Sifat-sifat manusia Indonesia

Mochtar Lubis menulis sebuah buku yang berjudul “Manusia Indonesia Sebuah Pertanggung Jawaban” yang kalau tidak salah ditulis tahun 70’an. Namun kalau ditelaah, setelah hampir 30 tahun, apakah sifat-sifat tersebut masih hinggap disebahagian besar masyarakat Indonesia?  Satu-satunya sifat yang positif dari orang Indonesia, menurut Mochtar Lubis adalah sifatnya yang ‘artistik’.

Bagaimanapun, walaupun banyak di antara kita (dan saya) yang kurang setuju dengan pendapat Muchtar Lubis ini, buku ini setidak-tidaknya menjadi ‘bahan’ bagi kita supaya tidak memiliki sifat-sifat (buruk) tersebut. Saya yakin masih banyak orang Indonesia yang bisa menjadi panutan — baik dari segi prestasi dan moral.

Ini sifat-sifat manusia Indonesia yang ditulis oleh Mochtar Lubis dalam bukunya “Manusia Indonesia Sebuah Pertanggung Jawaban” yang saya salin dari http://www.ken.web.id/ciri-ciri-manusia-indonesia/:

1. Hipokritis alias munafik. Berpura-pura, lain di muka – lain di belakang, merupakan sebuah ciri utama manusia Indonesia sudah sejak lama, sejak meraka dipaksa oleh kekuatan-kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakannya atau dipikirkannya ataupun yang sebenarnya dikehendakinya, karena takut akan mendapat ganjaran yang membawa bencana bagi dirinya.
 
2. Segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya,putusannya, kelakuannya, pikirannya, dan sebagainya. “Bukan saya’, adalah kalimat yang cukup populer di mulut manusia Indonesia. Atasan menggeser tanggung jawab tentang suatu kegagalan pada bawahannya, dan bawahannya menggesernya ke yang lebih bawah lagi, dan demikian seterusnya.

3. Berjiwa feodal. Meskipun salah satu tujuan revolusi kemerdekaan Indonesia ialah untuk juga membebaskan manusia Indonesia dari feodalisme, tetapi feodalisme dalam bentuk-bentuk baru makin berkembang dalam diri dan masyarakat manusia Indonesia. Sikap-sikap feodalisme ini dapat kita lihat dalam tatacara upacara resmi kenegaraan, dalam hubungan-hubungan organisasi kepegawaian (umpamanya jelas dicerminkan dalam susunan kepemimpinan organisasi-organisasi isteri pegawai-pegawai negeri dan angkatan bersenjata), dalam pencalonan isteri pembesar negeri dalam daftar pemilihan umum. Isteri Komandan, isteri menteri otomatis jadi ketua, bukan berdasar kecakapan dan bakat leadershipnya, atau pengetahuan dan pengalamannya atau perhatian dan pengabdiannya.

4. Masih percaya takhyul. Dulu, dan sekarang juga, masih ada yang demikian, manusia Indonesia percaya bahwa batu, gunung, pantai, sungai, danau, karang, pohon, patung, bangunan, keris, pisau, pedang, itu punya kekuataan gaib, keramat, dan manusia harus mengatur hubungan khusus dengan ini semua. Kepercayaan serupa ini membawa manusia Indonesia jadi tukang bikin lambang. Kita percaya pada jimat dan jampe. Untuk mengusir hantu kita memasang sajen dan bunga di empat sudut halaman, dan untuk menghindarkan naas atau mengelakkan bala, kita membuat tujuh macam kembang di tengah simpang empat. Kita mengarang mantera. Dengan jimat dan mantera kita merasa yakin telah berbuat yang tegas untuk menjamin keselamatan dan kebahagiaan atau kesehatan kita.

