Pemilu 2004

amien
Pemilihan Umum Presiden yang langsung, bebas dan (tidak) rahasia di Konsulat Jenderal Republik Indonesia, Johor Bahru pada 5 Juli 2004 jam 6.00 sore.
panitia
Panitia Pemilu 2004 di KJRI Johor Bahru

Dari Buku Notes Seorang Yang Kalah

Oleh: Goenawan Mohamad

Di kotak suara saya pilih Amien Rais dan Siswono. Saya tahu akan sulit sekali mereka akan menang.

Ada yang bertanya: kenapa? Jawab saya: Karena saya tahu mereka berdua tak pernah hidup dari uang sogok, dan karena mereka peka terhadap keadaan orang miskin.

Tanya: Tidakkah yang lain begitu juga?

Jawab: Mungkin. Tapi kebetulan saya tak tahu.

Beberapa teman mencela Amien dan Siswono dan mencoba menunjukkan bahwa pilihan saya salah. Baiklah. Tapi bukankah memilih dalam sebuah pemilu mengandung asumsi bahwa kita memang bisa salah? Bukankah itu sebabnya secara periodik kita menilai kembali tepatkah pilihan kita sendiri?

Pemilu adalah sebuah kombinasi antara harapan dan ironi. Ada harapan untuk memperoleh seorang pemimpin yang terbaik, tapi harapan itu sendiri diam-diam sebenarnya tak bisa mutlak di hati kita. Dalam pemilu orang yang memberikan suara adalah orang yang siap kecewa dan orang yang dipilih adalah orang yang siap dibatasi. Demokrasi yakin manusia bisa berbuat baik, tapi tahu ada cacat dalam dirinya.

***

Tanya: Anda memaklumkan diri berpihak kepada salah satu calon. Di mana independensi anda sebagai seorang budayawan? Apa gunanya?

Jawab (setelah menjelaskan bahwa saya tak paham apa itu arti `budayawan’): Pertama, independensi habis jika tindakan saya diatur orang lain. Dalam memilih Amin-Siswono, saya tak dikendalikan oleh kekuatan manapun.

Kedua, independensi hilang kalau saya teken kontrak akan mendukung seseorang atau sesuatu sampai mati.

Ketiga, lebih baik menentukan sikap secara terbuka, hingga orang tahu `bias’ saya dalam mengemukakan pendapat.

Keempat, dalam masa ketika lembaga demokrasi masih harus dikukuhkan, saya ingin aktif menyatakan, bahwa memilih dan memihak itu bukan sesuatu yang nista dan kotor. `Budayawan,’ apapun artinya kata yang aneh itu, bukanlah brahmana.

Tapi memang, pada setiap pemihakan ada tesirat kehilangan. Setiap pemihakan adalah bagian dari apa yang dalam kata-kata Reinhold Niebuhr sebagai `tugas murung politik’. Sebab ada yang tersingkir di sana, yakni kebersamaan yang inklusif. Masalahnya kemudian adalah bagaimana mengatur pemihakan itu Ada tantangan tempat dan waktu. Memihak tak berarti memihak dengan sikap yang tertutup dan statis.

***

Saya kira itulah yang terjadi pada pemilihan 2004. Berjuta orang menunjukkan pemihakan yang terbuka dan dinamis. Mereka independen. Mereka mencoblos partai X dalam pemilihan April, tapi tak selamanya mengikuti partai itu dalam hal memilih calon presiden.

`Orde Baru’ hendak membuat rakyat sebagai `massa yang mengambang,’ yang tak terpaku pada satu partai karena ikatan `primordial’ ?dan untuk itu kebebasan rakyat untuk berpolitik dihilangkan Di tahun 2004 rakyat Indonesia membuktikan diri sebagai `massa yang mengambang’ justru karena bebas berpolitik.

***

Semakin deras hasil hitungan suara, semakin tampak Amien Rais dan Siswono tak akan mendapatkan kans untuk masuk ke putaran kedua. Saya sedih.

