Pelajaran hidup dari binatang oportunistis

Di dunia yang luas ini, di mana kehidupan mengalir bak sungai yang tak pernah kering, terdapat kisah-kisah tanpa henti dari para penghuni bumi: binatang-binatang oportunistis. Mereka, beberapa spesies binatang adalah para filsuf kehidupan; bukan sebagai makhluk yang berpikir, tetapi sebagai entitas yang bertindak, yang mengajarkan kita tentang seni bertahan dan beradaptasi.

Ambillah serigala, misalnya. Di balik auman yang menggema di malam hari, terdapat strategi keberlangsungan hidup yang tak terkira. Mereka tidak memilih; rusa, kelinci, atau bahkan bangkai yang tergeletak lama, semua sama bagi mereka. Ini bukan tentang kelaparan, tetapi tentang kesempatan: sebuah pelajaran tentang merangkul apa yang datang, dan dengan itu, bertahan.

Atau renungkanlah tentang tikus, hewan kecil yang sering diabaikan, bahkan dijijikkan. Mereka berkeliaran di lorong-lorong gelap, di sudut-sudut kota yang paling kumuh, tetapi juga di gudang-gudang yang penuh dengan biji-bijian emas. Tikus, dengan segala kerendahan hati dan ketangkasannya, adalah penguasa dunia bawah tanah yang sebenarnya. Mereka tidak mengenal batasan, tidak mengenal rasa takut, hanya insting untuk terus maju, untuk terus hidup.

Dan siapa yang bisa mengabaikan kecoak, makhluk yang telah berbagi napas dengan dinosaurus, dan mungkin akan tetap ada, bahkan ketika manusia telah lama pergi? Kecoak, dengan cangkang keras dan sayapnya yang berderak, adalah simbol ketahanan. Mereka menari di antara bayang-bayang, memakan sisa-sisa yang telah lama dilupakan, dan dengan itu, mereka bertahan, mereka berlanjut.

Makhluk-makhluk ini menggumamkan kata-kata yang lebih dalam daripada sekadar nafas untuk bertahan; mereka menari dalam irama kerendahan hati, melangkah dengan keberanian di atas panggung ketidakpastian, dan, yang terpenting, mereka mengukir kekuatan dalam setiap gerak adaptasi. Di dunia ini, yang berputar begitu cepat sehingga menimbulkan angin kencang yang bisa menggoyahkan siapa saja, kita—manusia, dengan segala kecerdasan dan ciptaan teknologi kita—mungkin perlu menghentikan sejenak langkah kita, lalu belajar, meski hanya satu atau dua hal, dari makhluk-makhluk oportunistis ini. Di antara gemerlap kecerdasan buatan dan deru mesin, mungkin kita telah kehilangan sebuah seni yang hampir terlupakan: seni untuk melangkah maju, bukan karena kita selalu memiliki peta yang menunjukkan arah, tetapi karena dalam setiap langkah tersebut, kita menemukan makna keberadaan kita.

Bagaimana dengan kita sebagai manusia, mahluk yang kompleks dan selalu bertanya mengenai siapa dirinya. Apakah kita lebih oportunistis dibandingkan serigala, tikus, dan kecoak? Dimana letak adab, etika dan moral? Silahkan renungkan teman-teman.

Melihat perdebatan

Tulisan ini saya tulis setelah melihat perdebatan di TV yang dihadiri oleh orang-orang yang diwakili oleh kepentingan politik tertentu. Ada yang bias dan ada yang netral.

Dalam debat, seringkali kita terpesona oleh kata-kata yang terucap, lupa bahwa di balik setiap kata ada sejarah, ada niat, ada kepentingan. Setiap individu membawa dunianya sendiri ke panggung debat, sebuah dunia yang penuh dengan pengalaman, harapan, dan ketakutan.

