Prestasi dan prestise universitas

Prestasi dan prestise merupakan dua perkataan yang kadangkala mempunyai kaitan dan kadangkala tidak. Biasanya jika universitas itu mempunyai prestise, tentulah biasanya dia mempunyai prestasi yang baik. Kita dapat melihat universitas-universtas di dunia yang berprestise tinggi seperi Harvard, Tokyo, Munich, Osaka, Pricenton dan lain sebagainya. Sebagai dosen dan peneliti yang pernah belajar dan bekerja di negara berkembang (Indonesia dan Malaysia) dan di negara maju (Jepang), saya dapat melihat dengan jelas bahwa prestise tidak dapat didapatkan dengan jalan yang mudah. Indikator yang paling mudah untuk menilai sebuah universitas itu mempunyai prestise yang tinggi adalah ketinggian mutu akademik dari universitas yang bersangkutan.

Nilai-nilai akademik yang baik ini ditunjukkan dengan ‘budaya akademik’ atau ‘budaya ilmiah’ yang telah membudaya dan tertanam di Universitas tersebut. Prestise ini diraih dengan prestasi akademik dan keilmuan dari universitas tersebut. Kita tahu bahwa tanpa ada budaya menulis, keilmuan seseorang tidak pernah akan diakui (atau dikenal) oleh dunia akademik dan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh, hadiah nobel hanyalah diberikan kepada saintis yang telah mempublikasikan hasil penelitiannya. Penelitian tanpa publikasi adalah ‘omong kosong’, karena tanpa ini ilmu pengetahuan tidak akan berkembang.  “Publish or perish” merupakan ungkapan yang tepat dalam bahasa Inggris. Saya pernah membaca disebuah surat kabar ada seorang profesor yang mengatakan bahwa publikasi tersebut tidaklah terlalu penting karena sifatnya yang abstrak. Yang lebih penting adalah komersialisasi dari hasil penelitian. Saya sangat heran membaca pernyataan ini, karena keluar dari seorang dosen yang sudah bergelar profesor. Jika Einstein tidak mempublikasikan teorinya mengenai efek fotolistrik  pada awal abad 20, saya tidak dapat membayangkan bagaimana ilmu spektroskopi  dapat berkembang seperti saat ini.

Seperti kita ketahui, gelar profesor adalah jenjang akademik tertinggi, yang juga memiliki nilai prestise yang tinggi, yang diberikan kepada Universitas kepada seseorang. Biasanya di Universitas yang berprestise, gelar ini diberikan dengan penilaian yang sangat ketat dan jelas, karena prestise sebuah Universitas tersebut juga bergantung kepada profesor-profesor yang  mempunyai prestasi keilmuan yang yang tinggi, yang biasanya ditunjukkan oleh karya-karya mereka yang berkualitas tinggi yang diakui oleh dunia akademik (bukan oleh lembaga non-akademik).  Sebagai contoh, National University of Singapore (NUS), yang merupakan salah satu universitas terbaik dunia, hanya menerima calon-calon dosen yang berkelayakan tinggi, terutama kepada calon yang telah menunjukkan prestasi akademik dan keilmuan yang baik yang ditunjukkan dengan publikasi di first class scientific journal. Setelah diterima, dosen-dosen ini diberikan fasilitas riset yang juga first class dan sudah barang tentu juga gaji yang lumayan. Inilah menurut saya salah satu resep mengapa NUS maju dan sekarang telah menjadi universitas ternama di dunia.

