Terlalu banyak mendengar berita buruk

Semakin hari semakin saya melihat apa yang dikatakan oleh sosiolog Prancis, filsuf dan ahli teori budaya Jean Baudrillard yang mengatakan bahwa “kita hidup di dunia di mana semakin banyak informasi dan semakin sedikit makna” benar adanya. Setelah saya lihat berita yang ditampilkan oleh handphone, semakin hari semakin banyak berita buruk yang masuk, terutama dari postingan di WhatsApp group dan media sosial lainnya. Postingan atau berita tersebut banyak berisi sindiran, ejekan, kritikan yang tidak membangun, umpatan, cacian dan lain-lain kata-kata yang bersifat negatif.

Ada hasil penelitian yang melaporkan bahwa terlalu banyak mendengar berita buruk akan mempengaruhi kesehatan jiwa. Pada tahun 2014, peneliti Harvard University yang bertanya kepada 2.500 orang dewasa di Amerika apa yang menyebabkan stres dalam kehidupan sehari-hari mereka. Empat puluh persen mengakui bahwa menonton, membaca, atau mendengarkan berita adalah salah satu penyebab stres utama mereka. Sejak itu, lebih banyak penelitian menunjukkan bahwa mendengar berita buruk dapat merusak kesehatan mental kita. Walaupun demikian, dalam zaman krisis ini, ada yang berpendapat supaya jangan menutupi berita buruk. Ada betulnya, tapi kita sebagai manusia perlu mengontrol supaya berita buruk tidak memberikan efek buruk kepada kesehatan mental kita.

Sayangnya, media menghabiskan lebih banyak waktu untuk fokus pada berita buruk daripada berita baik. Satu studi menemukan bahwa hanya satu berita baik daripada ada tujuh belas berita buruk yang diterima orang. Hal ini disebabkan karena orang lebih cenderung memperhatikan cerita tentang perang, terorisme, cuaca buruk, dan bencana alam. Psikolog menyebut ini sebagai bias negatif informasi. Kita cenderung bereaksi lebih cepat terhadap berita buruk dan mengingatnya.

Nasehat saya untuk diri saya sendiri supaya mengontrol dalam menerima berita buruk karena ini penting untuk menjaga kesehatan mental.

Kebahagiaan semu

Kepuasan tidak sama dengan kebahagiaan. Kepuasan hanya bertahan pada jangka masa yang pendek, sedangkan kebahagiaan lebih lama bertahan efeknya. Salah satu contoh kepuasan adalah menerima pujian. “Pujian dapat meningkatkan kebahagiaan“, kata para peneliti, walaupun sebenarnya kebahagiaan tersebut sebenarnya adalah hanyalah kepuasan. Mungkin ini adalah alasan mengapa banyak orang yang suka pamer supaya dipuji, supaya puas. Karena pujian tersebut sifatnya jangka pendek, maka frekuensi untuk pamer perlu tinggi supaya selalu puas. Akhirnya ketagihan. Ini fenomena yang kita temui dalam media sosial, pamer supaya dipuji. Inilah yang membuat Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, menjadi sangat kaya raya karena sekarang manusia mempunyai platform untuk mendapatkan kepuasan dari pujian. Mungkin dia paham betul dengan psikologi manusia yang dia manfaatkan menjadi peluang bisnis yang sangat menguntungkan.

Kebahagiaan adalah emosi yang datang pergi, bergantung bagaimana cara kita memandang kehidupan. di bawah ini adalah cara untuk memandang kehidupan supaya tetap bahagia, walaupun dalam keadaan senang atau susah.

"Betapa indahnya menjadi orang yang beriman! Ada kebaikan baginya walau apa pun yang terjadi padanya - dan tidak ada seorang pun, selain dia, yang menikmati berkah ini. Jika dia menerima hadiah, dia berterima kasih kepada Allah atas karunia yang membawa kebaikan baginya. Dan jika kesulitan menimpanya, dia sabar, dan kesengsaraan ini juga membawa kebaikan baginya" (Muslim).
Kisah pencarian tak henti-hentinya tikus untuk kebahagiaan, video yang luar biasa oleh Steve Cutts. Sumber aslinya bisa dilihat di YouTube.

