Prof. Gerhard Ertl

Baru saja saya membaca autobiografi Prof. Gerhard Ertl (penerima Nobel Kimia tahun 2007) yang berjudul “Molecules at Solid Surfaces: A Personal Reminiscence” yang dipublikasikan di Annual Review of Physical Chemistry, Volume 68, 2017, pp 1-17. Saya terkesan dengan kalimat penutup dari autobigrafi beliau:

When I look back, I feel that I was lucky to always be at the right place at the right time: The war ended while I was a child, and since then, I have lived in a stable country which has had peace for more than seven decades—the longest period in its history. Later, I found the best possible mentor and always had the necessary freedom to develop my own ideas in a time during which the new field of surface science was emerging. I was always accompanied by excellent collaborators, and I never had any serious problems in receiving the funding necessary to realize my ideas. Thus, I am deeply grateful.

Beliau beryukur karena ada hal-hal yang diluar kemampuan yang dianugerahkan kepada beliau, seperti negara yang stabil dan bertemu dengan orang-orang hebat yang mendukung — menurut saya, siapa lagi kalau bukan dari yang Maha Kuasa, yaitu Allah SWT. Dari tulisan ini nampak beliau orang yang rendah hati, walaupun saya tidak tahu dalam kehidupan sehari-harinya. Pelajaran untuk kita yang minim prestasi, jangan sombong!

Foto saya di depan bangunan laboratorium beliau di Fritz-Haber-Institut der Max-Planck-Gesellschaft di Berlin tahun 2015.

Rujukan

Prof. Richard Robert Ernst

Saya sempat berfoto dengan Prof. Richard Robert Ernst, penerima hadiah Nobel Kimia tahun 1991. Beliau berfoto dengan saya dengan latar belakang spektrometer Nuclear Magnetic Resonance (NMR) yang saya operasikan. Penghargaan Nobel Kimia 1991 dianugerahkan kepada beliau atas kontribusi pada pengembangan metodologi spektroskopi Nuclear Magnetic Resonance (NMR).

Foto disebelah kanan di bawah ini adalah foto beliau yang saya ambil dari website pribadi beliau. Nampak tua. Terlihat juga dari kedua foto tersebut bahwa kehidupan itu tidak abadi. Namun, manusia akan meninggalkan hasil karyanya untuk dimanfaatkan oleh generasi selanjutnya. Kebaikan itulah yang akan diingat orang. Itulah makna dari kedua foto di bawah ini.

Walaupun saya tidak kenal secara pribadi dengan beliau, namun saya membaca tulisan beliau mengenai pendidikan tinggi yang sekarang sudah kehilangan prespektif mengenai tanggungjawabnya. Ini catatan saya sembilan tahun yang lalu mengenai ini.

Waruno Mahdi

Saya beruntung dapat berbincang-bincang dengan Pak Waruno Mahdi sewaktu saya menjadi visiting scientist di Helmholtz-Zentrum Berlin for Materials and Energy, Jerman pada 28 Agustus 2015. Walaupun sudah pensiun, Pak Waruno masih diminta oleh Prof. Dr. Gerhard Ertl (penerima hadiah Nobel Kimia tahun 2007) untuk membantu di Fritz-Haber-Institut der Max-Planck-Gesellschaft di Berlin. Apa yang beliau ceritakan kepada saya sama dengan yang dipublikasikan di koran Kompas pada 10 September 2016. Perjalanan hidup beliau sangat menginspirasi. Semoga Pak Waruno sehat selalu. Salam hormat dari saya!

martinaleida_wm-masih-hidup

Fritz Haber Institute of the Max Planck Society

Quraish Shihab

According to Quraish Shihab, politics is not related to power. Politics, or also called siasah, is a guide to direct towards a goal that is previously mutually agreed upon. With siasah, we try to avoid bad things and to achieve positive things to reach goals. Siasah is like the rope held by the charioteer to control the direction of the horse-drawn carriage.

Grigori Perelman

“Grigori Perelman, matematikawan sejati yang puas dengan pencapaian dirinya sendiri tanpa perlu pengakuan dari orang lain. Jauh dari sifat pamer dan narsis seperti saintis yang saya temui disekeliling saya, yang prestasi akademiknya sebenarnya semu.”

Grigori Perelman membuktikan Poincare conjecture dan kemudian menolak hadiah satu juta dolar (Millennium Prize). Dia adalah satu-satunya matematikawan yang telah menolak Fields Medal pada tahun 2006.

