Realitas dan harapan yang selangit

Beberapa hari yang lalu saya membaca di surat kabar ucapan seorang rektor sebuah perguruan tinggi (kecil) di Malaysia yang mengatakan bahwa bukan mustahil universitas yang dipimpinnya menghasilkan penerima hadiah Nobel — (hmm.. berapa persen kemungkinannya? apakah 10% ataukah 0.000000000001%?) Beliau mengatakan bahwa ukuran (kecil) bukan menjadi halangan untuk menghasilkan penerima hadiah Nobel seperti yang telah dilakukan oleh California Institute of Technology (Caltech). Namun beliau lupa akan dua hal: pendanaan dan juga publikasi ilmiah (yang ujung-ujungnya juga bermuara dengan dengan budaya ilmiah). Bagi hal yang terakhir ini, di bawah ini adalah artikel menarik yang menyatakan bahwa Google’s PageRank dapat memprediksikan seseorang itu mempunyai peluang mendapatkan Nobel atau tidak dari publikasi ilmiahnya. Terdapat korelasi yang kuat antara publikasi ilmiah dengan kemungkinan seseorang tersebut mendapatkan hadiah Nobel.

How Google’s PageRank predicts Nobel Prize winners

“The pattern of citations between scientific papers forms a network that has remarkable similarities to the network formed by the web. So why not use Google’s PageRank, the world’s most effective search algorithm to rank these papers in the same way it ranks websites? That’s exactly what a couple of US researchers have done for physics papers published by the American Physical Society since 1893 (abstract). The results make interesting reading because almost all of the top ten papers resulted in (or were linked to) Nobel Prizes for their authors. Which means that studying the up-and-coming entries on the list ought to be a good way of predicting future winners. Better get your bets in before the bookies get wind of this.”

Artikel lengkapnya dapat dibaca di http://arxivblog.com/?p=1123

Mendapatkan citation lebih dari 100 saja luar biasa susah, apalagi sampai 1000 — (karena setahu saya tidak satupun saintis dirantau ini yang salah satu publikasinya mempunyai citation lebih daripada 1000). Bagaimanapun, walaupun cara ini banyak kelemahannya, setidak-setidaknya kita harus sadar bahwa untuk mencapai excellence itu tidak semudah yang dibayangkan — kita harus bercermin kepada kemampuan kita dan mempertanyakan “apakah kita sudah mampu (atau siap kearah itu) untuk mencapainya?”. Agaknya kita perlu menyesuaikan antara realitas dan harapan (yang selangit). Kalau tidak — hanya menjadi impian kosong saja.

Published by

Hadi Nur

I enjoy living in Johor Bahru area and always seek the truth.

One thought on “Realitas dan harapan yang selangit”

  1. Bagi seorang berjiwa “entrepeneur” dalam ilmu, probabilitas 0.0001% pun tetap masuk wilayah “mungkin dicapai”.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s