Universitas dan nilainya

Dalam bayang-bayang pendidikan, kita menemui beragam wajah institusi yang berdiri tegak, menjanjikan ilmu dan pencerahan. Ada universitas, ada pula politeknik, dan tak ketinggalan kursus-keterampilan. Masing-masing dengan irama dan nada yang berbeda, namun berdendang dalam satu lagu: peningkatan kapasitas diri.

Universitas, bagaikan sebuah pustaka besar yang menyimpan berjuta pengetahuan, dari sains hingga seni, dari teknik hingga humaniora. Bukan sekadar tempat transfer ilmu teknis, tetapi juga ruang bagi tumbuhnya pemikiran kritis, analisis mendalam, dan penelitian yang tak kenal batas. Universitas, dalam esensinya, bukanlah sekadar institusi, melainkan sebuah ide. Ide tentang “nilai” yang lebih dari sekadar pengetahuan, melainkan pendidikan holistik yang membangun manusia dalam kerangka intelektual, sosial, dan emosional. Di sini, kita tidak membeli “komoditas”, melainkan “nilai”.

Namun, di sisi lain, ada politeknik dan kursus-keterampilan. Mereka bagaikan alat musik yang siap dimainkan, menekankan pada keterampilan spesifik, siap untuk diterjunkan ke medan kerja. Mereka berbicara tentang efisiensi, tentang “tenaga siap pakai”. Bukan berarti mereka kurang penting, justru sebaliknya. Mereka adalah jawaban atas seruan industri yang haus akan tenaga kerja terampil dalam sekejap.

Bayangkanlah, membandingkan tas Louis Vuitton dengan replikanya. Keduanya tampak sama, namun yang satu menawarkan “nilai” dalam bentuk kualitas dan prestise, sementara yang lain hanya menawarkan kemiripan. Begitu pula dengan universitas yang bagaikan “Louis Vuitton” dalam dunia pendidikan, menjanjikan kualitas dan “nilai” yang tinggi. Sementara politeknik dan kursus-keterampilan, mungkin lebih mirip replika, memenuhi kebutuhan spesifik dengan “nilai” yang berbeda.

Namun, satu hal yang harus kita ingat, setiap individu memiliki peta dan kompasnya sendiri. Bagi sebagian, pendidikan teknis mungkin menjadi jalan mereka. Tidak ada yang “lebih mulia” atau “lebih rendah”. Yang ada hanyalah pilihan, dan bagaimana kita menemukan jalan yang paling sesuai dengan hati dan pikiran kita.

Revolusi hati: Mencari makna di balik pendidikan dan riset

Dalam kesibukan mengurus administrasi dan birokrasi dalam dunia pendidikan dan riset ilmiah, kita pun tidak sempat duduk merenung. Kita sering terjebak dalam pusaran informasi yang tak berujung, lupa pada esensi dari apa yang kita cari: makna. Pendidikan, yang seharusnya menjadi kompas bagi jiwa kita, kini sering kali hanya menjadi alat untuk mengukur kecerdasan tanpa menyentuh kedalaman hati. Namun, jika kita merenung sejenak, bukankah pendidikan sejatinya adalah pencarian makna?

Saya teringat akan sebuah konsep: bahwa berpikir dan bertindak tak dapat dipisahkan dari kerangka hati kita. Berpikir adalah gerakan jiwa menuju makna. Lantas, bagaimana dengan riset ilmiah? Bukankah riset juga seharusnya didasari oleh hati, bukan sekadar akal?

Mari kita melihat dunia dengan mata hati. Bayangkan jika kita menulis dan melakukan riset dengan pendekatan seperti itu. Riset bukan lagi sekadar mencari data dan fakta, melainkan mencari makna di balik setiap fenomena. Menulis bukan lagi sekadar menyusun kata, melainkan menyusun rasa dan pemikiran yang bersumber dari hati.

Mari kita untuk melihat dunia dengan mata hati. Bayangkan jika kita menulis dan melakukan riset dengan pendekatan seperti itu. Riset bukan lagi sekadar mencari data dan fakta, melainkan mencari makna di balik setiap fenomena. Menulis bukan lagi sekadar menyusun kata, melainkan menyusun rasa dan pemikiran yang bersumber dari hati. Mungkin ini yang dimaksudkan oleh Islamisasi pengetahuan. 

Oleh karena itu, marilah kita mulai revolusi dalam pendidikan dan riset. Ini bukanlah revolusi yang bersifat fisik, tapi revolusi hati — sebuah perjalanan untuk mencari makna, untuk memahami dunia dengan lebih dalam, dan untuk menulis serta melakukan riset dengan hati. Sebab, hanya dengan hati, kita dapat mencapai kebenaran yang hakiki.

