Ilmu yang Membisu

Di sebuah zaman ketika tiap klik melahirkan deret data, kita kerap terkecoh. Mengira bahwa informasi berarti pemahaman. Tapi mungkin kita sedang berada di titik ketika Jean Baudrillard benar. Di saat kebenaran dipalsukan bukan oleh dusta, tapi oleh limpahan warta.

Publikasi ilmiah hari ini bukan lagi jalan sunyi para pencari makna. Ia kini lebih menyerupai lalu lintas yang ramai, namun asing. Saling berdesakan, berebut ruang, tapi tak menyapa. Di sana, artikel tak terbit karena pertanyaan besar telah dijawab, melainkan karena tenggat waktu, target institusi, atau nilai akreditasi. Di sana, makalah lahir dari algoritma kewajiban, bukan kegelisahan.

Ada yang mengingatkan tentang noise. Sebuah kata yang kini bukan hanya gangguan telinga, tapi juga batin. Daniel Kahneman dan dua sahabatnya pernah menulis. Kesalahan bisa dikoreksi, tapi ketidakteraturan yang sistemik lebih sulit dihapus. Dua penilai bisa membaca naskah yang sama, namun menyimpulkannya berbeda. Bukan karena substansi, tapi karena cuaca pikirannya. Suatu hari cerah, tulisan bisa lulus. Di hari lain, hujan turun, dan makalah pun ditolak.

Apa yang disebut decision hygiene, kebersihan dalam menilai, hanya tinggal dalam buku. Ia belum jadi kebiasaan. Sistem yang bernama peer review seolah mengklaim objektivitas, tapi diam-diam menyimpan subjektivitas yang tak pernah diakui. Kadang, tulisan diproses oleh penilai yang letih. Kadang, oleh yang sedang tergesa. Ilusi kesepakatan lalu menjadi tameng dari sesuatu yang tak kunjung jernih.

Di tengah kekacauan ini, kita bertanya. Apakah ilmu masih berbicara?

Mungkin ia telah menjadi suara yang diredam dalam auditorium yang riuh. Atau, mungkin ia telah memilih diam. Bukan karena tak ada yang dikatakan, tapi karena tak ada ruang untuk didengar.

Kita hidup dalam masa ketika menulis ilmiah adalah cara mempertahankan eksistensi, bukan menyampaikan keresahan. Ketika publikasi tidak membawa terang, tapi kabut. Dan dari dalam kabut itu, kita pun meraba-raba. Bukan lagi mencari jawaban, tapi sekadar memastikan bahwa kita belum kehilangan arah.

Namun, adakah yang masih bertanya?

Dua dekade sebagai editor jurnal: Dari konten ke kredibilitas

Sejak 20 tahun lalu, saya telah menjadi editor jurnal Malaysian Journal of Fundamental and Applied Sciences (MJFAS). Perjalanan ini bukan sekadar proses mengelola naskah, tetapi juga perjalanan learning progression, pembelajaran yang berkembang seiring waktu. Jika dulu tugas utama saya adalah menilai substansi manuskrip, kini peran saya telah bergeser ke ranah yang lebih kompleks: memilah-milah kredibilitas pengarangnya.

Pada awalnya, tantangan terbesar adalah menarik minat peneliti agar mengirimkan karya mereka. Jurnal ini tumbuh dari ketidakdikenalan menjadi platform yang kini harus sangat selektif dalam menerima artikel. Dulu, saya hanya membaca isi, menilai kesesuaian topik, kebaruan (novelty), dan kualitas metodologi. Fokus saya sepenuhnya pada konten: apakah sebuah makalah memiliki kontribusi ilmiah yang signifikan?

Namun, zaman telah berubah dan MJFAS sudah menerima banyak sekali makalah. Kini, dengan semakin banyaknya penulis yang mencoba peruntungan di dunia akademik, saya menyadari bahwa menilai hanya berdasarkan isi saja tidak lagi cukup. Saya mulai memperhatikan rekam jejak penulis. Kredibilitas ilmiah bukan hanya soal satu makalah yang tampak meyakinkan, tetapi juga tentang bagaimana konsistensi akademik seseorang dalam meneliti dan berkontribusi dalam bidangnya.

