Membumikan universitas

“…the mission of the university and its commitment are to the present and future generations, safeguarding the prosperity and welfare of the world with the best in education and scientific research. Not just for ‘superficial’ ranking.”

Kalimat di atas mungkin adalah misi dan tujuan ideal universitas didirikan. Mau tidak mau harus demikian adanya. Namun kadang-kadang tujuan itu telah keluar jalur karena tekanan terhadap universitas sebagai ‘barang ekonomi’ yang juga harus laku ‘dipasaran’. Membaca ceramah Prof. Wiranto Arismunandar (mantan rektor ITB) ketika memberikan ceramah dalam diskusi akbar mendongkrak world rank ITB di Aula Timur ITB pada 10 Mei 2008, saya menjadi ‘tersentuh’ dengan kearifan berpikir Prof. Wiranto — yang membuat saya keluar dari belenggu ‘kepanikan’ dan ‘keperluan’ sebuah universitas masuk dalam world ranking. Makalah lengkap beliau dapat diakses di sini. Ini adalah petikan dari paragraf pertama dari makalah beliau:

Keinginan dan cita-cita menjadi World Class University (WCU) sangatlah mulia, tetapi hendaknya tidak membuat kita risau, panik, seolah-olah itu yang paling penting dan menjadi taruhan. Kita boleh risau jika ITB dianggap tidak diperlukan, tidak bermanfaat dan tidak mengabdi pada pembangunan bangsa Indonesia. Mereka yang membuat ranking WCU pasti memiliki maksud dan rencana tertentu serta tidak terlepas dari berbagai kepentingan, dan karena itu, tidak perlu dirisaukan. Bisnis, penerimaan mahasiswa baru, politik, sosial, ekonomi, dan berbagai kepentingan lain, boleh jadi merupakan beberapa di antara banyak alasan yang melandasi pemikiran tersebut. Hendaknya isu tersebut tidak membuat kita cemas dan lemah, terperangkap dan terbelenggu. ITB hendakya terlebih dahulu berguna dan berjasa bagi pembangunan masyarakat bangsa Indonesia dan ikutserta menyelesaikan masalah bangsa. ITB hendaknya menjadikan dirinya andalan dan kekuatan bangsa yang harus mengatasi berbagai tantangan, supaya menjadi bangsa yang sejahtera, terhormat dan mandiri. ITB hendaknya menjadi kebanggaan serta menjaga kehormatan bangsa Indonesia. Itulah sebabnya kita harus lebih bersungguh-sungguh dan fokus dalam menjalankan tugas dan kewajiban kita masing-masing. Dengan demikian dapat diperoleh hasil yang lebih baik serta melakukan penyempurnaan dan perbaikan secara berkelanjutan (continuous improvement). Dalam hal tersebut hendaknya melekat rasa dan semangat kebangsaan yang tinggi supaya kita makin menyadari bahwa ada misi yang diemban, yaitu membangun bangsa yang kuat dan mandiri. Jika kemudian ITB mendapatkan pengakuan dan penghargaan sebagai WCU, maka bersyukurlah dan lebih bersemangat memberikan pengabdian yang terbaik kepada bangsa yang kita cintai ini. Janganlah kita sekadar berambisi mencapai ranking yang tinggi, tetapi tidak bermanfaat dan tidak berbuat apa pun bagi pembangunan nusa dan bangsa Indonesia.

Apa yang dapat saya simpulkan dari pemikiran Prof. Wiranto adalah; adalah lebih penting untuk ‘membumikan universitas’, karena yang diperlukan oleh masyarakat dan bangsa adalah manfaat dari universitas tersebut.

