Sang Profesor

Ilmu padi, semakin berisi semakin menunduk.  Itulah kesan yang saya perolehi ketika berjumpa dengan seorang profesor di Osaka University. Beliau juga sangat menghargai saintis-saintis muda, dan memberi peluang kepada mereka untuk maju. Ketika saya berkunjung ke laboratorium beliau, yang dilengkapi dengan fasilitas yang sangat lengkap, selama satu minggu, saya juga mendapatkan kesan bahwa beliau sangat disegani bukan hanya oleh mahasiswa beliau, tetapi juga oleh kawan-kawan beliau.  Prestasi dan prestise adalah dua perkataan yang pernah saya sebutkan sebelum ini dalam blog ini.  Kadangkala kita terlalu gerah untuk mengejar prestise dan melupakan prestasi.  Dengan memanfaatkan “kelemahan” sistem yang ada, banyak diantara kita yang dengan mudah mendapatkan prestise yaitu gelar akademik yang tidak mencerminkan adanya prestasi akademik yang baik.  Pada zaman ini, dengan teknologi komunikasi yang ada, prestasi akademik seseorang atau universitas dengan sangat mudah dinilai oleh orang lain.  Adalah sangat memalukan dan akan merendahkan prestise sebuah universitas jika gelar akademik diberikan kepada seseorang yang tidak mempunyai prestasi akademik yang baik. Menurut pendapat saya, profesor adalah sebuah ‘institusi’, karena dari sinilah ilmu pengetahuan berkembang. Bagaimana ilmu pengetahuan akan bisa berkembang jika ‘institusi’ ini tidak memiliki prestasi akademik yang baik, bahkan menghasilkan ‘produk’ ilmiah seperti  publikasi ilmiahpun tidak mampu.  

Hal lain yang saya banyak belajar dengan profesor di Jepang adalah; mereka sangat mementingkan proses dibandingkan hasil.  Mereka sangat memperhatikan kualitas dari proses tersebut.  Hasil yang baik akan akan dihasilkan oleh proses yang baik.  Dengan gelar profesor yang didapatkan dengan prestasi akademik yang baik, proses pembelajaran dari pembimbing kepada mahasiswa akan berlangsung dengan baik.  Bagaimana proses pembelajaran ini dapat berlangsung jika sang Profesor-pun tidak mengerti dengan penelitian yang dibuat oleh mahasiswanya.  Bahkan, mahasiswa tersebutlah yang membuat proposal penelitian (dengan idenya sendiri) sampai mempublikasikan hasil penelitian tersebut.  Sang pembimbing dengan kekuasaannya telah memaksa untuk meletakkan namanya sebagai penulis utama dari publikasi tersebut, supaya cita-citanya untuk meraih prestise akan lebih mudah dicapai. Yang lebih parah lagi, dia akan marah jika mahasiswanya dengan tidak sengaja  terlupa memanggilnya dengan gelar yang disandangnya tersebut.   

Universitas yang hebat adalah universitas yang memiliki profesor dengan prestasi akademik yang baik … Itulah indikator yang paling mudah untuk menilai sebuah universitas.

Prestasi riset universitas di Singapura

Minggu lalu Lee Kuan Yew, minister mentor Singapura mengatakan bahwa Singapura bukanlah negara biasa (ordinary country) seperti tetangganya Indonesia, Malaysia dan Thailand. Singapura adalah negara yang luar biasa (extra ordinary). Hal ini disampaikannya ketika menjawab pertanyaan mengenai besarnya gaji perdana menteri Singapura dan pegawai-pegawai tinggi di republik tersebut, yang gaji perdana menterinya dua kali gaji George W. Bush, presiden Amerika. Dari segi pendidikan tinggi, pernyataan  Lee Kuan Yew ada benarnya.  Kita tahu bahwa Singapura hanya mempunyai dua universitas iaitu National University of Singapore (NUS) and Nanyang Technological University (NTU). Setelah saya melihat di situs www.scopus.com nampak dengan jelas bahwa dua universitas Singapura tersebut memang extra ordinary jika dibandingkan dengan universitas-universitas di negara tetangganya. Hal ini terlihat dari jumlah publikasi ilmiah dari dua universitas tersebut (lihat Table di bawah ini) yang dibandingkan dengan negara tetangganya dan juga Jepang, India dan Bangladesh.

