Penelitian yang dilakukan secara asal-asalan, tanpa mengikuti pedoman ilmiah yang benar, tanpa etika ilmiah, atau yang hanya bertujuan untuk publikasi cepat, pada akhirnya hanya menghasilkan karya yang tidak substansial. Meskipun tampak mengesankan dalam bibliometri, karya tersebut tidak memberikan dampak nyata. Ironisnya, ini merupakan realitas yang saat ini kita hadapi, yang berkontribusi pada munculnya ilmuwan-ilmuwan yang tidak kredibel. Potensi penelitian kita terhambat oleh pengelolaan yang buruk dan kurang fokus, walaupun dana penelitian sebenarnya cukup tersedia. Hal ini mengakibatkan hasil penelitian yang tidak optimal, yang hanya berorientasi pada kepentingan bibliometri. Kapan kita akan mulai serius, efektif, dan efisien dalam mengelola penelitian?
Tag: Pendidikan Tinggi
Pendidikan tinggi: Peringkat, bias kognitif, dan makna sejati
Di tengah hiruk-pikuk peringkat universitas yang sering kali menggebu, tersembunyi sebuah paradoks yang menggelitik. Peringkat, dengan segala angka dan statistiknya, seolah menjadi dewa baru yang disembah dalam dunia pendidikan tinggi. Namun, di balik tirai angka-angka tersebut, tersimpan sebuah pertanyaan mendalam: Apakah esensi sejati pendidikan tinggi hanya terletak pada angka-angka peringkat?
Kita sering terjebak dalam bias kognitif, terutama dalam melihat angka. Angka, yang mudah dimanipulasi, sering dianggap sebagai simbol kekuasaan, kebesaran, dan ketenaran. Namun, penting untuk mempertimbangkan dengan bijak makna di balik angka-angka tersebut. Dalam permainan peringkat ini, kita sering lupa bahwa pendidikan tinggi sejatinya adalah tentang mencerahkan, bukan sekadar kompetisi angka. Peringkat, yang seharusnya menjadi alat, malah berubah menjadi tujuan.
Kompetisi yang dibangun oleh peringkat ini sering kali menutupi keindahan kolaborasi. Bukankah dalam setiap ilmu pengetahuan, kolaborasi adalah kunci? Dalam ruang kelas, laboratorium, dan diskusi, kolaborasi adalah nyawa dari inovasi dan penemuan. Namun, dalam bayang-bayang peringkat, kolaborasi menjadi terpinggirkan, seolah-olah pendidikan tinggi hanyalah arena pertarungan gladiator antar universitas.
Efek negatif dari kompetisi ini terasa nyata. Universitas-universitas terjebak dalam permainan angka yang tak berujung, mengabaikan panggilan untuk berbagi pengetahuan dan sumber daya. Kesenjangan antara universitas ‘pemenang’ dan ‘pecundang’ semakin melebar, menciptakan jurang dalam kualitas pendidikan. Dan yang paling tragis, mahasiswa, yang seharusnya menjadi pusat dari pendidikan tinggi, terjebak dalam narasi peringkat yang sempit.
Namun, ada tiga jenis kemenangan dalam hidup ini yang perlu dipertimbangkan: Pemenang dengan angka, pemenang dengan integritas, dan pemenang dengan nilai. Pemenang dengan angka menang karena skor tertinggi, namun pemenang dengan integritas menang tanpa menindas atau menghancurkan orang lain, dan pemenang dengan nilai berguna bagi orang lain, menghargai dan berkontribusi positif kepada masyarakat. Sayyidina Muhammad SAW mengajarkan bahwa orang yang terbaik adalah mereka yang membawa manfaat paling banyak bagi umat manusia.
Maka, tibalah saatnya untuk menggugat kembali makna pendidikan tinggi. Bukan angka peringkat yang harus dikejar, melainkan pencerahan yang harus diupayakan. Kolaborasi, bukan kompetisi, yang harus menjadi nyawa pendidikan tinggi. Kita harus kembali pada esensi pendidikan sebagai pencerahan, sebagai jembatan yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kehidupan, bukan sebagai arena pertarungan angka yang tak berujung.