Realitas dan harapan yang selangit

Beberapa hari yang lalu saya membaca di surat kabar ucapan seorang rektor sebuah perguruan tinggi (kecil) di Malaysia yang mengatakan bahwa bukan mustahil universitas yang dipimpinnya menghasilkan penerima hadiah Nobel — (hmm.. berapa persen kemungkinannya? apakah 10% ataukah 0.000000000001%?) Beliau mengatakan bahwa ukuran (kecil) bukan menjadi halangan untuk menghasilkan penerima hadiah Nobel seperti yang telah dilakukan oleh California Institute of Technology (Caltech). Namun beliau lupa akan dua hal: pendanaan dan juga publikasi ilmiah (yang ujung-ujungnya juga bermuara dengan dengan budaya ilmiah). Bagi hal yang terakhir ini, di bawah ini adalah artikel menarik yang menyatakan bahwa Google’s PageRank dapat memprediksikan seseorang itu mempunyai peluang mendapatkan Nobel atau tidak dari publikasi ilmiahnya. Terdapat korelasi yang kuat antara publikasi ilmiah dengan kemungkinan seseorang tersebut mendapatkan hadiah Nobel.

How Google’s PageRank predicts Nobel Prize winners

“The pattern of citations between scientific papers forms a network that has remarkable similarities to the network formed by the web. So why not use Google’s PageRank, the world’s most effective search algorithm to rank these papers in the same way it ranks websites? That’s exactly what a couple of US researchers have done for physics papers published by the American Physical Society since 1893 (abstract). The results make interesting reading because almost all of the top ten papers resulted in (or were linked to) Nobel Prizes for their authors. Which means that studying the up-and-coming entries on the list ought to be a good way of predicting future winners. Better get your bets in before the bookies get wind of this.”

Artikel lengkapnya dapat dibaca di http://arxivblog.com/?p=1123

Mendapatkan citation lebih dari 100 saja luar biasa susah, apalagi sampai 1000 — (karena setahu saya tidak satupun saintis dirantau ini yang salah satu publikasinya mempunyai citation lebih daripada 1000). Bagaimanapun, walaupun cara ini banyak kelemahannya, setidak-setidaknya kita harus sadar bahwa untuk mencapai excellence itu tidak semudah yang dibayangkan — kita harus bercermin kepada kemampuan kita dan mempertanyakan “apakah kita sudah mampu (atau siap kearah itu) untuk mencapainya?”. Agaknya kita perlu menyesuaikan antara realitas dan harapan (yang selangit). Kalau tidak — hanya menjadi impian kosong saja.

THES ranking yang memihak kepada universitas yang kaya

Rektor dari sebuah universitas negeri di Padang pernah menulis bahwa ia ingin membawa universitas yang dipimpinnya menjadi World Class University. Saya menjadi berpikir, apakah yang dimaksudkan dengan World Class University oleh rektor tersebut, apakah ingin seperti Harvard University, Pricenton University ataukah hanya ingin seperti Calcutta University di India? Minggu lalu, saya menghadiri satu hari workshop mengenai strategi UTM untuk meningkatkan ranking di THES.

Setelah melihat ranking dari 100 universitas yang paling top di dunia dan membandingkan dengan endownment yang diterima oleh universitas-universitas top tersebut, barulah saya sadar bahwa untuk masuk dalam 100 universitas yang paling top adalah tidak mungkin. Harvard university, universitas paling top di dunia mempunyai endownment lebih dari  $30 billion pertahun. Rata-rata universitas top mempunyai endownment lebih dari $1 billion pertahun. Jadi, jelas sekali bahwa ranking ini memihak hanya kepada universitas-universitas yang kaya. Bagaimana pendapat anda? Apakah kita perlu membuat kriteria baru menilai kualitas dari universitas?