Beberapa orang di Tim Sukses mengubah rasa kecewa jadi marah, dan berbicara soal `kecurangan’. Mereka menunjuk: Lihat, Bung, KPU kalang kabut!

Saya hanya sedih, tapi tak kecewa. Tapi KPU memang bukan tauladan manajemen yang baik. Setahu saya tak seorang di antara para anggotanya berpengalaman mengelola sebuah organisasi yang kompleks yang dituntut untuk menyusun satu jaringan perencanaan, guna menghasilkan berbagai `produk’ sekaligus.

Tak akan mengejutkan bila nanti ditemukan sesuatu yang tak beres di sana. Setidaknya dalam penghitungan suara, KPU adalah salah satu contoh yang sering terjadi di Indonesia: `salah-urus’.

Seandainya KPU diisi seorang mantan eksekutif bidang industri, atau mantan pemimpin proyek pembangunan, atau mantan kepala staf angkatan bersenjata ?dan bukan hanya dosen dan aktivis yang umumnya dahsyat dalam semangat tapi lembek dalam organisasi kerja ?hasilnya pasti akan lain.

Untunglah, masih ada tenaga di masyarakat yang mengoreksi apa yang kacau balau. Seorang teman bercerita bahwa panitia setempat-lah yang ambil inisiatif mengatur hal yang diabaikan KPU. Misalnya ada panitia setempat dengan cepat memutuskan, sebelum KPU tergopoh mengoreksi, bahwa kertas suara yang tembus dicoblos adalah kertas suara yang sah.

Rakyat, (artinya kita), bisa salah. Tapi ada saat-saat ketika dari kancah interaksi dengan orang lain tumbuh kearifan. Beda antara panitia lokal dan KPU terletak dalam interaksi itu. Dari awal sampai akhir, panitia lokal, para saksi dan para tetangga di sekitar TPS berangkat dengan menyadari adanya kepentingan yang berbeda. Bahkan perbedaan kepentingan adalah alasan dasarnya. Maka ada usaha keras untuk saling mengontrol, agar cara kerja terbuka dan tak berat sebelah. Juga ada usaha untuk tak membuat bentrok dan keruwetan, terutama karena mereka umumnya hidup berdekatan.

Sebaliknya, KPU tak bertolak dari asumsi perbedaan kepentingan itu dalam dirinya. Saya tak tahu bagaimana lembaga ini mengontrol cara kerjanya sendiri. Yang saya tahu: orang bisa menunjuk dengan mudah, `Lihat, Bung, KPU kalang kabut!’

***

Aneh juga saya sedih bahwa Amien-Siswono kalah ? walaupun sejak mula saya tak tinggi berharap. Mungkin karena dalam tiap kekalahan ada yang disalahkan.

Tapi apa arti kalah, sebenarnya? Ada kalah yang tak perlu membuat diri malu, terutama bila kita tahu siapa yang menang. Dan jika ada yang sudah menang dalam pemilihan ini tampaknya itu bukan partai, bukan tokoh. `Yang menang demokrasi,’ jawab seorang perempuan muda di Yogya ketika wartawan BBC bertanya.

Seandainya diucapkan dalam pidato seorang aktivis, kalimat itu akan terasa klise. Tapi dari mulut seorang yang tak biasa bicara politik, ia membawa gema yang panjang, setidaknya di hati saya.

Mungkin karena ia benar.

Pada suatu hari saya dengar seorang ibu rumah tangga berkata kepada temannya, `Sekarang enak, kita bebas ngomong’.

Ia seorang warga keturunan Cina yang, seperti hampir semua keturunan Cina, di masa `Orde Baru’ dipandang dengan curiga bila ikut serta bicara, apalagi aktif, dalam politik. Kini perempuan itu, juga para tetangganya, ikut bergiat, bergairah, dan merasakan diri sebagai anggota dari negeri tempat mereka lahir dan menutup mata.