Ada mereka yang berbicara dengan lantunan penuh gairah, bukan semata karena kebenaran yang mereka yakini, tetapi karena ada sesuatu yang ingin mereka lindungi, sesuatu yang ingin mereka raih. Sebuah kepentingan. Mungkin itu kepentingan finansial, politik, atau bahkan emosional. Dan dalam melindungi kepentingan itu, kadang-kadang kebenaran menjadi korban.

Orang yang merdeka dan netral akan berbicara tanpa beban kepentingan, yang kata-katanya cenderung muncul dari kedalaman pemikiran yang jernih, dari keinginan tulus untuk mencari kebenaran. Orang seperti ini akan memberikan angin sejuk di tengah panasnya perdebatan. Mereka akan memberi perspektif yang mungkin kita butuhkan untuk melihat gambaran yang lebih utuh.

Jadi, ketika kita mendengar, mari kita juga melihat. Lihat siapa yang berbicara, apa yang mereka bawa, dan apa yang mungkin mereka sembunyikan. Sebab dalam debat, seperti dalam hidup, kebenaran seringkali terletak di antara baris-baris yang tak terucap.

Mediokritas dosen

Di balik tembok-tembok ruang ilmu, di kampus yang dipenuhi aroma buku-buku, terselip sebuah kenyataan yang mungkin luput dari pengertian sebagian besar dari kami, para pengajar. Kami, para dosen di perguruan tinggi, terperangkap dalam kesederhanaan, bergerak seadanya, hanya untuk memenuhi tuntutan beban kinerja dosen (BKD) dosen, yang seringkali diakali. Kami takut meninggalkan zona nyaman yang telah kami bina sejak lama, melupakan pentingnya kemajuan ilmu pengetahuan dan pengajaran yang berkualitas. Apa yang salah dengan kami?

Kami, sebagai dosen, sering kali terjebak dalam rutinitas yang monoton. Birokrasi yang remeh, pengajaran yang dangkal, kami lupa bahwa universitas bukan hanya tempat untuk mengulang-ulang pengetahuan yang sudah ada, tetapi juga tempat untuk mempelajari hal-hal baru. Kami, para dosen, terjebak dalam produksi penelitian yang remeh, hanya untuk memenuhi tuntutan publikasi, melupakan pentingnya penelitian yang benar-benar berdampak. Publikasi yang diahsilkan dengan trik-trik dan tipu-tipu. Ironisnya, kami yang seharusnya menjadi pelopor ilmu pengetahuan, malah menjadi penjaga status quo.

Mengapa ini bisa terjadi? Disamping terjebak dengan birokrasi dan peraturan-peraturan yang tidak memajukan ilmu pengetahuan, kami juga takut akan kegagalan. Takut dicemooh, takut kehilangan muka di depan mahasiswa dan rekan sejawat. Kami memilih untuk berjalan di jalan yang sudah ada, daripada menciptakan jalan baru yang mungkin penuh dengan risiko, tetapi juga penuh dengan kemungkinan.

Kami perlu mengingatkan diri kami sendiri bahwa universitas adalah tempat untuk berinovasi, bereksperimen, dan mengambil risiko. Kami perlu menciptakan lingkungan akademik yang mendukung, yang memotivasi dosen dan mahasiswa untuk keluar dari zona nyaman mereka dan mengejar keunggulan. Tapi apakah ini hanya sebuah lusi?

Pengembangan profesional yang berkelanjutan bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Kami perlu terus belajar, terus berkembang, dan terus menantang diri kami sendiri untuk menjadi lebih baik. Kami perlu menjadi contoh bagi mahasiswa kami, menunjukkan kepada mereka bahwa belajar adalah perjalanan seumur hidup, dan bahwa kegagalan adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan tersebut.