Universitas kita

Selama dua hari, saya tenggelam dalam sebuah program yang berbicara tentang perjalanan universitas menuju derajat World Class University (WCU). Berikut adalah renungan singkat dari serangkaian program tersebut.

Bayangkan saja, dunia pendidikan adalah sebuah hutan belantara dengan beragam spesies yang hidup di dalamnya. Ada universitas yang berfungsi sebagai pasar, di mana ribuan jiwa muda berdatangan, mencari ilmu layaknya seorang pedagang mencari barang di pasar. Ada pula universitas yang menyerupai rumah sakit, tempat ilmu digabungkan dengan pelayanan. Ada universitas yang memiliki struktur seperti pemerintahan, di mana segala keputusan datang dari atap piramida. Ada juga universitas yang bersinar terang seperti bintang di tengah malam, menjadi pusat perhatian banyak orang. Namun, di balik kilauannya, apakah bintang tersebut benar-benar memiliki substansi?

Dalam gema dunia pendidikan yang bergulir bagai ombak di lautan luas, ada universitas yang tampaknya terbuai dalam bayangan diri sendiri, mengejar kilauan luar daripada kedalaman isi. Mereka, dengan penuh semangat, menuangkan kekayaan untuk membangkitkan struktur megah atau memadukan citra yang mempesona. Namun, sumber kekayaan itu, seringkali, ditempuh melalui lorong pintas: mengundang mahasiswa dalam jumlah yang melimpah, sehingga dosen terperangkap dalam putaran waktu tanpa jeda, tenggelam dalam tugas mengajar yang membebani. Melihat satu dosen yang terkurung di tengah kerumunan mahasiswa, layaknya seorang maestro di tengah orkestra yang tiada henti bermain. Dan sumber daya untuk kemegahan tersebut? Datang dari jerih payah mahasiswa yang berharap mendapatkan ilmu dengan kualitas terbaik. Namun, apa makna gemerlap tersebut jika esensi pendidikan menjadi samar di baliknya?

Dalam bayang-bayang universitas modern, ada dua siluet yang menonjol: satu yang mengedepankan idealisme tulus, dan satu lagi yang menari-nari dalam kilauan branding dan pendanaan. Di tengah gedung-gedung pencakar langit pengetahuan, apakah kita telah menjual jiwa demi sinar gemerlap citra?

Bayangkanlah, dua dunia pendidikan berbeda. Di satu sisi, ada kampus yang meresap dalam ketulusan idealisme; sebuah tempat di mana setiap sudut ruang kelas bergema dengan percakapan yang mendalam. Seorang dosen berinteraksi dengan segelintir mahasiswa, memastikan bahwa setiap kata yang diucapkan mendapatkan gema, setiap tanya yang melayang mendapat respons. Kemudian, pindahkan pandanganmu ke kampus lain: struktur megah, cahaya yang mempesona, namun di baliknya, derap mesin kapitalisme yang tak kenal lelah menari. Di ruang tersebut, seorang dosen dengan mata yang sembab berupaya untuk meraih perhatian puluhan mahasiswa dalam satu ruangan sempit, di mana setiap wajah menunjukkan rasa haus akan ilmu yang otentik.

Branding memang bukan entitas jahat; ia adalah seni dalam membangun citra. Namun, ketika branding menjadi dewa, mengendalikan arus pendidikan, bukankah kita telah kehilangan esensi? Adakah universitas masih menjadi tempat pencarian ilmu, atau telah bermetamorfosis menjadi pasar yang menjual ilmu demi keuntungan?

Uang, dengan suara dominannya, seringkali membungkam idealisme. Di antara gedung dan bangku kuliah, kualitas pendidikan sering kali tersingkir, menjadi korban dari permainan finansial dan citra. Akankah kita terus berdiam, atau mulai mencari kembali jiwa pendidikan yang sejati?

Renungan ini membawa saya pada sebuah pertanyaan: Apa yang sebenarnya kita inginkan dari pendidikan di tanah air kita? Apakah kita menginginkan pendidikan yang berakar pada idealisme dan kualitas, atau pendidikan yang hanya mengejar prestasi semu tanpa serius memajukan ilmu pengetahuan? Sebagai bangsa, kita harus merenung dan memutuskan arah pendidikan kita di masa depan. Kita harus kembali pada esensi, pada inti dari apa yang seharusnya menjadi tujuan pendidikan tinggi: mencerdaskan anak bangsa dan memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Jadi, mari kita renungkan dan menilai keadaan perguruan tinggi kita. Apakah kita benar-benar mencerdaskan anak bangsa dan memajukan ilmu pengetahuan? 