Era kecerdasan buatan (AI) semakin memperumit tantangan ini. Dulu, keunggulan sebuah makalah bisa dilihat dari kedalaman analisis dan orisinalitas gagasan. Sekarang, AI dapat membantu menghasilkan tulisan yang tampak rapi, berstruktur baik, dan bahkan menyisipkan analisis yang tampaknya canggih. Dalam kondisi seperti ini, bagaimana cara membedakan makalah yang benar-benar berkualitas dengan yang hanya “dibantu” AI secara berlebihan?

Jawabannya terletak pada kredibilitas penulis. Saya baru-baru ini menolak sebuah makalah bukan karena isi teknisnya buruk, tetapi karena rekam jejak penulisnya tidak menunjukkan kompetensi di bidangnya. Dalam dunia akademik, integritas ilmiah bukan sekadar soal menulis artikel yang terlihat meyakinkan, tetapi juga tentang kontribusi nyata terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.

Saat ini, saya percaya bahwa menjadi editor bukan lagi hanya soal membaca dan menilai isi, tetapi juga memilah siapa yang layak berkontribusi dalam percakapan ilmiah. Kredibilitas, pengalaman, dan konsistensi jauh lebih penting daripada sekadar satu artikel yang tampak “canggih.” Dan dalam dunia yang semakin didominasi AI, kita harus lebih berhati-hati agar ilmu pengetahuan tetap berkembang atas dasar kerja keras manusia, bukan sekadar hasil sintesis algoritma.

Menolak tanpa basa-basi: Renungan editor

Sebagai editor, saya merasa seperti penjaga gerbang terakhir dalam dunia akademik, seorang pilar yang berdiri tegak untuk memastikan hanya karya terbaik yang layak melewati celah sempit publikasi. Bagi saya, menolak artikel bukanlah sekadar hobi atau kenikmatan tersendiri, melainkan sebuah tanggung jawab moral untuk melindungi integritas ilmu pengetahuan dari ancaman tulisan-tulisan yang ceroboh dan melanggar aturan.

Setiap penolakan yang saya berikan bukan keputusan sewenang-wenang. Ia lahir dari evaluasi, didasarkan pada pedoman pengajuan yang sudah disusun dengan penuh kehati-hatian. Pedoman ini bukan sekadar hiasan formalitas, melainkan fondasi yang dirancang untuk menciptakan keseragaman dalam struktur, format, dan kualitas. Ironisnya, pedoman ini sering kali diperlakukan seperti manual elektronik yang langsung diabaikan begitu kotak kemasannya dibuka.

Bagi para penulis yang bertanya mengapa naskah mereka ditolak, saya selalu merasa dilematis antara menjawab dengan kesabaran atau membiarkan mereka belajar dari rasa sakit penolakan. Namun, waktu yang terbatas dan daftar panjang naskah yang menunggu giliran memaksa saya untuk mengambil jalan pintas. Saya memilih diam, membiarkan pedoman berbicara untuk saya, karena menjelaskan hal yang sudah tertulis rasanya sama saja seperti mengajari ikan untuk berenang.

Saya sering membayangkan bagaimana frustrasinya penulis yang merasa karya mereka diperlakukan tanpa belas kasih. Namun, saya juga membayangkan bagaimana frustrasinya saya saat menemukan artikel yang ditulis tanpa memperhatikan aturan yang sudah jelas terpampang. Hubungan ini, antara penulis dan editor, sering kali terasa seperti permainan tarik tambang yang tidak pernah selesai.

Mungkin harapan terbaik saya sebagai editor adalah bahwa para penulis akhirnya akan memahami aturan permainan ini. Bahwa mereka akan mulai membaca pedoman seperti membaca kitab suci, menyusun naskah dengan ketelitian seorang arsitek, dan memastikan setiap kalimat telah melalui penyuntingan yang tajam. Saya juga berharap mereka akan berhenti mengirimkan abstrak yang terasa lebih seperti pidato kampanye daripada ringkasan penelitian.

Namun, dalam dunia yang bergerak cepat ini, impian tersebut sering kali hanya berakhir sebagai utopia. Sampai saat itu tiba, saya akan terus duduk di kursi penghakiman ini, menjaga pintu jurnal dengan tangan yang tegas tetapi hati yang lelah. Menolak tanpa basa-basi bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan untuk memastikan bahwa ilmu pengetahuan tetap berdiri kokoh di atas pondasi yang bermutu.

