Kenapa saya menulis blog

Awalnya blog ini  berjudul “Hadi Nur’s Photo Blogging” yang sudah dimuat di worpress.com sejak tahun 2006 dan sekarang diganti dengan judul “Catatan Hadi Nur”.  Alasan kenapa saya mengganti blog ini dengan tulisan adalah karena dengan menulis,  ekspresi saya dalam memandang kehidupan dapat diungkapkan dengan lebih jelas, dan tulisan ini dibuat dalam bahasa Indonesia yang sangat saya kuasai.  

Saya telah membaca banyak blog-blog menarik yang dapat menambah wawasan saya kepada hampir kesemua aspek kehidupan. Walaubagaimanapun, blog ini saya harapkan dapat memberikan sedikit sumbangan kepada pengalaman dan pemikiran saya dalam memandang berbagai aspek penting dalam kehidupan, seperti pendidikan, sosial, agama dan lain sebagainya.

State University of Padang

I gave a lecture entitled “Research and education in university” in front of staff of Faculty of Mathematics and Natural Science, State University of Padang, Indonesia. Potential research approach was discussed. Also attend are Dr. Ali Amran; the Dean of Faculty of Mathematics and Natural Science, and Prof. Nur Anas Djamil.

Pengalaman Firda Hariri

firda19hb November 2003 Saya mendaftarkan anak saya Firda hariri sekolah di Tadika Iman, Taman Universiti. Kebetulan datuk dan neneknya datang dari Indonesia, jadi kami bersama-sama sekeluarga pergi ke sekolah. Kesan pertama berkunjung ke sekolah Firda, seronok, fasilitas cukup; ada taman bermain, perpustakaan mini, dan tentu saja teacher-teacher yang baik dan ramah.
4hb Januari 2004 Firda mulai masuk sekolah (perkenalan dengan para teacher dan guru kelas purple). Pertama kali anak-anak belajar bagaimana cara membuka dan memakai kasut, membaca do`a masuk kelas dan diperkenalkan kepada keesaan Allah serta utusanNya nabi Muhammad SAW. Hal-hal yang biasa tetapi itu dasar yang penting bagi anak-anak memasuki dunia baru selain rumahnya. Setelah itu makan bersama menunjukkan bahwa selain belajar, anak-anak harus memperhatikan kesehatan, dengan makan yang bergizi tidak pilih-pilih, apa yang dibawa dari rumah mesti dimakan, sebagai bahan tenaga untuk belajar dan bermain.

firda35hb Jan 2004 mulai belajar di sekolah. Pada masa itu Firda betul-betul belum pandai apapun. Umur dia baru 4,5 tahun. Hafazan Al-Fatihah yang saya ajarkan di rumah, sebelum masuk sekolah, hanya irama/lagunya saja yang dia bisa dan lapaz/sebutannya tidak jelas. Tiga bulan lamanya dia bersekolah dia sudah hafaz Al-Fatihah dengan jelas begitu juga dengan penguasaan Alfabet. Setelah itu, alhamdulillah beberapa surat hafazan sudah hapal dan sekarang sudah mulai pandai membaca tepat di usia 5 tahun (22hb Julai 2004). Penguasaan bahasa Inggris pun dia sudah mulai faham dengan membaca cerita Lady Bird, dan menonton TV berbahasa Inggris seperti Central Kid.

firda4Kebiasaan berdo`a sebelum dan sesudah makan, do`a mau tidur atau do`a belajar senantiasa Firda amalkan. Sepulang sekolah dia salin baju seragam dengan baju biasa tanpa disuruh, cerita keadaan di sekolah yang setiap hari selalu saya tanya. Kemudian mengulang kembali pelajaran di rumah tanpa di suruh juga. Dia selalu ingat apa yang teacher katakan di sekolah. Bahkan lucunya, sekarang dia pergi ke luar rumah untuk makan angin saja mesti pakai tudung. Katanya, teacher cakap kalau hendak ke luar rumah mesti pakai tudung.

Sewaktu dia berumur 3 tahun saya mencoba membiasakan dia memakai tudung sebagai ciri seorang muslimah, tetapi dia bosan minta dibuka karena panas katanya. Sungguh perubahan yang mengagumkan.

