Menjemput anak pulang sekolah

Di bawah langit yang semakin gelap, waktu bergerak dengan ritme tersendiri. Setiap sore, ada seorang ayah atau ibu yang berdiri teguh di pintu sekolah, menunggu anaknya kembali ke pelukannya. Suatu tugas sederhana, namun penuh makna. Dalam diam, mereka menyaksikan perubahan anaknya dari hari ke hari, tak sadar bahwa setiap pertemuan mungkin bisa menjadi perpisahan.

Hari demi hari, tanpa mereka sadari, anak-anak yang mereka nantikan tumbuh. Seperti tanaman yang kian menjulang, mereka mulai berakar di dunia lain, dunia yang jauh dari pandangan orang tua mereka. Pintu sekolah yang sama, tempat yang sama, namun sang anak mulai jarang ditemui. Mereka memilih terbang, mencari dunia mereka sendiri, meninggalkan jejak-jejak masa kecil di balik.

Orang tua berdiri di sana, tidak lagi menunggu, tetapi tenggelam dalam kenangan. Mereka mengenang senyum ceria anak mereka, tawa mereka yang riang, dan bagaimana setiap hari anak-anak itu berlari ke pelukan mereka dengan cerita-cerita baru. Namun kini, yang ada hanyalah kesunyian dan bayangan masa lalu.

Mungkin inilah ironi kehidupan, di mana orang tua harus merelakan anak-anaknya tumbuh dan menjauh. Namun, meski jarak memisahkan, ikatan cinta tetap kukuh. Meski tak lagi bertemu setiap hari, kenangan indah tetap terpatri di hati. Sebuah catatan waktu, sebuah bisikan yang mengingatkan bahwa cinta seorang orang tua tak akan pernah memudar, bahkan ketika anak-anaknya telah terbang jauh meninggalkan sarang.

Kilauan yang terselubung dalam ego

Saya banyak mengikuti grup WhatsApp. Saya pengamat dan sekaligus pegiat. Sering berpartisipasi dengan komentar lucu, serius, iseng, dan lain-lain. Saya sadar, saya juga pengamat yang juga diamati. Ada sebuah cerita. Ini kisah seorang yang saya jadikan refleksi dengan tokoh imajinasi. 

Fajar hanya sebuah bayangan yang berkelana, mencari tempat untuk menancapkan identitasnya, termasuk di grup WhatApp. Dalam setiap bisikan angin, dia menyanyikan lagu tentang kebesaran diri, meski dalam diam, langit tahu kebenarannya.

Bertaburkan cerita, Fajar mencoba menggambar siluetnya di langit, mengharap bintang-bintang turut memujinya. Namun, apa gunanya bila bintang-bintang hanya menyaksikan lukisan tanpa jiwa? Mereka melihat, tapi tidak mengingat.

Di era dimana setiap detik, bayang-bayang mencoba berlomba menunjukkan eksistensinya melalui cermin-cermin digital, Fajar bukanlah satu-satunya. Dunia media sosial telah menjadi pentas, di mana semua berusaha menampilkan versi terbaik mereka, meski kadang hanya ilusi.

Bukankah Fajar mirip dengan kita? Mencari validasi dalam setiap like dan komentar, namun seringkali melupakan esensi diri. Di balik cerita dan anekdot yang dibagikannya, ada hati yang bergetar, meminta untuk dilihat dalam kesederhanaan dan keasliannya.

Begitulah Fajar. Bukankah lebih indah jika kilau yang kita tampilkan adalah kilau dari dalam, yang tulus dan murni? Bukankah lebih mempesona jika kita bisa berdiri dengan kepala tegak, tanpa perlu menutupi kekurangan dengan cerita-cerita kosong?

Dalam dunia yang semakin puitik, semoga kita semua dapat menemukan esensi diri kita dan membagikannya dengan tulus, tanpa terjebak dalam bayang-bayang ego yang kadang membutakan.

UM di pagi hari

Kampus Universitas Negeri Malang (UM) seolah bertransformasi menjadi panggung vitalitas pada pagi hari ini. Kesibukan bukan lagi monoton, tetapi serangkaian harmoni dari anak-anak muda yang memulai hari dengan semangat mencari pengetahuan.

Ada yang berjalan dengan ritme tenang, seolah setiap tapak kakinya mencium bumi, berterima kasih atas kesempatan untuk belajar. Beberapa lainnya memilih Gojek, simbol dari era digital yang menyingkap batas ruang dan waktu. Dan tak ketinggalan, ada yang dengan riang memacu sepeda motornya, membelah pagi dengan suara mesin yang menjanjikan kecepatan.

