan juga mengubah perilaku. Tidak dipungkiri, ada yang menjadi lebih baik, dan ada juga sebaliknya. Ini yang saya sebut sebagai psikologi dari publikasi ilmiah. Semua orang berlomba-lomba untuk mengejarnya. Ada yang ‘licik’ dan ada pula yang ‘idealis’. Sifat ‘licik’ dan ‘idealis’ dapat dengan mudah dilacak dari profile publikasi mereka melalui Google Scholar, Scopus dan juga Researcherid. Salah satu kelicikan yang mudah nampak dari publikasi diantaranya adalah, ‘self-citation‘ dan mempublikasikan hasil penelitian yang mirip-mirip di berbagai jurnal (untuk meningkatkan jumlah). Karakter seseorang dapat terbaca dari psikologi dari publikasi ilmiah ini. Ada beberapa orang yang saya kenal yang karakternya sangat tepat digambarkan oleh cara mereka publikasi.

Published by

Hadi Nur

I enjoy living in Johor Bahru area and always seek the truth.

One thought on “Psikologi dari publikasi ilmiah”

  1. Saya lihat di situs ini bahwa Pak Hadi Sutedjo dari ITB adalah salah satu dari dosennya Pak Hadinur di Kimia ITB.

    Beliau meninggal dunia tanggal 8 Juli 2013 di Bandung.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s