Istiqomah di kota Konsistensia

Di sebuah kota yang bernama “Konsistensia,” hiduplah seorang pria tua bernama “Istiqomah.” Kota ini bukanlah kota biasa; ia adalah metafora dari kehidupan manusia, di mana setiap jalan dan gangnya adalah pilihan dan keputusan yang harus diambil. Istiqomah adalah seorang penjaga lampu jalan. Tugasnya sederhana namun vital: menyalakan lampu-lampu di sepanjang jalan kebenaran dan memadamkannya saat fajar menyingsing.

Istiqomah memiliki tiga tongkat ajaib: “Optimal,” “Moderat,” dan “Ilmu.” Dengan tongkat “Optimal,” ia menyalakan lampu dengan cahaya yang terang, namun tidak menyilaukan. Dengan tongkat “Moderat,” ia menyesuaikan intensitas cahaya sesuai dengan kebutuhan. Dan dengan tongkat “Ilmu,” ia selalu tahu kapan harus menyalakan dan memadamkan lampu.

Namun, Istiqomah tahu bahwa tongkat-tongkatnya tidak akan berfungsi tanpa bantuan dari “Taqwim,” sang pembersih jalan, dan “Iqomah,” sang penegak kebenaran. Mereka adalah teman-teman lamanya, yang selalu membantunya menjaga kota Konsistensia tetap aman dan terang.

Suatu hari, Istiqomah mendengar kabar tentang kehadiran seorang filsuf yang mengajarkan tentang jenis-jenis Istiqomah yang lebih dalam: Istiqomah dalam perkataan, jiwa, dan hati. Istiqomah merenung, menyadari bahwa tugasnya tidak hanya sebatas menyalakan lampu jalan fisik, tetapi juga menyalakan lampu dalam jiwa dan hati setiap penduduk Konsistensia.

Dengan bantuan “Pembiasaan,” “Perencanaan,” dan “Strategi,” tiga elemen kunci dari ajaran sang filsuf, Istiqomah mulai mengubah cara ia menjalankan tugasnya. Ia tidak lagi hanya fokus pada lampu-lampu di jalan, tetapi juga pada lampu-lampu yang ada di dalam setiap rumah, di dalam setiap jiwa.

Dan begitulah, di bawah cahaya lampu-lampu yang lebih terang dan jiwa-jiwa yang lebih bersinar, kota Konsistensia menjadi lebih indah dan aman. Istiqomah, dengan tongkat dan ajaran barunya, berjalan menyusuri jalan-jalan kota, menyalakan lampu dan hati, satu demi satu, dengan penuh Istiqomah.

Akhirnya, Istiqomah mengerti bahwa konsistensi bukan hanya soal menyalakan lampu di jalan-jalan fisik, tetapi juga menyalakan lampu dalam jiwa dan hati, agar setiap individu dapat menemukan jalan mereka sendiri dalam kegelapan dunia.

Politik kasihan

Seni curhat dalam politik—sebuah fenomena yang menggelitik, namun sekaligus meresahkan. Seolah para aktor politik kini menjadi penulis memoar dadakan, menyajikan detil-detil tragis atau heroik dari kehidupan pribadi mereka. Semua itu diramu dan disajikan dalam piring publik, bukan sebagai sajian penutup, melainkan sebagai hidangan utama yang menggugah rasa empati. Tidak ada yang salah dengan empati, tetapi ketika empati bertransformasi menjadi alat dalam genggaman kekuasaan, kita perlu berjaga-jaga.

Di antara lipatan-lipatan kisah yang mengharukan itu, tersembunyi dinamika kekuasaan yang lebih kompleks. Kita, sebagai audiens dan juga sebagai subjek dari dinamika ini, hendaknya tak lupa bahwa dalam teater politik, setiap gestur, setiap kata, setiap air mata, memiliki bobot yang tak pernah netral. Mereka adalah bagian dari skenario yang ditulis tidak hanya oleh para aktor itu sendiri tetapi juga oleh situasi, sejarah, dan struktur kekuasaan yang lebih luas.