Dalam kampus yang penuh dengan lautan mahasiswa, mari kita renungkan kembali peran kami sebagai dosen. Mari buang jauh-jauh ketakutan akan kegagalan, dan gantilah dengan keberanian untuk belajar, berkembang, dan berinovasi. Karena hanya dengan cara itulah kami dapat menciptakan universitas yang benar-benar unggul, dan hanya dengan cara itulah kami dapat membimbing mahasiswa kami untuk mencapai potensi penuh mereka. Tapi apakah bisa terwujud dengan jumlah mahasiswa yang fantatis dan fasilitas yang seadanya? Sepertinya perlu kesadaran dari manusia yang menyusun kebijakan dan juga menjalankan kebijakan. Jika tidak ada kesadaran, kebijakan secanggih apapun tidak akan bisa terlaksana karena manusia itu adalah mahluk yang dengan sangat gampang mengakali peraturan.

Sepertinya saya perlu memulai ini dari diri saya sendiri.

Triwacana strategis dalam pelaksanaan penelitian ilmiah

Dalam ranah penelitian ilmiah, eksistensi beragam metode dan strategi untuk meraih keberhasilan menjadi sebuah keniscayaan. Tidak jarang, analogi militer diadopsi untuk menggambarkan berbagai metode yang dapat diterapkan oleh peneliti selama proses penelitian berlangsung. Berikut ini adalah tiga metode dalam pelaksanaan penelitian yang kerap digambarkan dengan menggunakan analogi militer:

Perang Gerilya: Eksplorasi Penelitian dengan Resiko Tinggi

Metode ini kerap diassosiasikan dengan taktik perang gerilya, dimana peneliti diterjunkan ke wilayah yang belum terjamah untuk mencoba mengungkap hal-hal yang baru. Metode ini seringkali melibatkan resiko yang cukup tinggi karena melibatkan eksplorasi di wilayah yang belum terlacak. Meskipun demikian, apabila berhasil, hasilnya dapat sangat signifikan dan memberikan dampak yang substansial pada dunia keilmuan.

Contoh Penelitian: Eksplorasi Struktur Molekul Baru

Deskripsi: Peneliti mungkin mencoba menciptakan molekul baru yang belum pernah ada sebelumnya dengan menggabungkan elemen-elemen kimia yang tidak biasa atau tidak stabil. Ini bisa melibatkan penggunaan teknik sintesis yang belum teruji atau eksperimen dengan kondisi yang ekstrem.

Risiko: Tinggi, karena hasilnya tidak dapat diprediksi dan eksperimen bisa gagal.

Potensi Keuntungan: Jika berhasil, penemuan molekul baru bisa membuka pintu untuk berbagai aplikasi, seperti pengembangan obat baru atau material baru dengan properti unik.

Serangan Terkoordinasi: Penelitian Terstruktur dengan Data Preliminer

Metode kedua melibatkan gerakan yang lebih terkoordinasi dan terstruktur. Dalam skenario ini, peneliti tidak ‘melompat’ tanpa persiapan, melainkan bergerak maju dengan informasi dan data awal yang telah dikumpulkan oleh tim eksplorasi awal. Peneliti bergerak maju, sering kali di belakang garis depan, dengan memanfaatkan informasi yang telah ada untuk mengatasi masalah dengan sumber daya yang lebih besar dan terorganisir. Metode ini sering kali menghasilkan pekerjaan yang produktif dan terfokus.

Contoh Penelitian: Pengembangan Katalis Baru untuk Reaksi Kimia Tertentu

Deskripsi: Berdasarkan data awal mengenai jenis katalis dan reaksi kimia yang sudah ada, peneliti mencoba mengembangkan katalis baru yang lebih efisien atau ramah lingkungan. Penelitian ini dilakukan dengan merancang eksperimen yang terstruktur berdasarkan data yang sudah ada.

Risiko: Moderat, karena peneliti memiliki beberapa informasi awal untuk memandu eksperimen mereka.

Potensi Keuntungan: Peningkatan efisiensi dalam reaksi kimia dan pengembangan teknologi yang lebih berkelanjutan.