Nama Negara

Jumlah artikel ilmiah yang dipublikasikan yang masuk daftar SCOPUS

Jepang

1,702,775

India

452,205

Singapura

81,255

Thailand

37,376

Malaysia

24,626

Bangladesh

9,336

Indonesia

9,019

Vietnam

1,072

(Data di atas dicatat pada 4 Mei 2007, jam 3.40 sore)

Nampak dengan jelas bahwa dua universitas itu saja dapat mengalahkan belasan universitas di Malaysia dan ratusan universitas di Indonesia, padahal dosen dan peneliti di NUS dan NTU hampir sama banyak dengan kebanyakan universitas-universitas besar di Malaysia dan Indonesa. Bayangkan produktivitas setiap dosen yang ada disana. Jika kita bandingkan dengan pendanaan universitas, sudah barang tentu budget universitas di Singapura berpuluh kali lipat jika dibandingkan dengan ITB misalnya.  Namun, budget tersebut mungkin tidak sampai berpuluh kali lipat jika dibanding dengan universitas besar di Malaysia. Apa yang menjadi perhatian saya adalah kualitas sumberdaya mereka. Kualitas dosen dan peneliti di Singapura (yang kebanyakannya adalah orang asing) memang patut dipuji. Saya pikir, kita perlu belajar dari Singapura, bagaimana dia dapat mencapai kemajuan ini.

Satu lagi yang menjadi catatan bagi saya adalah, Prof. Tjia May On (dosen fisika ITB) adalah individu yang paling banyak menyumbang dalam publikasi ilmiah, iaitu 64 jurnal ilmiah. Salut dengan pak Tjia!! Saya mengharapkan semangat dan prestasi pak Tjia patut dicontoh. Dengan fasilitas riset yang relatif tidak begitu lengkap di ITB, pak Tjia masih mampu berkarya.

Universiti penyelidikan di Malaysia

Sebagai penilai (reviewer) dari beberapa jurnal yang diterbitkan oleh Elsevier, saya mendapat fasiliti untuk melayari laman web Scopus (www.scopus.com), mesin pencari karya ilmiah yang masuk dalam daftar The Institute for Scientific Information (ISI).

Kementerian Pengajian Tinggi Malaysia telah mengumumkan bahawa hanya empat universiti saja yang diiktiraf sebagai universiti penyelidikan (research university), Universiti Malaya (UM), Universiti Sains Malaysia (USM), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dan Universiti Putra Malaysia (UPM). Universiti Teknologi Malaysia (UTM) tidak tersenarai dalam daftar tersebut. Apa keunggulan UM, USM, UKM dan UPM dibandingkan dengan UTM? Untuk menjawab pertanyaan itu, saya memasukkan nama universiti-universiti tersebut dalam mesin pencari Scopus. Jawapannya dapat anda lihat pada Tabel di bawah ini.

Nama Universiti Jumlah kertas kerja ilmiah yang dipublikasikan yang masuk daftar The Institute for Scientific Information (ISI)

Universiti Malaya (UM)

6,561

Universiti Sains Malaysia (USM)

4,086

Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM)

2,611

Universiti Putra Malaysia (UPM)

2,410

Universiti Teknologi Malaysia (UTM)

1,224

Multimedia University, Malaysia (MMU)

964

(Data di atas dicatat pada 3hb Mei 2007, jam 5.45 petang)

 

Prestasi dan prestise universitas

Prestasi dan prestise merupakan dua perkataan yang kadangkala mempunyai kaitan dan kadangkala tidak. Biasanya jika universitas itu mempunyai prestise, tentulah biasanya dia mempunyai prestasi yang baik. Kita dapat melihat universitas-universtas di dunia yang berprestise tinggi seperi Harvard, Tokyo, Munich, Osaka, Pricenton dan lain sebagainya. Sebagai dosen dan peneliti yang pernah belajar dan bekerja di negara berkembang (Indonesia dan Malaysia) dan di negara maju (Jepang), saya dapat melihat dengan jelas bahwa prestise tidak dapat didapatkan dengan jalan yang mudah. Indikator yang paling mudah untuk menilai sebuah universitas itu mempunyai prestise yang tinggi adalah ketinggian mutu akademik dari universitas yang bersangkutan.