Nur Anas Djamil’s clan


ranji keluarga

Data pada 4 Januari 2009

1 Nur Anas Djamil
Tempat dan tanggal lahir: Payakumbuh, 17 Oktober 1931
Pekerjaan: Pensiunan Profesor Universitas Negeri Padang
Alamat: Jl. Tempua II/6, Air Tawar Barat, Padang 25132
2 Sofiah Djamaris
Tempat dan tanggal lahir: Sawahlunto, 10 Oktober 1933
Pekerjaan: Pensiunan dosen Universitas Negeri Padang
Alamat: Jl. Tempua II/6, Air Tawar Barat, Padang 25132
3 Hamda Nur
Tempat dan tanggal lahir: Semarang, 31 Oktober 1960
Pekerjaan: Pegawai PERTAMINA, Padang
4 Venniwati
Tempat dan tanggal lahir: Payakumbuh, 18 Oktober 1964
Pekerjaan: Guru SMP Negeri 24, Padang
5 Hamdi Nur
Tempat dan tanggal lahir: Padang, 14 Februari 1966
Pekerjaan: Dosen di Universitas Bung Hatta, Padang
6 Ahyuni
Tempat dan tanggal lahir: Padang, 23 Maret 1969
Pekerjaan: Dosen di Universitas Negeri Padang
7 Hadi Nur
Tempat dan tanggal lahir: Bukittinggi, 6 Mei 1969
Pekerjaan: Profesor Madya di Universiti Teknologi Malaysia
Alamat: No. 37, Jalan Meranti 9, Taman Sri Pulai, Johor Bahru 81300, Malaysia
8 Terry Terikoh
Tempat dan tanggal lahir: Tasikmalaya, 24 Oktober 1967
Pekerjaan: Ibu rumah tangga
Alamat: No. 37, Jalan Meranti 9, Taman Sri Pulai, Johor Bahru 81300, Malaysia
9 Huseini Nur
Tempat dan tanggal lahir: Bukittinggi, 23 Maret 1971
Pekerjaan: Wiraswasta
10 Fitri Kartikawati
Tempat dan tanggal lahir: Bandung, 15 Oktober 1975
Pekerjaan: Ibu rumah tangga
11 Fauzan Hidayat Venanda
Tempat dan tanggal lahir: Medan, 15 Juni 2001
Pekerjaan: Pelajar
12 Hilya Azizi
Tempat dan tanggal lahir: Padang, 17 Mei 2003
Pekerjaan: Pelajar
13 Farid Rahman Hadi
Tempat dan tanggal lahir: Bandung, 2 April 1995
Pekerjaan: Pelajar Sekolah Menengah Islam Hidayah, Johor Bahru
Alamat: No. 37, Jalan Meranti 9, Taman Sri Pulai, Johor Bahru 81300, Malaysia
14 Firda Hariri
Tempat dan tanggal lahir: Johor Bahru, 22 Juli 1999
Pekerjaan: Pelajar Sekolah Rendah Islam Hidayah, Johor Bahru
Alamat: No. 37, Jalan Meranti 9, Taman Sri Pulai, Johor Bahru 81300, Malaysia
15 Fahima Zikra
Tempat dan tanggal lahir: Johor Bahru, 12 September 2006
Alamat: No. 37, Jalan Meranti 9, Taman Sri Pulai, Johor Bahru 81300, Malaysia
Pekerjaan: Belum sekolah
16 Muhammad Najib Farhan
Tempat dan tanggal lahir: Bandung, 31 Juli 2002
Pekerjaan: Pelajar

 

Tantangan di tahun 2009

Satu Januari tahun dua ribu sembilan di mulai dengan memasuki ruang kuliah — mengajar mata pelajaran Solid State Chemistry. Tidak ada yang menarik, namun tahun ini merupakan tahun yang penuh cabaran karena:

  • restrukturisasi Universiti Teknologi Malaysia (UTM)
  • dunia yang mengalami krisis ekonomi
  • tugas saya sebagai profesor madya dan Manager of International Affairs di UTM.

Mentalitas profesional seorang profesor

Tulisan ini adalah modifikasi dari tulisan Jansen H. Sinamo yang berjudul “7 Mentalitas Profesional” yang saya yang saya pikir juga berlaku untuk seseorang yang bergelar Profesor:  

Sejak saya dipromosikan sebagai associate professor banyak kawan-kawan saya memanggil saya “prof”, suatu gelaran yang kadang-kadang membuat saya malu dan bertanya: “Layakkah saya dipanggil dengan gelar itu?”. Saya malu karena saya merasa mentalitas saya tidaklah mencermin kualitas profesional seorang profesor ‘yang sebenarnya’ — kalau tidak dikatakan ‘profesor kampung’ yang hanya jago bertanding dikandang sendiri. Tulisan ini betujuan untuk menggambarkan sikap dan mentalitas yang perlu dipunyai oleh seorang profesor. Saya akan berusaha kearah itu, Insya Allah.