Perang Parit: Penelitian Mendalam pada Isu yang Sudah Dikenal

Metode ketiga lebih bersifat seperti perang parit, dimana peneliti mengalokasikan sumber daya yang besar untuk mengatasi masalah yang telah dideskripsikan dengan baik dan diketahui oleh banyak orang. Meskipun masalah tersebut telah diidentifikasi, masih banyak detail dan aspek yang perlu dieksplorasi lebih lanjut. Metode ini biasanya melibatkan penelitian yang lebih mendalam dan terperinci.

Contoh Penelitian: Studi Mendalam tentang Mekanisme Reaksi Kimia Tertentu

Deskripsi: Peneliti menghabiskan waktu yang lama untuk memahami secara detail mekanisme reaksi kimia yang sudah dikenal. Ini bisa melibatkan penggunaan teknik spektroskopi canggih atau simulasi komputer untuk memahami setiap langkah reaksi pada level atom.

Risiko: Rendah hingga moderat, karena masalah dan metodenya sudah diketahui.

Potensi Keuntungan: Pemahaman yang lebih mendalam dapat membantu dalam pengoptimalan reaksi atau pengembangan aplikasi baru.

Perang Gerilya: Eksplorasi Penelitian dengan Resiko Tinggi

  • Potensi Publikasi: Tinggi jika berhasil, karena penemuan baru atau terobosan seringkali mendapatkan perhatian yang signifikan dalam komunitas ilmiah dan media.
  • Dampak pada Ilmu Pengetahuan: Jika eksplorasi berhasil, dampaknya bisa sangat besar karena membuka area penelitian baru dan bisa mengubah pemahaman kita tentang konsep-konsep tertentu dalam kimia.

Serangan Terkoordinasi: Penelitian Terstruktur dengan Data Preliminer

  • Potensi Publikasi: Moderat hingga tinggi, tergantung pada seberapa signifikan peningkatan atau perbaikan yang dihasilkan dari penelitian ini dibandingkan dengan metode eksisting.
  • Dampak pada Ilmu Pengetahuan: Dampaknya bisa signifikan jika penelitian ini menghasilkan metode atau teknologi yang lebih baik dibandingkan yang sudah ada, dan dapat diterapkan dalam berbagai aplikasi praktis dalam industri dan laboratorium.

Perang Parit: Penelitian Mendalam pada Isu yang Sudah Dikenal

  • Potensi Publikasi: Mungkin moderat, karena temuan mungkin lebih bersifat inkremental dan membangun atas pengetahuan yang sudah ada.
  • Dampak pada Ilmu Pengetahuan: Meskipun mungkin tidak se-revolusioner metode lainnya, penelitian ini bisa sangat penting untuk memperdalam pemahaman kita dan mengoptimalkan teknologi atau metode eksisting. Dalam jangka panjang, ini bisa membawa perubahan yang signifikan dalam praktek dan aplikasi ilmu kimia.

Analisis

Perang Gerilya

Keuntungan: Potensi untuk terobosan besar dan pengakuan luas.
Kekurangan: Risiko tinggi dan bisa jadi tidak ada hasil yang diperoleh.

Serangan Terkoordinasi

Keuntungan: Risiko lebih rendah dengan pendekatan yang terstruktur dan terorganisir.
Kekurangan: Terkadang, inovasi mungkin lebih terbatas dibandingkan dengan eksplorasi bebas.

Perang Parit

Keuntungan: Kontribusi terhadap pengetahuan mendalam dan pengoptimalan metode eksisting.
Kekurangan: Mungkin kurang menarik bagi media dan komunitas ilmiah dibandingkan dengan terobosan besar.

Kesimpulan

Semua metode memiliki potensi untuk memberikan kontribusi signifikan terhadap ilmu pengetahuan, meskipun melalui cara yang berbeda. Eksplorasi berisiko tinggi bisa memberikan terobosan besar, penelitian terstruktur bisa menghasilkan pengembangan teknologi yang stabil, dan penelitian mendalam bisa memberikan pemahaman yang lebih baik dan pengoptimalan metode eksisting. Pilihan metode akan tergantung pada tujuan, sumber daya, dan apetit risiko peneliti atau tim penelitian.