Memaknai angka, merayakan proses

Mencapai 5.002 sitasi tentu tidak lepas dari dukungan dan inspirasi dari banyak pihak. Saya bersyukur atas kesempatan untuk berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan, dan akan terus berusaha menghasilkan karya yang bermanfaat.

Learning progression in advanced materials research: A personal perspective

I was invited as a speaker at the Colloquium of Academic and Research (COAR) 2024, organized by the Faculty of Science and Industrial Technology, Universiti Malaysia Pahang Al-Sultan Abdullah (UMPSA), in collaboration with Universitas Negeri Malang (UM), themed “Advancing Materials for a Sustainable Tomorrow”, held on 23 December 2024.

In my presentation “Learning Progression in Advanced Materials Research: A Personal Perspective,” I shared my reflections on the journey of exploring advanced materials, emphasizing both incremental and problem-driven approaches to scientific discovery. This topic resonates deeply with my experiences as a researcher and educator, where balancing practical advancements with bold, innovative ideas has been a recurring theme.

I began by highlighting the importance of incremental research as a foundation for growth. Often, research is judged by its ability to produce groundbreaking results, but I emphasized how small, deliberate modifications such as refining material structures or tuning acidity levels can lead to meaningful, long-term advancements. I believe this step-by-step process is not only realistic but also essential for building frameworks that enable larger breakthroughs in the future.

I also discussed the role of problem-driven research, particularly my work on phase-boundary catalysis. This type of research demands resilience and a willingness to face uncertainties. While it may not always lead to quick publications, it often paves the way for impactful discoveries. I highlighted how problem-driven research profoundly affects researchers, offering a sense of genuine discovery and innovation that is deeply rewarding. This experience reminds us of the excitement that comes from pushing scientific boundaries and uncovering new possibilities.

As I prepared this presentation, I reflected on my role as a professor and researcher. I emphasized that my responsibilities extend beyond conducting research. I believe it is equally important to inspire students with this sense of discovery. Teaching is not just about transferring knowledge; it is about igniting curiosity, encouraging exploration, and empowering students to think critically about solving problems. I see my role as a mentor who helps students appreciate both the incremental steps and bold leaps required in research, preparing them to face challenges with confidence and creativity.

I also emphasized the value of integrating computational models with experiments to validate findings. In my work, this dual approach has proven indispensable for ensuring reliability and scalability. It has enhanced my ability to make accurate predictions and optimize research outcomes, which I encouraged my audience to adopt as part of their own methodologies.

Through this presentation, I hoped to convey my belief that impactful research requires both patience and boldness. Science is not just about achieving immediate results; it is about contributing meaningful insights over time. As someone passionate about blending theory with practical applications, I see this journey in materials research as a source of motivation to continue pushing boundaries while respecting the value of steady progress.

Finally, I encouraged my audience, especially my students and fellow researchers, to embrace the challenges of research and view it as a lifelong adventure of learning and discovery. It is my hope that this presentation not only shared insights from my personal journey but also inspired others to pursue their own paths of exploration with confidence and enthusiasm.

SINTA dan fransformasi yang mendesak: Menakar dampak, bukan sekadar angka

Sebagai narasumber di SINTA Talk 2024 yang diselenggarakan oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Indonesia, saya berkesempatan mempresentasikan gagasan ini di Prime Plaza Hotel Sanur – Bali pada 21 November 2024. Acara ini menjadi momen penting untuk merefleksikan peran SINTA dalam ekosistem riset Indonesia dan arah transformasinya ke depan.

SINTA, sistem evaluasi riset kebanggaan Indonesia, kini berada di persimpangan jalan. Sistem yang selama ini menjadi tolok ukur produktivitas akademik harus menghadapi kenyataan bahwa angka-angka tidak selalu mencerminkan dampak nyata. Saat dunia riset global semakin menuntut relevansi, inovasi, dan kontribusi sosial, fokus pada metrik kuantitatif justru menciptakan ilusi kesuksesan yang menjauhkan kita dari esensi riset sejati.