Rasa ketidakadilan

Setiap fajar, berita-berita yang saya baca selalu menorehkan goresan ketidakadilan di hati. Ada yang semakin menggunung hartanya, bukan semata-mata karena kerja keras, melainkan karena sistem yang memihak pada mereka yang telah berada di puncak. Di sisi lain, ada yang terus terjepit dalam kemiskinan, dengan pandemi COVID-19 menambah beban mereka. Dan tak ketinggalan, ada pula yang terus menerus haus akan kekuasaan, tanpa memedulikan nasib mereka yang terpinggirkan.

Ketidakadilan, sebuah fenomena yang tak asing bagi kita semua. Ia muncul bukan hanya karena ada yang sengaja menindas, melainkan juga karena ada yang tak sengaja salah langkah. Mendapatkan keuntungan dan pengambilan keputusan yang tidak tepat atau salah; dua hal yang seringkali menjadi akar dari ketidakadilan. Bagi saya, keserakahan yang menjadi dasar dari tindakan mengambil keuntungan adalah sesuatu yang sulit untuk dimaafkan. Namun, kesalahan dalam pengambilan keputusan adalah hal yang manusiawi. Setiap insan pasti pernah berbuat salah. Dengan perspektif ini, kita bisa melihat dunia dengan lebih bijaksana, meskipun ia tak selalu adil. Dunia ini memang tidak adil.

Kelicikan iblis dan manusia

Saya mempunyai buku yang berjudul “Dialog dengan iblis” yang dikarang oleh Muhammad Abdul Al-‘Maghawiri. Buku yang menceritakan bagaimana iblis dalam menjerumuskan manusia untuk berbuat jahat seperti yang dapat dilihat dari video singkat di bawah ini. Setelah membaca buku ini, ada dua hal yang saya simpulkan, pertama iblis itu pintar, dan kedua adalah licik. Dua kemampuan ini yang membuat iblis dapat dengan mudah memperdaya manusia.

Kalau kita perhatikan dengan seksama, kita dapat merasakan bahwa kelicikan iblis ini juga terdapat pada manusia. Hal ini sering tidak kita sadari. Seringkali kita melihat orang-orang yang jujur dan teguh dalam pendirian sepertinya tidak berhasil dalam karir. Sepertinya perlu kelicikan diperlukan untuk mencapai prestasi. Hal yang sama juga dapat kita lihat ketika tujuan utama dan hakikat menjadi kabur. Sebagai contoh, kita lupa bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mendidik. Kita lupa bahwa tujuan politik adalah untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Kita lupa bahwa tujuan hukum adalah untuk keadilan. Dan seterusnya.

Saya menemukan sebuah website yang menarik yang menjelaskan bagaimana menjadi licik: https://www.wikihow.com/Be-Cunning. Saya melihat bahwa kita dapat menjadikan sifat licik itu menjadi kelicikan yang baik, dan menghindari kelicikan yang jahat dengan cara mengetahui bagaimana menjadi orang yang licik. Setelah saya baca, saya menyadari bahwa ada orang-orang yang saya kenal mempunyai karakter yang licik, bahkan sangat licik — sehingga dia dapat mencapai prestasi dunia yang hebat dimata manusia. Di bawah ini adalah hasil saduran saya terhadap website https://www.wikihow.com/Be-Cunning yang menjelaskan bagaimana menjadi orang yang licik.

Bagaimana menjadi licik?

Kamus Online Merriam-Webster mendefinisikan “licik” sebagai kata sifat yang berarti “mendapatkan apa yang diinginkan dengan cara yang cerdas dan sering kali menipu.” Orang yang licik bersedia menggunakan kehalusan, akal-akalan, dan tipu daya untuk memanipulasi orang lain dan mendapatkan apa yang diinginkannya. Dia mampu memahami niat orang lain dan menggunakan informasi ini untuk kemajuan pribadi. Menjadi licik adalah cara yang bagus untuk memastikan kita mengelola orang-orang dan kekuatan dalam hidup kita sehingga kita selalu menjadi yang teratas.