Namun, di antara kesibukan itu, tercipta satu babak dramatis: sebuah bottle neck di depan lift. Seperti pementasan klasik, di mana setiap aktor tahu kapan harus maju dan kapan harus menunggu. Sabar, mereka antri. Mungkin dalam diam, mereka merenung, mempersiapkan diri untuk setiap kata dan konsep yang akan disuguhkan oleh dosen-dosen mereka.

Refleksi ini tentang masa depan. Anak-anak muda ini, dengan segala semangat dan cara mereka mencapai kelas, menjadi saksi atas asa kita semua. Dalam dada mereka, mungkin bersemayam harapan: menjadi generasi yang tidak hanya pandai, tetapi juga bijak. Generasi yang nantinya akan mengemban tugas untuk menjadikan dunia lebih baik.

Amiin. Semoga dalam setiap langkah dan desah napas mereka, terpatri doa kita semua untuk masa depan yang lebih cerah.

Ironi eksistensial mengenai keberadaan

Dalam zaman digital, sebuah fenomena bernama selfie muncul, bagai titik cahaya yang berkelip di tengah kegelapan. Sebuah tindakan yang tampaknya sederhana, namun mengandung lapisan makna yang tak terhingga. Ketika seseorang membagikan potret dirinya, bukan sekadar wajah yang dia tunjukkan, melainkan sebuah jiwa yang tengah mencari tempat di dunia.

Namun, ada paradoks yang tersembunyi di balik setiap jepretan. Dalam upaya menonjolkan diri, seseorang justru menyerahkan eksistensinya pada tangan orang lain, pada komentar-komentar yang datang dari ruang maya. Sebuah ruang yang tak kasat mata, namun memiliki kekuatan untuk mendefinisikan keberadaan.

Kehidupan, dengan segala kerumitannya, memang penuh paradoks. Di satu sisi, ada keinginan mendalam untuk dikenal, untuk diakui. Namun, di sisi lain, eksistensi yang sejati bukanlah yang datang dari pengakuan semata, melainkan dari pemahaman dan penerimaan diri sendiri.

Dan fenomena ini tak hanya berlaku pada diri individu. Di dunia akademik, kehebatan seorang dosen seringkali diukur dari angka-angka prestasi yang terkadang bersifat semu. Namun, bukankah kehebatan sejati seorang dosen terletak pada intelektualitasnya? Pada pemikiran-pemikiran yang bernas, karya-karya yang diakui oleh rekan sejawat, bukan sekadar angka-angka yang bisa memudar seiring waktu.

Dalam kecepatan zaman ini, sungguh ironis, bahwa di antara hiruk-pikuk informasi dan kemajuan yang tiada henti, kita tersandera oleh pertanyaan eksistensial yang tak kunjung menemukan jawabannya. Adakah akhir dari pencarian ini? Mungkin, saat kita mengerti bahwa arti keberadaan bukanlah sekadar bagaimana pandangan dunia terhadap kita, melainkan bagaimana kita mengintip ke dalam dan merangkul apa yang ada. Dan di sanalah, barangkali, kita akan menemui hakikat hidup yang sebenarnya.

Kualitas atau kuantitas?

Dalam genggaman zaman, gelar dan predikat bagai embun pagi yang cepat menguap. Namun, apa arti embun tanpa kesegaran yang ditinggalkannya? Di balik dinding universitas, seorang profesor berdiri, menjadi pilar bagi generasi yang haus akan ilmu. Bukan sekedar gelar, melainkan sebuah tanggung jawab yang berat bagai gunung.

“Prof,” panggilan yang sering kudengar, bukanlah sekedar hembusan angin, melainkan sebuah bisikan tanggung jawab. Di antara lembaran-lembaran jurnal, kualitas adalah mutiara yang paling berharga. Bukan sekedar angka, melainkan esensi dari setiap kata yang tertulis.

Alhamdullilah, dalam kualitas, karyaku bersemayam, menunjukkan bahwa setiap detik yang kulewati bukanlah sia-sia. Namun, “prof” bukanlah puncak, melainkan awal dari sebuah perjalanan panjang, bagai sungai yang mengalir tanpa henti.

Dalam “Kuantitas atau kualitas?”, pertanyaan itu kugulirkan, mencari makna di balik setiap kata. Seorang profesor, bukanlah sekedar jumlah, melainkan kualitas yang menjadi nyawa dari setiap karyanya.

Menurut Sinta (Science and Technology Index), saya telah mempublikasikan sebanyak 70 artikel di jurnal berkualitas Q1, yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan jurnal yang tidak berkualitas. Alhamdulillah.