Nilai-nilai akademik yang baik ini ditunjukkan dengan ‘budaya akademik’ atau ‘budaya ilmiah’ yang telah membudaya dan tertanam di Universitas tersebut. Prestise ini diraih dengan prestasi akademik dan keilmuan dari universitas tersebut. Kita tahu bahwa tanpa ada budaya menulis, keilmuan seseorang tidak pernah akan diakui (atau dikenal) oleh dunia akademik dan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh, hadiah nobel hanyalah diberikan kepada saintis yang telah mempublikasikan hasil penelitiannya. Penelitian tanpa publikasi adalah ‘omong kosong’, karena tanpa ini ilmu pengetahuan tidak akan berkembang.  “Publish or perish” merupakan ungkapan yang tepat dalam bahasa Inggris. Saya pernah membaca disebuah surat kabar ada seorang profesor yang mengatakan bahwa publikasi tersebut tidaklah terlalu penting karena sifatnya yang abstrak. Yang lebih penting adalah komersialisasi dari hasil penelitian. Saya sangat heran membaca pernyataan ini, karena keluar dari seorang dosen yang sudah bergelar profesor. Jika Einstein tidak mempublikasikan teorinya mengenai efek fotolistrik  pada awal abad 20, saya tidak dapat membayangkan bagaimana ilmu spektroskopi  dapat berkembang seperti saat ini.

Seperti kita ketahui, gelar profesor adalah jenjang akademik tertinggi, yang juga memiliki nilai prestise yang tinggi, yang diberikan kepada Universitas kepada seseorang. Biasanya di Universitas yang berprestise, gelar ini diberikan dengan penilaian yang sangat ketat dan jelas, karena prestise sebuah Universitas tersebut juga bergantung kepada profesor-profesor yang  mempunyai prestasi keilmuan yang yang tinggi, yang biasanya ditunjukkan oleh karya-karya mereka yang berkualitas tinggi yang diakui oleh dunia akademik (bukan oleh lembaga non-akademik).  Sebagai contoh, National University of Singapore (NUS), yang merupakan salah satu universitas terbaik dunia, hanya menerima calon-calon dosen yang berkelayakan tinggi, terutama kepada calon yang telah menunjukkan prestasi akademik dan keilmuan yang baik yang ditunjukkan dengan publikasi di first class scientific journal. Setelah diterima, dosen-dosen ini diberikan fasilitas riset yang juga first class dan sudah barang tentu juga gaji yang lumayan. Inilah menurut saya salah satu resep mengapa NUS maju dan sekarang telah menjadi universitas ternama di dunia.

Karya berkualitas tinggi biasanya karya yang memberikan terobosan baru atau impak yang tinggi kepada ilmu pengetahun. Bagaimana caranya impak ini diukur? Salah satu cara yang telah diakui adalah dengan melihat apakah karya itu telah dirujuk oleh orang lain (dalam bahasa inggris disebut sebagai citation). Sebagai contoh yang mudah adalah karya Prof. Hideki Shirakawa, pemenang nobel kimia tahun 2000 mengenai polimer yang dapat menghantar arus listrik. Sejak penemuan tersebut dipublikasikan tahun 1977 di sebuah
jurnal (Chemical Communications), penemuan tersebut telah membuka mata dunia ilmu pengetahuan bahwa polimer yang dulunya dipercayai tidak dapat menghantarkan arus listrik sekarang telah berhasil disintesis dan dibuktikan bahwa polimer tesebut dapat berfungsi dengan sebagai konduktor seperti halnya logam. Tidak dapat disangsikan lagi, bahwa hasil penelitian yang hanya dua halaman tersebut telah membuka bidang baru dalam bidang kimia dan fisika, yang disebut sebagai metal sintetik (synthetic metal).

