Dr. Vinita Susanti

Alhamdullilah, tadi malam bertemu dengan saudara dari Jakarta di Johor Bahru, Dr. Vinita Susanti (Uni Santi) dan suami beliau Salman Ilyas (Uda Salman). Uni Santi adalah cucu dari Pak Odang Kutar (Balaimansiro, Payakumbuh). Beliau dosen Kriminologi, Universitas Indonesia.

25091202658_a8f88f2d73_b

Keserakahan

Tulisan ini dibuat berdasarkan rujukan yang saya letakkan di bawah tulisan ini. Tujuannya adalah untuk memahami kenapa orang bisa bersifat serakah. Dengan memahaminya, sekurang-kurangnya kita tahu bahwa orang serakah itu sebenarnya adalah orang yang gagal mengontrol diri.

Keserakahan adalah kerinduan yang luar biasa atau tak terpuaskan untuk kelebihan yang tidak perlu, terutama untuk kelebihan kekayaan, status dan kekuasaan. Keserakahan adalah keinginan yang terlalu besar untuk memperoleh atau memiliki lebih dari satu kebutuhan. Hal ini disebabkan oleh ketidakpedulian yang berkaitan dengan ketidakmampuan untuk mengendalikan keinginan.

Keserakahan disebabkan oleh hal-hal berikut:

  • Pengalaman yang negatif pada masa lalu
  • Kesalahpahaman tentang diri sendiri, kehidupan atau orang lain
  • Rasa takut dan rasa tidak aman secara terus-menerus
  • Strategi maladaptif untuk melindungi diri. Maladaptif bermaksud kegagalan individu mengintegrasikan aspek-aspek identitas masa kanak-kanak ke dalam kematangan aspek psikisosial kepribadian pada masa dewasa yang harmonis.
  • Penyembunyian semua hal-hal di atas pada saat dewasa

Untuk tidak serakah, kita perlu memahami apa yang paling penting dalam hidup. Epicurus, filsuf Yunani berkata, “Kekayaan bukan dari berapa banyak harta yang dimiliki, tapi dari keinginan yang sedikit.” Kita perlu membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Tidak memiliki perspektif yang seimbang mengenai keinginan dan kebutuhan akan memberikan persepsi yang cenderung kepada sifat materialistik.

Ayat Al-Quran mengenai keserakahan, (QS Al-Ahqaaf [46] : 20)

“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (seraya dikatakan kepada mereka), “Kamu telah menghabiskan (rezeki) yang baik untuk kehidupan duniamu dan kamu telah bersenang-senang (menikmati)nya; maka pada hari ini kamu dibalas dengan azab yang menghinakan karena kamu sombong di bumi tanpa mengindahkan kebenaran dan karena kamu berbuat durhaka (tidak taat kepada Allah).”

Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT karena dibesarkan dari keluarga yang agamis, berpendidikan dan sederhana. Semoga kita dijauhkan dari sifat serakah.

Rujukan 
https://en.wikipedia.org/wiki/Greed
http://personalityspirituality.net/articles/the-michael-teachings/chief-features/greed/
http://www.globalethicsuniversity.com/articles/greed.htm

Saudara dari Pekanbaru

Ternyata persaudaraan itu membahagiakan.

Tadi malam saya bertemu dengan saudara dari Pekanbaru dan baru pertama kali bertemu. Untung saya mempunyai perhatian dengan salasilah keluarga. Ternyata, Pak Edison (yang paling kanan dalam foto, duduk disebelah Inggo Laredabona — sepupu saya) mempunyai pertalian keluarga dengan saya melalui nenek saya (Rakiah), ibu dari ayah saya. Beliau adalah cucu dari datuk ayah (ayah Rakiah) saya yang bernama Suki (dari Payakumbuh, meninggal dunia dan dimakamkan di Mekah). Nenek beliau adalah salah seorang istri dari Suki.

Pak Edison tinggal di Pekanbaru, kebetulan beliau jalan-jalan bersama anak-anak, menantu dan cucu beliau ke Kuala Lumpur dan Johor Bahru. Tadi malam, saya berjumpa dengan beliau di Hotel Amerin, Johor Bahru.

24038661417_b231c6a751_b

The Road Not Taken

pundung

The Road Not Taken
BY ROBERT FROST

Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;

Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,

And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.

I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.

Dua baris terakhir dari puisi sangat menarik:

Aku menempuh jalan yang jarang dilalui
Dan itu mengubah segalanya.

https://en.wikipedia.org/wiki/The_Road_Not_Taken

Aktivitas kerjasama dengan universitas di Indonesia bulan November – Desember 2017

Kunjungan delegasi dari Universitas Negeri Malang [5 Desember 2017]

Visiting Professor di Jurusan Kimia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) [26 November 2017 sampai 2 Desember 2017]

Diskusi pelaksanaan Indonesia-Malaysia Research Consortium (I’MRC), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dengan Prof. Ketut Buda Artana, Wakil Rektor ITS dan tim beliau [27 November 2017]

Keynote speaker International Conference on Innovation & Industrial Application 2017 (CINIA 2017), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), sambil diskusi dengan Dr. Totok Prasetyo, Direktur Kelembagaan Iptek dan Dikti, dan Dr. Muhammad Dimyati, Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan – Ristekdikti [29 November 2017]

Kearifan

Dengan membaca buku ini, “Berpikir positif orang Jawa” oleh Prof. Suwardi Endaswara, dosen Universitas Negeri Yogyakarta, membuat saya menjadi lebih paham dengan “wisdom” atau kearifan teman-teman saya yang luar biasa dan hebat yang berlatar belakang budaya Jawa. Prinsip “ngalah”, harmoni melalui pasrah, prihatin, “nrimo” dan “rasa pangrasa” merupakan sebahagian dari falsafah yang mendasari kehebatan teman-teman tersebut.

24903715738_b2eb2a0f9b_b

Salah satu sifat dalam budaya jawa yang adalah blaka suta, yang maksudnya adalah berterus-terang tanpa ada yang ditutup-tutupi. Sifat ini ditemui pada Bima, seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Jiwa terbuka ini juga disebut sebagai blak kotangBlak-blakan bermaksud mengemukakan sesuatu dengan jujur dan apa adanya. Pengakuan diri merupakan wujud dari keterbukaan yang akan menciptakan rasa tenteram. Bagaimanapun juga, blak-blakan secara langsung, atau berbicara secara langsung sukar dilaksanakan oleh orang Jawa. Dalam budaya Jawa, pembicaraan seringkali dilakukan dengan cara tidak langsung, atau sinamun ing samudana. Orang Jawa adalah orang yang menjaga keharmonisan, sehingga sukar berbicara langsung (straight to the point). Seringkali berputar-putar dulu. Budaya Jawa menjauhi konflik yang terbuka.

Disamping tidak bicara langsung dan tidak agresif, budaya Jawa menuntun manusia Jawa membina hubungan baik dengan orang lain,  mampu mengendalikan kemarahan, dalam pengertian bicaranya tetap rasional, dan mempunyai kepercayaan diri yang besar. Boleh dikatakan manusia Jawa tersebut bersifat diplomatik, sehingga tidak menyakitkan hati lawan bicara. Prinsip “ngalah”, harmoni melalui pasrah, prihatin, “nrimo” mendasari semua tindakan yang dilakukan oleh orang Jawa. Terus terang saya kagum dengan kawan-kawan saya yang berlatar belakang Jawa ini.