Menjadi perseptif

Maksud dari perseptif adalah cepat melihat, memahami, atau menyadari sesuatu. Ini adalah karakter utama yang diperlukan untuk menjadi orang licik.

1. Selalu mencari informasi lebih lanjut. Orang yang licik melihat hal-hal yang orang lain tidak melihatnya atau melewatkannya begitu saja. Mereka melihat mesin kehidupan yang tersembunyi. Orang licik selalu mendapatkan informasi sebanyak mungkin sebelum membuat keputusan.

2. Mempertanyakan motif orang lain. Orang yang licik terkenal karena kemampuan mereka untuk melihat melalui fasad orang lain. Dia melakukan ini karena dia mempunyai kemapuan “membaca” orang lain.

3. Mencari detail kecil. Orang yang licik memperhatikan hal-hal yang kecil yang dapat dimanipulasi untuk keuntungan mereka. Jika kita memperhatikan detail kehidupan, kita akan menemukan diri kita lebih siap untuk memanfaatkan peluang ketika peluang itu muncul dengan sendirinya.

4. Waspada. Seseorang tidak mungkin licik jika dia cuek dan tidak fokus. Bagian penting dari kelicikan adalah menjadi aktif dan waspada pada saat yang paling penting.

5. Ambil sudut pandang yang objektif. Orang yang licik berusaha untuk tidak membiarkan persepsi dan pengambilan keputusan mereka dikaburkan oleh emosi atau prasangka.

6. Perhatikan kekuatan dan kelemahan orang lain. Langkah ini sangat penting. Orang licik memperbaiki diri dengan membodohi, menipu, atau menipu orang lain. Orang tertentu jauh lebih mudah ditipu oleh orang yang licik ketika kekuatan dan kelemahannya diketahui, daripada tidak diketahui.

Membangun kecerdasan untuk menjadi licik

1. Latihan, latihan, latihan. Jika kita dilahirkan dengan sangat licik dan kejam, kita mungkin seorang psikopat. Kita dapat meningkatkan kemampuan kita untuk menjadi licik melalui latihan. Mencoba menemukan peluang berisiko rendah sebagai latihan untuk menjadi licik dalam situasi yang serius. 

2. Jangan pernah menerima apapun tanpa pertimbangan. Orang yang licik adalah orang yang skeptis. Jangan pernah menerima informasi yang kita berikan atau kesan yang diberikan seseorang kepada kita tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Terus-menerus bertanya pada diri sendiri apakah orang yang berinteraksi dengan kita tampak tulus. 

3. Pertimbangkan semua kemungkinan keberhasilan. Sebelum segala sesuatu terjadi, luangkan waktu untuk membayangkan setiap kemungkinan situasi yang mungkin terjadi dan antipasi skenario terburuk yang mungkin terjadi.

4. Belajar dari kesalahan. Penipu yang paling berpengalaman pun terkadang tertangkap. Gunakan kegagalan kita sebagai pengalaman belajar. 

5. Kenali dirimu. Orang yang licik tentu harus dapat menemukan kekuatan dan kelemahan orang lain, tetapi hampir sama pentingnya bahwa dia juga dapat menemukan kelemahannya sendiri.

Menipu orang lain

1. Sempurnakan wajah penipu kita. Sama seperti orang yang licik harus bisa membaca wajah orang lain, mereka juga harus bisa mencegah orang lain membaca wajah mereka sendiri. Sebagai contoh, cobalah untuk tidak tersenyum atau cekikikan saat kita menipu seseorang. Sebaliknya, santai dan ambil napas dalam-dalam.

2. Percaya diri dan tegas. Orang-orang lebih cenderung mempercayai orang lain yang tampak percaya diri dalam pengambilan keputusan mereka. Jika kita licik, kita harus siap untuk mengeksploitasi ini. 

3. Belajar berbohong. Kebohongan adalah sahabat orang yang licik. Kebohongan yang baik masuk akal, atau setidaknya sulit untuk disangkal. Berbohong dengan baik membutuhkan banyak kecerdasan dan kontrol emosional. Orang yang licik tidak hanya bisa berbohong kepada orang lain, dia juga bisa berbohong pada dirinya sendiri. 

