Profesor teladan yang rendah hati

Siapa dia Profesor teladan yang saya tulis pada judul di atas? Jawabnya akan anda baca pada akhir tulisan ini. Saya pernah berkata di depan profesor teladan ini, bahwa sudah menjadi prestasi yang luar biasa kepada saya jika saya dapat menerapkan hanya 30% saja dari sifat-sifat beliau sebagai ilmuwan dan pendidik.

Scientific integrity

Sifat utama yang sangat menonjol dari profesor yang saya anggap teladan ini adalah, beliau mempunyai integritas saintifik (scientific integrity) yang tinggi karena beliau melakukan penelitian dengan cara yang betul (good research practice). Disamping itu beliau juga adalah pendidik yang baik. Good research practice merupakan aspek yang sangat penting di universitas karena kehebatan dalam penelitian merupakan akar daripada kehebatan akademik, baik pada tingkat sarjana muda maupun tingkat master atau PhD.

Sang profesor ini selalu berusaha menularkan pengalaman dan ilmunya kepada semua mahasiswanya. Beliau betul-betul memberikan teladan bagaimana melakukan penelitian dan juga melakukan eksperimen di laboratorium dengan baik. Dari menulis catatan harian di buku laboratorium sampai kepada masalah etika yang perlu diperhatikan sebagai seorang calon ilmuwan. Beliau tidak segan-segan turun ke laboratorium untuk memperbaiki peralatan laboratorium, walaupun mempunyai kesibukan yang ‘luar biasa’ sebagai profesor. Beliau hampir-hampir mengetahui dari ‘A’ sampai ‘Z’ mengenai penelitian, dari mengoperasikan alat, memperbaikinya dan juga memberikan ide-ide baru dalam penelitian.

Salah satu sifat yang menjadi panutan adalah kerendahan hati sang profesor ini. Walaupun beliau telah memiliki hampir 200 publikasi ilmiah yang diterbitkan di jurnal ternama, memiliki belasan patent yang telah dikomersialkan, dan juga menjadi editor dibeberapa jurnal ternama, tidak sedikitpun tersirat kesombongan atau ‘riya‘ diperlihatkan. Prestasi sang pofesor ini dihasilkan dari kerja keras dan dedikasi yang tinggi — hampir setiap hari pulang larut malam.

Penelitian yang baik harus diiringi dengan hasil penelitian yang bermutu tinggi dengan publikasi yang bermutu tinggi, dan akhirnya banyak dirujuk oleh peneliti yang lain. Inilah aspek yang sangat ditekankan beliau kepada mahasiswa-mahasiswa beliau.

Bagaimana dengan scientific integrity kita?

Dari judul di atas sengaja saya tulis ‘kita’, karena didalamnya termasuk ‘saya’. Tulisan ini juga memberikan pelajaran kepada saya bahwa sebenarnya kita belum mempunyai ‘scientific integrity‘ yang baik. Ini beberapa contoh yang menunjukkan bahwa kita (termasuk saya) tidak mempunyai ‘scientific integrity‘ yang baik.

Kita harus selalu memonitor dan mementingkan proses daripada hasil dalam proses penelitian. Tidaklah bermakna jika hasil yang diperolehi tersebut datang dari proses yang tidak betul. Saya banyak menyaksikan mahasiswa menipu dalam melaporkan hasil penelitian. Kenapa? karena mahasiswa ini takut kepada pembimbingnya yang selalu meminta hasil-hasil penelitian yang positif. Yang lebih parah, pembimbing ini juga tidak mempunyai pengetahuan dan kepakaran terhadap bidang tersebut.

Kita harus memberi teladan yang baik kepada mahasiswa kita, baik dari segi disiplin, kejujuran, keterbukaan dan menghargai orang lain.

Tidak menghargai jerih payah mahasiswa. Kadang kala kita mendapat mahasiswa yang mempunyai kemampuan akademik yang tinggi. Seringkali ide-ide dari penelitian diperolehi dari mahasiswa ini tidak dihargai, dan seakan-akan hasil penelitian tersebut adalah hasil jerih payah kita 100%. Kita merasa bahwa kitalah yang paling berhak kepada hasil hasil penelitian itu — padahal kita hanya berperan sebagai pembimbing secara formalitas, bukan membimbing dalam arti sebenarnya seperti yang ditunjukkan profesor teladan yang saya sebutkan di atas.

Perlu ditekankan bahwa ‘proses pendidikan’ di perguruan tinggi memerlukan proses pembimbingan dan latihan yang baik. Apalah jadinya jika sebagai pendidik kita hanya mementingkan diri sendiri — dan melupakan ‘proses pendidikan’ tersebut. Harus diingat bahwa keberhasilan seseorang sebagai pendidik sangat dipengaruhi oleh niat. Coba kita bayangkan jika niat seseorang dosen atau pensyarah adalah tidak untuk mendidik, tetapi untuk menjadi ketua jurusan, dekan atau rektor, bagaimana nasib perguruan tinggi kita?

Sang Profesor teladan

Siapa profesor teladan yang sebutkan di atas? Profesor tersebut adalah mentor saya selama saya postdoc di Hokkaido University dari tahun 1999-2002. Beliau banyak mengajar saya bagaimana melakukan penelitian yang baik. Beliau juga menjadi teladan bagi mahasiswanya — baik dari segi disiplin, bekerja secara berstruktur, mendidik dan juga management. Beliau adalah Profesor Bunsho Ohtani, profesor di Catalysis Research Center, Hokkaido University.

Published by

Hadi Nur

I enjoy living in Johor Bahru area and always seek the truth.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s