Dalam refleksi ini, mari kita renungkan kembali: Apakah kita akan terus terjebak dalam permainan angka peringkat, atau kita akan mengangkat wajah pendidikan tinggi sebagai sumber pencerahan yang sejati? Pilihan ada di tangan kita.
Kebebasan akademik vs Politik universitas: Pertarungan abadi
Opini ini terinspirasi oleh tulisan Edward Shils berjudul “The Political University and Academic Freedom“, yang diterbitkan di Minerva, Vol. 8, No. 4 (October 1970), pp. 479-491. Meski ditulis beberapa dekade silam, pemikirannya masih relevan hingga saat ini, terutama dalam konteks kebebasan akademik dan pengaruh politik di universitas.
Di dunia akademik, kebebasan merupakan napas kehidupan intelektual. Kebebasan ini, bagai angin yang tidak terlihat namun terasa, memberikan kekuatan bagi akademisi untuk mengejar pengetahuan tanpa terbelenggu. Namun, ketika politik mulai merasuki koridor-koridor universitas, kebebasan ini terancam. Pengangkatan berdasarkan kepentingan politik bukanlah sekadar masalah administratif; ia adalah ancaman terhadap esensi pendidikan dan penelitian itu sendiri.
Pertama, kualitas akademik yang menjadi tonggak universitas mulai tergerus. Universitas, yang seharusnya menjadi tempat berkembangnya pemikiran dan pengetahuan, berisiko menjadi arena pertarungan kepentingan politik. Ketika keputusan pengangkatan didasarkan pada afiliasi politik atau kelompok, bukan keahlian atau prestasi akademik, maka yang terjadi adalah pengkhianatan terhadap cita-cita ilmu pengetahuan.
Kedua, kebebasan akademik yang menjadi jantung pendidikan terancam. Kebebasan untuk mengeksplorasi, mengkritik, dan menyampaikan pemikiran tanpa takut akan represi adalah hak dasar setiap akademisi. Namun, dalam bayang-bayang politik, kebebasan ini bisa menjadi barang langka. Akademisi mungkin merasa perlu untuk menyensor diri mereka sendiri, membatasi penelitian atau pengajaran mereka agar sesuai dengan garis politik yang dominan.
Ketiga, polarisasi dan bias yang dihasilkan oleh pengaruh politik ini menciptakan lingkungan akademik yang tidak sehat. Universitas seharusnya menjadi tempat di mana berbagai pandangan dan ide dapat bertemu dan bersaing secara sehat. Namun, ketika politik menjadi penentu, yang tersisa hanyalah echo chamber di mana hanya suara-suara tertentu yang didengar.
Keempat, kepercayaan publik pada institusi pendidikan menjadi taruhan. Jika masyarakat melihat bahwa universitas lebih banyak dipengaruhi oleh politik daripada kebenaran ilmiah, maka kepercayaan pada hasil penelitian dan pendidikan yang dihasilkan pun akan menurun.
Kelima, konflik kepentingan yang dihasilkan oleh pengaruh politik ini merusak integritas akademik. Keputusan yang seharusnya dibuat berdasarkan kepentingan ilmiah dan pendidikan menjadi tunduk pada kepentingan politik.
Keenam, ketidakadilan dan diskriminasi yang muncul akibat pengangkatan berdasarkan politik menciptakan lingkungan yang tidak kondusif bagi pertumbuhan ilmiah. Individu yang berpotensi besar mungkin terabaikan hanya karena mereka tidak memiliki ‘warna’ politik yang diinginkan.
Dalam konteks ini, penting bagi universitas untuk mempertahankan otonominya dari pengaruh politik. Kebebasan akademik bukan hanya hak, tetapi juga tanggung jawab: tanggung jawab untuk menjaga integritas ilmiah dan pendidikan. Ini adalah perjuangan yang tidak hanya penting bagi dunia akademik, tetapi juga bagi masyarakat secara keseluruhan.