5. Artistik. Karena sifatnya yang memasang roh, sukma, jiwa, tuah dan kekuasaan pada segala benda alam di sekelilingnya, maka manusia Indonesia dekat pada alam. Dia hidup lebih banyak dengan naluri, dengan perasaannya, dengan perasan-perasaan sensuilnya, dan semua ini mengembangkan daya artistik yang besar dalam dirinya yang dituangkan dalam segala rupa ciptaan artistik dan kerajinan yang sangat indah-indah, dan serbaneka macamnya, variasinyam warna-warninya.

6. Watak yang lemah. Karakter kurang kuat. Manusia Indonesia kurang dapat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Dia mudah, apalagi jika dipaksa, dan demi untuk ’survive’ bersedia mengubah keyakinannya. Makanya kita dapat melihat gejala pelacuran intelektuil amat mudah terjadi dengan manusia Indonesia.

7. Tidak hemat, dia bukan “economic animal”. Malahan manusia Indonesia pandai mengeluarkan terlebih dahulu penghasilan yang belum diterimanya, atau yang akan diterimanya, atau yang tidak akan pernah diterimanya. Dia cenderung boros. Dia senang berpakaian bagus, memakai perhiasan, berpesta-pesta. Hari ini ciri manusia Indonesia menjelma dalam membangun rumah mewah, mobil mewah, pesta besar, hanya memakai barang buatan luar negeri, main golf, singkatnya segala apa yang serba mahal.

8. Lebih suka tidak bekerja keras, kecuali kalau terpaksa. Gejalanya hari ini adalah cara-cara banyak orang ingin segera menjadi “miliuner seketika”, seperti orang Amerika membuat instant tea, atau dengan mudah mendapat gelar sarjana sampai memalsukan atau membeli gelar sarjana, supaya segera dapat pangkat, dan dari kedudukan berpangkat cepat bisa menjadi kaya.

9. Manusia Indonesia kini tukang menggerutu tetapi menggerutunya tidak berani secara terbuka, hanya jika dia dalam rumahnya, atau antara kawan-kawannya yang sepaham atau sama perasaan dengan dia.

10. Cepat cemburu dan dengki terhadap orang lain yang dilihatnya lebih dari dia.

11. Manusia Indonesia juga dapat dikatakan manusia sok. Kalau sudah berkuasa mudah mabuk berkuasa. Kalau kaya lalu mabuk harta, jadi rakus.

12. Manusia Indonesia juga manusia tukang tiru. Kepribadian kita sudah terlalu lemah. Kita tiru kulit-kulit luar yang memesonakan kita. Banyak nyang jadi koboi cengeng jika koboi-koboian lagi mode, jadi hipi cengeng jika sedang musim hipi.

Tampilan baru

Setelah mengotak-atik blog ini, saya menemukan ‘image’ yang saya anggap sesuai untuk blog ini, yaitu foto ‘header’ dimana saya sedang beraksi di depan komputer di kantor saya, yang mejanya jarang saya rapikan…. 

Sarjana ilmu sosial yang pandainya hanya mengutip pendapat orang lain

Semasa hidupnya, Ali Akbar Navis, sastrawan Indonesia yang terkenal dengan cerpennya yang berjudul ”Robohnya surau kami”, seperti yang diceritakan oleh orang yang dekat dengan beliau, pernah mengatakan bahwa ’ada’ sarjana ilmu sosial Indonesia pandainya hanya mengutip pendapat orang lain. Membaca tulisan-tulisan sarjana sosial di media massa, dan juga di jurnal-jurnal ilmu sosial yang diterbitkan di Indonesia, saya dapat membenarkan pendapat pak Navis. 

Saya pernah membaca tulisan-tulisan seorang sarjana antropologi Indonesia, yang mempunyai gelar PhD dari universitas terkenal di Amerika, yang juga bergelar profesor. Walaupun tulisannya mempunyai  banyak referensi, saya tidak menemukan pemikiran atau ide sendiri (orisinal) yang dikemukakan dalam tulisan-tulisan tersebut. Masyarakat awam mungkin akan kagum dengan luasnya sumber bacaan dan banyaknya teori-teori ilmu sosial (yang berasal dari pemikiran ilmuwan-ilmuwan barat) yang dikuasai oleh sarjana antropologi tersebut. Mungkin kehebatannya mengutip teori-teori ilmiah itu dapat mengangkat ’gengsi’-nya sebagai ilmuwan sosial dimata masyarakat awam. Namun apa kontribusinya dalam bidang tersebut?   