Kecerdasan kolektif masyarakat sekarang sedang diuji. Di satu sisi, ada dorongan untuk merespons kemanusiaan, tetapi di sisi lain, ada kebutuhan untuk melihat apa yang bersembunyi di balik layar, di antara baris-baris naskah, dalam setiap desahan dan isak tangis. Memang, kita terus berjalan dalam kekusutan ini—kadang terpesona, kadang skeptis, tetapi selalu, selalu dengan mata yang lebih terbuka dan hati yang semakin waspada.

Dalam permainan ini, kita semua adalah pion-pion yang bergerak di atas papan catur, tetapi kita juga adalah penonton yang mampu menilai, merespons, dan pada akhirnya, mungkin, mengubah arah permainan. Ah, betapa kompleksnya panggung ini, tetapi juga betapa pentingnya kita memahami setiap jengkalnya.

“Politik Kasihan”—dua kata yang terasa kontradiktif dan harmonis dalam satu napas. Kasihan adalah naluri, perasaan yang muncul dari lubuk hati paling dalam. Sementara itu, politik seringkali dianggap sebagai arena tempat emosi dipertaruhkan demi sesuatu yang lebih pragmatis: kekuasaan. Kedua elemen ini—rasa kasihan dan politik—sekarang sering disandingkan dalam satu panggung yang sama. Sebuah fusi yang melahirkan sesuatu yang mengejutkan, dan mungkin juga menyesatkan.

Dalam situasi yang membingungkan—yang di dalamnya ada janji, ancaman, dan kata-kata puitis—politik berkaitan erat dengan kekuasaan. Kekuasaan: sebuah kata yang membawa nada berat, seperti gema di lorong bawah tanah. Di sekitar kata ini, ada permainan yang tak pernah putus: sebuah pertunjukan yang disutradarai oleh para aktor yang penuh strategi dan taktik menyikut, semua dilakukan demi panggung terbesar, yaitu kekuasaan.

Tapi, seperti dalam setiap pertunjukan, ada juga kemungkinan pengaruh lainnya yang sulit diprediksi: empati. Ada penari-penari yang bergerak lincah, tidak hanya memakai topeng-topeng licik, tetapi juga merentangkan lengan dengan pose yang memohon kasihan. Mereka memilih untuk curhat, mengeluarkan untaian kata yang penuh kepedihan, kegagalan, dan perjuangan—sebuah strategi untuk meraih simpati dari mereka yang disikut. Pernahkah ini berhasil? Tentu. Ada babak dalam sejarah di mana tragedi pribadi menjadi pembenaran untuk tindakan politik yang lebih besar, di mana air mata menjadi senjata.

Namun, berhati-hatilah. Tak seorang pun dapat menipu sepanjang waktu; orang-orang mulai menyadari. Mereka belajar dari masa lalu, dari peristiwa di mana mereka terperangkap dalam jalinan kata-kata yang mempesona namun menyesatkan. Pada akhirnya, hukum alam membalas: sikut dan disikut. Menjadi korban tipu muslihat semacam itu seringkali menjadi pelajaran yang mahal, tetapi pelajaran itu kadang-kadang diperlukan untuk memahami mekanisme politik dan kekuasaan itu sendiri.

Apakah ini artinya orang-orang kini lebih tahan terhadap trik-trik penuh belas kasihan? Mungkin, tapi juga mungkin tidak. Kita adalah makhluk yang kompleks. Kadang-kadang kita terpesona oleh yang autentik, tetapi kadang-kadang kita juga terbuai oleh mimpi-mimpi dan janji. Yang pasti, dalam politik—di mana uang dan kekuasaan menjadi puncak piramida yang dikejar—kejujuran adalah mata uang yang langka.

Dalam dunia kekuasaan ini, di mana setiap tetes air adalah perjuangan dan setiap butir pasir adalah intrik, kebenaran seringkali terkubur dalam hamparan yang luas. Tapi meski kita terus disikut dan menyikut, kita tetap berjalan, bergerak maju dengan harapan-harapan dan kekecewaan-kekecewaan yang kita bawa. Ini adalah perjalanan kita, sebuah perjalanan panjang tanpa akhir di dunia politik. Kita merangkak, berdiri, jatuh, dan bangkit lagi—selalu dengan mata yang terbuka lebih lebar, menatap ke arah yang kita tuju, namun selalu waspada terhadap apa yang bersembunyi di balik pasir dan mimpi.