Oleh karena itu, publikasi tersebut merupakan bahan yang wajib dijadikan referensi kepada bidang metal sintetik. Sudah terbukti bahwa artikel teresebut telah menjadi bahan rujukan dari ribuan penelitian dari bidang tersebut. Dapat disimpulkan bahwa profesor yang hebat biasanya mempunyai publikasi yang hebat. Dengan teknologi internet yang sangat maju sekarang ini, kita dapat dengan mudah untuk mengevaluasi apakah seseorang itu adalah betul-betul pakar dalam bidang keilmuan, sebagai contoh anda dapat menggunakan fasilitas
pencarian “google scholar” yang gratis. Tinggal ketik nama, anda akan melihat impak dari karya seseorang, yang dapat dilihat dari berapa banyak hasil penelitian itu dirujuk.  Supaya lebih jelas, anda dapat pergi ke situs-situs yang menerbitkan jurnal ilmiah Elsevier, Springer, Hindawi, ACS, RSC dan lain sebagainya. Dari situ anda dapat melihat bahwa universitas ternama seperti Cambridge, Harvard dan Tokyo terkenal dan diakui karena karya para ilmuwan dan saintis mereka mempunyai impak yang besar terhadap
ilmu pengetahuan.  Sudah tentu juga anda dapat membandingkannya dengan universitas yang lain. Dengan cara yang sama, anda dapat mengevaluasi para profesor atau saintis yang anda anggap hebat di universitas dan negara anda.

Berdasarkan pengalaman saya sebagai dosen dan peneliti, saya dapat melihat bahwa ada universitas yang telah mengambil jalan mudah untuk meraih “prestise” tanpa melihat norma baku terhadap prestasi akademik dan keilmuan. “Prestise” yang saya makudkan disini adalah prestise yang sebenarnya dapat mengelabui masyarakat umum. Kadangkala prestasi-prestasi yang sebenarnya tidak bernilai akademik telah ditonjolkan dan diletakkan sebagai nilai akademik, dan juga telah dipakai sebagai untuk pengiktirafan dan kenaikan pangkat seseorang, bahkan sampai jenjang profesor. Ada istilah yang tepat untuk universitas dan para profesor ini “tong kosong, nyaring bunyinya”.

Saya yakin, para peneliti dan dosen berpengalaman, yang telah bergelut dan bergelimang dengan dunia penelitian dan pendidikan tentunya tidak dapat dikelabui, mereka dengan jelas dapat menilai apakah sebuah universitas tersebut dapat dikatakan hebat atau tidak adalah dengan hasil penelitian yang telah dipublikasikan (bagi sains) dan juga mempunyai impak terhadap pengguna (bagi teknologi). Dengan kata lain, dalam dunia penelitian ilmiah (sains dan teknologi), betapapun spektakulernya hasil penelitian seseorang
tersebut, penelitian tersebut tidak akan pernah selesai jika tidak dipublikasikan. Sekali lagi, ini adalah norma baku yang telah dipakai sejak lama, yang mau tidak mau harus diikuti dan jalani. Jalan ini memang tidak mudah, universitas harus mampu menciptakan suasana dan budaya keilmuan yang baik di universitas masing-masing. Anda dipersilahkan membaca tulisan saya yang berkaitan dengan hal ini, yang berjudul “Refleksi dari pengalaman riset di Jepang” yang merupakan pengalaman saya melakukan penelitian di salah satu Universitas ternama di Jepang pada tahun 1999-2002. Dari tulisan tersebut dapat disimpulkan bahwa bukanlah mudah untuk menjadi world class university. World class university adalah universitas yang meletakkan prestasi akademik dan keilmuan pada kedudukan yang tinggi dan utama, dan dirambu-rambui oleh etika akademik dan keilmuan.  Dengan inilah sebenar prestise universitas dapat diraih.

Bangunan dan fasilitas yang canggih bukanlah jaminan kepada prestise sebuah universitas.  Saya ada sebuah analogi yang menarik. Dulu, sewaktu harga cengkeh tinggi, petani cengkeh di Sulawesi mendadak menjadi kaya, sehingga kondisi ini membuat para petani membelanjakan uangnya untuk hal-hal yang kurang manfaatnya. Saya diceritakan bahwa petani tersebut telah pergi ke kota membeli kulkas, dan kulkas tersebut digunakan hanya sebagai lemari pakaian karena di desa mereka belum ada listrik. Anda jangan
heran dan terkejut jika hal yang sama juga berlaku di universitas yang katanya memiliki pakar-pakar sains dan teknologi. Saya tidak dapat menyebutkan nama universitas tersebut karena masalah etika, tetapi anda para pembaca tentu dapat melihat dan mengevaluasi sendiri universitas-universitas tersebut, karena tujuan saya menulis artikel ini adalah supaya masyarakat atau pengguna produk universitas dapat menilai universitas mana saja yang berprestise dengan prestasi akademik yang baik.