Mengubah paradigma ini memang bukan perkara mudah. Budaya “kejar publikasi” telah mengakar kuat dalam ekosistem akademik kita. Namun, apakah kuantitas publikasi yang terus meningkat tanpa relevansi nyata benar-benar membawa kita lebih dekat ke Indonesia Emas 2045? Atau justru membuat kita terjebak dalam gua ilusi, seperti alegori Plato, yang hanya menatap bayangan realitas tanpa menyentuh substansinya?

Langkah konkret seperti pengembangan metrik kualitatif, apresiasi terhadap penelitian niche, dan pemanfaatan modul strategis seperti Benchmarking Tool adalah upaya yang patut didukung. Riset harus dinilai berdasarkan dampaknya terhadap masyarakat, kolaborasi lintas disiplin, serta kontribusi pada inovasi dan teknologi yang relevan secara lokal dan global. Dengan keberanian untuk meninggalkan paradigma lama, SINTA dapat menjadi bukan hanya alat evaluasi, tetapi juga pendorong utama transformasi riset yang berdampak nyata. Transformasi ini adalah langkah mendesak untuk memastikan bahwa riset Indonesia benar-benar menjadi solusi, bukan sekadar data statistik yang tak bermakna.

Ketimpangan pengakuan sains, seni, dan ilmu sosial dalam penilaian akademik: Perspektif Nietzsche dan Heidegger

Saya baru saja membaca sebuah tulisan berjudul “The Problem of Science in Nietzsche and Heidegger” karya Babette Babich, yang membahas kritik kedua filsuf ini terhadap sains modern dan bagaimana seni serta ilmu sosial dipinggirkan dalam sistem akademik. Nietzsche melihat sains modern sebagai usaha yang sering kali mengabaikan dimensi eksistensial kehidupan, sehingga seni dibutuhkan sebagai perlindungan dari kebenaran yang menyakitkan. Sementara itu, Heidegger menyoroti bagaimana sains dan teknologi mengutamakan pengukuran dan kontrol, sehingga mengasingkan manusia dari pemahaman yang lebih mendalam tentang keberadaan. Kedua filsuf ini memandang seni sebagai sarana penting untuk mengungkapkan kebenaran yang tidak dapat dijangkau oleh sains.

Ketidaksejajaran sains dan seni

Dalam pandangan Nietzsche, sains dan seni berasal dari kekuatan kreatif yang sama, tetapi mereka memiliki tujuan berbeda. Sains bertujuan untuk mencari kebenaran objektif, tetapi sering kali menghasilkan pemahaman yang mereduksi realitas dan mengabaikan dimensi emosional dan spiritual kehidupan. Seni, di sisi lain, memberikan ruang untuk melarikan diri dari kebenaran yang terlalu keras dan menawarkan cara untuk menemukan makna hidup yang lebih mendalam dan estetis. Nietzsche berpendapat bahwa seni memiliki kemampuan untuk membantu manusia menghadapi kenyataan yang pahit.

Heidegger menyatakan bahwa sains modern dan teknologi cenderung melihat dunia sebagai sesuatu yang bisa diukur dan dikendalikan, menjadikannya objek eksploitasi. Dalam esainya “The Question Concerning Technology”, Heidegger mengkritik pandangan ini, menyatakan bahwa pendekatan teknologis tersebut menyebabkan manusia kehilangan hubungan autentik dengan dunia. Seni, dalam pandangan Heidegger, berfungsi sebagai alat untuk mengungkapkan kebenaran yang lebih mendalam tentang keberadaan, dengan cara yang tidak dapat dicapai oleh sains yang berbasis pengukuran.

Ketidaksejajaran ini semakin jelas terlihat dalam konteks penilaian akademik di platform indeksasi seperti Scopus dan Web of Science (WoS). Jurnal-jurnal seni dan humaniora sering kali dipinggirkan dalam sistem penilaian akademik, sementara jurnal di bidang sains alam atau teknologi memperoleh indeksasi dan pengakuan yang lebih tinggi. Ini menciptakan hierarki pengetahuan yang bias, di mana pengetahuan kuantitatif dianggap lebih berharga daripada pengetahuan kualitatif atau interpretatif.