Absurditas politik kampung(an)

Ada desas-desus di lorong-lorong kampung, sebagaimana lorong-lorong adalah panggung temporer bagi politik kecil—atau mungkin politik besar, tergantung pada sejauh mana mata kita terbuka. Karang Taruna, sebuah organisasi kemasyarakatan anak muda kampung yang biasanya tidak lebih dari wadah kegiatan ekstrakurikuler, telah menjadi kanvas berwarna-warni politik bawah tanah.

Pertama ada Raka, seorang pemuda yang telah memahami arti kepopuleran di dunia maya. Dengan senyumnya yang instagramable, dia menangkap mata dan perhatian, menjaring semuanya dalam satu klik kamera. Di belakangnya, ada orkestrasi kuasa lokal—orang berkuasa di kampung yang mengetuk pintu-pintu hati melalui influencer ini. Apa yang tampak adalah kulit, tetapi apa yang tersembunyi adalah daging penuh intrik.

Kedua, ada Bima, si ‘licik’—kata ini seolah melekat di setiap kalimat yang dilemparkannya. Dia seperti mimpi buruk bagi para pendebat, seorang yang bisa menjadikan perkataan “tidak” menjadi “ya”, atau setidaknya menjadi “mungkin”. Sebuah koridor kekuatan oportunis telah membangun benteng di sekitar Bima—mereka yang mengais rezeki di tengah ketidakpastian, yang menjadi oportunis karena didukung oleh oportunis lainnya.

Terakhir, ada Rani, yang jika dilihat dari luar tampak seperti pilar batu, teguh dan kokoh. Namun, di dalamnya ia seperti air, memenuhi bentuk apa pun yang diberikan kepadanya. Dia dielus dan diangkat oleh orang-orang yang fanatik kepada agama, tapi pada saat yang sama, dia berada di persimpangan antara fanatisme dan kepasrahan. Rani adalah paradoks dalam satu wajah, seolah memancarkan dua frekuensi yang berbeda dari satu inti.

Masing-masing dari mereka, dengan strategi yang tampak licik tapi juga mengagumkan dalam pelaksanaannya, berusaha saling menjatuhkan. Raka menggunakan media sosial sebagai pedangnya, menggiring opini; Bima melontarkan kata-kata yang sulit dipahami tetapi dalam kebingungannya itu memikat; sementara Rani mengedepankan tegas di luar, lembik di dalam—sebuah jebakan yang memikat bagi mereka yang mencari kejelasan dalam kerumitan.

Hari pemilihan datang, namun ternyata absurb. Mesin hitung suara tiba-tiba mogok, petugas pemilihan mundur, dan terjadi kebingungan massal yang mengundang tawa sekaligus air mata. Siapakah yang menang? Ah, pertanyaan itu terasa konyol. Di panggung politik yang absurb ini, siapa pun bisa mengaku menang, tetapi semua orang tahu bahwa yang benar-benar menang adalah ketidakpastian dan absurditas itu sendiri.

Panggung telah ditutup, tetapi noda-noda tinta pemilihan masih menempel di jari-jari kita—menjadi kenangan atau mungkin peringatan, bahwa politik, di mana pun ia berada, selalu lebih dari sekedar hitam dan putih. Ada abu-abu di situ, area yang tak pernah bisa kita pahami sepenuhnya, seolah membiarkan kita merenung dalam ironi: bahwa kita selalu tahu, namun pada saat yang sama, kita tidak pernah benar-benar tahu.

Dalam eksistensi manusia yang selalu dicari maknanya itu, filsafat absurd—terutama sebagaimana diartikulasikan oleh filsuf Prancis, Albert Camus—menjadi lensa yang menyingkap pelbagai paradoks dan ambiguitas. Dalam konteks politik yang penuh ketidakpastian dan konflik, filsafat absurd memberikan lensa untuk memahami paradoks dan ambiguitas yang ada. Bergejolak dalam ketidakpastian dan kekacauan dunia, jiwa manusia terus-menerus berupaya menggali esensi makna, keadilan, dan kebenaran. Sebuah upaya yang, bagaikan tragedi klasik, sering kali membawa ke dalam keadaan yang lebih absurd. Berbeda dari nihilisme, yang mengatakan bahwa kehidupan tidak memiliki makna, filsafat absurd memeluk gairah manusia dalam mencari tanda-tanda kebermaknaan. Nihilisme menginjak-injak harapan dengan pesimisme yang kelabu; sementara absurditas memberi ruang bagi keinginan, meskipun dalam kebingungannya. Adalah seolah-olah absurditas menjawab kegelapan dengan sebuah pertanyaan, bukan dengan putus asa.