Prestasi semu dan etika akademis
Dalam hiruk pikuk dunia akademis yang penuh dengan pencarian ilmu dan kejaran prestasi semu, seringkali kita terjebak dalam pusaran kompetisi yang tak kenal ampun, yang seringkali kehilangan makna. Di sini, di ruang-ruang kelas dan laboratorium, di perpustakaan-perpustakaan yang sunyi, kita berlomba, berusaha menunjukkan yang terbaik, seringkali tanpa menyadari bahwa ada sesuatu yang terlupakan, sesuatu yang terabaikan.
Di grup WA guru besar Universitas Negeri Malang (UM), saya sengaja mengirimkan buku karya Edward Shils yang berjudul ‘Etika Akademis‘ (yang boleh dibaca dari Google Drive ini) yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diberi pengantar oleh Parsudi Suparlan. Buku lama yang sudah menguning ini telah saya bawa merantau lebih dari 20 tahun. Etika akademis, sebuah pilar penting yang seharusnya menjadi fondasi dalam dunia pendidikan, terkadang terpinggirkan dan dilupakan karena dunia pendidikan yang yang terbelenggu dengan sistem yang tidak mendorong etika akademis. Kita lupa bahwa ilmu yang kita kejar bukan hanya untuk pamer kecerdasan, pamer kehebatan, pamer prestasi semu atau untuk meraih gelar. Ilmu adalah amanah, dan dengan itu, kita memiliki tanggung jawab untuk menggunakannya dengan bijak dan bertanggung jawab.
Namun, dalam dunia yang serba cepat dan terbuka ini, di mana segalanya diukur dengan hasil dan pencapaian, etika akademis seringkali tergeser dan diletakkan ke sudut ruangan tanpa pernah dilihat. Plagiarisme, membuat riset abal-abal, kecurangan, menukangi data untuk pemeringkatan, akal bulus dalam membuat publikasi ilmiah, dan ketidakjujuran lainnya menjadi isu yang sering terdengar, adalah hal yang sering terdengar dan terlihat jelas di dunia akademis yang seharusnya suci dan penuh integritas.
Di tengah semua ini, mengingat hakikat pendidikan dan kembali kepada hakikat tersebut adalah penting. Ki Hajar Dewantara, sebagai pelopor dan tokoh pendidikan di Indonesia, memandang pendidikan sebagai alat pembebasan yang esensial, bertujuan untuk mengembangkan potensi unik setiap individu dan mempersiapkan mereka untuk kehidupan sosial yang bertanggung jawab. Beliau menekankan pentingnya pendekatan pendidikan yang demokratis, di mana guru bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator, bukan penguasa. Pendidikan, menurut beliau, harus berakar pada budaya lokal dan nasional, mengajarkan nilai-nilai moral, etika, dan keterampilan hidup, sehingga membentuk warga negara yang baik dan berkontribusi positif terhadap masyarakat dan bangsa.
Dengan mengingat hakikat pendidikan, kita diajak untuk merenung, “Untuk apa semua ilmu ini jika tidak digunakan dengan benar? Untuk apa semua pencapaian ini jika tidak dibarengi dengan integritas?” Mengingat hakikat pendidikan mengajak kita untuk kembali pada esensi sejati pendidikan, yaitu pembentukan karakter dan integritas, bukan sekadar pengejaran prestasi semata. Apalagi prestasi semu yang dibungkus dengan angka-angka yang kehilangan makna.
Jadi, dalam dunia akademis yang penuh tantangan ini, mari kita jadikan etika akademis sebagai kompas yang mengarahkan kita. Mari kita ingat bahwa ilmu adalah amanah, dan kita memiliki tanggung jawab untuk menggunakannya dengan bijak dan bertanggung jawab. Dan di atas segalanya, mari kita ingat hakikat pendidikan, sebagai pengingat bahwa yang abadi hanyalah amal perbuatan dan integritas kita.
Dengan demikian, kita akan hidup dengan lebih bermakna, lebih bijaksana, dan tentunya, lebih manusiawi. Sudah tentu. Tapi darimana kita memulai untuk mengubah ini? Apakah dari diri sendiri yang terbelenggu ini? Pikirkan dan renungkan.

