Generasi Y: generasi “cuek atau tak kesah”

Dua perkataan yang sama artinya: cuek (Indonesia) = tak kesah (Malaysia)

Generasi Y, yang juga dikenal sebagai The Millennial Generation, merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk menjelaskan kelompok generasi yang lahir tahun 1980-an hingga awal tahun 1990-an. Ciri-ciri dari generasi ini adalah, mereka sangat akrab dengan dunia digital. Sebahagian besar dari mereka memiliki komputer, handphone, dan pemutar MP3 (iPod, Zune, Sansa, dll). Mereka juga sangat gemar menggunakan SMS melalui handphone, situs-situs sosial (Facebook, Friendster dll), men-download musik dan software menggunakan peer-to-peer file sharing.

Namun yang agak memprihatinkan adalah, bahwa generasi ini sangat “materialistik” dan “cuek” atau “tak kesah”. Dan di bawah ini adalah hasil survey yang dilakukan oleh USA Today. Dan… generasi inilah yang sekarang sedang saya ajar di universitas.

Apa itu narsis?

Narsisisme adalah kepribadian dimana orang tersebut jatuh cinta dengan dirinya. Orang yang terjangkit ‘narsisme’ ini akan mudah dikenali karena selalu berbicara dengan prestasi-prestasi yang telah diraihnya.

Ini beberapa gejala ‘narsisme’:
/1/ Selalu berusaha menarik perhatian orang lain, karena biasanya orang yang’narsis’ selalu merasa dirinya tidak berguna jika tidak diperhatikan orang lain.
/2/ Orang yang narsis selalu berbicara bahwa dirinya adalah yang terbaik.
/3/ Orang yang narsis selalu terobsesi dengan fantasi mengenai kesuksesan dan ketenaran.
/4/ Selalu mengharapkan orang lain mengatakan bahwa dirinya hebat.

Apakah orang yang’narsis’ benar-benar hebat?

Orang narsis sebenarnya hanyalah orang yang berusaha untuk membesar-besarkan dirinya karena dia mempunyai perasaan ‘inferior’ dalam dirinya. Sama dengan kesombongan, narsisme juga digunakan sebagai perisai untuk menutupi kekurangan itu. Terdapat perbedaan kecil antara narsisisme dengan orang yang mempunyai keyakinan kuat (over confidence). Sebagai contoh dengan keyakinan kuat: kurangnya keyakinan yang kuat dapat membuat anda tinggal di rumah daripada pergi berenang di laut.

Saya yakin bahwa tidak seorangpun ingin sifat narsis berjangkit pada dirinya. Narsis tidak akan bersarang pada diri kita jika kita yakin bahwa semua prestasi-prestasi yang telah kita raih telah dapat memuaskan diri kita, dan berpikir bahwa semua prestasi yang diraih adalah atas izin Allah SWT. Dengan memahami dimana kelebihan, kekuatan dan kekurangan kita, Insya Allah, narsisme dapat dihindari. Kuncinya adalah dengan mencari kesetimbangan antara kelebihan dan kekurangan (inferior) kita, dan bersandarkan semua yang kita raih adalah atas ridha Allah SWT.

Ini semua juga menjadi peringatan bagi saya pribadi.

Mengapa saya me-‘reject’ manuskrip di jurnal?

Dalam 2 tahun ini, sebagai reviewer di beberapa jurnal dalam bidang Catalysis yang diterbitkan oleh Elsevier, saya telah merekomendasikan untuk me-reject hampir 80% manuskrip (dari sekitar 30 manuskrip) yang dikirim kepada saya oleh editor. Kebanyakan manuskrip yang dikirim tersebut berasal dari universitas-universitas di Cina. Saya tidak tahu, apakah ini karena kebetulan atau memang jumlah manuskrip dari universitas dari Cina itu sangat banyak. Namun, saya juga menemukan beberapa manuskrip dari universitas ternama yang tidak berkualitas — yang terpaksa di-reject.

Ini alasan yang membuat saya tidak menerima manuskrip-manuskrip tersebut untuk dipublikasikan:
Originality. Biasanya dalam paper yang tidak original, arah dan hasil analisisnya sangat mudah ditebak.
Speculation. Banyak analisis dan kesimpulan tidak didukung oleh data-data yang lengkap dan akurat sehingga jump into conclusion.
Logic. Kadang-kadang teknik analisis yang digunakan tidak tepat dan juga tidal logic dalam menganalisis data.

Kenapa kita ketagihan dengan ngeblog dan ikut situs jaringan sosial?

Banyak institusi dan kantor-kantor yang melarang atau memblok penggunaan jaringan sosial seperti Facebook dan Friendster karena para pegawai mereka telah melalaikan pekerjaan utama mereka ditempat kerja dengan login situs jaringan sosial dan lupa untuk logout karena keasyikan. Tulisan ini bertujuan menjawab mengapa orang ketagihan (addicted) dengan ngeblog dan mengikuti situs-situs jaringan sosial. Di bawah adalah beberapa alasannya yang saya sadur dari beberapa sumber di internet. Setuju atau tidak setuju, inilah alasan-alasan yang telah saya rangkum dalam tulisan ini.

