Datuk Rajo Mangkuto: Ranji Keluarga dan Foto-Foto Keluarga Tahun 1920-an

Saya menyalin kembali ranji keluarga berdasarkan data tulisan tangan lama untuk mendokumentasikan garis keturunan dan pewarisan gelar Datuk Rajo Mangkuto di Balai Mansiro, Nagari Danguang-Danguang, Payakumbuh, Sumatera Barat. Ranji ini disusun berdasarkan data yang saya miliki dan mungkin belum sepenuhnya lengkap. Selain sebagai upaya pelestarian sejarah keluarga, dokumentasi ini juga bertujuan merekam pewarisan gelar pusaka kaum yang dalam adat Minangkabau diwariskan melalui garis keturunan ibu (matrilineal).

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, pemegang gelar Datuk Rajo Mangkuto yang tercatat secara berurutan adalah Ali Datuk Rajo Mangkuto, Samah Datuk Rajo Mangkuto, H. Djuaini Datuk Rajo Mangkuto, dan Nur Anas Djamil Datuk Rajo Mangkuto. Ranji ini menelusuri garis keturunan dari Sitti (sekitar tahun 1850), kemudian Patimah (lahir 1878), Bidah (lahir 1897), hingga generasi-generasi berikutnya yang berhasil ditelusuri dalam keluarga.

Diperlihatkan pula beberapa foto keluarga dari sekitar tahun 1920–1930-an yang menjadi pelengkap dokumentasi ini. Salah satu foto menampilkan empat generasi sekaligus dalam satu bingkai, yaitu Sitti → Patimah → Bidah → Radias. Foto tersebut memperlihatkan Sitti sebagai generasi tertua yang masih hidup saat itu, didampingi anak, cucu, dan cicitnya. Dari kanan ke kiri tampak Kusaan (lahir 1908), Rakiah (lahir 1914), Sitti (lahir 1850), H. Djuaini Datuk Rajo Mangkuto, Bidah (lahir 1897), Patimah (lahir 1878), Ripin (lahir 1903), serta seorang anak yang diduga bernama Ardanis.

Foto lainnya memperlihatkan Rakiah (lahir 1914), yang kelak menjadi ibu dari ayah saya, berdiri bersama saudara-saudaranya. Dari kanan ke kiri tampak Bidah, Ripin (1903), Rakiah (1914), Kusaan (1908), dan H. Djuaini Datuk Rajo Mangkuto.

Selain menjadi potret keluarga, foto-foto ini juga memberikan gambaran kehidupan masyarakat Minangkabau di Payakumbuh pada masa kolonial. Kehadiran foto-foto tersebut menjadi bukti visual yang sangat berharga dalam membantu merekonstruksi hubungan kekerabatan yang tercatat dalam ranji.

Dokumentasi ini masih bersifat terbuka dan akan terus diperbarui apabila ditemukan data, foto, maupun keterangan tambahan dari anggota keluarga lainnya. Saya berharap upaya kecil ini dapat menjadi arsip keluarga yang bermanfaat bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang untuk mengenali asal-usul, hubungan kekerabatan, serta sejarah kaum Datuk Rajo Mangkuto di Balai Mansiro.

Sebagaimana pepatah Minangkabau mengatakan, “kok indak tahu di nan asal, ka maano pulang.” Melalui ranji dan foto-foto lama ini, kita dapat kembali menelusuri jejak para pendahulu, mengenang perjalanan mereka, dan menjaga ingatan kolektif keluarga agar tidak hilang ditelan waktu.