Pendidikan tinggi Indonesia dan Malaysia: Sebuah perspektif pribadi
Di tengah gemuruh dan hiruk pikuk dunia pendidikan, saya merasakan diri ini terombang-ambing, terhempas antara dua dunia yang berbeda: Indonesia dan Malaysia. Dua negara yang tumbuh dari akar yang sama, namun berjalan di jalur pendidikan yang berbeda. Lebih dari dua puluh tahun saya mengajar di universitas di Malaysia, dan hampir satu setengah tahun di Indonesia, memberikan saya kacamata untuk melihat lebih dalam, untuk merenung dan meresapi.
Di Malaysia, pendidikan tinggi bagaikan orkestra yang memainkan simfoni dengan penuh semangat dan keanggunan. Universitas-universitasnya seperti biola yang mengalun indah, memainkan melodi kemajuan dan inovasi dengan nada yang merdu. Sistemnya yang terdesentralisasi memberikan kebebasan bagi setiap institusi untuk menari mengikuti irama mereka sendiri, menciptakan harmoni dalam keragaman. Namun, dalam keindahan simfoni ini, tersembunyi pertanyaan kritis dan refleksi: Apakah semua nada telah dimainkan dengan benar? Apakah kebebasan ini telah memberikan ruang bagi setiap suara untuk didengar? Kita berbicara tentang kualitas, tetapi apakah kita juga berbicara tentang kesetaraan? Di sini, kata-kata puitis tersembunyi di balik tirai kebijaksanaan, menari-nari, mengajak kita untuk merenung lebih dalam.
Sementara itu, di Indonesia, pendidikan tinggi adalah pohon yang akarnya merasuk dalam-dalam ke dalam tanah budaya dan tradisi, tumbuh dengan kekuatan dan ketabahan. Pohon ini tumbuh di tengah hutan belantara, di mana setiap daunnya adalah cerita, dan setiap akarnya adalah warisan. Pendidikan di sini mungkin terlihat seperti pohon yang kurang subur, dengan cabang-cabangnya yang belum sepenuhnya mekar. Namun, jangan salah, karena akar-akarnya kuat dan dalam, membentang jauh ke dalam tanah kehidupan. Pendidikan tidak hanya terjadi di dalam kelas, tetapi juga di dalam rumah, di dalam masyarakat, di dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata puitis teranyam dalam kehidupan sehari-hari, membentuk jiwa dan karakter, menari-nari dalam setiap hembusan angin dan desir daun.
Dan di sinilah kita menemukan ironi yang menarik dan penuh makna. Di Malaysia, di mana sistem pendidikan tampak lebih maju, lulusannya terkadang kehilangan jejak nilai-nilai, terombang-ambing dalam lautan pengetahuan tanpa kompas moral. Mereka terdidik, ya, tetapi apakah mereka juga berbudi? Di Indonesia, meskipun sistem pendidikannya dianggap kurang, lulusannya membawa nilai-nilai yang terpatri dalam jiwa, terukir dalam setiap langkah dan tindakan. Kata-kata puitis terukir dalam perilaku dan tindakan, menari-nari dalam setiap sudut kehidupan.
Mungkin, pada akhirnya, kita perlu belajar dari kedua dunia ini, menemukan jalan tengah antara kebebasan dan nilai-nilai. Dari Malaysia, kita belajar tentang pentingnya kualitas dan kebebasan dalam pendidikan. Dari Indonesia, kita belajar tentang pentingnya nilai dan akar budaya. Kita berada di persimpangan jalan, di antara dua dunia, dan tugas kita adalah menemukan harmoni dalam divergensi ini. Kita harus menari dengan irama kita sendiri, tetapi juga tidak lupa untuk mendengarkan suara-suara yang berasal dari akar kita. Karena, pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang ilmu yang kita pelajari, tetapi juga tentang manusia yang kita jadikan. Kata-kata puitis terjalin dalam esensi pendidikan, membimbing kita menuju kebijaksanaan dan kebenaran, menari-nari dalam simfoni kehidupan.