Ada keberanian lain. Hampir tak ada sopir taksi, pelayan restoran, tukang pijit, tukang batu, buruh pabrik, yang ragu menyatakan calon pilihan mereka atau partai yang mereka anut. Dengan cepat itu mereka utarakan, tanpa gentar akan kehilangan kerja atau pelanggan, tanpa rikuh untuk berbeda pilihan dengan si penanya.

Agaknya mereka sadar, bahwa dari merekalah datangnya suara. Mereka tahu, di kotak di TPS itu, tiap kepala adalah sebuah angka yang penting. Bu Iyah, tukang pijit itu, akan dihitung sama dengan penghuni rumah di ujung sana, Pak Fauzi Bowo, seorang wakil gubernur.

Tentu, teori tentang demokrasi sudah banyak bicara tentang ini. Tapi kini yang saya saksikan bukan teori. Yang saya saksikan adalah orang-orang di lapis bawah yang (setidaknya untuk beberapa hari), merasa punya kekuatan buat bicara `ya’ atau `tidak’ kepada orang yang mengetuk hati mereka, meminta mandat dari mereka.

Ini setidaknya berlaku di tahun 2004. Saya tak tahu bagaimana kelak. Kini ada semacam campur-aduk yang asyik, ketika kekuatan ekonomi, politik dan media masih belum dikonsentrasikan di satu dua tangan, bahkan belum menunjukkan satu dua pola yang begitu berkuasa. Jika kelak keadaan jadi seperti itu, demokrasi pun akan kalah, hanya tinggal bentuk.

***

Pemilihan presiden 2004 adalah sebuah gabungan yang masih memikat –gabungan antusiasme sebuah demokrasi baru dan sikap skeptis sebuah demokrasi yang mulai kecewa.

Konon sekitar 80% dari pemilih yang terdaftar datang mencoblos. Tapi ada yang mengatakan, jumlah `golput’ bertambah. Bagi saya kedua tendensi itu sama-sama menggembirakan.

Sebab ada empat jenis `golput’. Ada `golput keruh’, yang tak pergi ke TPS karena bingung, kekurangan informasi. Ada `golput jenuh’, yang tak mau lagi memikirkan politik, karena sudah puas dengan keadaan atau juga sebaliknya, karena putus asa. Ada `golput angkuh’, yang merasa diri begitu suci dan luhur hingga harus berada di atas semua pihak.

Tapi ada `golput’ yang merupakan isyarat yang penting dan berguna bagi para politisi: sebagai sebuah aksi politik, sebuah protes terhadap penyelenggaraan pemilu dan perilaku para politisi. Ini sebuah suara yang menuntut perbaikan. Ini `golput ampuh’.

***

Sebagai seorang yang kalah, saya ingin menghibur diri: ternyata ada kemenangan lain dalam pemilihan presiden ini, setidaknya pada putaran pertama. Yang juga menang adalah sebuah komunitas yang bernama `Indonesia’.

Jika kita baca angka, ternyata orang memilih seorang calon bukan karena suku dan asal usulnya. Sampai 6 Juli malam, pasangan SBY- Kalla, (asal Jawa dan asal Sulawesi Selatan), menang di 16 propinsi. Tak ada pekik `Hidup putra daerah!’.

Dan yang pasti tak ada ukuran jender: Megawati, satu-satunya perempuan dalam persaingan ini, masih didukung luas. Dan sementara kehidupan agama Islam tetap marak, di negeri Muslim terbesar di dunia ini orang bisa mengatakan, `Islam’ tak memeluk lututnya sendiri.

Maka haruskah saya terus murung? Saya pandangi gambar para pemilih 2004. Tiba-tiba saya tergerak setengah menirukan sajak Sapardi Djoko Damono, berbisik `Biarkan aku banggakan kau, bangsaku, dengan cara yang sederhana’.

***

Jakarta, 8 Juli 2004.