Kebebasan dan tanggung jawab: Dua sisi mata uang dalam publikasi ilmiah

Ah, kebebasan—kata yang selalu menjanjikan angin segar di tengah kekakuan struktural dan birokrasi akademis. Menteri kita, dalam sebuah langkah yang bisa dianggap sebagai revolusi kecil, telah memutuskan untuk tidak lagi mewajibkan mahasiswa pasca sarjana mempublikasikan hasil penelitiannya di jurnal-jurnal ilmiah. Sebuah keputusan yang, bagai pisau bermata dua, memotong dua sisi realitas sekaligus.

Kebebasan ini, saya percaya, adalah sebuah oase di tengah gurun formalitas yang kering dan tandus. Selama ini, jurnal-jurnal ilmiah seringkali menjadi semacam ‘pasar’—tempat di mana kebenaran ilmiah diperjualbelikan, di mana etika akademis seringkali dikorbankan demi kepentingan lain: reputasi, jabatan, atau bahkan uang. Kebebasan ini adalah pembebasan dari trik-trik yang tidak etis, dari bayar-membayar, dan dari keharusan memenuhi kriteria yang terkadang lebih menghambat kemajuan ilmu pengetahuan daripada membantu.

Namun, kebebasan ini juga bisa menjadi api yang membara jika tidak dijaga dengan baik. Ia bisa menjadi alat untuk melepaskan diri dari tanggung jawab, untuk menurunkan standar ilmiah yang telah kita bangun selama ini. Kita berisiko kehilangan esensi dari apa yang kita perjuangkan: kebenaran dan etika ilmiah yang dipertanggungjawabkan.

Kita berdiri di antara langit kebebasan dan bumi tanggung jawab. Keduanya perlu dijaga agar tidak saling meniadakan. Penyederhanaan memang penting, tetapi jangan sampai kita kehilangan esensi. Kita perlu memastikan bahwa ada mekanisme kontrol yang kuat, yang bisa memfilter mana yang benar-benar ilmiah dan mana yang tidak.

Kebebasan yang tak dibarengi oleh tanggung jawab adalah sebuah anarki—sebuah kekacauan tanpa tatanan. Sebaliknya, tanggung jawab yang diberlakukan tanpa adanya ruang kebebasan adalah tirani, sebuah penindasan yang mengekang. Kita berada dalam pencarian sebuah titik tengah: sebuah ruang di mana ilmu pengetahuan dapat bermekaran, namun tetap memiliki kompas moral yang tak goyah.

Kebijakan yang baru saja diresmikan ini, bisa kita anggap sebagai langkah permulaan—sebuah pintu yang terbuka, mempersilakan kita memasuki ruang yang lebih luas. Tapi, sebuah pintu hanyalah awal; ia bukanlah tujuan. Di balik pintu itu, ada jalan yang harus kita tempuh, sebuah jalan yang penuh dengan pertimbangan dan kebijaksanaan, agar kebebasan yang kita perjuangkan tidak berubah menjadi alat penyelewengan.

Kita berada di sebuah titik krusial, di mana kebebasan dan tanggung jawab harus berjalan beriringan, saling memeriksa dan memperkuat. Hanya dengan memadukan keduanya—dengan bijak—kita bisa memastikan bahwa ilmu pengetahuan di Indonesia tidak hanya akan tumbuh, tetapi juga mempertahankan integritasnya. Di sinilah kita menemukan makna dari sebuah peradaban yang kita idamkan: sebuah peradaban yang maju tetapi juga beretika.

Kebebasan dan tanggung jawab—dua kata yang harus selalu berjalan beriringan, bagai dua penari yang menari di atas tali keseimbangan. Keduanya perlu, keduanya penting, dan keduanya harus selalu dijaga.

Dosen di era ChatGPT: Menyibak kabut AI dengan bijaksana

Siapa yang menyangka bahwa ChatGPT, yang baru saja muncul di panggung dunia, bisa mengguncang dunia pendidikan dengan begitu dahsyat? Teknologi AI ini, dengan segala kecanggihannya, telah memaksa kita untuk memandang ulang peran tradisional dosen. Dulu, dosen adalah sumber informasi utama, tapi sekarang? Dengan informasi yang melimpah ruah di ujung jari, dosen harus bermetamorfosis menjadi pemandu wisata di hutan belantara informasi. Peran dosen bukan cuma jadi pemandu wisata biasa. Mereka juga harus memastikan mahasiswa tidak hanya mendapatkan jawaban, tapi juga memahami proses di baliknya, membedakan mana yang fakta dan mana yang fiksi, serta menggunakan informasi dengan bijak. Di era serba digital ini, pendidikan bukan cuma soal hafalan, tapi juga tentang keterampilan berpikir kritis dan literasi digital.