Apa dan siapa itu dosen
Dalam perjumpaan kita dengan realitas pendidikan tinggi saat ini, terselip sebuah telaah tentang ketulusan menjadi seorang pemberi ilmu—dosen. Bayangkan sekeping daun yang turut berhembus dengan angin sepoi-sepoi, bergerak lincah seiring embusan hati nan jernih, menapaki suatu perjalanan tanpa henti. Begitulah peran seorang dosen dalam kanvas dunia akademis, begitulah kita menggambarkan peran tersebut sebagai sebuah integrasi antara pengetahuan dan kemurnian etika.
Melangkah dalam gelapnya dunia ini, seorang dosen layaknya pelita yang menyinari peradaban, berjuang melawan arus kebodohan dengan nyala ilmunya. Ia menciptakan dan mengurai makna, sekaligus menganyam tapak-tapak baru ilmu pengetahuan, menjembatani apa yang tampak dan apa yang tersembunyi di balik tabir realitas.
Etika akademis
Ada suatu keindahan dan kedalaman dalam pertautan antara integritas dan etika akademis. Ia seperti dua sayap yang memungkinkan seseorang untuk terbang menembus cakrawala ilmu pengetahuan, membimbing mereka untuk menyentuh langit kesuksesan yang tak terbatas, bukan hanya dalam konteks pencapaian, tetapi dalam kualitas dan kemurnian.
Integritas dan etika akademis menciptakan resonansi dalam ruang-ruang hening pengetahuan. Keduanya merangkum kejujuran dan penghargaan terhadap kebenaran, sebuah kemurnian niat yang melampaui batas-batas pengejaran publikasi dan pengakuan. Bukanlah itu sebuah mahakarya ketika seorang dosen mampu berlayar di lautan yang luas ini, membimbing dan menjadi bimbingan, menjaga api ilmu yang tak pernah padam meski diterpa angin kencang?
Ketika dosen menyelami lautan pengetahuan, membuka mata hatinya dalam mencerna dan mencipta, ia mengambil peran sebagai garda terdepan dalam mewariskan api peradaban kepada generasi berikutnya. Intelektualnya bukanlah sekadar perenungan, melainkan juga manifestasi, sebuah representasi dari kemampuan untuk berdialog dengan dunia, menyelami rahasia-rahasia alam, sekaligus merawat benih-benih pemikiran yang mungkin suatu saat akan menumbuhkan pohon-pohon besar dalam hutan keilmuan.
Dalam keinginan menjadi pendidikan tinggi yang unggul, di sana tersembunyi tuntutan untuk terus mencari, mengejar, dan menembus batas. Dosen adalah sosok yang harus dapat melihat lebih dalam, merasakan lebih sensitif, dan menyentuh lebih dalam lagi, sehingga tangan-tangan mereka mencipta bentuk-bentuk baru, membentuk realitas yang terus berkembang, dan terus menginspirasi.
Kontribusi yang signifikan
Kontribusi yang bermakna dan tidak asal-asalan, itulah hal yang juga melekat kepada etika akademis, yang seringkali terlupakan atau sengaja diabaikan dengan tuntutan luaran penelitian. Diharapkan, kontribusi dosen perlulah signifikan dan berdampak positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan masyarakat. Tidak melakukan penelitian dengan topik-topik sepele yang hanya untuk memenuhi luaran juga menjadi hal yang penting. Namun apakah ini bisa dilakukan jika antara tuntutan dan kondisi di lapangan tidak realistis?
Namun, kebersihan dari pengetahuan ini, keberanian dalam menelisik setiap detilnya, dan kebijaksanaan dalam membagikannya, akan kehilangan maknanya bila integritas dan etika akademis ditinggalkan. Sebab, apa artinya ilmu bila tak terjaga kemurniannya? Apa artinya pencarian bila tujuannya ternoda oleh ketidakjujuran?
Dosen adalah para pejalan. Mereka yang bersedia menyelami kedalaman samudera, membuka tabir antara rahasia dan kenyataan, antara ketidaktahuan dan pencerahan. Menjadi seorang dosen bukanlah perihal menjadi lampu yang terang benderang dalam kegelapan, melainkan tentang menjadi cahaya lembut yang mampu membimbing yang lain menuju kepada pemahaman.