Sebagai penutup saya mengutip artikel yang ditulis oleh almarhum Dr. Nurcholis Madjid mengenai masalah prestasi dan prestise: “… titik berat penilaian seseorang manusia kepada manusia lain tidak mungkin berdasarkan taqwanya itu an sich, melainkan berdasarkan manifestasi dan pantulan taqwa itu dalam amal lahiriah yang shalih, berbudi dan berakhlak mulia. Justru itulah prestasi (bukan prestise) manusia yang paling cocok …”.

Refleksi dari pengalaman riset di Jepang

(Di bawah ini saya menceritakan pengalaman dan pengamatan saya mengenai riset di Jepang. Karena mungkin, tulisan ini agak panjang, maka untuk memudahkan, saya menulis huruf tebal untuk kalimat kunci.)

Pengamatan saya di sini memperlihatkan bahwa Profesor dan mahasiswa Pasca sarjana (master dan doktor) di Jepang adalah pekerja keras. Ini diperlihatkan dari jam kerja yang kadang-kadang mencapai 12 jam per hari! Hal ini juga diperlihatkan oleh staf-staf muda (associate Prof. dan research associate/instructor) yang bekerja keras untuk menciptakan lingkungan yang bersuasana riset, dan mereka tidak dibebani dengan banyak mengajar di depan kelas dan tugas-tugas administrasi.

Promosi untuk menjadi Profesor hanya berdasarkan kriteria akademik. Hanya Associate Professor yang berkaliber saja yang diangkat untuk menjadi Profesor. Hal ini terlihat dari track record riset dari Prof. tersebut.

Pelajaran berharga lain yang saya peroleh dari melakukan riset di Jepang adalah; ‘tidak semua orang’ dapat menjadi peneliti yang hebat. Banyaknya publikasi dari conference, symposium dan seminar tidaklah memperlihatkan kecanggihan seseorang dalam melakukan riset. Hanya publikasi dari first class journal yang dapat memperlihatkan peneliti mempunyai riset yang hebat. Peneliti yang hebat harus menerima bahwa ide-ide baru akan berakhir dengan keusangan. Dia harus belajar untuk menerima kegagalan, dan mencoba terus-menerus tanpa henti-hentinya. Semua ini memerlukan waktu yang panjang dan konsentrasi, karena riset memerlukan ‘pemikiran yang dalam’ dan tidak bisa dilakukan dalam waktu yang pendek.

Bagaimana mendidik seseorang untuk berinovasi dan menemukan merupakan hal berharga yang saya perolehi dari Prof. saya di sini. Sehingga saya dapat merasakan pengalaman (‘sensasi’) dari suatu penemuan tersebut. Selama melakukan riset di sini, kami telah mengusulkan konsep baru dalam bidang katalisis yang dinamakan sebagai ‘Phase-boundary catalysis‘ dan telah dipublikasikan di jurnal yang prestius (Chemical Communications, Journal of Catalysis dan Langmuir).

Faktor lain juga sangat menentukan keberhasilan riset saya di Jepang adalah; saya memulai riset ketika laboratorium hanya memiliki empat orang peneliti (Prof., assistant Prof, seorang postdoc dan seorang mahasiswa master), sehingga saat itu kami terpaksa berpikir untuk memulai riset baru. Hal berharga yang dapat diambil dari pengalaman ini adalah; ‘tim riset yang kompak merupakan inkubator untuk memperbanyak ide‘ karena dalam riset yang dilakukan secara tim akan terjadi pertukaran ide, kritik dan kompetisi. Dan ini berarti, riset yang hebat biasanya dihasilkan oleh tim riset yang hebat, bukan dari perorangan.