Sukar untuk dipahami mengapa beliau menolak Fields Medal. Hadiah itu tidak berarti bagi Grigori Perelman karena motivasinya adalah hanya untuk memecahkan masalah yang sangat penting yang tidak bisa diselesaikan orang lain selama lebih dari seratus tahun. Dia satu-satunya orang yang mendedikasikan diri, praktis dalam isolasi selama 7 tahun untuk memecahkam masalah matematika ini. Tidak ada yang lebih penting baginya dari memecahkan masalah matematika. Dia benar-benar tidak peduli tentang uang atau ketenaran. Jadi, bagi pandangan kita, dia adalah pria yang sangat aneh. Perelman digambarkan sebagai orang yang sangat jujur oleh orang-orang yang mengenalnya sejak dia remaja.

Apakah kita juga jujur seperti Grigori Perelman?

Rujukan
https://www.quora.com/Why-did-Grigori-Perelman-refuse-the-Fields-Medal
https://en.wikipedia.org/wiki/Grigori_Perelman

Baharuddin Lopa – Pahlawan kebenaran Indonesia

Menurut saya, dengan keberanian dan juga prinsip hidupnya, Baharuddin Lopa adalah salah seorang pahlawan kebenaran Indonesia. Di bawah ini adalah tulisan mengenai beliau yang saya salin dari Wikipedia.

Baharuddin Lopa, S.H. (lahir di Pambusuang, Balanipa, Polewali Mandar, Indonesia, 27 Agustus 1935 – meninggal di Riyadh, Arab Saudi, 3 Juli 2001 pada umur 65 tahun) adalah Jaksa Agung Republik Indonesia dari 6 Juni 2001 sampai wafatnya pada 3 Juli 2001. Baharuddin Lopa juga adalah mantan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi. Antara tahun 1993-1998, ia duduk sebagai anggota Komnas HAM.

Baharuddin Lopa dan Bismar Siregar merupakan contoh yang langka dari figur yang berani melawan arus. Sayang Lopa sudah tiada dan Bismar sudah pensiun. Tetapi mereka telah meninggalkan warisan yang mulia kepada rekan-rekannya. Tentu untuk diteladani. Baharudin Lopa meninggal dunia pada usia 66 tahun, di rumah sakit Al-Hamadi Riyadh, pukul 18.14 waktu setempat atau pukul 22.14 WIB 3 Juli 2001, di Arab Saudi, akibat gangguan pada jantungnya.

Lopa, mantan Dubes RI untuk Saudi, dirawat di ruang khusus rumah sakit swasta di Riyadh itu sejak tanggal 30 Juni. Menurut Atase Penerangan Kedubes Indonesia untuk Arab Saudi, Joko Santoso, Lopa terlalu lelah, karena sejak tiba di Riyadh tidak cukup istirahat. Lopa tiba di Riyadh, 26 Juni untuk serah terima jabatan dengan Wakil Kepala Perwakilan RI Kemas Fachruddin SH, 27 Juni. Kemas menjabat Kuasa Usaha Sementara Kedubes RI untuk Saudi yang berkedudukan di Riyadh. Lopa sempat menyampaikan sambutan perpisahan.

Tanggal 28 Juni, Lopa dan istri serta sejumlah pejabat Kedubes melaksanakan ibadah umrah dari Riyadh ke Mekkah lewat jalan darat selama delapan jam. Lopa dan rombongan melaksanakan ibadah umrah malam hari, setelah shalat Isya. Tanggal 29 Juni melaksanakan shalat subuh di Masjidil Haram. Malamnya, Lopa dan rombongan kembali ke Riyadh, juga jalan darat. Ternyata ketahanan tubuh Lopa terganggu setelah melaksanakan kegiatan fisik tanpa henti tersebut. Tanggal 30 Juni pagi, Lopa mual-mual, siang harinya (pukul 13.00 waktu setempat) dilarikan ke RS Al-Hamadi.

Presiden KH Abdurahman Wahid, sebelum mengangkat Jaksa Agung definitif, menunjuk Soeparman sebagai pelaksana tugas-tugas Lopa ketika sedang menjalani perawatan. Penunjukan Soeparman didasarkan atas rekomendasi yang disampaikan Lopa kepada Presiden. Padahal Lopa sedang giat-giatnya mengusut berbagai kasus korupsi.

Ia meninggal dunia di rumah sakit Al-Hamadi Riyadh, pukul 18.14 waktu setempat atau pukul 22.14 WIB di Arab Saudi akibat gangguan pada jantungnya. Pada tanggal 5 Juli 2001 pukul 14.25 Pesawat Garuda Indonesia dari Riyadh membawa jenazah Lopa pulang ke tanah air. Kesokaan harinya Jenazah Baharuddin Lopa dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan Upacara Militer yang dipimpin oleh Menkopolhukam Agum Gumelar.

Referensi

https://id.wikipedia.org/wiki/Baharuddin_Lopa