Kebutuhan sosial yang tidak terpenuhi
Coba anda bayangkan jika anda tidak makan dan minum selama 10 jam terus menerus. Kemudian sesudah itu anda coba untuk belajar. Apa yang anda rasakan? Anda akan sulit untuk belajar, kecuali jika anda memenuhi dulu keinginan anda untuk makan dan minum. Kenapa demikian? Ini karena anda berada dalam keadaan dimana anda sangat membutuhkan makan dan minum. Hal yang sama berlaku untuk hubungan sosial. Jika anda tidak puas dengan hubungan sosial anda pada saat ini, anda sekarang dalam posisi dimana anda membutuhkan kawan dan keinginan untuk untuk memperluas hubungan sosial anda. Jadi kerajingan (yang parah, sampai online 10 jam sehari) dengan ngeblog dan situs jaringan sosial (mungkin) diakibatkan oleh kebutuhan sosial yang tidak terpenuhi.

Ketergantungan yang luar biasa dengan orang lain
Beberapa orang hilang arah dalam mengarungi kehidupan jika mereka tidak diperhatikan dan dicintai oleh orang lain. Ini adalah akibat seseorang sangat bergantung dengan orang lain. Sebenarnya penyebab ketergantungan ini adalah karena rasa tidak puas dengan kehidupan anda sehingga memerlukan orang lain untuk mengisi kehidupan anda dan membuat anda lupa bahwa sebenarnya anda mempunyai masalah.

Pelarian
Salah satu alasan utama orang mengkonsumsi narkoba adalah karena mereka yang ingin melepaskan diri mereka masalah. Narkoba merupakan pelarian terhadap masalah yang mereka hadapi. Hal yang sama juga berlaku jika ketagihan (addicted) ngeblog dan situs-situs jaringan sosial — sebahagian orang memilih untuk ‘bersembunyi’ di salah satu situs jaringan sosial untuk menghindari menghadapi tantangan kehidupan nyata.

Karena tidak ada pekerjaan lain
Banyak waktu kosong, sehingga mengisi waktu kosong dengan menjelajahi situs-situs jaringan sosial merupakan cara mengisinya. Ini dapat menjadi masalah jika anda merasa anda tidak memiliki apa-apa tanpa menjelajah situs jaringan sosial. Ini artinya anda tidak mempunyai tujuan hidup. Saya pernah menulis dan mengirimkan hampir 10 tulisan ke publik blog Kompasiana dalam masa 2 hari karena memang saya tidak ada pekerjaan lain — karena waktu itu libur.

Bagaimana cara mengatasi ketergantungan (addicted) dengan ngeblog dan mengikuti situs-situs jaringan sosial? Pertama-tama anda harus mencari mencari akar penyebab masalah anda. Anda harus mengetahui mengapa sebagian dari kebutuhan sosial anda tidak terpenuhi untuk memecahkan masalah ini. Anda harus memiliki keberanian untuk menghadapi masalah anda.

Jadi, dengan menuliskan tulisan ini di blog dan meng-share-nya di Facebook juga telah menunjukkan penulis tulisan ini telah kecanduan ngeblog dan mengikuti situs jaringan sosial (ha.. ha.. ha…)… nah lu!

Tanggapan terhadap penelitian: Facebook dapat menyebabkan penyakit

Fenomena jaringan sosial seperti Facebook, Friendster dan sejenisnya memang layak untuk dibicarakan, ditambah lagi dengan hasil penelitian yang mencoba mengaitkannya dengan berbagai macam penyakit — bahkan sampai menyebabkan kanker (katanya). Banyak sekali penelitian-penelitian sejenis ini dilakukan oleh para peneliti-peneliti yang tujuannya tidak hanya untuk perkembangan ilmu tetapi juga untuk mencari sensasi.

Untuk melihat secara umum, secara sederhana saya membagi penelitian dalam bidang sains kepada dua kategori berdasarkan kualitasnya:

Penelitian yang canggih
Penelitian yang canggih adalah penelitian yang didorong oleh isu-isu saintifik yang penting yang ditangani dengan semua metode-metode yang tersedia.

Penelitian yang biasa-biasa saja
Penelitian jenis ini biasanya dapat dikategorikan sebagai ‘negative research‘ dan `improvement research‘ yang tujuannya hanyalah membuktikan sesuatu itu adalah ’salah’ atau hanya mengembangkan atau memodifikasi sesuatu yang sebenarnya sudah banyak diketahui dan dikerjakan orang lain. Kategori lain dari penelitian yang biasa-biasa saja adalah ‘tool-driven research‘, yang sifatnya hanyalah menyelesaikan masalah dengan metode-metode yang sudah diketahui atau dikembangkan dengan baik.

Berdasarkan definisi di atas, saya membagi penelitian tersebut berdasarkan kepada manfaatnya. Ada empat jenis penelitian:

  • Penelitian yang biasa-biasa saja dan tidak ada manfaatnya kepada masyarakat
  • Penelitian yang canggih, tetapi tidak bermanfaat bagi masyarakat (hanya dari sains untuk sains)
  • Penelitian yang biasa-biasa saja, tetapi bermanfaat kepada masyarakat
  • Penelitian yang canggih dan bermanfaat kepada masyarakat luas

Dari keterangan di atas kita dapat merasakan dalam kelompok mana hasil analisis Arif Sigman yang mengatakan ‘Jaringan sosial dapat menyebabkan penyakit‘ tersebut dikategorikan.