Kerangka Sains yang Islami

Hadi Nur

Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies
Universiti Teknologi Malaysia, 81310 UTM Skudai, Johor, Malaysia

Konseptual dari formulasi kontemporer dari kerangka sains yang Islami yang berdasarkan kepada Al-Quran dapat diterangkan seperti yang diperlihatkan dalam Skema 1. Kerangka sains yang Islami tersebut diterangkan ke dalam sepuluh konsep yang terdiri dari empat konsep yang berdiri sendiri dan tiga pasang konsep yang saling bertentangan. Konsep-konsep ini diturunkan dari budaya saintifik Islam yang diterjemahkan kepada parameter-parameter yang nantinya akan mempengaruhi perkembangan sains. Konsep-konsep yang diterjemahkan kepada tatanan nilai-nilai tersebut tidak hanya mendorong semata-mata terhadap perkembangan penyelidikan-penyelidikan saintifik, tetapi juga terhadap sistem pengetahuan yang memiliki tanggung jawab sosial.

sains

Skema 1 Kerangka Sains yang Islami.

Skema di atas berangkat dari firman Allah sebagai berikut:

“…. Allah mengangkat mereka yang beriman di antara kamu dan mereka yang diberi karunia ilmu-pengetahuan ke berbagai tingkat derajat.” (QS. Al-Mujadalah/58:11)

Firman di atas menjelaskan bahwa janji keunggulan, superioritas dan supremasi diberikan Allah kepada mereka yang beriman dan berilmu sekaligus. Iman akan mendorong kita untuk berbuat baik guna mendapat ridha Allah, dan ilmu akan melengkapi kita dengan kemampuan menemukan cara yang paling efektif dan tepat dalam pelaksanaan dorongan berbuat baik itu. Ringkasnya, iman dan ilmu secara bersama akan membuat kita menjadi orang baik dan sekaligus tahu cara yang tepat mewujudkan kebaikan kita itu. Dari skema di atas, secara hirarki dapat dilihat bahwa tauhid adalah yang utama, dan ilm adalah sebagai pelengkap.

Bagaimana kita memakai konsep tauhid dan khalifah dalam aktivitas sains dan teknologi? Konsep tauhid dapat diterjemahkan sebagai “Keesaan Tuhan”. Konsep ini menjadi nilai yang berharga untuk menyatukan kemanusiaan, menyatukan manusia dan alam, dan menyatukan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai.

Dari tauhid muncul konsep khalifah; yang menyatakan bahwa manusia tidak lepas dari Tuhan dan bertanggung jawab terhadap kegiatan saintifik dan teknologi yang dilakukan. Kekhalifahan bermakna, walaupun manusia tidak mempunyai hak yang khusus terhadap segala sesuatu, tetapi manusia bertanggung jawab untuk menjaga keutuhan alam ini.

Ibadah dapat dilihat sebagai perenungan, sebagai suatu kewajiban yang berasal dari kesadaran terhadap konsep tauhid dan khalifah. Beribadat mempunyai efek tumbuh dan menguatkan komitmen moral, yaitu rasa keterikatan batin kepada keharusan berbuat baik kepada sesama manusia dan alam. Proses ini bertindak sebagai faktor penyatu kepada kegiatan saintifik dan sistem dari nilai-nilai yang Islamik.

Jika pencarian saintifik dilakukan dalam bentuk perenungan, suatu bentuk daripada ibadah, maka proses tersebut pasti akan tidak melibatkan kerusakan terhadap alam. Hal ini tidak akan menghasilkan hal-hal yang tidak berguna (dhiya) atau dalam bentuk yang bersifat merusak atau zalim (zulm) atau menghasilkan hal-hal yang tidak pantas (haram). Jadi, proses santifik yang Islami hanya berdasarkan kepada hal-hal yang pantas (halal) yang berguna untuk kepentingan orang ramai (istislah) dan akhirnya mempunyai manfaat kepada sosial, ekonomi dan kebudayaan (adl).

Sejarah telah membuktikan bahwa kerangka di atas telah menggerakkan sains Islam, tanpa membatasi kebebasan dari penyelidikan atau merugikan umat manusia. Kerangka sains yang Islami ini telah menghasilkan efek yang luar biasa kepada kebijakan dan ilmu pengetahuan dalam dunia Islam pada zaman kejayaan Islam dahulu.