Etnosentrisme orang Minang: Apakah bisa bertahan?

Kita kadang-kadang dihantui oleh pertanyaan tentang apa yang sejati dari identitas kultural dan kebutuhan akan afiliasi. Bukan hanya saya sebagai orang Minang, tetapi sebagai manusia yang terjebak dalam semesta yang tak bertepi ini. Sungguh, pemberian label hanyalah semacam narasi yang kita bangun untuk memberi makna pada eksistensi kita, sebuah usaha manusiawi untuk merangkai benang-benang sejarah yang menjadi sulur dalam memahami akar diri.

Biografi saya dan ayah saya kebetulan dimasukkan dalam Ensiklopedia Tokoh 1001 Orang Minang yang baru saja diterbitkan. Mungkin bisa menjadi sebuah penghargaan, namun juga bisa menjadi cerminan akan sebuah eksklusivitas yang tak terelakkan. Ada benang merah yang mengikat generasi dalam sebuah keterikatan budaya dan genetika, namun demikian, pada saat yang bersamaan, benang tersebut juga berpeluang menjadi simpul yang merajut eksklusivitas.

Begitulah orang Minang, dengan rantai silsilah yang kuat dan gagah, mencoba untuk mengeja namanya dalam setiap inci sejarah dan generasi. Etnosentrisme, bisa jadi, bukanlah sekadar menganggap diri sebagai pusat, tetapi juga mencari makna pada sejarah dan keturunan yang terus berlari mengelilingi roda zaman. Mereka, dalam banyak cara, mencoba menjaga agar apinya tidak padam oleh hembusan angin perubahan.

Namun, perubahan itu sendiri, dengan kawin campur dan percampuran budaya yang semakin menjamur, bukankah itu juga sebuah bentuk dari keindahan? Dari perpaduan dua insan yang membawa benang-benang cerita mereka masing-masing, mencipta sulaman baru dalam tapestri kehidupan. Identitas, dalam hal ini, bukanlah sebuah kotak yang statis, melainkan lautan yang dinamis, dimana ombak memeluk ombak, mengalir tanpa henti dan membentuk kenampakan baru.

Begitupun dengan kebinekaan dan globalisasi, yang membawa kita pada pemahaman bahwa dunia ini terlalu indah untuk hanya ditempati oleh satu narasi. Indonesia dengan “Bhineka Tunggal Ika”-nya dan dunia yang semakin global, membentuk suatu medan dimana kita bisa bermain dan bertukar peran, memahami bahwa kita, pada hakikatnya, adalah satu. Identitas tak lagi menjadi sebuah tembok yang membatasi, melainkan jembatan yang menghubungkan.

Maka, calon cucu saya, dengan darah Minang, Sunda, dan Ipoh, Malaysia yang mengalir dalam nadinya, apa bukan mereka simbol dari persatuan? Bukankah mereka akan membawa cerita yang lebih kompleks dan kaya akan corak? Dari mereka, kita belajar bahwa identitas bukanlah sebuah benteng yang harus dijaga ketat, tetapi sebuah rumah yang pintunya selalu terbuka untuk siapa saja yang ingin memahami cerita di balik setiap sudutnya.

Identitas Minang, seperti identitas manapun, adalah sebuah kisah; dan kisah, selalu punya ruang untuk lembaran baru. Meski relatifitas identitas semakin lama akan tergerus oleh waktu dan interaksi, esensi dari pengertian manusia tentang dirinya dan alam semesta akan tetap bertahan, dan mungkin, di situlah kita akan menemukan jawaban dari segala kebingungan kita tentang siapa kita sejatinya.

Refleksi perjalanan Katalin Karikó dalam menembus tirai Nobel

Penerima penghargaan Nobel telah diumumkan. Terselip kisah seorang perempuan yang dengan pena ilmunya, mengukir sejarah. Di sana, di mana kegelapan dan cahaya berpelukan, berdiri Katalin, merangkul mimpi yang tak pernah luntur meski badai berusaha merobohkannya.

