Sudahkah kita memiliki budaya ilmiah?

Apa itu budaya ilmiah atau biasa juga disebut sebagai budaya saintifik (scientific culture)? Apakah kita sudah memiliki budaya tersebut? Pertanyaan yang penting bagi institusi pengajian tinggi. Saya teringat dengan jawaban dari beberapa orang visiting professor yang saya tanyai apa syarat-syarat sebuah universitas bisa menjadi universitas yang terkenal — seperti universitas tempat mereka bekerja. Kebetulan mereka berasal dari universitas yang memiliki prestasi akademik yang hebat; Osaka University, Hokkaido University, University of London dan Leipzig University. Kenapa kita tidak dapat seperti mereka? — walaupun kita memiliki fasilitas penelitian yang tidak kalah daripada mereka? Jawabannya adalah kita masih belum memiliki budaya ilmiah.

Patut disadari bahwa universitas tidak akan menjadi unggul dan dihormati dari segi akademik jika orang-orang yang berada dalam universitas tersebut tidak memiliki budaya ilmiah. Menurut saya, tidak ada jalan lain selain membangun dan melaksanakan budaya ilmiah untuk membawa universitas menjadi unggul dan disegani — karena inilah yang harus perlu dibina sejak awal universitas itu dibangun.

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk menjawab pertanyaan “Sudahkah kita memiliki budaya ilmiah?”. Untuk menjawabnya kita perlu mengetahui unsur-unsur yang diperlukan untuk membangun budaya ilmiah tersebut.

Norma ilmiah

• Memberikan penghargaan (credit) yang sepatutnya kepada orang yang memberikan kontribusi kepada penelitian; pengarang bersama (authorship) atau ucapan terima kasih (acknowledgement) — (Catatan: Norma ini yang selalunya tidak diikuti — mungkin untuk kenaikan pangkat atau ingin dianggap hebat oleh orang lain).
• Jujur dalam memberikan penilaian kepada hasil pekerjaan orang lain.
• Publikasi di jurnal ilmiah yang dinilai oleh rekan sejawat (peer-reviewed journals) adalah media untuk menciptakan reputasi. Sejarah telah membuktikan bahwa tidak ada jalan selain ini — reputasi ilmiah tidak akan tercipta melalui publikasi di koran dan televisi.

Ciri-ciri dari budaya ilmiah

• Metoda saintifik.
• Penilaian dari rekan sejawat (peer-reviewed system).
• Akumulasi dari pengetahuan yang dipublikasikan dalam peer-reviewed journals dan disimpan untuk bahan rujukan.
• Buku catatan laboratorium — (Catatan: Saya mengamati banyak kawan-kawan saya yang juga dosen, walaupun mereka lulusan dari perguruan tinggi ternama, mereka tidak mempunyai buku ini, walaupun ada — tetapi tidak ditulis dengan cara yang betul)

Kebiasaan ilmiah

• Selalu mempublikasikan hasil penelitian. (Catatan: Masih banyak profesor yang sedikit sekali publikasinya, yang menandakan mereka tidak pernah melakukan penelitian yang bermutu — Apakah mereka masih dianggap pakar?)
• Dapatkan pendidikan yang setinggi-tingginya — PhD dalam bidang sains.
• Pendidikan yang dimulai dengan bimbingan dan kemudian baru bekerja secara mandiri.
• Mobilitas yang tinggi dari para saintis, berpindah dari satu universitas ke universitas yang lain.
• Selalu berinteraksi dengan orang-orang yang pintar yang memiliki ketertarikan dalam bidang yang sama dalam sains.

Peraturan-peraturan dalam dunia ilmu pengetahuan

• Menyelidiki efek dari satu variabel dengan cara mengontrol variabel-variabel yang lain.
• Selalu beragumentasi berasaskan fakta-fakta yang betul.
• Mengemukakan hipotesis, iaitu kesimpulan sementara dari proses penelitian, yang nantinya akan dibuktikan kebenarannya.
• Selalu merujuk hasil penelitian orang lain.
• Selalu menyimpan hasil-hasil penelitian dengan rapi, supaya orang lain dapat mengulangi eksperimen-ekesperimen yang telah dilakukan.
• Penemuan yang luar biasa selalunya harus didukung oleh fakta-fakta pendukung yang juga luar biasa.
• Teori dikatakan bagus jika teori tersebut dapat menjelaskan banyak fenomena-fenomena, dibandingkan dengan teori yang hanya sesuai untuk beberapa fenomena saja.
• Jika data baru tidak sesuai dengan teori lama, salah-satu dari mereka — data baru atau teori lama tersebut — pasti tidak betul.
• Alam semesta ini selalunya memiliki aturan-aturan yang jelas dan juga teratur.

Hal-hal yang tidak patut dilakukan dalam dunia ilmu pengetahuan

• Tidak objektif dan tidak menerima fakta-fakta yang didapatkan dari hasil eksperimen yang dilakukan dengan cara yang betul.
• Menipu dalam melaporkan data — membuat data palsu dan mengubah data.
• Plagiat.
• Tidak memberikan penghargaan (credit) kepada orang yang juga memberikan sumbangan ilmiah kepada penelitian yang dilakukan.

Setelah membaca tulisan ini, saya mengharapkan, terutama kepada orang-orang yang menganggap dirinya saintis dan ilmuwan, untuk kembali bertanya “Apakah kita memiliki budaya ilmiah?”

4 thoughts on “Sudahkah kita memiliki budaya ilmiah?

  1. Pingback: Catatan Hadi Nur » Blog Archive » Profesor harus berakar di laboratorium

  2. Pingback: Catatan Hadi Nur » Blog Archive » Indahnya sebuah universitas

  3. Assalamu’alaikum Pak Hadi. Saya tertarik dgn entri bapak ‘Buku catatan laboratorium’. manurut bapak, ramai rakan dosen tidak memberatkan perihal buku catatan ini yang selalunya tidak ditulis dengan cara yang betul. Jadi, bagaimana jika bapak titipkan “cara menulis buku catatan laboratorium” supaya dapat dimanfaatkan serba sedikit oleh kami yg sedang berusaha menerapkan ‘budaya ilmiah’. sekian. Saya staf di lab mekanikal di sini pak.

    Reply
  4. Pingback: Catatan Hadi Nur » Blog Archive » Realitas dan harapan yang selangit

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s