Maka, biarlah “prof” menjadi simbol dari tanggung jawab, bukan sekedar predikat. Sebagai profesor, kita adalah penerang bagi generasi yang gelap, memberikan cahaya ilmu yang tak pernah padam. Semoga kita semua, bagai pohon yang tegak, memberikan teduh bagi mereka yang berlindung di bawahnya.

Menelusuri jejak Jenius: Refleksi sebagai dosen

Saya kembali teringat sebuah buku menarik yang saya beli bertahun-tahun yang lalu ketika masih tinggal di Malaysia yang berjudul “Genius: Great Inventors and Their Creations” oleh Jack Challoner. Lalu sambil memegang dan membuka buku itu saya berpikir dan merenungkan, apakah kita pernah mencari jawaban atas misteri kejeniusan? Dari Archimedes, sang ahli fisika, hingga Tim Berners-Lee, saintis komputer, yang mengubah cara kita berkomunikasi dengan internet, apa yang membuat mereka begitu istimewa?

Mereka, seperti kita, adalah hasil dari pertemuan antara kodrat ilahi dan lingkungan yang membentuknya. Meski otak mereka mungkin berbeda dengan kita, tanpa lingkungan yang mendukung, mungkin tak satu pun dari mereka yang akan mencapai puncak kejeniusannya. Keluarga, pendidikan, dan lingkungan sosial mereka menjadi tinta yang menulis kisah mereka.

Sebagai dosen, kita bukan hanya penyampai ilmu, tetapi juga pelukis masa depan. Terlalu sering, kita terjebak dalam angka-angka yang tak lebih dari ilusi, melupakan esensi pendidikan: membentuk generasi muda menjadi pemikir kritis, inovator, dan pemimpin. Kita harus melihat lebih jauh dari sekadar angka, dan fokus pada pengembangan potensi tiap individu. Dalam kompleksitas dunia, mata hati anak-anak kita mampu menembus kabut, asalkan diberi panduan yang tepat dan pemahaman yang mendalam. Anak-anak Indonesia ini, saya percaya, memiliki benih potensi yang luar biasa. Namun, benih tersebut hanya akan bersemi jika tanah dan udaranya mendukung. Ini tanggung jawab kita sebagai dosen.

Lantas, apa yang bisa kita petik dari kehidupan para jenius yang telah merubah dunia ini? Bagaimana kita bisa menumbuhkan tanah yang subur bagi lahirnya jenius-jenius selanjutnya?

Pertama, kejeniusan bukan sekadar angka IQ. Lebih dari itu, ia tentang rasa ingin tahu, ketekunan, dan kemampuan melihat dunia dengan cara berbeda. Oleh karena itu, pendidikan kita harus lebih dari sekadar menghafal, tetapi membangkitkan imajinasi.

Kedua, lingkungan yang mendukung adalah kunci. Ini berarti memberikan akses ke pendidikan berkualitas, dan menciptakan budaya yang menghargai pengetahuan. Para jenius dari masa lalu tumbuh di lingkungan yang mendorong pertanyaan, dan kita harus menciptakan hal yang sama untuk generasi mendatang.

Ketiga, setiap anak memiliki potensi kejeniusan dalam bidangnya. Dengan mendukung dan memelihara potensi ini, kita bisa menciptakan generasi baru pemikir-pemikir besar.

Akhir kata, kejeniusan bukanlah kebetulan. Para jenius yang telah merubah dunia dikelilingi oleh mereka yang mendukung dan menantangnya. Sebagai dosen, kita memiliki peran penting dalam menciptakan ekosistem yang mendukung kejeniusan. Kita semua, sebagai bagian dari masyarakat, memiliki tanggung jawab dalam hal ini.

Bicara politik

Dalam kesenyapan malam yang pekat, aku terpaku pada layar, menyerap setiap kata yang terlontar dari bibir-bibir yang tampak bersemangat. Podcast politik yang kudengar, seolah menjadi teater dimana para elit beradu pikiran, saling menyerang dengan kata-kata tajam, dan berlomba-lomba merebut tahta kekuasaan. Mereka berbicara tentang republik dengan penuh gairah, namun ironisnya, lupa bahwa republik bukan sekadar tanah dan batu, melainkan nyawa-nyawa yang bernapas di dalamnya.

Sebuah bisikan dari masa lalu kembali menggema di telingaku, “Semakin sering kita tenggelam dalam diskusi politik, semakin kita menyadari bahwa pertarungan di puncak piramida hanyalah tentang kepentingan pribadi para elit.” Sungguh, dalam lantunan politik yang seharusnya menjadi wadah aspirasi rakyat, justru rakyat kerap menjadi bayang-bayang yang terpinggirkan.