Kunjungan Datuk. Firda selalu bercerita tentang sekolahnya kepada datuk dan neneknya apabila menalipon mereka di Indonesia, sehingga ketika datuk datang ke Johor, beliau tidak sabar melihat Firda sekolah dan turut pergi ke sekolah seharian. Datuk Firda adalah Profesor dalam pendidikan ugama Islam yang telah bersara. Beliau berkata, sekolah Firda bagus, teacher nya ramah, untuk sebuah tadika sistem pengajarannya cukup menjanjikan. Mudah-mudahan anak cemerlang wawasan ummah dapat terwujud.

firda5Sukan. Ini dia peristiwa yang paling penuh tantangan. Kompetisi secara sehat antara Tadika Iman se-Johor, setiap tadika mengumpulkan nilai sebanyak-banyaknya untuk nama Tadika masing-masing. Bersukan sambil bermain sangat diminati anak-anak, penuh semangat walaupun panas matahari begitu menggigit, menang atau kalah mendidik anak berjiwa besar dan sabar.

Lawatan sambil belajar. Walaupun Firda sudah kami ajak ke Zoo di Johor dan Melaka, tetapi pergi bersama teacher dan teman-teman adalah pengalaman tersendiri. Firda begitu senang pergi naik kereta api, dia bercerita seolah-olah saya dan keluarganya di rumah belum pernah naik kereta api atau melihat Zoo. Dia ingin membuktikan bahwa dia sudah besar dan pandai. Sikap kepercayaan diri yang sebaiknya di tanam sejak dini boleh membuat anak tampil berani, tidak tergantung kepada ibu dan bapak.

firda2Sampai saat ini anak saya senang bersekolah walaupun dalam keadaan sakit, kerana di sekolah selalu menyenangkan dan menarik minatnya walaupun tidak termasuk yang menonjol.

Satu hal yang mungkin tidak menyenangkan bagi Firda dan temannya Hafsah, adalah menunggu bapaknya Firda mengantarkannya ke sekolah, karena selalu terlambat, padahal Firda dan Hafsah sudah siap dari pukul 7 pagi.

Jadi pada kesempatan ini saya ucapkan :
Terima kasih Teacher …………….
Terima kasih Tadika Iman TU ……………..
Jazakillah

Firda tahun depan berumur 6 tahun dan kembali mendaftar di Tadika Iman TU.

Taman Sri Pulai, 12hb Ogos 2004

Ibunda Firda Hariri
Terry Terikoh

Pemilu 2004

amien
Pemilihan Umum Presiden yang langsung, bebas dan (tidak) rahasia di Konsulat Jenderal Republik Indonesia, Johor Bahru pada 5 Juli 2004 jam 6.00 sore.
panitia
Panitia Pemilu 2004 di KJRI Johor Bahru

Dari Buku Notes Seorang Yang Kalah

Oleh: Goenawan Mohamad

Di kotak suara saya pilih Amien Rais dan Siswono. Saya tahu akan sulit sekali mereka akan menang.

Ada yang bertanya: kenapa? Jawab saya: Karena saya tahu mereka berdua tak pernah hidup dari uang sogok, dan karena mereka peka terhadap keadaan orang miskin.

Tanya: Tidakkah yang lain begitu juga?

Jawab: Mungkin. Tapi kebetulan saya tak tahu.

Beberapa teman mencela Amien dan Siswono dan mencoba menunjukkan bahwa pilihan saya salah. Baiklah. Tapi bukankah memilih dalam sebuah pemilu mengandung asumsi bahwa kita memang bisa salah? Bukankah itu sebabnya secara periodik kita menilai kembali tepatkah pilihan kita sendiri?

Pemilu adalah sebuah kombinasi antara harapan dan ironi. Ada harapan untuk memperoleh seorang pemimpin yang terbaik, tapi harapan itu sendiri diam-diam sebenarnya tak bisa mutlak di hati kita. Dalam pemilu orang yang memberikan suara adalah orang yang siap kecewa dan orang yang dipilih adalah orang yang siap dibatasi. Demokrasi yakin manusia bisa berbuat baik, tapi tahu ada cacat dalam dirinya.

***

Tanya: Anda memaklumkan diri berpihak kepada salah satu calon. Di mana independensi anda sebagai seorang budayawan? Apa gunanya?

Jawab (setelah menjelaskan bahwa saya tak paham apa itu arti `budayawan’): Pertama, independensi habis jika tindakan saya diatur orang lain. Dalam memilih Amin-Siswono, saya tak dikendalikan oleh kekuatan manapun.

Kedua, independensi hilang kalau saya teken kontrak akan mendukung seseorang atau sesuatu sampai mati.

Ketiga, lebih baik menentukan sikap secara terbuka, hingga orang tahu `bias’ saya dalam mengemukakan pendapat.

Keempat, dalam masa ketika lembaga demokrasi masih harus dikukuhkan, saya ingin aktif menyatakan, bahwa memilih dan memihak itu bukan sesuatu yang nista dan kotor. `Budayawan,’ apapun artinya kata yang aneh itu, bukanlah brahmana.