Mari kita coba uraikan lebih jauh:

  • Menyaring informasi: Di zaman yang penuh dengan informasi ini, dosen membantu mahasiswa memilah mana yang benar dan mana yang hoax. Mereka mengajarkan bagaimana membedakan sumber yang bisa dipercaya dan yang cuma isapan jempol belaka.
  • Berpikir kritis: Dosen bukan lagi sekadar pemberi tahu, tapi juga pelatih yang mengajarkan mahasiswa untuk menganalisis informasi dengan kepala dingin, membandingkan dengan sumber lain, dan mencari bukti yang mendukung atau menentang klaim.
  • Refleksi: Dosen mengajak mahasiswa untuk merenung, mengaitkan informasi baru dengan yang sudah diketahui, dan memahami lebih dalam.
  • Mengerti konteks: Siapa yang berbicara? Apa tujuannya? Apakah ada agenda tersembunyi? Dosen perlu mengajarkan mahasiswa untuk memahami latar belakang informasi.
  • Bertindak dengan etika: Di zaman serba mudah ini, dosen menekankan pentingnya menggunakan informasi dengan cara yang etis dan bertanggung jawab.

Jadi, dosen di era digital ini bukan cuma pemberi informasi. Mereka adalah mentor yang membimbing mahasiswa melalui labirin informasi. Kita harus mendukung transformasi peran dosen ini, karena merekalah yang mempersiapkan generasi penerus kita. Saya perlu memulai dari diri sendiri.

Kinerja akademisi itu lebih dari sekadar jumlah publikasi

Saya melihat kecenderungan yang salah kaprah dalam penilaian seorang akademisi, yang terlalu fokus pada jumlah publikasi tanpa melihat makna di balik angka tersebut. Kenapa? Karena kinerja akademisi harus melibatkan lebih dari sekadar jumlah publikasi.

Dalam dunia akademik, publikasi sering kali dianggap sebagai indikator utama yang menunjukkan kontribusi seorang akademisi dalam bidang penelitian. Namun, mengukur kinerja akademisi hanya berdasarkan jumlah publikasi dapat menimbulkan keraguan dan tidak selalu mencerminkan kontribusi sebenarnya dari seorang akademisi. Meskipun seorang akademisi mungkin memiliki kapasitas yang luar biasa, ada batas waktu dan energi yang dapat dihabiskan untuk menghasilkan karya ilmiah berkualitas.

Dalam banyak kasus, akademisi bekerja sama dengan para peneliti dan mahasiswa untuk menghasilkan publikasi. Ini adalah praktik yang sah dan umum dalam dunia akademik. Namun, penting untuk mengakui kontribusi semua pihak yang terlibat dalam proses penelitian dan publikasi secara adil dan patut. Selain itu, dalam proses evaluasi, faktor-faktor lain seperti kualitas publikasi, dampak penelitian terhadap masyarakat, dan kontribusi akademisi dalam pengajaran dan pelayanan kepada masyarakat juga harus dipertimbangkan.

Asas kepatutan harus menjadi pedoman dalam proses evaluasi ini. Setiap akademisi harus diberi kesempatan yang sama untuk menunjukkan kontribusi mereka, dan pengakuan harus diberikan sesuai dengan kontribusi yang sebenarnya mereka berikan. Ini akan memastikan bahwa proses evaluasi tidak hanya adil, tetapi juga etis dan sesuai dengan prinsip kepatutan.

Untuk menghindari penilaian yang salah terhadap seorang saintis yang dapat menghambat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, penting untuk memperhatikan kualitas publikasi, bukan hanya jumlahnya. Publikasi di jurnal bereputasi tinggi dan memiliki dampak yang signifikan pada bidang penelitian harus lebih dihargai. Selain itu, penelitian kolaboratif dengan peneliti lain atau mahasiswa harus diakui dan dinilai sesuai dengan kontribusi masing-masing pihak. Dampak penelitian terhadap masyarakat, industri, dan kebijakan publik juga harus menjadi pertimbangan dalam proses penilaian. Kontribusi seorang saintis dalam pengajaran, pelayanan kepada masyarakat, dan kegiatan lainnya juga harus diperhitungkan dalam proses penilaian.

Namun, ada kecenderungan salah kaprah dalam penilaian yang terlalu fokus pada angka publikasi tanpa melihat makna di balik angka tersebut. Fokus yang berlebihan pada kuantitas publikasi dapat mengarah pada penilaian yang tidak akurat dan tidak adil terhadap kontribusi sebenarnya dari seorang akademisi. Salah kaprah ini dapat menghambat lahirnya hasil-hasil pemikiran dan pekerjaan berkualitas tinggi.