Karya berkualitas tinggi biasanya karya yang memberikan terobosan baru atau impak yang tinggi kepada ilmu pengetahun. Bagaimana caranya impak ini diukur? Salah satu cara yang telah diakui adalah dengan melihat apakah karya itu telah dirujuk oleh orang lain (dalam bahasa inggris disebut sebagai citation). Sebagai contoh yang mudah adalah karya Prof. Hideki Shirakawa, pemenang nobel kimia tahun 2000 mengenai polimer yang dapat menghantar arus listrik. Sejak penemuan tersebut dipublikasikan tahun 1977 di sebuah
jurnal (Chemical Communications), penemuan tersebut telah membuka mata dunia ilmu pengetahuan bahwa polimer yang dulunya dipercayai tidak dapat menghantarkan arus listrik sekarang telah berhasil disintesis dan dibuktikan bahwa polimer tesebut dapat berfungsi dengan sebagai konduktor seperti halnya logam. Tidak dapat disangsikan lagi, bahwa hasil penelitian yang hanya dua halaman tersebut telah membuka bidang baru dalam bidang kimia dan fisika, yang disebut sebagai metal sintetik (synthetic metal).

Oleh karena itu, publikasi tersebut merupakan bahan yang wajib dijadikan referensi kepada bidang metal sintetik. Sudah terbukti bahwa artikel teresebut telah menjadi bahan rujukan dari ribuan penelitian dari bidang tersebut. Dapat disimpulkan bahwa profesor yang hebat biasanya mempunyai publikasi yang hebat. Dengan teknologi internet yang sangat maju sekarang ini, kita dapat dengan mudah untuk mengevaluasi apakah seseorang itu adalah betul-betul pakar dalam bidang keilmuan, sebagai contoh anda dapat menggunakan fasilitas
pencarian “google scholar” yang gratis. Tinggal ketik nama, anda akan melihat impak dari karya seseorang, yang dapat dilihat dari berapa banyak hasil penelitian itu dirujuk.  Supaya lebih jelas, anda dapat pergi ke situs-situs yang menerbitkan jurnal ilmiah Elsevier, Springer, Hindawi, ACS, RSC dan lain sebagainya. Dari situ anda dapat melihat bahwa universitas ternama seperti Cambridge, Harvard dan Tokyo terkenal dan diakui karena karya para ilmuwan dan saintis mereka mempunyai impak yang besar terhadap
ilmu pengetahuan.  Sudah tentu juga anda dapat membandingkannya dengan universitas yang lain. Dengan cara yang sama, anda dapat mengevaluasi para profesor atau saintis yang anda anggap hebat di universitas dan negara anda.

Berdasarkan pengalaman saya sebagai dosen dan peneliti, saya dapat melihat bahwa ada universitas yang telah mengambil jalan mudah untuk meraih “prestise” tanpa melihat norma baku terhadap prestasi akademik dan keilmuan. “Prestise” yang saya makudkan disini adalah prestise yang sebenarnya dapat mengelabui masyarakat umum. Kadangkala prestasi-prestasi yang sebenarnya tidak bernilai akademik telah ditonjolkan dan diletakkan sebagai nilai akademik, dan juga telah dipakai sebagai untuk pengiktirafan dan kenaikan pangkat seseorang, bahkan sampai jenjang profesor. Ada istilah yang tepat untuk universitas dan para profesor ini “tong kosong, nyaring bunyinya”.

Saya yakin, para peneliti dan dosen berpengalaman, yang telah bergelut dan bergelimang dengan dunia penelitian dan pendidikan tentunya tidak dapat dikelabui, mereka dengan jelas dapat menilai apakah sebuah universitas tersebut dapat dikatakan hebat atau tidak adalah dengan hasil penelitian yang telah dipublikasikan (bagi sains) dan juga mempunyai impak terhadap pengguna (bagi teknologi). Dengan kata lain, dalam dunia penelitian ilmiah (sains dan teknologi), betapapun spektakulernya hasil penelitian seseorang
tersebut, penelitian tersebut tidak akan pernah selesai jika tidak dipublikasikan. Sekali lagi, ini adalah norma baku yang telah dipakai sejak lama, yang mau tidak mau harus diikuti dan jalani. Jalan ini memang tidak mudah, universitas harus mampu menciptakan suasana dan budaya keilmuan yang baik di universitas masing-masing. Anda dipersilahkan membaca tulisan saya yang berkaitan dengan hal ini, yang berjudul “Refleksi dari pengalaman riset di Jepang” yang merupakan pengalaman saya melakukan penelitian di salah satu Universitas ternama di Jepang pada tahun 1999-2002. Dari tulisan tersebut dapat disimpulkan bahwa bukanlah mudah untuk menjadi world class university. World class university adalah universitas yang meletakkan prestasi akademik dan keilmuan pada kedudukan yang tinggi dan utama, dan dirambu-rambui oleh etika akademik dan keilmuan.  Dengan inilah sebenar prestise universitas dapat diraih.