Pengajaran bukan hanya transfer pengetahuan. Ia adalah seni, adalah keindahan, adalah persembahan. Bila kita mampu melihat jauh ke dalam, kita akan menyadari bahwa tugas suci ini mengingatkan kita pada keberanian untuk berdiri teguh, berbicara kebenaran, dan membela nilai-nilai luhur kemanusiaan.
Dalam orkestrasi ilmu pengetahuan dan integritas, dosen membentuk melodi-melodi yang akan terus bergema, menciptakan harmoni yang melampaui ruang dan waktu, membangun jembatan antara masa kini dan masa yang akan datang. Di sana, dalam setiap notasi, dalam setiap irama, terkandung sebuah harapan bahwa kita, sebagai suatu peradaban, dapat terus berjalan, melangkah, dan berkembang, bukan atas dasar pengakuan semu, melainkan atas dasar kemurnian niat, keikhlasan, dan pengabdian yang tak pernah luntur oleh waktu.
Maka, marilah kita bina, rangkai, dan jaga bersama benih-benih itu agar tetap terpelihara, agar suatu saat, ketika kita melihat ke belakang, kita dapat tersenyum pada jejak-jejak yang telah kita ukir, pada cerita-cerita yang telah kita bingkai, sembari tetap merawat dan memelihara api ini, agar tetap menyala, memberi cahaya, dan menyuburkan benih-benih baru di masa depan.
Jadi, apa kriteria dosen yang baik itu?
Kita sampai kepenghujung renungan untuk melihat apa kriteria dosen yang baik itu.
Dosen adalah individu yang mengintegrasikan ketulusan dan integritas dalam perjalanan ilmiahnya. Ia diharapkan menjadi pelita yang menerangi kegelapan kebodohan. Ia juga diharapkan dapat merangkul etika akademis dengan penuh penghargaan terhadap kebenaran. Dosen perlu menghasilkan kontribusi yang signifikan dan bermakna. Dosen adalah seorang pejalan dan pembimbing dalam lautan ilmu pengetahuan, berdialog dengan dunia melalui perenungan dan manifestasi ilmu yang dikembangkannya. Berani untuk berbicara kebenaran dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Perjalanan akademis dan profesionalnya tidak hanya ditujukan untuk pencapaian pribadi. Penyumbang kepada perkembangan dan kemajuan peradaban. Lalu, dapat merawat benih-benih ilmu pengetahuan yang akan terus tumbuh dan berkembang sepanjang masa.
Alhamdullilah, sangat banyak dan mudah-mudahan membawa berkah.
Cerdik, namun apakah bijaksana?
Tersentak, itulah yang saya rasakan ketika mata ini tanpa sengaja menangkap sebuah iklan yang begitu berani menawarkan janji-janji manis di dunia akademis.
“Mengerjakan Paper Dengan Cepat dan Mudah Terindeks Scopus! Pelajari bagaimana cara saya menggunakan cara CERDIK yang mudah dipraktekkan, hingga punya 30 paper terindeks Scopus.”
Begitu bunyi iklan tersebut, dengan kata “CERDIK” yang dengan sengaja ditulis dengan huruf besar, seolah ingin menegaskan betapa mudahnya meraih kesuksesan di dunia ilmiah dengan cara tersebut.
Luar biasa, dan sekaligus miris.
Saya merenung, mencoba menelaah lebih dalam apa yang sebenarnya ditawarkan oleh iklan tersebut. Apakah ini sekadar trik pemasaran yang cerdik, atau memang ada sesuatu yang lebih dalam yang ingin disampaikan oleh pembuat iklan tersebut? Saya mencoba untuk tidak terburu-buru menilai, namun ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati ini.
Cerdik. Kata itu terus bergema di benak saya. Apakah dengan menjadi cerdik, seseorang bisa dengan mudah menciptakan karya ilmiah yang bernilai? Apakah dengan cara yang cerdik, ilmu pengetahuan bisa berkembang dan memberikan manfaat yang sebenarnya bagi umat manusia?
Menulis, bagi saya, adalah sebuah proses yang sakral. Ia adalah puncak dari sebuah perjalanan panjang yang melibatkan proses penelitian, pengamatan, dan refleksi yang mendalam. Menulis adalah cara kita untuk berkomunikasi dengan dunia, untuk menyampaikan temuan dan pemikiran kita agar bisa dinikmati dan dimanfaatkan oleh orang lain, bahkan oleh generasi yang akan datang.