Apa penyebab sehingga tidak ada pendapat yang orisinal yang keluar dari sarjana ilmu sosial tesebut? Jawabnya adalah karena sarjana tersebut tidak pernah melakukan penelitian (research) ’lapangan’. Hal ini sangat disayangkan, karena kebanyakan tulisan-tulisan mengenai masalah sosial di Indonesia ditulis oleh orang asing. Hal ini juga berlaku untuk ilmu-ilmu sosial yang lain seperti sosiologi, pendidikan, psikologi, politik dan lain sebagainya. Kalau anda tidak percaya silahkan telusuri ’google scholar’. Sangat jarang sarjana ilmu sosial Indonesia yang banyak melakukan penelitian ’lapangan’, yang banyak adalah sarjana ilmu sosial yang pandainya hanya mengutip pendapat orang lain. Menurut saya, inilah yang menyebabkan mengapa banyak masalah-masalah sosial di Indonesia tidak dapat diselesaikan dengan baik.

Jika ilmuwan sosial meneliti mengenai santri, tentu akan merujuk kepada hasil penelitian yang dilakukan Prof. Clifford Geertz  (ilmuwan sosial terkenal dari Pricenton University). Mengapa tidak ada ’Clifford Geertz’ yang berasal dari Indonesia? Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang… (seperti nyanyian Ebiet G. Ade dalam lagunya ’Berita kepada kawan’).

Mahasiswa program doktor (PhD)

Banyak buku dan tulisan yang ditulis untuk para mahasiswa program doktor (PhD), sebagai contoh: “Authoring a PhD Thesis: How to Plan, Draft, Write and Finish a Doctoral Dissertation“, “Journey to the Ph.D.” dan banyak lagi … (anda dapat mencarinya di internet) — tetapi jarang sekali saya menemukan buku yang ditulis untuk pembimbimg mahasiswa program doktor (PhD).  Mungkin, kalau ditulis, buku ini tidak akan laku. Namun saya pikir ini juga penting karena mahasiswa akan dapat melihat proses pembimbingan dengan ‘perspektif’ yang berbeda.  Di bawah ini saya menuliskan beberapa aspek yang saya anggap penting untuk diketahui oleh khalayak ramai mengenai topik ini — karena saat ini saya sedang membimbing beberapa mahasiswa doktor di Universiti Teknologi Malaysia.  

Topik Penelitian

Mencari topik penelitian merupakan masalah yang paling utama dalam melakukan penelitian, termasuk penelitian ditingkat doktor. Mungkin diantara kita banyak yang mendengar bahwa hal yang paling susah dalam penelitian adalah mencari ‘masalah’ sehingga banyak yang mengatakan bahwa sebenarnya ilmuwan itu adalah ‘the problem seeker‘ bukannya ‘the problem solver‘.

Bagaimana cara memilih topik penelitian yang baik dan menarik merupakan suatu hal yang perlu diketahui sebelum kita memulai atau mencoba mendapatkan dana penelitian, karena mungkin kita dapat masuk ke dalam ‘perangkap’. Melakukan penelitian dengan tujuan yang ‘mengada-ngada’ adalah salah satu perangkap yang sukar dielakkan karena penelitian jenis biasanya dijumpai dilembaga-lembaga penelitian yang ‘kaya’ dan ‘maju’ seperti IBM, NASA, dan di Universitas-universitas terkenal seperti MIT, Caltech, UCLA dan sebagainya. Salah satu contoh riset jenis ini adalah penelitian mengenai “polywater” atau polimerisasi molekul H2O. Jika berhasil disintesis, polywater akan mempunyai berat jenis yang lebih besar dibandingkan air, dan viskositas yang 15 kali lebih besar dibandingkan air.  Walaupun fenomena polywater ini tidak masuk akal (implausible) tetapi adalah ‘mungkin’ (lihat http://www-2.cs.cmu.edu/~dst/ATG/polywater.html). Bagaimanapun, riset ini telah mendapatkan dana yang berlimpah dari U.S. Navy karena kemungkinan dapat digunakan di dunia militer.