Tapi memang, pada setiap pemihakan ada tesirat kehilangan. Setiap pemihakan adalah bagian dari apa yang dalam kata-kata Reinhold Niebuhr sebagai `tugas murung politik’. Sebab ada yang tersingkir di sana, yakni kebersamaan yang inklusif. Masalahnya kemudian adalah bagaimana mengatur pemihakan itu Ada tantangan tempat dan waktu. Memihak tak berarti memihak dengan sikap yang tertutup dan statis.

***

Saya kira itulah yang terjadi pada pemilihan 2004. Berjuta orang menunjukkan pemihakan yang terbuka dan dinamis. Mereka independen. Mereka mencoblos partai X dalam pemilihan April, tapi tak selamanya mengikuti partai itu dalam hal memilih calon presiden.

`Orde Baru’ hendak membuat rakyat sebagai `massa yang mengambang,’ yang tak terpaku pada satu partai karena ikatan `primordial’ ?dan untuk itu kebebasan rakyat untuk berpolitik dihilangkan Di tahun 2004 rakyat Indonesia membuktikan diri sebagai `massa yang mengambang’ justru karena bebas berpolitik.

***

Semakin deras hasil hitungan suara, semakin tampak Amien Rais dan Siswono tak akan mendapatkan kans untuk masuk ke putaran kedua. Saya sedih.

Beberapa orang di Tim Sukses mengubah rasa kecewa jadi marah, dan berbicara soal `kecurangan’. Mereka menunjuk: Lihat, Bung, KPU kalang kabut!

Saya hanya sedih, tapi tak kecewa. Tapi KPU memang bukan tauladan manajemen yang baik. Setahu saya tak seorang di antara para anggotanya berpengalaman mengelola sebuah organisasi yang kompleks yang dituntut untuk menyusun satu jaringan perencanaan, guna menghasilkan berbagai `produk’ sekaligus.

Tak akan mengejutkan bila nanti ditemukan sesuatu yang tak beres di sana. Setidaknya dalam penghitungan suara, KPU adalah salah satu contoh yang sering terjadi di Indonesia: `salah-urus’.

Seandainya KPU diisi seorang mantan eksekutif bidang industri, atau mantan pemimpin proyek pembangunan, atau mantan kepala staf angkatan bersenjata ?dan bukan hanya dosen dan aktivis yang umumnya dahsyat dalam semangat tapi lembek dalam organisasi kerja ?hasilnya pasti akan lain.

Untunglah, masih ada tenaga di masyarakat yang mengoreksi apa yang kacau balau. Seorang teman bercerita bahwa panitia setempat-lah yang ambil inisiatif mengatur hal yang diabaikan KPU. Misalnya ada panitia setempat dengan cepat memutuskan, sebelum KPU tergopoh mengoreksi, bahwa kertas suara yang tembus dicoblos adalah kertas suara yang sah.

Rakyat, (artinya kita), bisa salah. Tapi ada saat-saat ketika dari kancah interaksi dengan orang lain tumbuh kearifan. Beda antara panitia lokal dan KPU terletak dalam interaksi itu. Dari awal sampai akhir, panitia lokal, para saksi dan para tetangga di sekitar TPS berangkat dengan menyadari adanya kepentingan yang berbeda. Bahkan perbedaan kepentingan adalah alasan dasarnya. Maka ada usaha keras untuk saling mengontrol, agar cara kerja terbuka dan tak berat sebelah. Juga ada usaha untuk tak membuat bentrok dan keruwetan, terutama karena mereka umumnya hidup berdekatan.

Sebaliknya, KPU tak bertolak dari asumsi perbedaan kepentingan itu dalam dirinya. Saya tak tahu bagaimana lembaga ini mengontrol cara kerjanya sendiri. Yang saya tahu: orang bisa menunjuk dengan mudah, `Lihat, Bung, KPU kalang kabut!’

***

Aneh juga saya sedih bahwa Amien-Siswono kalah ? walaupun sejak mula saya tak tinggi berharap. Mungkin karena dalam tiap kekalahan ada yang disalahkan.

Tapi apa arti kalah, sebenarnya? Ada kalah yang tak perlu membuat diri malu, terutama bila kita tahu siapa yang menang. Dan jika ada yang sudah menang dalam pemilihan ini tampaknya itu bukan partai, bukan tokoh. `Yang menang demokrasi,’ jawab seorang perempuan muda di Yogya ketika wartawan BBC bertanya.