Sebuah penghargaan berlabuh pada Katalin Karikó, yang dengan lembut membelai dunia dengan ilmunya. Nobel, sebuah mahkota yang diletakkan pada kepalanya pada tahun 2023, bukan sekadar pengakuan, melainkan sebuah simfoni yang melantunkan melodi perjuangannya yang penuh tantangan.

Katalin, seorang ilmuwan yang berlayar di lautan ketidakadilan, namun tetap dengan teguh memegang erat layar penelitiannya, khususnya dalam pengembangan teknologi mRNA, yang menjadi dasar bagi vaksin yang menyelamatkan dunia dari cengkeraman COVID-19. Dia, yang dalam perjalanannya sering terhempas oleh ombak-ombak ketidakadilan, namun tetap berdiri, menatap horison dengan mata yang penuh harapan. Perlakuan buruk yang dialami oleh Katalin Karikó di institusinya mungkin justru menjadi katalis yang mendorongnya untuk meraih Nobel.

Apakah kita, dalam kontemplasi ini, mampu menyaksikan bahwa setiap perlakuan kasar yang Katalin terima di ruang-ruang institusinya, bukan sekadar menjadi rintangan, melainkan juga sebuah kanvas yang melukis semangatnya yang tak pernah luntur? Tergantung dari cara memandang. Bisa jadi kita melihat bahwa pengalaman-pengalaman tersebut telah menyulut api motivasi di dalamnya. Hal ini untuk membuktikan bahwa ide dan penelitiannya memiliki nilai yang tak terukur. Namun, ada perspektif lain dimana talenta dan dedikasinya adalah faktor utama yang membawanya meraih penghargaan tersebut. Mungkin akan mencapai hal yang sama atau bahkan lebih jika diberikan dukungan yang lebih baik. Bisa saja.

Ada hikmah dari perjalanan tersebut. Katalin, dengan ketegarannya, mengajarkan bahwa dalam setiap ketidakadilan, dalam setiap pengabaian, terdapat benih-benih perubahan yang siap untuk tumbuh. Dari tanah yang keras dan tandus, muncul bunga yang indah, menyemburkan aroma harapan dan perubahan.

Mari kita renungkan, apakah kita harus menunggu sampai benih-benih itu tumbuh dan berbunga untuk mengakui nilai dan pengorbanan yang ada di dalamnya? Apakah kita harus menunggu sampai penghargaan diberikan untuk melihat betapa berharganya setiap tetes keringat dan air mata yang telah jatuh?

Di setiap hentakan langkah Katalin, kita disuguhkan sebuah cerminan; sebuah bisikan tenang dari masyarakat yang terlalu sering terlena, melupakan untuk memberi penghargaan pada perjuangan yang terselubung dalam diam. Kita diajarkan, bahwa pengakuan, ia bisa merupa dalam beragam wujud, dan bahwa kita, sebagai sebuah kolektif masyarakat, memegang amanah untuk menyampaikan dukungan serta pengakuan kepada setiap jiwa yang berjuang, meski dunia terkadang memilih untuk memalingkan wajahnya.

Dan di sinilah kita menemukan kekuatan yang tak terkira. Kekuatan untuk berdiri, untuk berjuang, dan untuk terus bermimpi, meski dunia menolak untuk mendengar. Katalin mengingatkan kita bahwa dalam setiap perjuangan, dalam setiap penderitaan, terdapat sebuah harapan yang tak pernah mati.

Dalam setiap retakan yang ada, cahaya selalu menemukan jalan untuk menyinari kegelapan, memberikan kita harapan bahwa suatu hari, setiap perjuangan dan pengorbanan akan mendapatkan tempatnya yang semestinya. Dan di sana, di antara retakan-retakan itu, kita akan menemukan keindahan yang tak terhingga, sebuah pengakuan bahwa kita semua, dengan cara kita sendiri, berharga dan berarti.