Apakah absurditas politik ini akan membawa kita menjadi masyarakat yang maju? Itu adalah pertanyaaan lain.

Kraton Yogyakarta

Hari ini, kraton Yogyakarta—tempat di mana waktu berhenti tapi tetap bergerak—mengajak saya dan sekeluarga untuk masuk ke dalam sejarahnya yang luas, seolah-olah kita semua adalah pelancong dalam sebuah zaman. Didirikan pada tahun 1756, kraton ini mengingatkan kita bahwa masa lalu tak pernah benar-benar lenyap; ia selalu ada, tersembunyi di balik simbol dan makna.

Di pintu masuk, gambar kepala penolak bala menyapa kita. Seolah mengajarkan bahwa ada kekuatan lebih besar yang melindungi kraton ini, dan mungkin juga kita yang masuk ke dalamnya. Dinding-dindingnya adalah sastra yang belum sepenuhnya dibaca; setiap kamar, setiap sudut, memiliki cerita yang hanya bisa diungkap oleh mereka yang memahami bahasanya.

Di antara kompleks seluas 18 hektar ini, tersembunyi sekitar 5000 abdi dalam—roh dari kesultanan yang tetap bersemangat, walaupun dunia di luar sana berubah dengan cepat. Kesetiaan mereka adalah filosofi yang hidup, sebuah pengabdian yang mengejutkan bagi saya yang tumbuh di tanah Minangkabau, di mana egalitarianisme menjadi ajaran utama.

Tapi mungkin inilah kekayaan Indonesia: sebuah mozaik dari berbagai filosofi, etos kerja, dan tradisi yang saling berdampingan dalam harmoni. Kraton Yogyakarta, dalam keseriusan dan keagungannya, adalah satu dari sekian banyak wajah Indonesia—sebuah perspektif unik yang menawarkan sesuatu yang berbeda, tetapi tetap berharga.

Begitulah, dalam keteduhan kraton ini, saya tersadar bahwa keanekaragaman itu indah, dan setiap keunikan memiliki keunggulan tersendiri yang berhak untuk dihormati dan dihargai. Di kraton ini, saya menemukan sebuah Indonesia yang lebih besar dari yang pernah saya kenal; sebuah tanah air yang mengajarkan saya untuk selalu melihat ke dalam dan ke luar, sekaligus.

Memberi jalan buntu atau keluar?

Duduk di warung Soto Pak Min Klaten di Yogyakarta, aroma kaldu yang menggugah selera mengisi udara. Tiba-tiba, sebuah gitar sederhana dan suara yang lirih merayu perhatian. Seorang pengamen menghampiri, menyanyikan lagu-lagu yang tak asing di telinga. Di detik itu, dilema moral berkecamuk: memberi atau tidak memberi?

Menjadi sebuah paradoks, bukan? Di satu sisi, derasnya empati mendorong kita untuk memberikan sesuatu—dalam hal ini uang—kepada pengemis atau pengamen. Sepotong koin sebagai wujud kasih sayang, namun juga bisa jadi sebuah perangkap, menjadikan mereka terjebak dalam siklus kemiskinan dan ketergantungan. Di sisi lain, ketidakpedulian kita yang terkesan kejam, ironisnya, bisa menjadi bentuk peduli yang lebih dalam, dengan mengajari mereka bahwa dunia ini tak selalu memberi apa yang kita inginkan hanya karena kita memintanya.

Akhirnya, saya memberikan 2000 rupiah. Apakah ini tindakan yang benar atau malah sebuah kesalahan? Saya tak bisa pastikan. Agama, seringkali, berbicara tentang bersedekah sebagai tindakan yang mulia. Tetapi, apakah bersedekah selalu harus berbentuk materi? Bukankah pengetahuan dan peluang bisa lebih berharga daripada uang tunai yang dengan cepat habis terpakai? Lagipula, tak semua bersedekah berujung pada kebaikan. Ada bersedekah yang meracuni, ada yang membebaskan.