Rakyat, dengan mata yang bersinar penuh harapan, seringkali melihat tokoh politik sebagai pahlawan yang akan membawa perubahan. Namun, dalam kenyataannya, politisi kerap menutupi noda-noda di wajah mereka dengan topeng kebaikan, sementara dengan mudahnya menunjukkan cacat lawan mereka. Dalam arena politik, kejujuran seakan menjadi pedang bermata dua.

Untuk memahami siapa sejatinya sosok capres yang hendak kita dukung, kita tak bisa hanya terbuai oleh rayuan para pendukungnya. Kita harus mendengar bisikan-bisikan dari mereka yang berdiri di sisi berlawanan. Karena dalam setiap celaan, seringkali tersimpan benih-benih kejujuran yang tak terbendung.

Politik, sebuah tarian kata yang merefleksikan kompleksitas. Namun, di balik selubung misteri itu, kita harus selalu mengingat esensi sejati politik: sebagai sarana mewujudkan keadilan bagi rakyat, bukan sekadar alat bagi ambisi pribadi.

Lagi-lagi politik

Di tengah hiruk pikuk zaman, seorang yang berjuluk intelektual tak semata-mata menjadi gelar hiasan. Ia haruslah berjuang, berjibaku dengan kemajuan ilmu pengetahuan, dan jika takdir menempatkannya di universitas, ia harus mendidik. Universitas, sebuah institusi yang seharusnya menjadi mercusuar bagi masyarakat, menjadi sumber ilmu yang tak pernah kering. Namun, adakah kita sadar? Universitas yang sakit mencerminkan masyarakat yang terluka.

Revolusi Prancis, sebuah peristiwa monumental dalam sejarah, melahirkan “Ideologi” sebagai kompas bagi civitas akademika dalam berpolitik di kampus. Namun, alangkah ironisnya, kompas tersebut kerap kali terpesona oleh magnetisme kepentingan sekelompok, bukan menunjuk ke arah utara kebenaran yang hakiki. Universitas, yang seharusnya menjadi oasis bagi ide-ide murni dan pengetahuan, kini terkadang berubah menjadi arena pertarungan ideologi yang membara.

Konservatisme, liberalisme, sosialisme; tonggak-tonggak ideologi klasik yang berdiri tegak. Namun, kampus tak pernah berhenti berinovasi, melahirkan ideologi-ideologi baru yang kadang-kadang kabur definisinya. Tidak ada ideologi yang murni, hanya kepentingan kekuasaan yang berkedok. Namun, adakah kita pernah berhenti sejenak dan bertanya: Apakah ideologi-ideologi tersebut murni? Ataukah mereka hanyalah topeng yang menutupi wajah kepentingan pribadi atau kelompok? Betapa pilunya, jika posisi strategis dikuasai bukan oleh mereka yang benar-benar kompeten, melainkan mereka yang loyal pada kepentingan kelompok tertentu. Tidak jelas apa yang diperjuangkan, ideologi atau kelompok? Yang pasti tentulah kekuasaan. 

Ironi memang, kampus yang seharusnya menjadi mercusuar yang menerangi kegelapan dunia dengan cahaya pengetahuannya, kini terkadang terbenam dalam kegelapan bayang-bayang politik. Namun, di balik tebalnya kabut politik yang menyelimuti, selalu ada secercah harapan. Harapan bahwa generasi muda akan bangkit, menyadari, dan kembali ke esensi sejati pendidikan tinggi: bukan semata-mata soal politik atau kekuasaan, melainkan tentang pengetahuan, integritas, dan kebenaran yang abadi.

To be, or not to be

“To be, or not to be” adalah solilokui terkenal dari drama “Hamlet” karya William Shakespeare, khususnya dari Adegan 1, Babak 3. Solilokui ini disampaikan oleh Pangeran Hamlet dan membahas tema-tema tentang kematian, bunuh diri, dan dilema eksistensial antara penderitaan dalam hidup dan ketidakpastian apa yang ada setelah kematian. Saya tidak pernah melihat dramanya tapi membaca mengenai “To be, or not tobe” di Wikipedia.

Bayangkan situasi yang sama terjadi pada seorang jurnalis masa kini bernama Polan yang menemukan dirinya dalam dilema moral dan eksistensial. Dia ditawari pekerjaan dengan bayaran tinggi di sebuah media yang dikenal karena pelaporan yang bias. Tawaran ini menggoda; menjanjikan stabilitas finansial dan platform untuk suaranya. Namun, Polan terbelah antara godaan kenyamanan dan kompromi etis yang menyertainya.