Namun, apa jadinya jika menulis hanyalah menjadi alat untuk mencapai tujuan yang dangkal, seperti naik pangkat atau mendapatkan pengakuan dari peer? Apakah dengan cara seperti itu, kita bisa benar-benar memberikan kontribusi yang berarti bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban manusia?
Tidak ada jalan pintas dalam ilmu pengetahuan. Tidak ada cara instan untuk menciptakan karya ilmiah yang benar-benar bermakna dan berdampak bagi banyak orang. Setiap karya ilmiah yang bernilai selalu melalui proses yang panjang dan melelahkan, melibatkan pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran.
Ingat, menulis itu adalah step terakhir dari riset. Tidak ada gunanya publikasi dihasilkan jika tidak dilakukan dengan cara ilmiah. Tidak ada jalan pintas! Ingat itu.
Etika akademis
Etika akademis bagai seutas benang yang terus ditarik, mencari maknanya. Buku karya Edward Shils, “The Calling of Education: The Academic Ethic and Other Essays on Higher Education”, bagaikan sebuah peta yang menuntun kita melihat etika di dunia pendidikan. Namun, adakah kita cukup dengan sekadar memahami? Etika akademis bukan sekadar tentang plagiasi, ia lebih dari itu, adalah sebuah oase di tengah gurun; luas, mendalam, dan tak terbatas.
Ketika kita berbicara tentang ketidakjujuran, apakah itu hanya tentang memberikan informasi yang salah? Atau mungkin, ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tersembunyi di balik tirai ketidakpedulian dan keegoisan. “Penelitian tentang masalah hal yang sepele”, mungkin bagi sebagian orang adalah sebuah pilihan, namun bagi yang lain, itu adalah sebuah pelarian dari kenyataan. Fokus pada penelitian yang sepele, yang gampang, dapat dianggap sebagai pelanggaran etika akademis karena dapat mengarah pada kurangnya kontribusi yang signifikan ke dalam bidang pengetahuan. Hanya ingin cepat publikasi. Bukankah seperti yang dikatakan Edward Shils, etika akademis menekankan pentingnya integritas, kejujuran, dan kontribusi yang bermakna ke dalam bidang pengetahuan.
Di tengah-tengah hiruk-pikuk dunia modern ini, universitas berdiri sebagai oasis pengetahuan. Bagaikan hutan dengan berbagai jenis pohon, ada universitas yang menjulang tinggi, ada yang merunduk rendah; ada yang gemerlap sorot lampu kamera, ada yang tenang dalam pencarian kebenaran. Meski berbeda, ada benang merah yang mengikat: kegigihan dalam menjaga integritas dan kejujuran.
Etika akademis bukan sekadar serangkaian aturan yang tertulis. Lebih dari itu, ia adalah nafas dan denyut hati. Ia mencerminkan cara kita memandang semesta, cara kita berdialog dengan sesama, dan cara kita merenung dalam kesendirian. Di era yang serba cepat dan kompleks ini, jangan sampai kita terlena dan melupakan esensi: bahwa dalam setiap jejak langkah, etika, kejujuran, dan integritas harus selalu menjadi kompas.
Perlahan-lahan bro!
Tiba-tiba ada seruan muncul: “Berubahlah!” Namun, bergeraklah dengan langkah yang pelan. Sebab, dalam perjalanan, arah lebih berarti daripada kecepatan. Saya teringat suatu ketika, ketika aplikasi Waze dan Google Maps menjadi panduan, hasrat saya untuk segera mencapai tujuan membuat saya terjerembab dalam jalan berliku yang tak dikenal. Kesalahan bukan pada aplikasi, melainkan pada diri yang tergesa-gesa tanpa memahami benar peta dan rute yang harus dilalui.