Seandainya diucapkan dalam pidato seorang aktivis, kalimat itu akan terasa klise. Tapi dari mulut seorang yang tak biasa bicara politik, ia membawa gema yang panjang, setidaknya di hati saya.

Mungkin karena ia benar.

Pada suatu hari saya dengar seorang ibu rumah tangga berkata kepada temannya, `Sekarang enak, kita bebas ngomong’.

Ia seorang warga keturunan Cina yang, seperti hampir semua keturunan Cina, di masa `Orde Baru’ dipandang dengan curiga bila ikut serta bicara, apalagi aktif, dalam politik. Kini perempuan itu, juga para tetangganya, ikut bergiat, bergairah, dan merasakan diri sebagai anggota dari negeri tempat mereka lahir dan menutup mata.

Ada keberanian lain. Hampir tak ada sopir taksi, pelayan restoran, tukang pijit, tukang batu, buruh pabrik, yang ragu menyatakan calon pilihan mereka atau partai yang mereka anut. Dengan cepat itu mereka utarakan, tanpa gentar akan kehilangan kerja atau pelanggan, tanpa rikuh untuk berbeda pilihan dengan si penanya.

Agaknya mereka sadar, bahwa dari merekalah datangnya suara. Mereka tahu, di kotak di TPS itu, tiap kepala adalah sebuah angka yang penting. Bu Iyah, tukang pijit itu, akan dihitung sama dengan penghuni rumah di ujung sana, Pak Fauzi Bowo, seorang wakil gubernur.

Tentu, teori tentang demokrasi sudah banyak bicara tentang ini. Tapi kini yang saya saksikan bukan teori. Yang saya saksikan adalah orang-orang di lapis bawah yang (setidaknya untuk beberapa hari), merasa punya kekuatan buat bicara `ya’ atau `tidak’ kepada orang yang mengetuk hati mereka, meminta mandat dari mereka.

Ini setidaknya berlaku di tahun 2004. Saya tak tahu bagaimana kelak. Kini ada semacam campur-aduk yang asyik, ketika kekuatan ekonomi, politik dan media masih belum dikonsentrasikan di satu dua tangan, bahkan belum menunjukkan satu dua pola yang begitu berkuasa. Jika kelak keadaan jadi seperti itu, demokrasi pun akan kalah, hanya tinggal bentuk.

***

Pemilihan presiden 2004 adalah sebuah gabungan yang masih memikat –gabungan antusiasme sebuah demokrasi baru dan sikap skeptis sebuah demokrasi yang mulai kecewa.

Konon sekitar 80% dari pemilih yang terdaftar datang mencoblos. Tapi ada yang mengatakan, jumlah `golput’ bertambah. Bagi saya kedua tendensi itu sama-sama menggembirakan.

Sebab ada empat jenis `golput’. Ada `golput keruh’, yang tak pergi ke TPS karena bingung, kekurangan informasi. Ada `golput jenuh’, yang tak mau lagi memikirkan politik, karena sudah puas dengan keadaan atau juga sebaliknya, karena putus asa. Ada `golput angkuh’, yang merasa diri begitu suci dan luhur hingga harus berada di atas semua pihak.

Tapi ada `golput’ yang merupakan isyarat yang penting dan berguna bagi para politisi: sebagai sebuah aksi politik, sebuah protes terhadap penyelenggaraan pemilu dan perilaku para politisi. Ini sebuah suara yang menuntut perbaikan. Ini `golput ampuh’.

***

Sebagai seorang yang kalah, saya ingin menghibur diri: ternyata ada kemenangan lain dalam pemilihan presiden ini, setidaknya pada putaran pertama. Yang juga menang adalah sebuah komunitas yang bernama `Indonesia’.

Jika kita baca angka, ternyata orang memilih seorang calon bukan karena suku dan asal usulnya. Sampai 6 Juli malam, pasangan SBY- Kalla, (asal Jawa dan asal Sulawesi Selatan), menang di 16 propinsi. Tak ada pekik `Hidup putra daerah!’.

Dan yang pasti tak ada ukuran jender: Megawati, satu-satunya perempuan dalam persaingan ini, masih didukung luas. Dan sementara kehidupan agama Islam tetap marak, di negeri Muslim terbesar di dunia ini orang bisa mengatakan, `Islam’ tak memeluk lututnya sendiri.

Maka haruskah saya terus murung? Saya pandangi gambar para pemilih 2004. Tiba-tiba saya tergerak setengah menirukan sajak Sapardi Djoko Damono, berbisik `Biarkan aku banggakan kau, bangsaku, dengan cara yang sederhana’.

***

Jakarta, 8 Juli 2004.