Perangkap yang lain adalah riset ‘negative‘ dan `improvement‘ yang tujuannya hanyalah membuktikan sesuatu itu adalah ‘salah’ atau hanya mengembangkan atau memodifikasi sesuatu yang sebenarnya sudah banyak diketahui dan dikerjakan orang lain. Riset seperti ini biasanya dapat menghasilkan banyak publikasi ilmiah, tetapi akan cepat dilupakan orang. 

Sebuah perangkap yang lain adalah riset ‘tool-driven‘, yang sifatnya hanyalah menyelesaikan masalah dengan metode-metode yang sudah diketahui atau dikembangkan dengan baik.

Riset yang terbaik adalah riset yang didorong oleh isu-isu saintifik yang penting yang ditangani dengan semua metode-metode yang tersedia. Caranya adalah, pilihlah topik yang hangat dimasa yang akan datang, dan nantinya anda akan menjadi ahli dalam topik tersebut dimasa topik riset tersebut mulai dibincangkan orang. Bagaimanapun, jenis riset ‘ideal’ yang terakhir ini susah untuk didapatkan, karena tidak ada metode apapun yang tersedia untuk mendapatkan topik seperti ini. Walaubagaimanapun, setidak-tidaknya kita sudah mendapatkan prespektif mengenai memilih topik penelitian, walaupun di  universitas saya mengajar (dan juga di Universitas lainnya), kebanyakan topik penelitian tersebut diberikan oleh pembimbing dan disesuaikan dengan proyek penelitian yang mempunyai dana, sehingga kita tidak bisa berbuat apa-apa mengenainya.

Literatur

Sekarang ini kita dapat dengan mudah mencari informasi-informasi mengenai riset di internet, sehingga kita menjadi ‘kebanjiran’ informasi. Kebanjiran informasi ini kadang-kadang membuat kita bingung untuk memilah-milah informasi mana yang penting dan berguna, dan mana yang tidak. Hal yang penting diketahui adalah mengetahui terlebih dahulu jenis literatur yang kita baca. Terdapat tiga jenis sumber bahan bacaan; Primary sources; Communications, Letters (contoh: Chemical Communications, Letters dalam Nature, Science, Journal of American Chemical Society, Journal of Catalysis dan lain-lain). Secondary sources; Full paper (regular articles). Tertiary sources; Reviews articles (contoh: Chemical Reviews) dan textbooks.

Tulisan-tulisan yang dimuat di primary sources biasanya merupakan hasil-hasil penelitian yang sifatnya priority communications yaitu hasil-hasil penelitian yang penting, menarik, dan belum ‘komplit’ tetapi perlu dilaporkan. Dalam proses penyerahan naskah, biasanya pengarang perlu membuat alasan kenapa tulisan tersebut dimuat dalam bentuk ‘letter‘ atau “communications“. Walaupun tulisan-tulisan dalam communications hanya terdiri dari dua atau tiga halaman, tingkat originalitasnya biasanya tinggi. Itulah sebabnya jurnal-jurnal yeng berbentuk communications mempunyai impact factor yang relatif tinggi. Jika penelitian tersebut sudah dirasakan komplit (walaupun sebenarnya dalam penelitian tidak akan pernah komplit), tulisan tersebut dapat dimuat di jurnal dalam bentuk full paper;

Jika bidang-bidang penelitian tersebut berkembang dengan pesat, dalam masa beberapa tahun kita akan menjumpai reviews articles yang memuat perkembangan bidang tersebut serta disertai pandangan mengenai masa depan penelitian dalam bidang tersebut. Review articles bisa jadi berbentuk textbooks. Jadi apa yang kita rujuk dalam tertiary sources merupakan hasil penelitian yang sudah ketinggalan beberapa tahun. Namun, sebagai pemula, untuk mendapatkan ide-ide dan mendapatkan gambaran apa yang telah dikerjakan orang adalah lebih baik memulai dari tertiary sources.