Di sebuah kafe yang tenang, Polan membuka laptopnya dan mulai mengetik sebuah editorial, jarinya berdansa di antara tombol seolah-olah dalam balet keengganan. Dia berhenti dan berpikir, “Menulis, atau tidak menulis, itulah pertanyaannya.” Dia merenungkan bobot kata-kata, kekuatan yang mereka miliki untuk mempertahankan kebenaran atau memperkuat kebohongan.

“Apakah lebih mulia untuk menderita sabetan dan panah dari kehidupan freelance yang tidak pasti, atau mengambil pena melawan lautan bias dan, dengan menentang, mengakhirinya?” dia merenung. Dia memikirkan kenyamanan yang dijanjikan tawaran pekerjaan—tidak lagi khawatir larut malam tentang tagihan atau keamanan pekerjaan. Tapi kemudian, dia juga memikirkan biayanya—integritasnya, suaranya, dan kebenaran.

Polan menyadari bahwa dilemanya bukan hanya tentang memilih antara dua opsi; ini tentang memahami esensi keberadaannya. Sama seperti Hamlet, dia memahami bahwa setiap pilihan datang dengan serangkaian ketidakpastian dan konsekuensi.

Pada akhirnya, Polan memutuskan untuk menolak tawaran itu. Dia memilih untuk menanggung kesulitan kehidupan yang tidak pasti tetapi jujur daripada kenyamanan keberadaan yang dikompromikan. Dan saat dia menutup laptopnya, dia merasa ada rasa pembebasan, seolah-olah dia baru saja melepaskan beban berat, membuat ruang untuk kehidupan yang lebih selaras dengan diri sejatinya.

Dengan demikian, seperti Hamlet, Polan menemukan bahwa pertanyaan “Menjadi, atau tidak menjadi” bukan hanya renungan puitis tetapi juga momen pilihan yang menentukan, sebuah persimpangan yang membentuk keberadaan seseorang.

Riset abal-abal

Dalam dunia ilmu, kita berjalan. Langkah demi langkah, kita mencari kebenaran—sebuah kata yang seringkali terkubur di bawah tumpukan data, grafik, dan publikasi. Publikasi ilmiah! Kata yang begitu menggoda, seolah menjadi tujuan akhir dari semua penelitian. Tetapi apa artinya sebuah publikasi jika ia hanyalah sebuah topeng, sebuah ilusi yang dibuat untuk memenuhi target dan ekspektasi? Publikasi yang akhirnya tidak ilmiah.

Bulan September tiba, dan begitu juga tekanan untuk memonitor hasil. “Apakah kita sudah mendapatkan luaran?” tanya seorang peneliti muda, mata berbinar-binar dengan ambisi. “Desember sudah dekat, kita harus mempublish sesuatu.” Padahal dana turun bulan Juli. 

Dan di sinilah trik dan akal-akalan mulai bermain. Riset lama dioplos menjadi baru, data orang lain disajikan sebagai milik sendiri, kolaborasi menjadi sebuah transaksi. Ah, apa ini? Ini bukan lagi sebuah perjalanan mencari kebenaran, tetapi sebuah permainan untuk mencapai prestasi semu.

Prestasi? Apakah ini yang kita sebut prestasi? Sebuah paper, sebuah paten, atau apapun itu—jika tidak dibangun di atas fondasi kebenaran, maka ia hanyalah sebuah kastil pasir yang akan runtuh oleh ombak realitas. Percayalah, riset yang serius, yang mengikuti metodologi ilmiah dengan integritas, akan sulit dicapai dalam sistem seperti ini.

Maka, marilah kita renungkan:

Dalam labirin ilmu yang tak berujung,
Kita mencari, oh kita mencari—
Tapi apa yang kita temukan?
Hanyalah bayang-bayang dari kebenaran sejati.

Kolaborasi menjadi transaksi,
Data menjadi komoditas,
Dan kebenaran? Oh, kebenaran—
Menjadi korban dari ambisi kita.

Percayalah, saudaraku,
Dalam perjalanan ini,
Jangan biarkan dirimu terperangkap
Dalam ilusi prestasi semu.

Karena apa guna pengetahuan,
Jika ia tidak membawa kita pada kebenaran?
Apa guna riset,
Jika ia hanya sebuah permainan?

Jadi, mari kita kembali pada esensi, pada tujuan utama dari penelitian ilmiah: untuk mencari kebenaran. Karena tanpa kebenaran, semua usaha kita akan sia-sia.