Keluarga saya

Saya, Hadi Nur, bersama dengan istri saya, Terry Terikoh, telah membina sebuah keluarga dan dikaruniai tiga orang anak. Anak kami yang pertama, Farid Rahman Hadi, telah menyelesaikan studi sarjana dan magister dalam bidang Arsitektur di International Islamic University Malaysia (IIUM). Setelah itu, ia menikah dengan Zayanah Masturina Zainal dan kini bekerja di Kuala Lumpur. Anak kedua kami, Firda Hariri, menyelesaikan studi sarjananya dalam bidang Matematika Industri di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) dan saat ini sedang melanjutkan studi pascasarjananya di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Sementara itu, anak ketiga kami, Fahima Zikra, saat ini sedang menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri 2 (MAN 2) Kota Malang. Bersama-sama, kami menjalani kehidupan yang penuh warna dan menciptakan cerita yang indah di setiap babak perjalanan hidup kami.

Satata Gama Karta Raharja

Melintas dalam lorong waktu, kita mungkin akan menemukan bahwa kebijaksanaan tak hanya bersumber dari masa kini, melainkan juga dari gemerlap masa lalu, dari reruntuhan kerajaan dan bisikan-bisikan filosofis yang terjaga oleh zaman. “Satata Gama Karta Raharja”; kata-kata yang terpahat dalam ingatan sejarah, menyejukkan dan menyentuh ke dalam prinsip-prinsip kehidupan yang lama tak bersuara. Dari era Kerajaan Singasari, sebuah konsep keberlanjutan mungkin telah merembet dan ditanamkan dalam hati peradaban itu sendiri.

Sustainability, kata yang kini begitu akrab dan mungkin juga dilelahkan oleh retorika zaman, sepertinya pernah menjadi filosofi yang tak terucapkan di masa lalu, mengalir seperti sungai kebijaksanaan yang tak pernah kering oleh musim. Di bawah langit yang sama, nenek moyang kita telah berbicara tanpa kata, bahwa keberlanjutan bukanlah pilihan, melainkan keniscayaan.

“Satata Gama Karta Raharja” bisikkan itu, ibarat embun pagi yang menghunjam langsung ke akar pohon kesadaran kita, membisikkan pentingnya harmoni, bahwa kesejahteraan yang diterima tangan-tangan ini harus selaras dengan kesucian yang melingkupi jiwa. Mereka, rakyat Singasari yang dengan lembut menyirami tanah dengan kebijaksanaan, bukan hanya memandang bumi sebagai tempat berpijak, melainkan juga sebagai cermin yang mengajarkan kita tentang keadilan, tentang bagaimana membalas budi kepada tanah yang telah memberi kita kehidupan.

Langit yang dijunjung bukan sekedar metafora kosmis, melainkan representasi dari aspirasi manusia terhadap kebenaran, kesucian, dan ketentraman yang tiada akhir. Adalah filosofi yang mengajarkan kita untuk menjunjung tinggi kearifan, menjadikan langit sebagai panduan moral untuk berbuat benar, dan sekaligus sebagai bentuk penghormatan kepada tanah di bawah kaki. Kita, manusia-manusia zaman kini, bagai penjelajah waktu yang tengah mencari jawaban atas persoalan-persoalan eksistensial melalui lembaran-lembaran sejarah yang lusuh namun bernilai.

Dapatkah kita, yang tengah menari dalam gejolak zaman modern yang penuh dengan ketidakpastian dan ambiguitas, menemukan kembali jati diri kebijaksanaan kita dalam gemerlap tradisi masa lalu? Dalam kontemplasi ini, kita dihadapkan pada suatu persilangan jalan: satu mengarah pada penerusan nihilisme, dan yang lainnya menggiring kita pada pencerahan kearifan yang telah lama dilupakan.