Sang pembimbing

Melihat perkembangan sistem pendidikan tinggi sekarang ini yang lebih mementingkan output (daripada process) dan serba instant, maka tidaklah mengherankan kita mendapati pembimbing yang tidak berkualitas — yang dulunya juga dibimbing dengan cara yang sama.  Saya banyak menerima keluhan dari mahasiswa program doktor di Universitas saya mengajar bahwa sang pembimbing tidak menguasai topik penelitian yang dikerjakan oleh mahasiswanya, sehingga mahasiswa tersebut terpaksa berdiskusi dengan ‘orang lain’ , sehingga praktis penelitian tersebut terpaksa dikerjakan tanpa ‘bimbingan’.  Yang lebih parah lagi adalah — walaupun sang pembimbing tidak mengerti apa yang dikerjakan oleh mahasiswanya — sang pembimbing selalu menuntut sang mahasiswa untuk menulis publikasi ilmiah.  Tujuannya jelas, untuk prestise dan juga kenaikan pangkat sang pembimbing. Jelas sekali, tidak terdapat unsur pendidikan dalam kasus ini. Yang pasti, mahasiswa doktor tersebut diperkuda oleh pembimbingnya. Biasanya, pembimbing jenis ini selalu berusaha mencari mahasiswa yang berprestasi tinggi, karena niatnya bukan untuk mendidik tetapi untuk ‘memperkuda’ mahasiswa tersebut — yang ujung-ujungnya demi prestise sang pembimbing.  Kadang-kadang realita ini tidak pernah diketahui oleh masyarakat umum, tetapi ini betul-betul terjadi di Universitas.

Makna hakiki penelitian pada program pasca sarjana di perguruan tinggi 

Dalam pandangan saya, idealnya, penelitian pada program pasca sarjana merupakan media untuk mencetak calon-calon peneliti, yang otomatis didalamnya terdapat unsur pendidikan. Seperti yang saya tulis di atas, kadangkala unsur pendidikan tersebut tidak nampak dalam proses pencetakan calon peneliti tersebut. Karena kebanyakan mahasiswa mendapatkan beasiswa dari research project, maka hubungan yang berlaku antara ‘pembimbing’ dengan ‘mahasiswa’ seolah-olah seperti hubungan ‘majikan’ dengan ‘orang gajiannya’. Bagaimanapun, sebagai mahasiswa kita harus sadar bahwa hakikat dari pendidikan di program pasca sarjana adalah mendidik kita untuk menjadi seorang peneliti. Jika seseorang berhasil menyelesaikan pendidikan tersebut, maka dia dianugerahi gelar Doktor. Ada yang mengatakan bahwa, gelar Doktor itu; adalah sebuah penghargaan kepada seseorang, karena orang tersebut telah melakukan penelitian secara menyeluruh; dari merumuskan masalah, memecahkan masalah, melaporkannya dalam bentuk tulisan dan juga mempresentasikannya, dibawah bimbingan seorang pembimbing.

Jika penelitian tersebut dilaksanakan dengan metoda yang efektif dan efisien, tanpa disadari, kepribadian yang jujur, kritis, bertindak dengan hati-hati dan disiplin dapat terbentuk. Bagi saya, inilah unsur terpenting dalam pendidikan di pasca sarjana tersebut. Unsur ini kebanyakan sering tidak diabaikan, karena ‘output‘-lah yang lebih banyak diperhatikan. Sebagai contoh; salah satu hal yang nampaknya sepele tetapi sering dilupakan adalah penggunaan log book dalam penelitian. Dari pengamatan saya di sini maupun terhadap mahasiswa pasca sarjana Indonesia di Jepang, banyak yang tidak mempunyai log book penelitian. Jikapun punya, mereka tidak mengetahui cara menulis catatan-catatan penelitian di buku tersebut dengan benar. Walaupun ini nampaknya sepele, namun hal ini dapat mengajarkan kepada kita bagaimana berdisiplin, bekerja berstrategi, jujur dan rapi. Hal ini dapat kita jumpai dari saintis-saintis ulung zaman dahulu, dimana catatan-catatan penelitiannya yang hebat tersebut dapat kita saksikan sampai saat ini. 