Bias dalam indeksasi akademik: Marginalisasi seni dan ilmu Sosial

Platform seperti Scopus dan WoS mengutamakan disiplin yang menghasilkan pengetahuan terukur, seperti sains alam dan teknologi. Hal ini menciptakan ketidakseimbangan, di mana ilmu sosial dan humaniora dianggap kurang ilmiah karena lebih berfokus pada pemahaman kualitatif. Seni, yang bersifat subjektif dan kreatif, bahkan lebih dipinggirkan dalam sistem penilaian ini.

Misalnya, jurnal-jurnal yang berfokus pada kajian budaya, seni, atau teori sosial sering kali memiliki indeksasi yang lebih rendah dibandingkan dengan jurnal di bidang fisika atau bioteknologi. Padahal, ilmu sosial dan humaniora memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap pemahaman kita tentang kemanusiaan dan budaya, yang tidak dapat direduksi menjadi angka atau statistik. Penilaian kuantitatif yang digunakan oleh Scopus dan WoS memperkuat marginalisasi ini karena mengandalkan h-index dan jumlah kutipan, yang lebih mudah dicapai oleh sains alam.

Heidegger dan Nietzsche akan melihat peminggiran ini sebagai bukti bahwa dunia modern terlalu fokus pada penguasaan teknologis, sementara mengabaikan aspek eksistensial dan emosional yang lebih dalam yang bisa diungkapkan melalui seni dan ilmu sosial. Sains telah mengalihkan fokus manusia dari pertanyaan eksistensial menuju pengukuran dan kontrol, yang akhirnya mengasingkan manusia dari pemahaman yang lebih autentik tentang kehidupan.

Pentingnya seni dan slmu sosial dalam pemahaman keberadaan

Nietzsche dan Heidegger sepakat bahwa seni dan ilmu sosial menawarkan pemahaman yang tidak bisa diberikan oleh sains. Nietzsche melihat seni sebagai penyaring dari kebenaran yang menyakitkan yang sering diungkapkan oleh sains. Seni memungkinkan manusia menemukan makna yang lebih dalam dan membantu menghindari keputusasaan akibat pengetahuan ilmiah yang dingin. Sementara itu, Heidegger menekankan bahwa seni adalah alat untuk mengungkap kebenaran yang lebih mendalam tentang eksistensi manusia. Seni tidak tunduk pada logika pengukuran atau kontrol, melainkan membuka ruang bagi manusia untuk merenungkan dan merasakan realitas dengan cara yang lebih otentik.

Marginalisasi seni dan ilmu sosial dalam penilaian akademik menyebabkan kehilangan perspektif penting dalam pemahaman kita tentang kehidupan manusia. Ketika seni dan ilmu sosial dianggap kurang penting, kita kehilangan dimensi eksistensial yang kualitatif. Pengetahuan bukan hanya tentang mengukur dan mengendalikan dunia, tetapi juga tentang memahami makna dan menemukan tempat kita dalam keberadaan.

Mengatasi ketimpangan: Ruang untuk seni dan ilmu sosial

Untuk mengatasi ketimpangan ini, penilaian akademik perlu lebih inklusif dalam mengakui kontribusi seni dan ilmu sosial. Nietzsche akan mengingatkan kita bahwa seni memungkinkan manusia untuk bertahan hidup dalam menghadapi kebenaran yang keras, sementara Heidegger akan menegaskan bahwa seni membuka ruang bagi pengungkapan kebenaran yang lebih otentik.

Penilaian akademik harus mengubah cara pandangnya terhadap apa yang dianggap berharga dalam dunia pengetahuan. Indeksasi dan penilaian perlu lebih terbuka terhadap disiplin yang tidak hanya fokus pada pengukuran, tetapi juga merenungkan dan menafsirkan. Dengan cara ini, seni, sains, dan ilmu sosial dapat saling melengkapi dalam memahami kehidupan secara lebih utuh.

Refleksi

Pandangan Nietzsche dan Heidegger tentang seni dan sains memberikan kritik penting terhadap bias penilaian akademik modern, yang terlalu menitikberatkan pada sains alam dan mengabaikan kontribusi seni dan ilmu sosial. Platform indeksasi seperti Scopus dan WoS memperkuat bias ini dengan menempatkan disiplin-disiplin tersebut di pinggiran. Untuk menciptakan dunia pengetahuan yang lebih seimbang, kita harus mengakui bahwa seni dan ilmu sosial memainkan peran penting dalam mengungkap kebenaran tentang keberadaan manusia, yang tidak dapat direduksi menjadi angka atau pengukuran semata.