Kecenderungan ini dapat mendorong akademisi untuk memprioritaskan kuantitas publikasi daripada kualitasnya. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan kualitas penelitian dan publikasi, serta mengurangi dampak positif yang dapat dihasilkan oleh penelitian tersebut. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan kualitas dan dampak penelitian dalam proses evaluasi, bukan hanya kuantitas publikasi.

Dalam proses evaluasi, penting untuk melihat makna di balik angka publikasi. Ini melibatkan penilaian terhadap kualitas publikasi, dampak penelitian terhadap masyarakat dan industri, serta kontribusi akademisi dalam pengajaran dan pelayanan kepada masyarakat. Dengan demikian, proses evaluasi akan lebih adil, akurat, dan mencerminkan kontribusi sebenarnya dari seorang akademisi.

Dengan menghindari kecenderungan salah kaprah ini, kita dapat mendorong akademisi untuk terus berkontribusi pada penelitian, pengajaran, dan pelayanan kepada masyarakat dengan kualitas yang lebih tinggi. Ini akan memastikan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat dan dunia.

Landasan filosofis

Landasan filosofis dari pandangan kinerja akademisi itu lebih dari sekadar jumlah publikasi ini dapat ditemukan dalam beberapa konsep filosofis adalah seperti berikut.

Pertama, konsep utilitarianisme, yang menekankan pada hasil atau dampak dari tindakan seseorang. Dalam konteks ini, kita diingatkan untuk melihat dampak nyata dari publikasi akademik, bukan hanya jumlahnya. Ini mencerminkan pandangan utilitarian yang menilai tindakan berdasarkan dampaknya terhadap kebahagiaan atau kepentingan umum.

Kedua, konsep keadilan distributif, yang berkaitan dengan distribusi sumber daya atau penghargaan yang adil. Dalam tulisan ini, disarankan bahwa pengakuan dan penghargaan harus diberikan sesuai dengan kontribusi yang sebenarnya diberikan oleh akademisi, bukan hanya berdasarkan jumlah publikasi.

Ketiga, etika profesional, yang menekankan pentingnya etika dalam proses evaluasi kinerja akademisi. Ini mencerminkan prinsip etika profesional yang menuntut kejujuran, integritas, dan keadilan dalam semua aspek kehidupan profesional.

Keempat, konsep nilai intrinsik, yang menilai sesuatu berdasarkan nilai intrinsiknya, bukan nilai instrumental. Dalam konteks ini, kita diingatkan untuk melihat nilai intrinsik dari publikasi akademik, seperti kualitas dan dampaknya, bukan hanya nilai instrumentalnya (jumlah publikasi).

Kelima, prinsip kolaborasi dan pengakuan, yang menekankan pentingnya mengakui kontribusi semua pihak yang terlibat dalam proses penelitian dan publikasi. Ini mencerminkan prinsip filosofis tentang pengakuan dan penghormatan terhadap kontribusi individu dalam suatu kolaborasi.

Dengan memahami landasan filosofis ini, kita dapat menghindari kecenderungan yang salah kaprah dalam penilaian kinerja akademisi. Ini akan memungkinkan kita untuk melihat lebih dalam ke dalam proses evaluasi dan memberikan pengakuan yang adil dan sesuai dengan kontribusi yang sebenarnya diberikan oleh akademisi.

The philosophy of science in context

My book, “The Philosophy of Science in Context: A Philosophical Interpretation for Indonesia Higher Education,” has been successfully published. This book aims to illuminate how philosophy can shape our understanding of science and demonstrate how this understanding can be applied within the context of Indonesia’s higher education system. Please visit UMM Press to obtain this book. To read more, click the link provided above.

Amid the noise that fades in the cave of Plato, we stand, staring at the shadows that pass through the walls of our lives. This book is not just a collection of papers; the hand drives us from darkness to the brighter light of knowledge.

Imagine us, cave inhabitants trapped in shadows, now faced with a wider and deeper reality. With this book, gently but surely, I am trying to free us from the snares of ignorance and lead us on the path to a more tangible understanding of science and philosophy and of the world and all its complexities.

I am trying to invite you to a dialogue with every page turned. It’s not just a dialogue between me and a reader. It’s a dialogue between us, ourselves, and the world. Science philosophy is no longer a floating concept but a tool, a bridge between theory and practice, science and life.

This journey is a journey from darkness to light. It wasn’t an easy journey. There is resistance, there is fear, and there’s skepticism. However, this book never gives up; it invites us to step, one foot in front of the other, toward a broader and deeper understanding.