4. Pasang perangkap (metaforis). Kita perlu memasang jebakan supaya orang terjerumus. Dengan menilai kekuatan, kelemahan, dan motivasi orang lain, kita dapat membuat jebakan yang hebat.

5. Jauhi sorotan. Orang yang licik tidak pernah terlalu banyak menarik perhatian orang lain.

6. Memiliki alternatif jika tidak berhasil. Orang yang licik mempertimbangkan semua hasil yang mungkin untuk skema mereka – bahkan hasil yang tidak menguntungkan. Selalu memperhitungkan kemungkinan kegagalan. Siapkan rencana jika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai rencana. 

Semoga kita dijauhi dari sifat iblis dan godaan setan yang terkutuk. Wallahu A’lam Bishawab.

Sombong tapi bodoh

Ini pengalaman saya sebagai ketua sidang ujian Ph.D. mahasiswa jurusan fisika di Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Seperti biasa, sebagai ketua sidang, sebelum sidang dimulai, saya mengundang pembimbing dan penguji untuk berdiskusi tanpa dihadiri oleh mahasiswa yang diuji. Hal ini selalu saya lakukan agar penguji yang telah membaca menilai disertasi mendapat gambaran tentang latar belakang kualitas mahasiswa yang diuji dari komentar pembimbing.

Sebelum ujian, saya telah membaca laporan yang diberikan oleh penguji. Salah satu penguji memberikan nilai gagal, mahasiswa tersebut harus mengikuti ujian kedua setelah satu tahun perbaikan. Penguji lain mengatakan bahwa disertasi hanya membutuhkan koreksi kecil. Terlihat bahwa hasil penilaian kedua penguji sangat berbeda.

Dalam diskusi sebelum ujian, pembimbing mengatakan bahwa mahasiswa ini rajin tetapi sombong. Awalnya saya tidak tahu apa yang dimaksud dengan kata sombong yang diucapkan oleh pembimbing yang berbicara menggunakan bahasa Inggris. Kata yang disebutnya adalah “vanity“. Ketika ujian berlangsung, saya menyadari bahwa mahasiswa ini memang sombong. Hal ini terlihat dari cara dia menjawab, juga bahasa tubuhnya saat berbicara. Dia meremehkan pertanyaan yang diajukan oleh penguji, sangat defensif dalam mempertahankan pendapatnya.

Setelah hampir tiga jam ujian, saya melihat banyak kelemahan dalam disertasi, baik dari penulisan maupun analisis data. Sayangnya, mahasiswa tidak mau menerima komentar konstruktif dari penguji yang sudah berpengalaman dengan topik yang diteliti oleh mahasiswa tersebut. Ini adalah kesombongan.

Seperti yang ditunjukkan oleh iblis, dia tidak mau menuruti perintah Tuhan ketika dia sujud kepada Adam. Kejadian ini bisa menjadi contoh bahwa adab sangat dibutuhkan dalam melakukan penelitian ilmiah. Sebagai seorang muslim, saya perlu mengacu pada adab yang pernah ditunjukkan oleh para ilmuwan muslim pada masa lalu, termasuk tentang perlunya seorang peneliti atau ilmuwan untuk selalu rendah hati karena Allah SWT. Hal ini perlu supaya kebenaran dapat datang. Kata Imam al-Fudayl: “Barangsiapa yang merendah diri karena Allah, maka akan dikaruniakan kepadanya hikmah atau kebijaksanaan daripada Allah.” ini adalah kekuatan spiritual yang akan memberikan dampak kepada kualitas pemikiran. ini adalah prinsip dalam melakukan penelitian ilmiah. Walaubagaimanapun, hal ini juga berlaku untuk siapa saja, termasuk manusia yang merasa dirinya pintar menganggap orang lain itu bodoh.

