Kerangka Sains yang Islami

Hadi Nur

Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies
Universiti Teknologi Malaysia, 81310 UTM Skudai, Johor, Malaysia

Konseptual dari formulasi kontemporer dari kerangka sains yang Islami yang berdasarkan kepada Al-Quran dapat diterangkan seperti yang diperlihatkan dalam Skema 1. Kerangka sains yang Islami tersebut diterangkan ke dalam sepuluh konsep yang terdiri dari empat konsep yang berdiri sendiri dan tiga pasang konsep yang saling bertentangan. Konsep-konsep ini diturunkan dari budaya saintifik Islam yang diterjemahkan kepada parameter-parameter yang nantinya akan mempengaruhi perkembangan sains. Konsep-konsep yang diterjemahkan kepada tatanan nilai-nilai tersebut tidak hanya mendorong semata-mata terhadap perkembangan penyelidikan-penyelidikan saintifik, tetapi juga terhadap sistem pengetahuan yang memiliki tanggung jawab sosial.

sains

Skema 1 Kerangka Sains yang Islami.

Skema di atas berangkat dari firman Allah sebagai berikut:

“…. Allah mengangkat mereka yang beriman di antara kamu dan mereka yang diberi karunia ilmu-pengetahuan ke berbagai tingkat derajat.” (QS. Al-Mujadalah/58:11)

Firman di atas menjelaskan bahwa janji keunggulan, superioritas dan supremasi diberikan Allah kepada mereka yang beriman dan berilmu sekaligus. Iman akan mendorong kita untuk berbuat baik guna mendapat ridha Allah, dan ilmu akan melengkapi kita dengan kemampuan menemukan cara yang paling efektif dan tepat dalam pelaksanaan dorongan berbuat baik itu. Ringkasnya, iman dan ilmu secara bersama akan membuat kita menjadi orang baik dan sekaligus tahu cara yang tepat mewujudkan kebaikan kita itu. Dari skema di atas, secara hirarki dapat dilihat bahwa tauhid adalah yang utama, dan ilm adalah sebagai pelengkap.

Bagaimana kita memakai konsep tauhid dan khalifah dalam aktivitas sains dan teknologi? Konsep tauhid dapat diterjemahkan sebagai “Keesaan Tuhan”. Konsep ini menjadi nilai yang berharga untuk menyatukan kemanusiaan, menyatukan manusia dan alam, dan menyatukan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai.

Dari tauhid muncul konsep khalifah; yang menyatakan bahwa manusia tidak lepas dari Tuhan dan bertanggung jawab terhadap kegiatan saintifik dan teknologi yang dilakukan. Kekhalifahan bermakna, walaupun manusia tidak mempunyai hak yang khusus terhadap segala sesuatu, tetapi manusia bertanggung jawab untuk menjaga keutuhan alam ini.

Ibadah dapat dilihat sebagai perenungan, sebagai suatu kewajiban yang berasal dari kesadaran terhadap konsep tauhid dan khalifah. Beribadat mempunyai efek tumbuh dan menguatkan komitmen moral, yaitu rasa keterikatan batin kepada keharusan berbuat baik kepada sesama manusia dan alam. Proses ini bertindak sebagai faktor penyatu kepada kegiatan saintifik dan sistem dari nilai-nilai yang Islamik.

Jika pencarian saintifik dilakukan dalam bentuk perenungan, suatu bentuk daripada ibadah, maka proses tersebut pasti akan tidak melibatkan kerusakan terhadap alam. Hal ini tidak akan menghasilkan hal-hal yang tidak berguna (dhiya) atau dalam bentuk yang bersifat merusak atau zalim (zulm) atau menghasilkan hal-hal yang tidak pantas (haram). Jadi, proses santifik yang Islami hanya berdasarkan kepada hal-hal yang pantas (halal) yang berguna untuk kepentingan orang ramai (istislah) dan akhirnya mempunyai manfaat kepada sosial, ekonomi dan kebudayaan (adl).

Sejarah telah membuktikan bahwa kerangka di atas telah menggerakkan sains Islam, tanpa membatasi kebebasan dari penyelidikan atau merugikan umat manusia. Kerangka sains yang Islami ini telah menghasilkan efek yang luar biasa kepada kebijakan dan ilmu pengetahuan dalam dunia Islam pada zaman kejayaan Islam dahulu.

Kerangka Sains Islami ini tidak saja dibatasi hanya sampai hakikat fisik saja, seperti yang ditunjukkan dalam peristiwa ajaib “Mi`raj” nabi Muhammad SAW. Pada suatu malam yang ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Nabi secara ajaib telah dibawa dari Makah ke Jerussalem, dan dari sana ia melakukan mi`raj naik melewati derajat eksistensi – ke wilayah kosmos yang paling besar – tempat yang tidak terbatas (al-sidrah al-muntaha), dan bahkan sampai ke tempat yang paling dekat dengan Tuhan. Walau bagaimanapun, keberatan-kebaratan tertentu telah diajukan oleh kritikus-kritikus modern yang dibutakan oleh keberhasilan sains modern dalam bidang fisik dan oleh semacam totalitariasnisme yang, sering kali secara tidak sadar, menjelmakan suatu sains tentang bidang realitas tertentu kepada sains tentang realitas keseluruhan, dan dengan demikian menyusutkan realitas itu sampai batas sub-human. Mi`raj Nabi SAW yang begitu penting dalam agama Islam, pada waktu yang sama menjadi unsur-unsur yang paling sulit dipahami dalam ajaran Islam bagi orang Muslim yang dipengaruhi oleh pandangan-pandangan saintifik modern. Kenyataannnya orang-orang tersebut telah menghilangkan seluruh keindahan dan kebesaran peristiwa tersebut dengan berusaha menjelaskannya dengan cara yang rasionalistis. Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang tidak logis atau tidak saintifik dari peristiwa Mi`raj tersebut jika kita mau mengingat batasan-batasan yang dengannya ilmu pengetahuan alam mulai berkembang. Kesulitannya adalah bahwa keterbatasan-keterbatasan itu biasanya dilupakan dan persaratan-persaratan yang ditentukan sendiri oleh ilmu pengetahuan alam modern untuk dirinya sendiri dalam telaahnya tentang hakikat alam dikelirukan dengan persyaratan-persyaratan dan ketrebatasan-keterbatasan hakikat itu sendiri. Reduksionisme (penyusutan) inilah yang membuat peristiwa Mi`raj, sebagaimana kenaikan Isa ke langit dan berbagai peristiwa keagamaan lainnya yang disebutkan di dalam Al-Quran dan kitab-kitab suci lainnya, itu tampaknya sebagai sesuatu yang tidak nyata dan ilusi.

Jadi, kerangka Sains Islami yang telah diuraikan di atas tidak membatasi cara pandang kita sebagai seorang yang mempercayai adanya Allah (tauhid), yang merupakan aspek ruhani kehidupan dan bagaimana kita mengaplikasikannya (ibadah), yang merupakan aspek jasmani dalam kehidupan kita sehari-hari dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

Referensi

  • Z. Sardar, D. van Loon, “Introducing Science”, Totem Books USA, 2002.
  • N. Madjid, “Pintu-Pintu Menuju Tuhan”, Penerbit Paramadina, 1994.
  • S. H. Nasr, “Muhammad Kekasih Allah”, Penerbit Mizan, Bandung, 1993.

 

Published by

Hadi Nur

An ordinary man living in Johor Bahru, Malaysia who likes to write anything. This is table of content of my blog posts.