And in the middle of that journey, we learn not just about science or philosophy but about ourselves, our societies, and the changing world. We learn not only to accept shadows as reality but also to find sources of light to understand and appreciate the complexity and beauty of knowledge.

I try to describe this book as a journey, a dialogue, or a process of liberation. It’s an open invitation to all who dare to think, dare to ask, and dare to change. Every page invites us to understand the philosophy of science and what it means to be a human being who continues to try to comprehend the world around us.

Riset tanpa makna, seperti menulis dengan sintaksis tanpa semantik

Menggambarkan fenomena riset yang hampa, coba bayangkan seseorang yang sedang membuat kue. Dia mengikuti setiap tahapan dengan cermat, mengukur bahan dengan tepat, memanaskan oven pada suhu yang benar, dan mencampur semua bahan dengan urutan yang tepat. Akan tetapi, dia lupa menambahkan gula. Hasilnya? Kue yang terlihat sempurna, tetapi saat dicicipi, rasanya hambar dan tak berarti. Inilah yang terjadi ketika riset dilakukan hanya untuk mencapai angka dan prestise, bukan untuk mencari pengetahuan: tampak sempurna dari luar, namun kosong dan tak berarti di dalamnya.

Dalam konteks riset, sintaksis adalah seperti resep dalam pembuatan kue. Itu adalah rangkaian proses formal dalam riset, mulai dari merumuskan hipotesis, pengumpulan data, analisis data, hingga penulisan dan publikasi hasil penelitian. Sementara itu, semantik dalam riset adalah seperti gula dalam kue, yaitu unsur yang memberikan rasa dan makna. Tanpa semantik, atau tujuan yang jelas dan bermanfaat, riset menjadi serangkaian proses yang hampa, seperti kue tanpa gula.

Riset haruslah memiliki tujuan untuk menjawab pertanyaan yang belum terjawab, mengatasi masalah nyata di masyarakat, atau memajukan pengetahuan dalam bidangnya. Jika hanya diarahkan untuk meningkatkan branding atau meraih angka publikasi tertentu, maka riset tersebut akan kehilangan ‘rasanya’, menjadi tidak relevan dan tidak memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat.

Kita, sebagai bagian dari komunitas penelitian dan pendidikan, harus memastikan bahwa ‘gula’ atau semantik ini tidak pernah hilang dari ‘kue’ riset kita. Jangan sampai kita terjebak dalam pencarian angka dan prestise, sehingga melupakan makna dan manfaat nyata dari riset yang kita lakukan. Dengan begitu, riset yang kita hasilkan tidak hanya akan tampak menarik dari luar, namun juga memiliki ‘rasa’ dan ‘manfaat’ yang nyata bagi kemajuan pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat, dan juga mencerdaskan anak bangsa!

Menjelajahi makna seorang dosen: Apa tujuan pendidikan tinggi?

Bayangkan Anda berada di sebuah taman dengan dua jalur yang ditawarkan; satu jalur dipenuhi dengan bunga-bunga beraneka ragam, sedangkan yang lain hanya merupakan jalan berbatu yang lurus dan monoton. Metafora ini dapat dianggap sebagai representasi dari berbagai pilihan karir yang ada. Representasi ini juga memiliki hubungan yang erat dengan tujuan pendidikan tinggi. Lebih lanjut, penting untuk membuat distingsi antara ‘pendidikan’, yang berfokus pada pengembangan pemikiran dan pembelajaran, dan ‘pelatihan’, yang berfokus pada pengajaran keterampilan spesifik. Universitas saat ini tampak berubah menjadi semacam industri.

Menjadi dosen bisa disamakan dengan memilih jalur yang dipenuhi bunga-bunga. Jalur ini merupakan lambang rangkaian pengalaman dan interaksi yang dinamis seperti bertemu orang baru, bertukar pikiran, dan menyaksikan cahaya baru yang lahir dari proses belajar-mengajar. Sementara itu, karir lain mungkin terasa lebih mirip dengan jalur berbatu – monoton dan lurus, serupa dengan hidup yang penuh aturan dan disiplin ketat.

Memilih jalur bunga berarti Anda memilih untuk merasakan kehidupan yang dinamis dan beragam. Anda memilih untuk tumbuh dan berkembang layaknya bunga-bunga tersebut, dan mungkin menjadi semacam ‘penyiraman’ bagi ‘bunga’ lainnya (mahasiswa Anda) yang membutuhkan ‘nutrisi’ berupa pengetahuan dan inspirasi.