Tugas sebagai editor dan kelicikan penerbit

Tugas saya sebagai associate editor dari Frontiers of Chemistry adalah menilai dan menjaga kualitas dari manuskrip yang akan diterbitkan. Kualitas ini terlihat dari Impact Factor (5.221) dan CiteScore (4.1) dari jurnal ini yang relatif tinggi. Untuk menjaga kualitas, sudah dua kali saya menolak manuskrip yang ditulis oleh penulis yang juga associate editor dari Frontiers of Chemistry. Ini adalah contoh bahwa manuskrip yang ditulis editor tidak semuanya berkualitas baik. Kebetulan saya tidak kenal secara pribadi dengan penulis tersebut. Mungkin akan lain ceritanya jika kenal rapat. Secara total, saya telah menolak 6 manuskrip dan menerima 11 manuskrip untuk dipublikasikan di jurnal ini.

Ada hal yang saya tidak suka dengan sistem publikasi dari jurnal ini. Jurnal ini adalah jurnal berbayar dengan bayaran yang menurut ukuran saya adalah sangat mahal yaitu US$ 2,950 atau sekitar Rp 42,7 juta. Disamping itu, sistemnya dibuat supaya editor dan reviewer dibuat sukar untuk menolak paper yang diterima. Ketika reviewer menolak manuskrip, langsung sistem menonaktifkan reviewer tersebut sehingga reviewer tidak bisa lagi melihat komentar dari editor. Sistem ini seakan-akan berusaha supaya mengarahkan manuskrip tersebut diterima. Dengan cara begini, penerbit akan mendapatkan manuskrip yang berkualitas dan sekaligus keuntungan finansial.

Dapat dibayangkan keuntungan yang diterima oleh penerbit, sedangkan editor dan reviewer tidak dibayar. Sistem yang menurut saya licik untuk mencari keuntungan. Lalu kenapa saya masih mau menjadi editor? Jawabannya karena saya merasa ini adalah pengakuan dari rekan sejawat yang percaya kepada kepakaran saya dalam bidang yang saya tekuni. Itu saja.

Ini adalah contoh laporan saya kepada Chief Editor. Ada informasi yang sengaja saya hapus untuk menjaga kerahasiaan.

Politikus dan sains

Dua semester ini saya mengajar mata kuliah metodologi penelitian untuk mahasiswa magister dan doktor di Universiti Teknologi Malaysia (UTM), dan mahasiswa sarjana di Universitas Negeri Malang (UM). Saya menggunakan buku “Thinking, fast and slow” yang ditulis oleh Daniel Kahneman sebagai rujukan. Topik dari buku ini berkaitan dengan pengambilan keputusan, dan sangat berguna dalam penelitian ilmiah.

Topik ini menarik dan juga berguna untuk menjadi landasan kita melihat keputusan-keputusan yang telah dibuat oleh para pemimpin, terutama politikus. Jika keputusan itu salah, daya rusaknya akan lebih hebat.

Kita semua tahu bahwa politik itu berkaitan dengan kekuasaan. Jika keputusan itu tidak berlandaskan akal sehat dan sains, maka pembodohanlah yang terjadi. Ini yang saya baca dari berita akhir-akhir ini mengenai keputusan yang dibuat oleh salah seorang pemimpin daerah. Jika insiyur teknik sipil yang salah dalam membuat keputusan, mungkin hanya jembatan yang runtuh. Namun jika seorang pemimpin yang salah dalam membuat keputusan, rusaklah masyarakat. Mungkin orang ini mempunyai ambisi yang berlebih-lebihan sehingga ambisinya mengalahkan akal sehat.

Bijak, cerdik dan pandai

“Seringkali kita tidak sadar bahwa sistem pendidikan sekarang ini hanya menghasilkan orang cerdik dan pandai saja, tetapi tidak bijaksana.”

Saya sering membaca artikel mengenai kebijaksanaan dan kearifan. Namun sayangnya ditulis dalam bahasa Inggris. Dalam tulisan ini, saya mencoba menjelaskan pengertian mengenai kebijaksanaan (atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai wisdom) dengan menggunakan rujukan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang dapat diakses secara online. Diharapkan, dengan lebih memahami makna kebijaksanaan, kita dapat membedakan tindakan-tindakan yang betul-betul bijaksana. Banyak orang cerdik dan pandai, tetapi tidak bijak.

bi.jak

[1] a selalu menggunakan akal budinya; pandai; mahir: bukan beta — berperi; engkau memang, [2] —a Mk pandai bercakap-cakap; petah lidah

Jadi, kebijaksanaan itu dapat didefinisikan sebagai keadaan seseorang yang menggunakan akal dan budinya sekaligus. Dalam kata lain, untuk menjadi bijaksana, akal budi yang didasarkan kepada pengalaman dan pengetahuan perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk menjadikan kehidupan menjadi sederhana, tertib, tenang dan bermakna dengan pikiran yang damai.

