Alumni UTM yang profesor di Indonesia dan luar negeri

[Diupdate 19 Januari 2021]

Jumlah alumni Universiti Teknologi Malaysia (UTM), program Magister dan Ph.D., yang berasal dari Indonesia yang telah menjadi profesor diberbagai universitas di Indonesia dan luar negeri telah bertambah menjadi 42 orang. Yang terbaru adalah Prof. Dr. Ahmad Hoirul Basori (King Abdulaziz University). Tahniah!

Luar negeri

  • Prof. Dr. Ahmad Hoirul Basori (King Abdulaziz University)
  • Prof. Dr. Hadi Nur (Universiti Teknologi Malaysia)
  • Prof. Dr. Muhammad Taher (International Islamic University Malaysia)

Indonesia

  • Prof. Dr. Abdullah (Universitas Diponegoro)
  • Prof. Dr. Adi Surjosatyo (Universitas Indonesia)
  • Prof. Dr. Agus Setyo Budi (Universitas Negeri Jakarta)
  • Prof. Dr. Agus Suprapto (Universitas Merdeka Malang)
  • Prof. Dr. Ahmad Saudi Samosir (Universitas Lampung)
  • Prof. Dr. Andi Adriansyah (Universitas Mercu Buana)
  • Prof. Dr. Anis Saggaf (Universitas Sriwijaya)
  • Prof. Dr. Asri Nugrahanti (Universitas Trisakti)
  • Prof. Dr. Bambang Pramudono (Universitas Diponegoro)
  • Prof. Dr. Didi Dwi Anggoro (Universitas Diponegoro)
  • Prof. Dr. Didik Prasetyoko (Institut Teknologi Sepuluh Nopember)
  • Prof. Dr. Halifa Pagarra (Universitas Negeri Makassar)
  • Prof. Dr. Hartati (Universitas Negeri Makassar)
  • Prof. Dr. Insannul Kamil (Universitas Andalas)
  • Prof. Dr. Istadi (Universitas Diponegoro)
  • Prof. Dr. Iwan Vanany (Institut Teknologi Sepuluh Nopember)
  • Prof. Dr. Kusmiyati (Universitas Dian Nuswantoro)
  • Prof. Dr. Lalu Mulyadi (Institut Teknologi Nasional)
  • Prof. Dr. Makmur Saini (Politeknik Negeri Ujung Pandang)
  • Prof. Dr. Moh. Khairudin (Universitas Negeri Yogyakarta)
  • Prof. Dr. Mohamad Djaeni (Universitas Diponegoro)
  • Prof. Dr. Muhammad Anshar (Politeknik Negeri Ujung Pandang)
  • Prof. Dr. Mukhamad Nurhadi (Universitas Mulawarman)
  • Prof. Dr. Nasfryzal Carlo (Universitas Bung Hatta)
  • Prof. Dr. Nilda Tri Putri (Universitas Andalas)
  • Prof. Dr. Pratikso (Universitas Islam Sultan Agung)
  • Prof. Dr. Putut Marwoto (Universitas Negeri Semarang)
  • Prof. Dr. Respati Wikantiyoso (Universitas Merdeka Malang)
  • Prof. Dr. Saktioto (Universitas Riau)
  • Prof. Dr. Saparudin (Universitas Sriwijaya)
  • Prof. Dr. Sarjon Defit (Universitas Putra Indonesia)
  • Prof. Dr. Siti Morin Sinaga (Universitas Sumatera Utara) *
  • Prof. Dr. Siti Nurmaini (Universitas Sriwijaya)
  • Prof. Dr. Sugeng Wiyono (Universitas Islam Riau)
  • Prof. Dr. Surya Afnarius (Universitas Andalas)
  • Prof. Dr. Sutrasno Kartohardjono (Universitas Indonesia)
  • Prof. Dr. Tamrin (Universitas Sumatera Utara)
  • Prof. Dr. Tutuk Kusworo (Universitas Diponegoro)
  • Prof. Dr. Zainuddin Nawawi (Universitas Sriwajaya)

_____

* telah meninggal dunia

Akal sehat

Saya melihat masih banyak orang yang masih terpedaya dengan berita-berita yang menyesatkan yang sengaja disebarkan untuk menjatuhkan individu, kelompok, organisasi bahkan pemerintah. Hal ini dilakukan dengan menyebarkan berita-berita yang dibuat sedemikian rupa, yang isinya tidak benar, secara bertubi-tubi dan sistematis, untuk mempengaruhi orang. Kalau saya amati, hal ini bukan saja terjadi di negara-negara yang kurang maju, tetapi juga di negara-negara maju. Lihat saja peristiwa politik yang terjadi di Suriah, Amerika Serikat, dan lain-lain. Ini adalah topik yang saya sampaikan ketika saya memberikan ceramah di IIUM dua tahun yang lalu, karena saya menganggap ini sangat penting untuk disampaikan dalam dunia sekarang yang penuh dengan fitnah.

Gunakan hati nurani dan akal sehat anda!

Memilih pekerjaan

Dua puluh delapan tahun yang lalu, tahun 1992, setelah saya lulus sarjana dari Jurusan Kimia, Institut Teknologi Bandung (ITB), saya melamar bekerja di PT Ultrajaya Milk Industry di Padalarang, Bandung. Berita mengenai lowongan kerja ini saya terima dari teman yang juga alumni ITB. Saya diwawancara dan langsung diterima bekerja disana sebagai Quality Control Supervisor. Pada hari pertama berkerja saya diantar oleh staf yang juga alumni Kimia ITB berkenalan dengan beberapa orang penting di perusahaan tersebut. Salah seorangnya adalah seorang warga negara asing, kalau tidak salah dari Denmark (?) yang menjadi kepala pabrik disana.

Selama beberapa hari mulailah saya belajar bagaimana menjadi seorang Quality Control Supervisor, dari mengecek kualitas susu sampai mengecek kualitas produk yang dihasilkan. Hanya beberapa hari saya bekerja disana, saya merasa bahwa pekerjaan ini sangat monoton dan membosankan. Saya merasa bahwa ini bukanlah pekerjaan yang sesuai untuk saya. Tidak ada ide-ide yang boleh saya terapkan dalam pekerjaan ini, karena semuanya sudah baku. Singkat cerita, saya menulis surat untuk berhenti dari pekerjaan tersebut. Saya hanya bekerja beberapa hari disana.

Pengalaman ini juga yang menjadi salah satu pendorong saya untuk bercita-cita menjadi dosen. Pada masa itu, saya berpikir bahwa pekerjaan ini sesuai untuk saya karena tidak monoton dan saya bisa berdiskusi setiap hari dan mengaplikasikan ide-ide saya. Lebih tepatnya saya menjadi orang yang merdeka. Nilai kemanusiaan kita akan lebih tinggi jika kita merdeka. Apa gunanya gaji yang tinggi jika kita tidak merdeka dan tertekan oleh pekerjaan?