Dalam kerangka berpikir filosofis, kita bisa memahami mengapa pilihan ini dilakukan. Misalnya, Hedonisme mengajarkan kita untuk mencari kenikmatan dan kebahagiaan dalam hidup, seperti mencari pengalaman baru dan interaksi sosial yang bisa kita temui di jalur bunga. Sementara itu, Eksistensialisme berbicara tentang menciptakan makna dalam hidup kita sendiri dan bertanggung jawab atas pilihan yang kita buat. Sementara itu, Humanisme, yang menekankan potensi kita untuk tumbuh dan berkembang, melihat ‘penyiraman’ dalam pengajaran sebagai suatu peluang.

Jalur bunga ini juga memberi peluang untuk berkolaborasi dengan ‘penyiram’ lainnya (rekan dosen), dan terlibat dalam ‘penanaman’ baru (penelitian dan inovasi), menjadikan jalur ini semakin menarik. Pilihan ini bukan hanya mencerminkan karir yang Anda inginkan, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai, keyakinan, dan pandangan filosofis Anda tentang makna hidup dan bagaimana Anda ingin menjalani hidup Anda.

Namun, perlu diingat bahwa sepanjang jalur bunga dan berbatu ini, ada pabrik-pabrik kecil yang telah dipasang. Ini adalah metafora dari perguruan tinggi modern yang mulai berubah menjadi semacam industri. Industri ini tampak sangat praktis, dengan sistem yang terstruktur dan efisien. Meski demikian, sebagai ‘penyiram’ atau dosen, kita harus selalu ingat bahwa tujuan kita bukanlah sekadar menjalankan mesin ini dengan cara paling efisien, melainkan untuk merawat dan menumbuhkan ‘bunga’ di jalur ini.

Pendidikan bukan hanya tentang memenuhi mahasiswa dengan fakta, seolah-olah kita memasukkan biji-biji ke dalam mesin dan menunggu hasilnya. Sebaliknya, pendidikan seharusnya seperti merangsang ‘bunga untuk tumbuh dan berkembang, memicu rasa penasaran mereka, mempertajam pemikiran kritis, dan merangsang kreativitas mereka.

Teknologi dapat digunakan sebagai alat untuk membantu kita merawat ‘bunga’ ini. Namun, teknologi seharusnya digunakan sebagai ‘alat penyiraman’ atau ‘pupuk’, bukan sebagai tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah ‘bunga’ itu sendiri – pemahaman dan pengetahuan yang diperoleh mahasiswa.

Ada perbedaan penting antara “pendidikan”, yang berfokus pada pengembangan pemikiran dan pembelajaran, dan “pelatihan”, yang lebih mirip dengan menjalankan mesin industri, berfokus pada mengajarkan keterampilan spesifik. Sebagai ‘penyiram’, tugas kita adalah memberikan ‘pendidikan’, bukan hanya ‘pelatihan’.

Dengan demikian, pendidikan merupakan nilai dalam dirinya sendiri, bukan hanya alat untuk mencapai tujuan lain. Seperti bunga di taman, pendidikan harus dinikmati dan dihargai dalam prosesnya, bukan hanya untuk hasil akhirnya. Jadi, meski perguruan tinggi sekarang ini mungkin tampak seperti industri, sebagai dosen, kita harus ingat bahwa kita masih berada di taman, dan tujuan kita adalah merawat dan menumbuhkan ‘bunga’ di sana. Kita harus mempersiapkan mahasiswa untuk memahami dan berkontribusi terhadap dunia di sekitar mereka, bukan hanya mengisi mereka dengan fakta dan angka.

Kita harus mengajarkan mahasiswa untuk berpikir secara kritis, untuk mempertanyakan dunia di sekitar mereka, dan untuk mencari makna dalam apa yang mereka pelajari. Pendidikan bukanlah tentang mengisi otak mahasiswa dengan fakta, tetapi tentang membantu mereka mengembangkan keterampilan yang mereka butuhkan untuk berpikir secara independen dan memahami dunia di sekitar mereka.

Akhirnya, menjadi dosen bukanlah tentang memilih jalur yang paling mudah atau yang paling menjanjikan secara finansial. Sebaliknya, menjadi dosen adalah tentang memilih jalur yang memungkinkan kita untuk memanfaatkan potensi kita untuk memberikan dampak positif pada masyarakat dan dunia.

Sebagai ‘penyiram’, kita memilih untuk memberikan diri kita sepenuhnya untuk membantu ‘bunga’ lain tumbuh dan berkembang, dan dalam prosesnya, kita juga tumbuh dan berkembang. Ini mungkin bukan jalur yang paling mudah, tetapi itu adalah jalur yang paling memuaskan dan memenuhi bagi banyak orang.