Maka, di sinilah, dalam remah-remah masa lalu, kita mungkin menemukan benih-benih masa depan, mengingatkan kita pada keseimbangan dan harmoni, menunjukkan bahwa keberlanjutan dan kesejahteraan bukanlah dua entitas yang saling eksklusif. Lebih dari itu, keduanya adalah dua sisi mata uang yang sama: sebuah tatanan kehidupan yang menyeluruh dan berkelanjutan.

Dengan demikian, melalui lensa filosofis ini, mari kita renungkan kembali, mencoba memahami dan mungkin mempraktikkan konsep “Satata Gama Karta Raharja”, memberikan hak bagi bumi untuk tetap subur dan memberikan ruang bagi langit untuk tetap dijunjung tinggi. Semoga, dalam renungan ini, kita bisa menemukan keseimbangan antara modernitas dan tradisi, antara inovasi dan kearifan lama, sehingga kesejahteraan yang kita rindukan bisa terwujud di atas kesucian yang langgeng.

Plato dan makna riset kontemporer

Di seberang lautan kebenaran, di mana bayangan Plato, sang filsuf, bermain dengan cahaya pengetahuan yang kekal dan murni, kita mungkin menemukan diri kita berlayar, terbelenggu dalam rantai yang tak tampak namun begitu kuat, membelenggu penelitian di negeri kita, Indonesia. Di negeri yang kaya akan keragaman dan potensi, mungkin tersembunyi sebuah ironi: bahwa dalam usaha mencapai kejayaan ilmiah, kita terperangkap dalam dunia yang lebih memperdulikan kuantitas ketimbang kualitas—sebuah pantomim yang menyedihkan dari apa yang seharusnya menjadi perjalanan intelektual yang membebaskan dan memberdayakan.

Gelombang penelitian, yang idealnya menerobos batas pengetahuan dan kebenaran, terkadang terhenti, tertahan oleh pesisir yang dicirikan oleh dorongan publikasi dan pengakuan. Bukankah kita lupa, bahwa di setiap percobaan dan teori seharusnya terletak jiwa yang mencari, yang merindukan pemahaman yang lebih mendalam mengenai realitas di mana kita semua bertengger?

Pantaskah kita mengajukan sebuah hipotesis yang melankolis? Bahwa dalam penelitian ilmiah di negeri ini, kita terkadang kehilangan esensi pencarian kita: bukan hanya untuk apa yang baru dan menggugah, namun juga untuk apa yang benar dan bermakna. Bagaimana kita bisa membebaskan diri dari belenggu ini, meresapi kembali nilai-nilai murni dari riset dan eksplorasi ilmu pengetahuan?

Refleksi ini bukanlah undangan untuk meresapi keputusasaan, melainkan sebuah panggilan—suatu seruan untuk merenung dalam-dalam dan mengakar kembali pada esensi dari pencarian keilmuan itu sendiri. Di tengah-tengah hiruk pikuk dunia riset yang terkadang terperangkap dalam siklus produksi dan pengakuan, ada ruang untuk introspeksi, untuk mengingat kembali bahwa di setiap penjuru pertanyaan ilmiah seharusnya terdapat dahaga yang tak terpuaskan untuk memahami dan mengerti.

Kita memanggil Plato, tidak sebagai pengingat dogma filosofis, melainkan sebagai simbol dari keinginan untuk mencari yang otentik dan mendalam. Dengan mata yang tertuju pada ide-ide sejati, mari kita manfaatkan setiap percobaan, setiap penelitian, sebagai sarana untuk mendekati kebenaran, bukan hanya sebagai alat untuk mencapai pengakuan atau produktivitas.

Dengan berpikir reflektif, kita mungkin menemukan kekuatan untuk melepaskan diri dari belenggu yang tak kasat mata ini, menciptakan riset yang bukan hanya melengkapi daftar publikasi, namun yang menjelajah ke dalam kedalaman misteri dunia, memberikan kita pencerahan yang tajam dan tak berkesudahan. Di sanalah, mungkin, kita akan menemukan kembali makna dari penelitian itu sendiri: sebuah perjalanan yang tak pernah berakhir menuju pengenalan dan kebijaksanaan.