Di tengah-tengah kebingungan moral ini, masing-masing dari kita harus membuat pilihan sendiri. Tak ada jawaban mutlak, hanya ada pertimbangan dan, tentu saja, konsekuensi. Jadi, sebelum kita merogoh kantong, mari kita pikirkan: Apa yang sesungguhnya kita berikan? Apakah kita memberikan jalan keluar atau justru jalan buntu?

Saya yang disebut Prof

Di tengah malam yang kelam, saat bintang-bintang enggan menampakkan diri, saya terjaga. Tidak oleh mimpi buruk atau suara bising, tetapi oleh sebuah renungan mendalam yang tiba-tiba menyergap saya. “Siapa saya ini, yang disebut profesor?” Sebuah pertanyaan yang menggali ke inti eksistensi kita sebagai makhluk berpikir. Di negeri ini, di mana gelar seringkali dianggap sebagai puncak pencapaian, pertanyaan ini menjadi sangat relevan.

Itulah, pengetahuan. Sebuah kata yang sering terdengar tapi jarang benar-benar dipahami. Pengetahuan adalah mata air, tetapi mata air itu sendiri tidak cukup untuk memberi kehidupan. Seorang profesor bisa berdiri di puncak gunung pengetahuan, tetapi apakah ia juga berdiri di puncak gunung kebijaksanaan? Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar mengetahui; ada sesuatu yang disebut memahami. Dan memahami ini adalah sebuah seni, seni yang tidak selalu diajarkan di bangku kuliah atau diukur dalam angka-angka.

Kemudian, ada keterampilan berpikir kritis, sebuah kemampuan untuk membaca dunia dalam semua kompleksitasnya. Tapi, ironisnya, dunia akademik—tempat di mana keterampilan ini seharusnya diasah—seringkali justru menjadi tempat di mana keterampilan ini dikubur. Di bawah tumpukan angka, statistik, dan publikasi, di mana letak ruang untuk berpikir kritis? Di mana letak ruang untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak nyaman?

Kreativitas, kata yang indah tetapi sering terpinggirkan. Di dunia yang serba terstruktur, di mana semuanya diukur dan dinilai, di mana letak ruang untuk imajinasi? Di mana letak ruang untuk keluar dari batas-batas yang telah ditetapkan? Mungkin seorang profesor pandai dalam memecahkan masalah, namun pandaikah dia dalam menciptakan solusi-solusi baru?

Dan, tentu saja, ada integritas akademik. Sebuah pilar yang sering dianggap sepele tetapi sebenarnya adalah fondasi dari semua pilar lainnya. Tanpa integritas, semua pencapaian akademik hanyalah sebuah ilusi, sebuah mimpi yang indah tetapi kosong. Di zaman ini, di mana angka dan gelar seringkali menjadi ukuran keberhasilan, apakah kita masih mempertahankan integritas kita?

Saya merenung, dan renungan ini adalah sebuah pertanyaan yang terus menggantung di udara, seolah-olah menunggu jawaban dari kita semua. Di Indonesia, di mana jumlah profesor terus bertambah, apakah kita telah memenuhi kriteria yang seharusnya? Ataukah kita perlu memikirkan ulang apa arti menjadi seorang intelektual?

Mungkin tiba saatnya kita merenung lebih dalam, melampaui sekadar angka dan gelar yang seringkali mengekang. Apakah yang kita kejar ini—dengan segala ambisinya—merupakan esensi dari kebermaknaan hidup? Karena, menjadi seorang intelektual—ah, kata itu—bukanlah sekadar memenuhi daftar kriteria, melainkan sebuah tindakan berdampak, sebuah resonansi yang mempengaruhi dunia, dan lebih dari itu, sebuah pemahaman diri.

Empat pilar intelektual yang kita agungkan—pengetahuan, keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan integritas akademik—menjadi bahan renungan saya. Apakah saya, dalam peran saya sebagai akademisi, telah memenuhi keempat pilar ini? Ataukah saya hanyalah seorang pelaku akademik yang terperangkap dalam labirin sistem?

Dalam renungan dan keheningan ada kesadaran bahwa intelektual itu adalah perjalanan tanpa akhir, bukan sebuah destinasi, tetapi tentang bagaimana kita terus belajar, bagaimana kita mempengaruhi, dan yang paling penting, bagaimana kita memahami diri kita sendiri. Gelar profesor, dan sebutan “Prof”, adalah lebih dari sekadar gelar atau angka; saya adalah entitas yang terus bermetamorfosis, yang terus bergerak dalam pencarian makna. Itulah intelektualias sebenarnya.