Bangunan dan fasilitas yang canggih bukanlah jaminan kepada prestise sebuah universitas.  Saya ada sebuah analogi yang menarik. Dulu, sewaktu harga cengkeh tinggi, petani cengkeh di Sulawesi mendadak menjadi kaya, sehingga kondisi ini membuat para petani membelanjakan uangnya untuk hal-hal yang kurang manfaatnya. Saya diceritakan bahwa petani tersebut telah pergi ke kota membeli kulkas, dan kulkas tersebut digunakan hanya sebagai lemari pakaian karena di desa mereka belum ada listrik. Anda jangan
heran dan terkejut jika hal yang sama juga berlaku di universitas yang katanya memiliki pakar-pakar sains dan teknologi. Saya tidak dapat menyebutkan nama universitas tersebut karena masalah etika, tetapi anda para pembaca tentu dapat melihat dan mengevaluasi sendiri universitas-universitas tersebut, karena tujuan saya menulis artikel ini adalah supaya masyarakat atau pengguna produk universitas dapat menilai universitas mana saja yang berprestise dengan prestasi akademik yang baik.

Sebagai penutup saya mengutip artikel yang ditulis oleh almarhum Dr. Nurcholis Madjid mengenai masalah prestasi dan prestise: “… titik berat penilaian seseorang manusia kepada manusia lain tidak mungkin berdasarkan taqwanya itu an sich, melainkan berdasarkan manifestasi dan pantulan taqwa itu dalam amal lahiriah yang shalih, berbudi dan berakhlak mulia. Justru itulah prestasi (bukan prestise) manusia yang paling cocok …”.

Published by

Hadi Nur

I enjoy living in Johor Bahru area and always seek the truth.

One thought on “Prestasi dan prestise universitas”

  1. Wah setuju setuju.

    Pernah saya bicara dengan teman saya yang mo kuliah di Amrik (kebetulan saya udah di Amrik duluan), dia bertanya apakah sekolah …. (suatu sekolah di amrik) bagus?
    Terus aku tanya, bagus maksudnya apa?
    Terus dia menjawab: Gedung lokasi fasilitas dll-nya lengkap?
    Aku bilang: kalo kuliah disini (amrik) fasilitasnya hampir semua bagus, tapi yang membedakan adalah researchnya/dosennya. Biasanya dosen yang terkenal itu dosen yang researchnya bagus. Kalo fasilitas hampir semua standar. Memang ada sekolah yang besar, tapi juga ada sekolah yang ga besar2 amat tapi researchnya juga bagus.

    Dosen di kampus yang besar di Indonesia (UI UGM ITB) kurang penelitiannya karena sibuk mencari duit di luar kampus. Mereka merasa kurang digaji di kampus. Saya maklum sih tapi, karena di UGM, gelar profesor hanya digaji tetap sebesar 2,5 juta. Padahal dengan kerja di perusahaan bisa dapat 30 kali lipatnya. Jelas aja proyek dari swasta digarap dulu dibandingkan melakukan research.

    Ya begitulah nasib Indonesia. Gimana pak Hadi, kapan jadi terkenal sehingga bisa mengharumkan nama Indonesia. Saya lebih salut sama bapak karena berjuang di negeri orang sambil membawa bendera negara Indonesia.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s