Menyingkap kabut riset: Pencarian hakikat di balik angka dan komersialisasi

Kisah ini saya tulis sebagai refleksi dari pemikiran Martin Heidegger yang diuraikan dalam magnum opusnya Time and Being. Heidegger berbicara tentang bagaimana manusia sering terjebak dalam rutinitas dan kehilangan hubungan dengan Being yang autentik. Dalam konteks dunia akademik dan pendidikan tinggi saat ini, saya melihat bagaimana hakikat penelitian, yang seharusnya mengejar kebenaran sejati, terlupakan di balik kabut angka-angka dan tuntutan komersialisasi. Kabut ini, yang melambangkan metrik, publikasi, dan tujuan finansial, menutupi esensi sejati dari riset yang dilakukan, seperti halnya Being yang sering kali tersembunyi dalam hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari.

Di sebuah universitas yang megah, tersembunyi di balik dinding-dinding laboratorium dan ruang kelas, ada sebuah legenda tentang Penelitian Sejati. Para profesor tua selalu berbicara dengan nada berbisik tentangnya, seolah-olah ia adalah sesuatu yang begitu penting, namun kini terlupakan. Konon, dahulu kala, Penelitian Sejati adalah fondasi dari segala ilmu pengetahuan, sebuah upaya untuk mengejar kebenaran, menjawab pertanyaan mendasar, dan menemukan jawaban yang membawa kemajuan bagi umat manusia.

Namun, seiring berjalannya waktu, kabut tebal mulai menutupi penelitian ini. Kabut ini tidak seperti kabut biasa yang turun di pagi hari. Kabut ini terbuat dari angka-angka yang rumit, indeks sitasi, metrik H-index, jumlah publikasi, dan dana hibah penelitian. Semakin tebal kabut itu, semakin sulit bagi siapa pun untuk melihat Penelitian Sejati. Banyak peneliti muda yang baru saja bergabung dengan dunia akademik tidak menyadari bahwa kabut ini telah menyelimuti mereka. Mereka dengan patuh mengikuti tuntutan untuk menerbitkan sebanyak mungkin makalah, mengejar penghargaan, dan memenuhi target yang ditentukan oleh lembaga-lembaga eksternal. Mereka tenggelam dalam hiruk-pikuk angka dan metrik, tanpa pernah bertanya: Apa yang sebenarnya sedang kita cari?

Suatu hari, di sebuah ruang penelitian yang sunyi, seorang peneliti muda bernama Pehul mulai merasa gelisah. Ia melihat angka-angka di layar komputernya, grafik pertumbuhan sitasi dan laporan keuangan proyek penelitian, namun sesuatu terasa salah. Ia bertanya pada dirinya sendiri, Apakah inilah tujuan dari penelitian ini? Apakah hanya ini yang penting, angka-angka dan penghargaan? Rasa gelisah itu terus menghantuinya, hingga ia tidak lagi mampu mengabaikannya.

Pehul mendengar bisikan samar tentang Penelitian Sejati dari salah satu profesor tua yang dikenal memiliki kebijaksanaan mendalam. Profesor itu berkata kepadanya, “Di balik kabut angka-angka dan komersialisasi ini, ada sesuatu yang lebih besar yang telah terlupakan. Sesuatu yang kita sebut Penelitian Sejati, hakikat dari riset yang sebenarnya.”

Dengan rasa ingin tahu yang mendalam, Pehul mulai menyusuri jalur kabut itu. Ia berhenti memperhatikan grafik dan laporan pendanaan, dan mulai bertanya: Mengapa aku melakukan penelitian ini? Apa yang sebenarnya ingin aku temukan? Setiap pertanyaan yang ia ajukan membuka sedikit demi sedikit kabut yang menyelimuti pikirannya. Ia mulai melihat bahwa Penelitian Sejati tidak terletak pada angka atau metrik, tetapi pada pencarian kebenaran, penemuan makna baru, dan kontribusi sejati bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat.