Malam itu, saya tidur, tetapi dengan kesadaran yang lebih mendalam tentang diri saya dan tentang apa yang sebenarnya saya kejar dalam hidup ini. Saya tidur dengan harapan bahwa, mungkin saja, kita semua akan menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang terus melayang, seolah menunggu untuk dijawab. Dan mungkin, hanya mungkin, jawaban itu akan membawa kita ke sebuah kebenaran yang lebih besar, sebuah kebenaran yang akan membebaskan kita dari semua label dan batasan yang kita, atau mungkin dunia, ciptakan.

Grab atau becak motor?

Di tengah-tengah hiruk-pikuk Yogyakarta, sebuah pilihan muncul di bawah  cahaya matahari sore hari yang menyelimuti Jalan Malioboro. Di sebuah rumah makan soto ayam, saya duduk, merenungkan pilihan yang tampak sederhana namun sarat dengan implikasi etis: naik Grab atau becak motor?

Ah, Grab dan becak motor—dua simbol yang berdiri di dua kutub berbeda dari zaman dan kebudayaan, namun sama-sama mengisi ruang-ruang jalan raya Indonesia. Mereka adalah dua wajah dari sebuah koin yang bernama “transportasi,” tetapi aliran uang di balik mereka mengungkapkan banyak tentang struktur kekuasaan dan distribusi kekayaan di masyarakat kita.

Grab, dengan aplikasinya yang canggih, adalah simbol dari modernitas dan efisiensi. Namun, efisiensi ini adalah sebuah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia mempermudah kita—penumpang—untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat dan nyaman. Di sisi lain, ia adalah mesin penghisap uang yang sangat efisien, mengalirkan sebagian besar dari tarif yang kita bayar ke pusat kekuasaan korporasi.

Supir Grab, yang berjuang melawan kemacetan dan waktu, mendapatkan sejumput dari tarif yang kita bayar. Mereka adalah pekerja lepas yang harus menanggung biaya operasional—bensin, perawatan kendaraan, dan lain-lain—dari kantong mereka sendiri. Sementara itu, pemilik aplikasi Grab, yang berada di puncak piramida, mengumpulkan data, memonopoli pasar, dan terus mengakumulasi kekayaan.

Di sisi lain, ada becak motor—kendaraan yang menjadi simbol kehangatan dan kebersahajaan Indonesia. Ketika kita membayar tarif untuk sebuah perjalanan dengan becak motor, kita tahu bahwa uang tersebut akan langsung menjadi nafkah bagi tukang becak dan keluarganya. Tidak ada perantara, tidak ada aplikasi, tidak ada biaya tambahan yang tidak jelas. Uang mengalir langsung dari tangan ke tangan, dari hati ke hati.

Tukang becak, dengan wajahnya yang telah diukir oleh waktu dan matahari, adalah pilar dari ekonomi bawah. Mereka adalah simbol dari usaha keras dan ketekunan, dan uang yang kita berikan adalah investasi langsung dalam kesejahteraan mereka.

Jadi, kemana sebenarnya uang tersebut mengalir? Di Grab, uang mengalir ke atas, memperkaya mereka yang sudah kaya, sementara di becak motor, uang mengalir ke bawah, memberi kehidupan bagi mereka yang membutuhkannya. Pilihan antara Grab dan becak motor bukan hanya pilihan antara modernitas dan tradisi, tetapi juga antara dua model ekonomi yang sangat berbeda.

Kita, sebagai konsumen, memiliki kekuatan untuk memilih. Dan dalam setiap pilihan itu, kita juga memilih jenis masyarakat yang kita inginkan. Apakah kita ingin masyarakat yang lebih egaliter, ataukah kita memilih efisiensi yang pada akhirnya hanya menguntungkan segelintir orang?

Yes, kekuatan pilihan—itu adalah kekuatan yang sebenarnya.

Saya memilih becak motor tanpa atap. Tanpa menawar, saya menerima tarif 50 ribu rupiah yang ditetapkan oleh tukang becak. Saya juga merekam perjalanan dari Malioboro ke hotel, sebuah video yang akan menjadi kenangan. Lebih dari itu, saya memberikan sedekah, sebuah tindakan kecil yang mungkin bisa memberikan kebahagiaan sesaat kepada tukang becak.