Manusia akan kembali ke akar budayanya

Maksud saya menulis tulisan ini adalah untuk mengingatkan saya dan kita semua bahwa sebagai manusia, kita akan cenderung kembali ke akar atau kepada ‘asal’ kita. Saya pernah membaca pengalaman pak Rosihan Anwar, wartawan veteran Indonesia — dia menceritakan bahwa dulu sewaktu muda apabila beliau bertemu dengan pak Natsir, bekas perdana menteri Indonesia yang pertama, mereka selalu berbicara dengan menggunakan bahasa Belanda — namun ketika mereka bertemu dimasa tua pak Natsir cenderung untuk berbicara dengan menggunakan bahasa ibundanya, yaitu bahasa minang — karena beliau dibesarkan dalam budaya minangkabau. Ini menandakan, manusia cenderung kembali kepada akarnya yaitu dari mana mereka berasal dan dibesarkan — karena ini adalah fitrah manusia. 

Bagaimana kalau ‘akar’ tersebut diganti dengan ‘akar yang lain? Anda akan dapat membayangkan, bagaimana anak-anak kita membesar dengan ‘akar’ yang lain tersebut…     

Bertindak strategis atau taktis?

Dalam hidup ini kita harus melangkah dan bertindak secara strategis (jangka panjang)  dan taktis (jangka pendek). Namun dalam hidup ini, susah untuk meramalkan apa yang akan terjadi kepada kita dan lingkungan kita pada masa akan datang, karena banyak sekali memiliki parameter-parameter yang susah untuk ditetapkan. Sebagai contoh, dari dulu saya tidak pernah membayangkan saya akan menjadi seorang dosen di Malaysia … Jadi hadapi hidup ini apa adanya, bersyukur dengan apa yang dimiliki dan tetap optimis …. (ini adalah nasehat dari saya untuk diri saya sendiri).

To be a lecturer: What is the aim?

I have asked a question to a close friend: “Why do you want to be a lecturer?” His reply: “I want to be a rector”. His aim may be correct because rector is the highest position in a University. But, if we see with another perspective, the answer could have deviated from the main aim of to be a lecturer, because the main job and aim of a lecturer is teaching. I still remember when I was a student at Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Wiranto Arismunandar, a former rector of ITB, although he was busy as a minister of higher education in Indonesia, he still devoted to teaching. This could apply to Prof. Emil Salim, a former minister in Suharto’s cabinet, which also a professor in Universitas Indonesia (UI). We must enquire to ourselves (including my self), that our aim to be a lecturer in university is to teach and to do research.

Nasib saintis (penipu)

Akhirnya Jan Hendrik Schön penerima “Otto-Klung-Weberbank Prize” dalam bidang fisika pada tahun 2001, Braunschweig Prize pada tahun 2001 dan Outstanding Young Investigator Award of the Materials Research Society pada tahun 2002 bernasib malang karena telah terbukti memalsukan hasil penelitiannya yang telah dipublikasikan di jurnal terkenal Science dan Nature.  Kisah  ini penting diketahui oleh para dosen (pensyarah) di Universitas, supaya memberi kesadaran bahwa kejujuran dan etika akademik harus dijunjung tinggi.

Ini yang dikatakan oleh Professor Paul McEeun dari Cornell University  mengenai Jan Hendrik Schön: “The amazing thing about Hendrik was that everything he touched seemed to work.