Dalam bahasa Indonesia, ada kata-kata yang mirip pengertiannya dengan bijak, yaitu cerdik dan pandai. Menurut KBBI, cerdik itu berarti cepat mengerti tentang situasi, dan pandai mencari pemecahannya. Namun, kecerdikan juga terdapat unsur negatif, yaitu licik, menguntungkan diri sendiri dengan cara tipu muslihat dan mungkin dengan cara memanfaatkan orang lain.

Menurut KBBI, kata pandai didasarkan kepada kemampuan otak yang bagus dan cepat dalam menganalisis sesuatu. Pandai didefinisikan sebagai cepat dalam belajar dan memahami. Kepandaian juga berhubungan dengan kemampuan dan keterampilan.

cer.dik /cêrdik/

[1] a cepat mengerti (tentang situasi dan sebagainya) dan pandai mencari pemecahannya dan sebagainya; panjang akal; banyak akal:jika jadi pedagang, selain harus pandai berdagang, harus — pula, [2] a banyak tipu muslihatnya; licik; licin:dia seorang penipu yang –, lima kali berhasil lolos dari penangkapan polisi

pan.dai1

[1[ a cepat menangkap pelajaran dan mengerti sesuatu; pintar; cerdas: anak itu –, rajin, dan jujur, [2] a mahir; cakap; terampil: karyawan itu — lagi cekatan; ia — berbahasa Inggris, [3] v dapat; sanggup:anak itu sudah — membaca, [3] a berilmu:banyak orang — di daerah ini

pan.dai2

[1] n tukang tempa: — besi, [2] n juru (tukang) ramu

Dari penjelasan di atas, terdapat perbedaan antara kata bijak, cerdik dan pandai. Dalam kecerdikan terdapat unsur-unsur yang menguntungkan diri sendiri dengan cara yang licik, sedangkan pengertian pandai tidak mempunyai unsur penipuan atau kelicikan, tetapi berhubungan dengan kemahiran dan ketrampilan.

Pemahaman mengenai kebijaksanaan, kecerdikan dan kepandaian sangat penting dalam dunia pendidikan. Kita tidak ingin menghasilkan orang yang pandai dan licik tetapi tidak bijak — tidak memiliki akal budi. Kebijaksanaan memiliki unsur kebenaran, berpengetahuan dan memiliki penilaian yang baik terhadap sesuatu. Pada dasarnya, menjadi bijak berarti memiliki kemampuan untuk membedakan antara yang benar dan salah.

Orang yang bijaksana selalu menjaga pikiran dan perilaku mereka, sementara orang yang cerdik mungkin berpikir untuk mengalahkan orang lain untuk tujuan egois mereka sendiri. Orang bijak juga cenderung berpikir dengan cara yang berbeda.

Dalam kehidupan, semua fenomena dan keputusan yang diambil, selalu ada sisi baik dan buruknya. Tidak peduli seberapa bagus sesuatu, tetap ada sesuatu yang buruk di dalamnya. Begitu juga sebaliknya. Dalam hidup, tidak ada kesempurnaan. Jika kita hanya bisa melihat hanya yang baik saja atau hanya yang buruk saja, maka kita belum memperoleh kebijaksanaan. Untuk menjadi bijak, kita harus bisa melihat gembaran secara keseluruhan. Memahami pro dan kontra dari fenomena apapun.

Namun, tidak berarti orang yang bijaksana itu tahu semuanya. Orang yang bijaksana sadar bahwa ada hal-hal yang tidak dia ketahui. Meski tidak tahu beberapa hal, dia akan tahu apa yang harus dilakukan untuk mencari pengetahuan itu. Orang bijaksana tidak akan menyalahgunakan kecerdasannya untuk memanfaatkan orang lain secara licik untuk kepentingan dirinya.