Apakah ini pilihan yang tepat? Entahlah. Dunia ini adalah sistem yang luar biasa kompleks, di mana setiap pilihan membawa konsekuensi yang tak terduga. Tapi hari ini, saya merasa gembira. Gembira karena bisa melihat kebahagiaan di wajah tukang becak, meski hanya sesaat. Alhamdulillah.

Profesor Topan

Duduk di sebuah kafe di Malioboro, di mana aroma kopi bertemu dengan kegaduhan turis dan penjaja seni, saya meresapi makna dari upacara pengukuhan profesor seorang teman.

Pagi tadi, di ruang auditorium UPN “Veteran” Yogyakarta, yang terdengar bukan hanya seloka pidato, tetapi juga desir angin perpaduan antara filsafat dan kehidupan. Profesor Herianto—atau, dalam suasana yang lebih akrab, Pak Topan—berdiri di panggung ilmu dan hidup, sebuah koreografi yang memaparkan pengalaman hidup yang berwarna.

Dia adalah seorang yang menghimpun dua dunia yang seringkali dipandang tak sejalur: teknik perminyakan dan filsafat. Sarjana dan doktor teknik perminyakan, dan sarjana filsafat dari UGM. Mungkinkah ini anomali, atau justru kunci dari keremajaan pikirannya? Umur 64 tahun tampaknya hanya sebagai angka bagi beliau; sebuah poin dalam garis waktu yang membentang luas, penuh dengan pengalaman, tantangan, dan kebijaksanaan.

Pak Topan, begitu dia dikenal, memiliki senyum yang selalu menampakkan sisi filosofis dari kehidupan. Sebuah senyum yang bukan sekadar ekspresi, tetapi juga manifestasi dari filsafat yang dia anut. Apakah hidup ini tak lebih dari permainan belaka? Jika demikian, maka dia memainkannya dengan penuh humor dan santai.

Doktor dari ITB yang tak sempurna (5 tahun dijalani dan tak selesai), PhD dari UTM yang panjang perjalanannya (akhirnya lulus hampir selama 6 tahun), semuanya adalah petunjuk bahwa dia memanggil keberanian dari ketidakpastian. Bahkan dalam grup WA, candanya memperlihatkan pemikiran yang mendalam, namun diungkapkan dalam kalimat-kalimat yang ringan dan merakyat.

Selamat, Prof Topan! Anda telah menunjukkan kepada kita bahwa kebijaksanaan bukanlah milik satu disiplin ilmu saja, tetapi perpaduan dari berbagai aspek kehidupan. Anda adalah profesor, tetapi lebih dari itu, Anda adalah filosof yang bergerak di tengah kehidupan.

Kebebasan dan tanggung jawab: Dua sisi mata uang dalam publikasi ilmiah

Ah, kebebasan—kata yang selalu menjanjikan angin segar di tengah kekakuan struktural dan birokrasi akademis. Menteri kita, dalam sebuah langkah yang bisa dianggap sebagai revolusi kecil, telah memutuskan untuk tidak lagi mewajibkan mahasiswa pasca sarjana mempublikasikan hasil penelitiannya di jurnal-jurnal ilmiah. Sebuah keputusan yang, bagai pisau bermata dua, memotong dua sisi realitas sekaligus.

Kebebasan ini, saya percaya, adalah sebuah oase di tengah gurun formalitas yang kering dan tandus. Selama ini, jurnal-jurnal ilmiah seringkali menjadi semacam ‘pasar’—tempat di mana kebenaran ilmiah diperjualbelikan, di mana etika akademis seringkali dikorbankan demi kepentingan lain: reputasi, jabatan, atau bahkan uang. Kebebasan ini adalah pembebasan dari trik-trik yang tidak etis, dari bayar-membayar, dan dari keharusan memenuhi kriteria yang terkadang lebih menghambat kemajuan ilmu pengetahuan daripada membantu.

Namun, kebebasan ini juga bisa menjadi api yang membara jika tidak dijaga dengan baik. Ia bisa menjadi alat untuk melepaskan diri dari tanggung jawab, untuk menurunkan standar ilmiah yang telah kita bangun selama ini. Kita berisiko kehilangan esensi dari apa yang kita perjuangkan: kebenaran dan etika ilmiah yang dipertanggungjawabkan.