Budaya ilmiah yang kental sangat terasa di Hokkaido University. Hal ini juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan dari Universitas (University policies). Hal ini ditandai dengan banyaknya seminar antar disiplin ilmu dengan peserta yang banyak. Salah satu hal yang juga sangat mendukung suasana ini adalah tidak adanya politik yang masuk ke administrasi universitas. Hal terakhir ini mulai diterapkan di Indonesia oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) yang pemilihan rektornya tanpa intervensi dari pemerintah. Karena riset di Universitas sangat bergantung kepada program pasca sarjananya, maka kesejahteraan para mahasiswa di Jepang sangat diperhatikan sehingga mahasiswa pasca sarjana menerima gaji yang cukup. Karena inilah ujung tombak dari riset di Universitas.

Cara Jepang Mengejar Ketinggalan dalam Sains dan Teknologi

Saya ingin menceritakan mengenai cara pemerintah Jepang untuk mengejar ketinggalannya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dari negara lain. Dan ini merupakan hal yang saya perolehi dari orientasi yang diselenggarakan oleh JSPS (Japan Society for the Promotion of Science) untuk menyambut para peneliti (Post-Doc) yang berasal dari sekitar 15 negara yang saya hadiri sekitar empat tahun yang lalu di Tokyo. Dan sebuah presentasi menarik telah disampaikan oleh seorang Prof. emeritus dalam bidang fisika teori dari Tokyo University, beliau menceritakan bagaimana sekarang ini Jepang ketinggalan dari negara maju lainnya dari segi kualitas riset.

Nah, ketinggalan Jepang itu dalam hal apa? Kita tentu bertanya-tanya, karena sampai saat ini sudah sembilan orang Jepang yang mendapat Nobel dalam bidang kimia (tahun lalu dalam bidang polimer), fisika dan kedokteran, yang menandakan mereka begitu maju dalam sains dan teknologi. Dari data ISI (Institute for Scientific Information) menunjukkan bahwa jumlah paper yang dipublikasikan di jurnal internasional (dalam bahasa Inggris) oleh Jepang hanya kalah dari USA, artinya dari segi kuantitas Jepang menduduki posisi kedua setelah USA dalam hal produktivitas menerbitkan publikasi ilmiah. Porsinya sekitar 40% USA, dan 10% Jepang. Tetapi, dari data statistik, kualitas dari paper yang diterbitkan oleh Jepang kalah dengan USA, UK, Germany dan France, padahal jumlah paper yang dipublikasikan oleh Inggris, Jerman dan Perancis jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Jepang. Pertanyaan lebih lanjut adalah, apakah parameter yang dapat mengukur kualitas dari sebuah paper? Biasanya adalah citation. Citation bermakna, berapa banyak orang merujuk paper yang telah dipublikasikan sebelumnya, atau seberapa jauh "impact of work" dari paper tersebut. Jika sebuah paper menceritakanpenemuan yang betul-betul baru (breakthrough), tentu akan banyak orang merujuk pekerjaan ini. Dan dari "citation per number of paper", Jepang kalah dari UK, Germany dan France.

Faktor lain yang menyebabkan kenapa "kualitas" (tanda kutip karena jangan dibandingkan dengan Indonesia) paper yang dihasilkan Jepang rendah (dan juga bermakna kualitas riset) dari negara-negara yang disebutkan di atas, pertama, adalah masalah struktur pendidikan tinggi di Jepang dan, kedua, adalah masalah budaya.