Mentalitas Mutu
Inilah ciri utama dari seorang profesor yang profesional, yaitu mementingkan kualitas daripada kuantitas. Silahkan baca tulisan saya yang berjudul Quantity or Quality? pertanyaan yang saya coba jawab pada tulisan saya tersebut. Menurut saya seseorang tidaklah layak menjadi seseorang profesor jika dia hanya mengandalkan kuantitas saja — apakah karena telah mengajar selama puluhan tahun tanpa sembarang hasil penyelidikan yang berkualitas layak dihargai sebagai profesor?

Mentalitas Altruistik
Inilah mentalitas kedua yang harus dipunyai oleh seorang profesor — setelah dia memenuhi mentalitas mutu di atas. Mentalitas ini didorong oleh pengabdian untuk mengajarkan dan mengembangkan ilmu yang dipunyainya untuk orang lain. Menurut Wikipedia: “Altruisme adalah perhatian terhadap kesejahteraan ‘orang lain’ tanpa memperhatikan diri sendiri”. Dalam hal ini, karena profesor selalu berhadapan langsung dengan masyarakat ilmiah dan mahasiswa yang diajar dan dibimbingnya, maka mereka tersebut adalah ‘orang lain’ tersebut.

Mentalitas Mendidik
Mendidik tidak sama dengan mengajar. Dalam mendidik faktor panutan memegang peranan penting. Tidaklah mendidik jika seorang profesor bercerita bahwa perbuatan mencuri adalah perbuatan yang tercela jika dia melakukan plagiat dan tidak menghargai jerih payah mahasiswanya — seperti dengan mencantumkan namanya paling depan dipublikasi ilmiah — padahal semua hasil dalam publikasi ilmiah itu adalah hasil jerih payah mahasiswanya, dari ide, membuat proposal dan menulis publikasi tersebut. Sang profesor hanya bertugas memperbaiki bahasa Inggrisnya saja.

Mentalitas Pembelajar
Profesor hendaklah selalu meng-update pengetahuannya setiap saat. Jangan sampai mahasiswa yang dibimbingnya mengatakan profesor tersebut tidak layak sebagai pembimbing. Saya pernah bertemu dengan seorang mahasiswa yang mengatakan hal ini kepada saya. Sampai mahasiswa tersebut menasehati profesornya untuk memberikan perhatian yang lebih banyak kepada penyelidikan. Sungguh sangat memalukan.

Mentalitas Pengabdian
Mengabdi untuk bidang ilmu merupakan mentalitas profesional seorang profesor. Masih banyak profesor ‘administrasi’ yang tidak mempunyai mentalitas ini — dimana seseorang diangkat menjadi profesor karena jabatan administrasi bukan karena prestasi ilmiah. Sebagai contoh, seseorang dinaikkan pangkat menjadi profesor karena ‘akan’ atau telah ‘menjabat’ sesuatu jabatan administratif seperti dekan atau pembantu dekan.

Mentalitas Kreatif
Kreativitas tidak hanya perlu dipunyai oleh profesor tetapi juga oleh semua orang. Namun, jika profesor tidak kreatif, dapat dibayangkan bahwa tidak akan ada penemuan-penemuan baru yang dihasilkan olehnya.

Mentalitas Etis
Masalah etika kadang-kadang jarang diperhatikan. Silahkan rujuk tulisan saya mengenai masalah ini yang telah dipublikasikan di blog ini tahun lalu dengan judul: Etika Sains Dalam Riset Dan Pendidikan Tinggi di Indonesia.

Kesadaran inteligensia

Tahun ini pemenang Ig Nobel 2008 dalam bidang Cognitive Science didapat oleh Prof. Toshiyuki Nakagaki dari Hokkaido University. Apa yang menarik dan membuat saya ‘tersenyum’ adalah; ternyata slime mold — jamur yang mirip amuba — ternyata juga mempunyai inteligensia. Hasil penelitiannya telah dipublikasikan di jurnal Nature delapan tahun yang lalu.

Lalu apa pelajaran moral dari jamur seperti amuba ini: Janganlah kita merasa sombong dengan otak yang kita punyai, ternyata jamur juga mempunyai inteligensia.