Kita berdiri di antara langit kebebasan dan bumi tanggung jawab. Keduanya perlu dijaga agar tidak saling meniadakan. Penyerdehanaan memang penting, tetapi jangan sampai kita kehilangan esensi. Kita perlu memastikan bahwa ada mekanisme kontrol yang kuat, yang bisa memfilter mana yang benar-benar ilmiah dan mana yang tidak.

Kebebasan yang tak dibarengi oleh tanggung jawab adalah sebuah anarki—sebuah kekacauan tanpa tatanan. Sebaliknya, tanggung jawab yang diberlakukan tanpa adanya ruang kebebasan adalah tirani, sebuah penindasan yang mengekang. Kita berada dalam pencarian sebuah titik tengah: sebuah ruang di mana ilmu pengetahuan dapat bermekaran, namun tetap memiliki kompas moral yang tak goyah.

Kebijakan yang baru saja diresmikan ini, bisa kita anggap sebagai langkah permulaan—sebuah pintu yang terbuka, mempersilakan kita memasuki ruang yang lebih luas. Tapi, sebuah pintu hanyalah awal; ia bukanlah tujuan. Di balik pintu itu, ada jalan yang harus kita tempuh, sebuah jalan yang penuh dengan pertimbangan dan kebijaksanaan, agar kebebasan yang kita perjuangkan tidak berubah menjadi alat penyelewengan.

Kita berada di sebuah titik krusial, di mana kebebasan dan tanggung jawab harus berjalan beriringan, saling memeriksa dan memperkuat. Hanya dengan memadukan keduanya—dengan bijak—kita bisa memastikan bahwa ilmu pengetahuan di Indonesia tidak hanya akan tumbuh, tetapi juga mempertahankan integritasnya. Di sinilah kita menemukan makna dari sebuah peradaban yang kita idamkan: sebuah peradaban yang maju tetapi juga beretika.

Kebebasan dan tanggung jawab—dua kata yang harus selalu berjalan beriringan, bagai dua penari yang menari di atas tali keseimbangan. Keduanya perlu, keduanya penting, dan keduanya harus selalu dijaga.

[1] Kuliah Filsafat Ilmu

Masalah Filsafat oleh Bertrand Russell

  1. Filsafat berharga karena kegagalannya memberikan kepastian, bukan karena jawabannya.
  2. Russell lebih fokus pada ‘pengetahuan’ daripada ‘metafisika’.
  3. Filsafat memberikan ruang untuk dialog dan pemikiran yang lebih dalam.
  4. Filsafat mengajak kita untuk meragukan apa yang kita anggap sebagai ‘kenyataan’.

Ilmu Filsafat vs Ilmu Teknikal

  1. Filsafat dan ilmu teknikal saling melengkapi dalam memahami realitas.
  2. Filsafat berfokus pada konsep dasar dan prinsip umum, sementara ilmu teknikal berfokus pada detail dan prosedur.
  3. Kedua cabang ilmu ini membutuhkan keahlian yang mendalam untuk berkontribusi secara efektif.

Realitas, Probabilitas, dan Ketidakpastian dalam Mekanika Kuantum

  1. Realitas dalam mekanika kuantum dijelaskan dalam konteks probabilitas.
  2. Prinsip Ketidakpastian Heisenberg menunjukkan batas-batas ketidakpastian dalam pengukuran.
  3. Konsep ini mengajarkan kita untuk menerima adanya ketidakpastian dan probabilitas dalam menjelaskan realitas.

Jadilah Bijaksana, Bukan Menjadi Benar

  1. Kebenaran adalah konsep yang relatif dan beragam.
  2. Berbagai teori kebenaran menunjukkan bahwa apa yang dianggap ‘benar’ bisa berbeda tergantung pada konteks dan perspektif.
  3. Menjadi bijaksana berarti memahami dan menghargai berbagai bentuk kebenaran, bukan hanya merasa benar sendiri.

Secara keseluruhan, kuliah hari ini mengajarkan kita untuk selalu berpikir kritis, terbuka terhadap pandangan baru, dan mengakui batas-batas pengetahuan kita sendiri.