Mengenai yang pertama. Di Jepang, setiap lab di kepalai oleh seorang Prof., dan Prof. ini memiliki Assoc. Prof., lecturer dan mahasiswa S1-S3. Ini disebut sebagai "Koza", unit terkecil dari sebuah jurusan di Universitas Jepang. Prof. ini boleh dikatakan yang memiliki lab., dan Assoc. Prof. nya tidak akan bisa menjadi Prof. di lab. tersebut jika Prof.-nya belum pensiun atau meninggal dunia. Jadi ibaratnya Prof. adalah raja kecil di lab.-nya. Semua peralatan di lab. tersebut, boleh dikatakan dimiliki sendiri oleh Prof. tersebut. Orang lain, selain anggota grup, harus meminta izin kepada Prof. Untuk menggunakannya. Ternyata, sistem ini dianggap mematikan ‘kreativitas’, karena segala sesuatunya harus tergantung dengan "bos". Lagi pula, apabila seorang telah menjadi Prof. di suatu Universitas, sampai pensiun dia akan tetap disana, dan tidak ada penyegaran di lingkungan itu. Di Amerika, mobility dari peneliti sangat tinggi, mungkin saja seorang Prof. atau Assoc. Prof. akan pindah ke Universitas lain dalam kurun waktu yang singkat. Menyadari hal ini, pemerintah Jepang mulai merubah pelan-pelan sistem yang lama kepada sistem yang baru, yang disebut sebagai "extended Koza". Dalam sistem yang baru, Assoc. Prof. boleh saja mempunyai latar belakang keahlian yang berbeda dengan Prof.-nya, dan setiap Koza boleh terdiri dari beberapa Prof. dan Assoc. Prof. (ini agak mirip dengan yang di Indonesia). Dan karir dari Lecturer tidak akan terhambat, tidak harus menunggu Prof.-nya pensiun dulu. Tapi sistem ini hanya baru diterapkan di beberapa Universitas di Jepang. Mengenai yang kedua, adalah masalah budaya. Budaya (culture) sangat erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Masyarakat Jepang merupakan masyarakat agraris yang mengutamakan keharmonian, homogenitas dan kebersamaan. Akibatnya, mereka sangat senang mengikuti trend. Sebagai contoh, sewaktu saya datang kesini, harmoni itu kelihatan dengan jelas dari cara mereka berpakaian. Jarang di antara mereka yang menggunakan pakaian dengan warna yang menyolok (seperti warna "benetton"). Waktu musim dingin, hampir semua mereka menggunakan jaket yang berwarn hitam atau gelap. Dan bentuk dari rumah atau apartemen di Jepang hampir sama, sehingga kelihatan sangat monoton. Dengan gambaran ini, hal ini (dianggap oleh mereka) mengakibatkan jarangnya terobosan baru dalam iptek dibandingkan dengan negara-negara yang disebutkan di atas (sekali lagi jangan dibandingkan dengan Indonesia). Sifat-sifat seperti, individual, loncat antar disiplin ilmu dan menciptakan trend jarang dimiliki oleh orang Jepang.

Di samping itu, penghargaan terhadap prestasi ilmiah juga terasa kurang. Anda akan dikatakan lulus, jika Prof. mengatakan lulus. Dan tidak ada penghargaan akademik seperti cum laude, first class dan lain sebagainya jika anda lulus S2 dan S3 dari Universitas di Jepang. Di laboratorium tempat saya bekerja di Hokkaido University, ada seorang mahasiswa program Master yang akan lulus bulan depan. Karena waktunya mepet, terpaksa penulisan tesisnya dikerjakan ramai-ramai, sehingga Prof.-pun terlambat pulang ke rumah karena mengejar deadline penyerahan tesis.

Di samping mengubah struktur pendidikan, seperti yang telah diterangkan di atas, pemerintah Jepang meningkatkan budget untuk penelitian dasar (fundamental science) hampir dua kali lipat dalam waktu lima tahun ini. Hal ini berlawanan dengan apa yang dilakukan oleh Amerika dan negara-negara Eropa lainnya yang menurunkan budget untuk penelitian dasar mereka. Dan baru-baru ini, yang saya baca dari koran, mereka juga merencanakan akan mencetak sekitar 10 orang peneliti berkualitas Nobel dalam waktu lima puluh tahun mendatang dengan dana penelitian dasar yang terus ditingkatkan. Di samping itu, pemerintah Jepang juga mencanangkan menetapkan bahasa Inggris sebagai "second language" dalam abad ini. Hal ini diumumkan resmi oleh perdana menteri mereka. Cara lain yang sedang ditempuh mereka adalah mendatangkan peneliti-peneliti asing sebanyak mungkin ke Jepang, terutama untuk Post-Doc. Mereka juga menargetkan untuk membiayai sekitar 10.000 mahasiswa asing untuk diberi scholarship untuk belajar di Jepang dalam kurun lima tahun ini. Nah, dari contoh-contoh dapat kita lihat bahwa Jepang yang sudah sedemikian maju (dan sekarang masih merupakan negara terkaya ketiga di dunia setelah Swiss dan Luxemburg) masih sadar akan ketinggalan mereka.