Dalam hembusan angin zaman, kecepatan kerap menjadi mantra yang menyesatkan. Ia adalah bayang-bayang dari hasrat kita yang tergesa-gesa, mengejar apa yang tampak dekat, namun seringkali melupakan horizon yang jauh di depan mata. Adalah suatu keharusan bagi kita untuk menanam benih pemikiran yang tak hanya berakar pada saat ini, melainkan juga merentang pada masa yang akan datang.
Pendidikan bukanlah sekedar lomba lari; ia adalah tarian pikiran yang membutuhkan kedalaman, introspeksi, dan pemahaman yang tak terukur. Sedangkan industri, dengan ritmenya yang dinamis, mungkin menuntut efisiensi dan hasil instan. Namun, pendidikan adalah tentang merenung, memahami inti dari setiap pelajaran, dan memastikan setiap jejak langkah kita meninggalkan bekas yang berarti. Marilah kita tidak terlarut dalam kegaduhan kecepatan, melainkan mencari makna dan arah yang hakiki dalam setiap perjalanan.
Begitulah juga dengan kehidupan. Terkadang, kita terlalu terburu-buru, lupa bahwa arah adalah esensi dari setiap perjalanan. Terutama dalam dunia pendidikan. Kita terjebak dalam euforia mengejar ranking universitas, tanpa benar-benar memahami visi dan misi yang seharusnya menjadi kompas. Kecepatan tanpa arah hanya akan membawa kita pada kesesatan. Sebuah peringatan bagi kita semua: dalam mengejar cita-cita, pastikan kompas hati kita selalu terkalibrasi dengan benar.
Melepaskan diri dari ide lama
Kita kerap terjebak dalam konsepsi yang telah lama kita genggam. Seperti bayangan yang tak pernah pudar, ide-ide tersebut meresap dalam setiap celah kesadaran kita, menancap dengan akar yang mendalam. Kita, sebagai manusia, seringkali lupa bahwa yang paling sulit bukanlah menciptakan pemikiran, melainkan melepaskannya.
Ketika waktu berlalu, ide tersebut menjadi bagian dari kita, seolah-olah menjadi darah yang mengalir dalam urat nadi kita. Dan ironisnya, semakin lama kita berpegang teguh pada ide tersebut, semakin sulit kita melihat realitas yang ada di depan mata. Sejelas apapun kenyataan itu, mata kita tetaplah gelap jika pikiran kita tertutup rapat.
Saya sering merenung, terutama setelah bertemu dengan mereka yang telah lama terperangkap dalam sistem yang kaku dan monoton. Mereka tenggelam dalam rutinitas, dalam pola pikir yang telah terbentuk selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Sesekali, ada percikan kesadaran, namun tak lama kemudian, kesadaran itu lenyap, tersapu oleh arus rutinitas.
Dalam diamnya waktu, sistem birokrasi kita berbisik. Yang seharusnya menjadi jembatan penghubung antara impian dan kenyataan, kini kerap menjadi dinding yang memisahkan. Ada yang melihatnya sebagai bentuk kemajuan, namun dalam renungan yang lebih dalam, ia seringkali menjadi rantai yang mengikat. Pikiran-pikiran yang telah lama bersemayam, tertanam bagai akar yang mendalam, menjadikannya sulit untuk melangkah seiring dengan detak zaman yang tak pernah berhenti bergerak.
Begitu pula dengan sistem pendidikan kita. Sebuah sistem yang seharusnya menjadi mercusuar penerang jalan, namun kini seringkali menjadi hal yang membingungkan. Kita harus berani melihat, merenung, dan bertanya: Apakah kita benar-benar melihat apa yang ada di depan mata? Ataukah kita hanya melihat bayangan dari ide-ide lama yang telah lama kita genggam?
Untuk menjadi maju dan kita perlu melepaskan diri dari ide lama. Sebagai seorang dosen, saya sadar betul ini. Saya ingin murid saya memahami bahwa untuk maju kita perlu melepaskan ide lama yang sudah usang dan tidak lagi relevan. Banyak contoh-contoh yang telah saya kemukakan mengenai hal ini dalam buku saya yang berjudul “Filsafat Sains dalam Konteks: Interpretasi Filosofis untuk Pendidikan Tinggi Indonesia.” Mohon maaf ini dalam versi bahasa Inggris.

You must be logged in to post a comment.