Jadi, apakah Anda siap untuk mengambil tantangan dan menjadi ‘penyiram’ di taman ini? Apakah Anda siap untuk membantu ‘bunga’ lain tumbuh dan berkembang, sambil juga mencapai pertumbuhan dan perkembangan pribadi Anda sendiri? Jika jawabannya ya, maka mungkin inilah saatnya bagi Anda untuk memilih jalur berbunga dan menjadi seorang dosen.

Viralitas: Keberadaan efemeral pada dunia akademik

Di era digital saat ini, viralitas adalah fenomena yang sangat umum. Mulai dari meme yang lucu, klip video yang menghibur, hingga hasil penelitian ilmiah yang coba dibuat ‘menarik’, semua berusaha menarik perhatian kita dalam aliran informasi yang tidak henti-henti. Tetapi mengapa hal-hal yang viral seringkali cepat dilupakan? Dan bagaimana ini relevan dengan dunia akademik?

Sebelumnya, kita harus memahami fenomena yang dikenal sebagai “overload informasi”. Dalam dunia yang terhubung secara online, kita terpapar pada aliran informasi yang konstan dan besar, baik itu dari media sosial, berita online, email, dan lainnya. Kondisi ini membuat sesuatu yang viral bisa mendapatkan perhatian besar untuk waktu yang singkat, tapi dengan cepat lenyap dari memori kita ketika gelombang informasi baru datang.

Selain itu, siklus berita juga mempengaruhi lupakan kita pada hal-hal yang viral. Media, termasuk media sosial, beroperasi dalam siklus berita yang sangat cepat, di mana topik baru dan menarik selalu muncul dan menggeser perhatian dari topik sebelumnya. Artinya, fenomena atau tren yang hari ini mendominasi berita dan perbincangan, besok bisa saja hilang dan tergantikan oleh sesuatu yang baru.

Namun, ada juga faktor kualitas informasi. Konten yang viral seringkali tidak memiliki nilai atau kualitas tinggi. Banyak yang viral karena kontennya yang menghibur, mengejutkan, atau membangkitkan emosi kuat, bukan karena memberikan pengetahuan atau wawasan yang mendalam. Jadi, meski viral, dampak jangka panjang mereka seringkali minim.

Fenomena viralitas ini juga meluas ke dunia akademik. Di era digital, peneliti sering merasa terdorong untuk membuat penelitian mereka viral, entah dengan teknik pemasaran atau mencoba menciptakan “buzz” di media sosial. Namun, penelitian yang berusaha viral dengan cara yang ‘aneh’ mungkin tidak memberikan dampak jangka panjang, terutama jika penelitian tersebut tidak memiliki integritas akademik yang kuat.

Bahkan, upaya untuk memviralkan penelitian dapat berdampak hanya ‘kosmetik’ pada bibliometri. Mungkin ada peningkatan jumlah kutipan atau tampilan halaman jurnal, tetapi ini tidak berarti peningkatan pemahaman atau pengetahuan ilmiah.

Akhirnya, peneliti harus mencari keseimbangan antara kebutuhan untuk berkomunikasi dan menyebarluaskan penelitian mereka dengan menjaga integritas dan kualitas penelitian itu sendiri. Alih-alih berfokus pada menciptakan sensasi atau menjadi viral, peneliti harus memastikan bahwa penelitian mereka solid, dapat dipercaya, dan berkontribusi pada pengetahuan umum.

Viralitas mungkin menyenangkan dan memuaskan untuk sementara, tetapi dampak jangka panjangnya seringkali tidak sebanding. Oleh karena itu, di tengah gelombang informasi digital yang tak henti-henti, kita perlu menjadi lebih selektif dan kritis terhadap apa yang kita konsumsi dan bagaimana kita mengevaluasi kualitasnya.

Hal ini juga berlaku untuk peneliti dan ilmuwan. Menjadikan penelitian viral mungkin tampak menarik, tetapi apakah hal tersebut sepadan dengan risiko mengurangi integritas dan dampak jangka panjang penelitian? Atau apakah lebih baik fokus pada kualitas penelitian dan kontribusi yang sebenarnya ke bidang pengetahuan?

Dalam dunia di mana semua orang berlomba untuk mendapatkan perhatian, mungkin sudah saatnya kita melambat dan mempertimbangkan apa yang benar-benar berharga dan bermakna, baik dalam konsumsi media kita sehari-hari maupun dalam penelitian akademik.

Dengan begitu, kita dapat memastikan bahwa kita tidak hanya mengejar sesuatu yang bersifat efemeral dan cepat dilupakan, tetapi juga memberikan ruang dan perhatian kita kepada informasi dan pengetahuan yang memiliki nilai dan dampak yang nyata dan berkelanjutan.