Meeting with Prof. Jane Knight

As a working committee member to prepare the internationalization policy of higher education in Malaysia, I and Assoc. Prof. Lee Chew Tin have been discussing with Prof. Jane Knight, an adjunct professor at the Ontario Institute for Studies in Education, University of Toronto, Canada. The discussion was held at UCSI University in Kuala Lumpur.

  • Many of her suggestions made me a better understanding of the meaning of the internationalization policy of higher education.
  • What is the driving force of a policy of higher education? Is it an international student, research or ranking?
  • What are rationales of policy: economic, academic, social/cultural or political?
  • How to formulate a conceptual framework of an internationalization policy?
  • Is a policy intended to be “reactive”, “proactive” or “strategic”?
  • Is a policy intended to be “technical”, “regulating” or “enabling”?
  • Or … the preparation of an internationalization policy of higher education is merely to just “having a policy” without a solid conceptual framework.

Farid at Ihtifal Ceremony

My son, Farid Rahman Hadi, received the prize in the academic performance at the Ihtifal Ceremony of Sekolah Menengah Islam Hidayah at Dewan Nusa Mutiara, Johor Bahru today. Farid also appears as the Nasyid keyboardist on this occasion. Grandfather and grandmother of Farid also attended the event. They have flown from Padang, West Sumatera, on 9 April 2010.

UTM delegation visits Padang

UTM delegation consists of Hadi Nur, Prof. Ahmad Kamal Idris (UTM Director of Marketing), and Prof. Mohd Salleh Abu (UTM Dean of the Faculty of Education) pay an official visit to the State University of Padang (UNP) on 29 March 2010. A discussion with the UNP rector, Prof. Z. Mawardi Effendi has also been conducted to explore the possible cooperation between the UTM Faculty of Education and the State University of Padang. On 30 March 2010, a briefing was held at Pangeran Beach Hotel, Padang for Senior High School (SMA) students from five Standard Pilot-Project Schools (RSBI) who are interested in continuing their studies at UTM. The briefing was also attended by the Mayor of Padang, Drs. Fauzi Bahar. The above activities are not possible without the help of Dr. Jon Efendi (Chemistry lecturer, State University of Padang).

Sugih tanpa banda

Sugih tanpa banda = kaya tanpa harta

Zaman yang konsumtif yang penuh dengan kebendaan dan keduniawian ini, ungkapan di atas mungkin tujuannya hanya untuk menyenangkan hati orang yang miskin — hanya sebagai pelipur lara. Apa iya ada orang merasa kaya tanpa harta?

Kata-kata di bawah ini juga kata-kata pelipur lara bagi yang miskin.

nearly-all-rich-people-1

Saya.. saya.. dan saya..

maslowbaru1-300x259

[renungan dan nasehat untuk diri sendiri]

Jadi ingat dengan sebuah teori dalam ilmu psikologi, yang menyatakan bahwa jika kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan memiliki dan cinta, dan kebutuhan penghargaan sudah terpenuhi dan terpuaskan, barulah kebutuhan yang lebih tinggi, yaitu kebutuhan akan aktualisasi diri yang perlu dipenuhi.

Kebutuhan aktualisasi diri, menurut teori tersebut, yang biasa disebut dengan Teori Kebutuhan Maslow, merupakan suatu kondisi puncak dari perkembangan individu. Apa ciri-ciri orang yang masih belum sampai pada tahap ini? Salah-satunya adalah selalu mengatakan… saya.. saya.. saya dan saya. Maksudnya adalah, orang tersebut selalu berusaha menarik perhatian orang lain dengan menyampaikan prestasi-prestasi yang telah diraihnya kepada orang lain — baik melalui media massa, mailing list ataupun melalui pembicaraan sehari-hari. “Lihatlah kehebatan saya”, “lihatlah hasil karya saya”, “kalau tidak ada saya…” merupakan sebahagian dari perkataan yang memperlihatkan bahwa orang yang mengatakan hal tersebut masih merasa belum diakui oleh orang lain (atau memang benar-benar belum diakui). Inilah bukti bahwa kebutuhan orang tersebut terhadap penghargaan masih belum terpenuhi dan terpuaskan. Orang ini sebenarnya masih belum mempunyai “kearifan”.

[setelah membaca tulisan ini, istri saya mengatakan bahwa saya juga sering mengatakan.. “saya.. saya.. dan saya..”. Jadi, tulisan ini memang cocok ditujukan kepada diri saya sendiri.. he… he…]

Sisi manusiawi kasus Century dan plagiat Prof. Banyu

[Sebuah renungan]

Ada dua peristiwa yang menjadi perhatian saya akhir-akhir ini, yang banyak diberitakan di media massa di Indonesia yang melibatkan dua orang tokoh. Pertama, kasus Bank Century yen melibatkan Wakil Presiden Republik Indonesia, Prof. Boediono. Kedua kasus plagiat yang menimpa Prof. Anak Agung Banyu Perwita, dosen di Universitas Katolik Parahyangan.

Saya dapat membayangkan tekanan yang dirasakan oleh kedua orang ini. “Cobaan itu bagian dari hidup. Hidup itu mengandung risiko. Kalau hidup tidak mau risiko, ya tidak usah hidup,” kata Boediono. Jika dikembalikan dalam pandangan agama, tidak ada manusia yang luput dari kesalahan, dan keadilan yang benar-benar adil hanya ditemukan di akhirat. Inilah yang harus menjadi pegangan dalam hidup.