Kerangka Sains Islami ini tidak saja dibatasi hanya sampai hakikat fisik saja, seperti yang ditunjukkan dalam peristiwa ajaib “Mi`raj” nabi Muhammad SAW. Pada suatu malam yang ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Nabi secara ajaib telah dibawa dari Makah ke Jerussalem, dan dari sana ia melakukan mi`raj naik melewati derajat eksistensi – ke wilayah kosmos yang paling besar – tempat yang tidak terbatas (al-sidrah al-muntaha), dan bahkan sampai ke tempat yang paling dekat dengan Tuhan. Walau bagaimanapun, keberatan-kebaratan tertentu telah diajukan oleh kritikus-kritikus modern yang dibutakan oleh keberhasilan sains modern dalam bidang fisik dan oleh semacam totalitariasnisme yang, sering kali secara tidak sadar, menjelmakan suatu sains tentang bidang realitas tertentu kepada sains tentang realitas keseluruhan, dan dengan demikian menyusutkan realitas itu sampai batas sub-human. Mi`raj Nabi SAW yang begitu penting dalam agama Islam, pada waktu yang sama menjadi unsur-unsur yang paling sulit dipahami dalam ajaran Islam bagi orang Muslim yang dipengaruhi oleh pandangan-pandangan saintifik modern. Kenyataannnya orang-orang tersebut telah menghilangkan seluruh keindahan dan kebesaran peristiwa tersebut dengan berusaha menjelaskannya dengan cara yang rasionalistis. Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang tidak logis atau tidak saintifik dari peristiwa Mi`raj tersebut jika kita mau mengingat batasan-batasan yang dengannya ilmu pengetahuan alam mulai berkembang. Kesulitannya adalah bahwa keterbatasan-keterbatasan itu biasanya dilupakan dan persaratan-persaratan yang ditentukan sendiri oleh ilmu pengetahuan alam modern untuk dirinya sendiri dalam telaahnya tentang hakikat alam dikelirukan dengan persyaratan-persyaratan dan ketrebatasan-keterbatasan hakikat itu sendiri. Reduksionisme (penyusutan) inilah yang membuat peristiwa Mi`raj, sebagaimana kenaikan Isa ke langit dan berbagai peristiwa keagamaan lainnya yang disebutkan di dalam Al-Quran dan kitab-kitab suci lainnya, itu tampaknya sebagai sesuatu yang tidak nyata dan ilusi.

Jadi, kerangka Sains Islami yang telah diuraikan di atas tidak membatasi cara pandang kita sebagai seorang yang mempercayai adanya Allah (tauhid), yang merupakan aspek ruhani kehidupan dan bagaimana kita mengaplikasikannya (ibadah), yang merupakan aspek jasmani dalam kehidupan kita sehari-hari dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

Referensi

  • Z. Sardar, D. van Loon, “Introducing Science”, Totem Books USA, 2002.
  • N. Madjid, “Pintu-Pintu Menuju Tuhan”, Penerbit Paramadina, 1994.
  • S. H. Nasr, “Muhammad Kekasih Allah”, Penerbit Mizan, Bandung, 1993.

 

COMBICAT group

COMBICAT group at Universiti Kebangsaan Malaysia invited me to give a lecture on “Microporous and Mesoporous Materials and Their Applications in Catalysis” for two days on 26-27 March 2004.

Assoc. Prof. Dr. Mohd. Ambar Yarmo

After the seminar with Assoc. Prof. Dr. Mohd. Ambar Yarmo (Head of COMBICAT UKM.

COMBICAT UKM group

I and COMBICAT UKM group

Pengajian PPI UTM

Karena tidak semua wajah dari anggota PPI UTM dapat dimuat dalam foto Pengajian pada 6 Maret 2004, maka pihak panitia hanya memuat wajah-wajah yang photogenic saja.