Dalam perjalanan ini, Pehul mengalami Ereignis, momen di mana kabut mulai terangkat, dan ia menyadari bahwa penelitian bukanlah sekadar soal publikasi atau peringkat universitas. Ia merasakan kehadiran Penelitian Sejati yang selama ini tersembunyi, dan hakikat penelitian yang sebenarnya mulai terungkap. Unconcealment terjadi, kebenaran mulai disingkap, dan Pehul merasakan kedalaman penelitian yang telah lama terlupakan. Ia memahami bahwa penelitian sejati tidak bisa diukur oleh angka-angka semata, melainkan oleh dampaknya terhadap pemahaman kita tentang dunia dan kehidupan.

Tetapi perjalanan Pehul tidak mudah. Di sepanjang jalan, ia dihadapkan dengan suara-suara idle talk yang datang dari kolega dan institusi, desakan untuk mengejar metrik, memperbanyak publikasi, dan mendapatkan pendanaan lebih banyak. “Inilah yang penting,” kata mereka. “Angka-angka ini yang menentukan masa depan akademismu.”

Namun, Pehul tetap teguh. Ia tahu bahwa angka-angka itu hanyalah kabut yang menutupi Penelitian Sejati. Ia memilih untuk berfokus pada pertanyaan-pertanyaan mendasar, membiarkan penelitian yang ia lakukan berbicara melalui dampak sosialnya, bukan melalui angka-angka di laporan keuangan. Ia memilih untuk menghidupkan kembali makna dari Being dalam risetnya, sebuah proses di mana penelitian menjadi otentik, bermakna, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Dan dengan itu, Penelitian Sejati yang telah lama tersembunyi, kembali hadir. Tidak lagi dibebani oleh kabut komersialisasi atau angka-angka yang dangkal, Pehul melihat hakikat dari apa yang ia kejar selama ini. Ia merasakan kedalaman, makna, dan keberadaan sejati dari penelitiannya, sebuah penyingkapan yang tidak bisa ditemukan di balik layar metrik atau peringkat universitas, tetapi dalam pencarian kebenaran yang otentik.

Refleksi

Kisah Pehul adalah cerminan dari perjuangan para akademisi dan peneliti di dunia modern, yang sering kali terjebak dalam kabut angka dan tuntutan komersial. Namun, dengan refleksi mendalam dan keberanian untuk mempertanyakan tujuan riset, kita dapat menemukan kembali Penelitian Sejati, hakikat dari riset yang selama ini tersembunyi. Kabut angka mungkin menutupi pandangan kita, tetapi di baliknya, ada sesuatu yang jauh lebih berharga: pencarian kebenaran dan penemuan yang otentik.

Dengan ini, saya mengajak pembaca untuk kembali merenungkan esensi dari riset dan penelitian, sebagaimana Heidegger mengajarkan kita untuk memahami Being sebagai sesuatu yang autentik, melampaui kebisingan dan rutinitas yang dangkal.

Definisi istilah-Istilah Heidegger

Being (Keberadaan): Konsep fundamental dalam pemikiran Heidegger yang merujuk pada hakikat atau esensi sesuatu. Dalam konteks ini, Being merujuk pada hakikat riset yang otentik, yang berakar pada pencarian kebenaran, bukan sekadar angka atau metrik.

Presencing (Kehadiran): Proses di mana Being atau esensi dari sesuatu menjadi nyata atau hadir. Dalam konteks riset, presencing menggambarkan bagaimana penelitian dapat hadir secara otentik ketika peneliti membuka diri terhadap hakikat riset itu sendiri.

Ereignis (Peristiwa Apropriasi): Momen di mana Being dan waktu terungkap bersama-sama, memungkinkan kita untuk mengalami hakikat sesuatu. Ereignis dalam penelitian adalah saat di mana peneliti menyadari bahwa esensi riset tidak hanya dalam angka, tetapi dalam pencarian makna yang lebih dalam.

Unconcealment (Penyingkapan): Proses di mana sesuatu yang tersembunyi menjadi terbuka atau terlihat. Dalam konteks ini, unconcealment menggambarkan bagaimana hakikat riset yang tersembunyi di balik komersialisasi dapat disingkapkan kembali, mengungkap esensi penelitian yang otentik.

Idle Talk (Percakapan Hampa): Percakapan dangkal yang tidak membawa makna mendalam. Dalam dunia akademik, idle talk muncul dalam bentuk fokus berlebihan pada metrik dan prestasi kuantitatif, yang mengalihkan perhatian dari tujuan utama riset.

Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep-konsep ini, kita bisa melihat bahwa riset yang sejati bukanlah tentang memenuhi standar kuantitatif atau mendapatkan pengakuan eksternal, melainkan tentang Being, pencarian kebenaran dan makna yang mendalam yang seharusnya menjadi inti dari segala kegiatan akademik.

Tantangan editor jurnal di era keterbukaan ilmu pengetahuan

Sejak tahun 2005, saat saya memulai perjalanan sebagai editor jurnal dengan menginisiasi Malaysian Journal of Fundamental and Applied Sciences (MJFAS) di Universiti Teknologi Malaysia (UTM), saya tak pernah membayangkan akan mencapai titik ini—saat jurnal yang dulu berjuang mencari artikel, kini dibanjiri manuskrip setiap harinya. Keadaan berubah drastis, dari kesulitan mencari paper yang berkualitas hingga kewalahan menangani tumpukan submission yang datang bak air bah. Dalam kurun waktu belasan tahun, MJFAS telah berkembang pesat, diakui dan diindeks oleh Scopus dan WoS, dan kini menjadi destinasi yang diincar para peneliti untuk mempublikasikan karya mereka.

Namun, di balik ini ada realita yang jarang diketahui oleh publik. Ketika paper-paper itu bertubi-tubi masuk, peran saya sebagai editor berubah dari sekadar memfasilitasi proses publikasi menjadi penjaga gerbang kualitas. Dulu, saya bisa memberikan lebih banyak waktu untuk membaca dan merefleksikan setiap manuskrip yang dikirimkan, mencoba mencari potensi di balik ide-ide yang diajukan. Sekarang, dengan keterbatasan waktu dan kapasitas, saya harus membuat keputusan cepat hanya dalam hitungan menit.

Mungkin terdengar arogan ketika saya mengatakan bahwa lebih dari 80% paper ditolak langsung tanpa melalui reviewer. Tapi, ini bukan tentang arogansi atau kekuasaan seorang editor. Ini tentang efisiensi dan menjaga integritas jurnal. Kapasitas kami hanya 20 paper per issue dan diterbitkan 6 kali setahun—itu berarti hanya 120 paper yang bisa diterima setiap tahunnya. Sedangkan jumlah submission yang masuk mencapai puluhan per bulan. Tanpa seleksi ketat, bagaimana mungkin menjaga standar kualitas?

Kunci dari keputusan ini adalah “keseriusan” penulis. Sebagai editor, saya bisa melihatnya dari berbagai aspek: kerapian penulisan, kesesuaian bahasa, hingga kejelasan ide. Di era ini, di mana teknologi AI memudahkan siapa saja untuk menghasilkan artikel, tugas saya sebagai editor bukan hanya menilai konten, tapi juga menilai niat dan dedikasi di balik pembuatan karya tersebut. Artikel review yang hanya berisi ringkasan tanpa ada critical analysis, misalnya, sangat mudah dibuat dengan bantuan AI. Lalu, apakah ini yang layak diterbitkan?

Tentu saja, keputusan cepat sering kali menimbulkan pertanyaan dan kekecewaan dari para penulis. Tidak sedikit yang marah dan menganggap penolakan dalam beberapa menit sebagai ketidakadilan. Tapi saya perlu menegaskan, penolakan cepat bukanlah bentuk meremehkan, melainkan kejelian dalam menilai mana karya yang pantas mendapatkan perhatian lebih.

Setiap editor yang berpengalaman akan memahami, tugas kami bukan sekadar mengisi halaman jurnal. Kami adalah penjaga gawang yang memastikan hanya ide-ide terbaik dan orisinal yang tersaring, bukan karena kami berkuasa, tetapi karena tanggung jawab kami pada ilmu pengetahuan dan komunitas akademik.

Jadi, ketika saya mereject sebuah paper hanya dalam beberapa menit, itu bukan berarti paper tersebut tidak bernilai. Bisa jadi, paper tersebut hanya belum cukup siap untuk berkompetisi di level ini. Karena pada akhirnya, penerbitan ilmiah bukan sekadar soal kuantitas, tapi tentang memberikan kontribusi yang nyata dan berarti bagi perkembangan ilmu pengetahuan.