Bunga teratai sering digunakan sebagai simbol kebijaksanaan. Bunga yang warnanya indah ini tumbuh dari kolam air yang hitam warnanya. Di sinilah kita harus belajar dari alam. Kita hidup dalam masyarakat yang materialistik dan suka memfitnah. Walaupun begini keadaannya, orang bijak tidak terpengaruh karena memilih untuk belajar menjalankan cara yang benar.

“Memahami orang lain adalah kecerdasan, memahami diri sendiri adalah kebijaksanaan sejati. Menguasai orang lain adalah kekuatan, menguasai diri sendiri adalah kekuatan sejati. Inilah kebijaksanaan.”

Kami juara

Ada kecenderungan kita memandang sesuatu dengan bias, dalam psikologi disebut bias kognitif. Salah satunya adalah bias dalam melihat angka. Ini tidak bisa dihindari. Namun yang terpenting adalah bagaimana kita dengan bijak melihat angka-angka tersebut. Angka sangat mudah untuk dimanipulasi. Mengapa angka penting? Hal ini karena angka besar mewakili simbol kekuasaan, simbol kebesaran, dan simbol ketenaran. Angka besar juga melambangkan kekuatan.

Orang merasa menjadi juara karena angka. Namun ada tiga jenis kemenangan dalam hidup ini yang perlu dipertimbangkan:

  • Pemenang dengan angka. Kita menang ketika kita mendapatkan skor tertinggi. Lebih dari orang lain.
  • Pemenang dengan integritas. Kita menang tanpa menindas dan/atau menghancurkan orang lain, dan tanpa klaim berlebihan.
  • Pemenang dengan nilai. Kita berguna bagi orang lain dan menghargai orang lain. Juara bukan hanya tentang menang, ini tentang berbuat baik kepada orang lain. Berkontribusi positif kepada masyarakat. Sayyidina Muhammad SAW mengatakan kepada kita bahwa orang yang terbaik adalah mereka yang membawa manfaat paling banyak bagi umat manusia lainnya.

Kita berharap dapat memenangkan ketiga kategori di atas.

Prinsip melakukan penelitian ilmiah

Selama menjadi peneliti, saya melihat banyak para peneliti tidak mengikuti proses epistemologi dan juga metode penelitian yang baik sehingga hasil penelitian tersebut tidak berdampak kepada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di bawah ini ada sebelas prinsip yang perlu diperhatikan bagi sesiapa yang akan atau sedang melakukan penelitian ilmiah. Prinsip pertama, yaitu adab dan niat sebagai peneliti, adalah prinsip yang menjadi asas dari semua prinsip yang lain.

[1] Adab dan niat sebagai peneliti

Sebagai seorang Muslim, saya perlu merujuk kepada adab yang telah ditunjukkan oleh para ilmuwan Muslim suatu ketika dahulu, diantaranya adalah berkenaan dengan keperluan seorang peneliti atau ilmuwan untuk selalu merendah diri karana Allah SWT. Kata Imam al-Fudayl: “Barangsiapa yang merendah diri kerana Allah, maka akan dikaruniakan kepadanya hikmah atau kebijaksanaan daripada Allah.” Ini adalah kekuatan spiritual yang akan memberikan dampak kepada kualitas pemikiran.

Sumber gambar disini. 

[2] Kompetensi dan persiapan penelitian

Persiapan dan pelatihan dengan niat dan keinginan yang baik merupakan landasan yang diperlukan untuk melakukan penelitian. Orang yang melakukan penelitian apapun spesialisasinya, harus melakukan dua hal: (1) orang tersebut harus mengenal prinsip-prinsip dan konsep-konsep dasar bidang yang ditekuni yang diperolehi dari pendidikan dan latihan, (2) berpijak pada bidang yang ditekuninya. Riset hanya akan dapat dilakukan dengan adanya peneliti, infrastruktur dan juga dana penelitian.

[3] Mengetahui bidang penelitian dan menguasainya

Adalah kewajiban setiap peneliti dalam bidang spesialisasi tertentu untuk mengetahui dimensi bidang di mana ia memunculkan dirinya sepenuhnya, sebelum ia mulai menulis tentang topik tersebut. Peneliti harus mengetahui dengan baik peneliti dan karya utama dari bidang yang diteliti. Peneliti perlu pengetahuan mendapatkan latihan dalam bidang yang diteliti. Pengunaan akal sehat saja tidak cukup.

[4] Riset ilmiah dan manfaatnya bagi kemanusiaan

Penting bagi peneliti untuk mengingat manfaat yang akan diperolehi dari hasil dari pekerjaannya, dan kontribusi yang akan diberikan oleh pekerjaannya. Apakah berkaitan dengan masalah umum atau khusus? mengatasi masalah yang ada, atau antisipasi? apakah hanya buang-buang waktu dan tidak memberikan manfaat?

[5] Penataan, pemetaan dan klasifikasi bidang penelitian yang tepat

Peneliti perlu menjelaskan pentingnya penataan dan pemetaan yang tepat dari bidang penelitian. Di antara hal-hal yang paling bermanfaat dalam bidang termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi dan juga manfaat praktis untuk masyarakat. Pemilihan bidang penelitian bukan hanya tanggungjawab dari peneliti, tetapi juga oleh institusi yang mengarahkan bidang-bidang yang menjadi bidang tumpuan utama.

[6] Mengumpulkan informasi dengan kesadaran dan pemikiran sebelumnya

Awal dari setiap studi kepustakaan bertujuan untuk mengumpulkan semua informasi yang berkaitan dengan penelitian yang bersangkutan, dan untuk mengetahui semua literatur yang relevan berdasarkan kekuatan dan kelemahannya, dan orientasi penulisnya. Walaubagaimanapun, peneliti harus berhati-hati dalam menelaah literatur karena jika salah interpretasi akan menyebabkan salah dalam mengambil kesimpulan.

[7] Menganalisis materi intelektual, urutan dan kerangka kerjanya

Setelah mengumpulkan materi, peneliti harus memeriksanya secara menyeluruh, berusaha untuk mendapatkan penilaian darinya, dan membingkainya dengan cara menyusunnya secara kronologi dengan memperhatikan pembentukan, perkembangan, dan perubahannya. Kerangka bekerja dalam penelitian perlulah mengikuti metodologi penelitian.

[8] Integritas ilmiah

Integritas ilmiah sangat penting, dan diharapkan peneliti dapat menjadi teladan kepada kebenaran dan integritas. Peneliti perlu meluruskan jika ada yang salah arah, dan menunjukkan di mana kesalahan tersebut. Peneliti harus berani menunjukkan kebenaran setiap saat.

[9] Pemahaman yang tepat dari teks dan menentukan artinya

Aspek lain dari integritas intelektual yang paling penting adalah masalah komitmen pada prinsip-prinsip untuk memahami teks dengan benar, dan menentukan maknanya dengan cara yang sesuai dengan prinsip-prinsip ilmiah. Hal yang paling berbahaya dalam bidang pengetahuan adalah bahwa seseorang mengikuti keinginan dan pendapat subjektifnya sendiri. Pemahaman teks ini sangat penting terutama dalam bidang ilmu pengetahuan sosial seperti bidang politik dan sejarah karena jika pemahaman tidak tepat, dapat menyebabkan konflik dengan pihak-pihak tertentu.

[10] Mencari spesialis

Peneliti yang jujur ​​akan mengambil informasinya dari sumber asli dari spesialis yang dapat dipercaya dan dapat diandalkan. Dalam dunia yang dibanjiri oleh hasil-hasil penelitian, kepercayaan kepada hasil-hasilnya kadangkala perlu merujuk kepada pakar dan spesialis pada bidang tersebut. Dengan tuntutan penerbitan hasil-hasil penelitian banyak hasil-hasil penelitian tidak dapat dipercaya, oleh karena itu kita perlu merujuk kepada spesialis.

[11] Kritik yang tidak memihak dan jujur

Kritik intelektual yang jujur ​​adalah ciri positif dari peneliti yang baik. Ini adalah tradisi intelektual yang perlu diteruskan dan dipelihara. Semangat kritik dan evaluasi menuntut agar hal itu dipraktikkan oleh peneliti sejati pada dirinya sendiri maupun orang lain.