Hadiah terindahku untuk ‘Mamak’

Oleh: Terry Terikoh (menantu ‘Mamak’)

Mamak, itulah panggilan kami untuk ibunda tercinta. Orangnya bersahaja, pendiam, tekun dan gigih. Bersahajanya apa yang rasa dia perlu itu yang dia cari, pendiamnya apa yang dia rasa perlu baru bicara, tekunnya selalu mengerjakan apapun sampai selesai, gigihnya tidak pernah berputus asa walaupun banyak rintangan. Sifat-sifat beliau inilah yang sangat aku sukai. Kalau mendengar kisah beliau, dadaku bergelora dan semangatku seperti menggebu.

Ketika para gadis seumuran dia betah di rumah, asyik belajar memasak, mengurus rumah bahkan siap meminang, mamak lebih siap melangkahkan kaki berkilo-kilo meter jaraknya dari rumah, menembus bukit, menjelajahi hutan, menapaki jalanan dan melintasi sungai. Tidak peduli hari itu hujan atau panas, tetap berangkat dengan tangan penuh menghimpit buku, yang dia pikirkan cepat sampai di sekolah dan tidak tertinggal pelajaran.

Buta huruf dan miskin adalah dua kata yang mengganggu pikiran mamak. Karena hampir semua penduduk disana adalah buta huruf. Desa Pamuatan, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat adalah desa miskin dan terpencil. Desa kelahiran mamak ini, tanahnya sangat gersang, berbukit dan terjal. Sehingga tidak ada mata pencaharian penduduk yang tertentu. Sebagian penduduk ada yang pergi merantau ada juga yang tetap bertahan. Mereka yang bertahan mencari nafkah dengan menggarap ladang orang di desa lain.

Ibunya sendiri adalah seorang yang buta huruf. Walaupun buta huruf, nenek pekerja keras. Dia mencari nafkah dengan berjualan kain di pasar. Hasil jualannya bisa menyekolahkan tiga orang anak gadisnya. Mamak lulusan terbaik sekolah Diniyah Putri di Padang Panjang, kemudian melanjutkan sekolah di IAIN Jogyakarta. Boleh dikatakan mamak adalah sarjana perempuan pertama dari kampungnya, adiknya mamak yang kedua adalah bidan pertama dari kampungnya, dan yang bungsu adalah guru. Semua belajar ke luar daerah, membelah pulau, menerjang lautan dan pada akhirnya meninggalkan kampung halaman.

Ayah mamak, adalah juru tulis dan guru silat di kampungnya dan dia suka memendam uangnya sendiri. Kalau Nenek atau cucu-cucunya meminta uang selalu berdalih, Ilmu dibagikan akan bertambah tetapi kalau uang dibagikan akan berkurang. Nah kalau dalih ini sudah keluar, ini pertanda uangnya tidak bisa diganggu gugat. Walau bagaimanapun datuk masih bisa membaca, dan beliau selalu membantu nenek mengirimkankan uang untuk anak-anaknya melalui pos. Nenek sanggup bertahan membiayai tiga anak gadisnya menuntut ilmu di rantau sampai selesai.

Mamak bertemu bapak di kampus IAIN Jogyakarta (sekarang adalah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga), beliau adalah salah satu aktivis kampus. Mereka menikah secara unik, yakni pesta diadakan di kampus dan dihadiri oleh mahasiswa dan dosen pada tahun 1959. Ini adalah sejarah, khususnya buat mereka berdua. Foto-foto pernikahan dan kartu undangan pun, sampai sekarang masih ada dan tersimpan rapi.

Pada tahun 1960 lahirlah anak lelaki pertama. Saat itu mamak sedang sibuk menyiapkan tugas akhirnya. Sempat keteter sampai menitipkan si anak kepada nenek di kampung. Namun semangat tidak pernah pudar, akhirnya mamak dapat menyelesaikan kuliahnya setelah bapak selesai terlebih dahulu. Kemudian mereka pulang ke Padang dan berkumpul kembali semua anak beranak.

Karir bapak dan mamak mulai stabil, mereka mengajar di universitas yang sama yaitu Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang. Kemudian lahirlah 3 anak lelaki pada tahun 1966, 1969 dan 1971. Aku adalah anak nomor 3, sebelumnya ada kakak perempuan satu. Tetapi meninggal waktu berumur 7 bulan karena meningitis. Dan katanya, aku adalah anak yang paling nakal. Karena selalu bergaduh tidak mengenal lawan apakah dia lelaki atau perempuan, hantam terus. Dan yang paling aku suka, orang bilang, sifatku lebih mirip mamak, terutama pintarnya, Alhamdulillah.

Keseharian mamak adalah mengajar dan mengurus ke 4 anak lelaki yang selalu bergaduh. Tetapi mamak dapat menghadapinya dengan tenang, rumah senantiasa dalam keadaan beres dan rapi, makanan favorit kami pun selalu tersedia. Hanya bapak yang selalu terganggu dengan ulah kami, beliau ini sering terpancing dan akhirnya marah-marah. Apabila ada yang merajuk, mamaklah penyejuknya. Nasihat mamak bagaikan air mengalir di padang pasir. Senakal-nakalnya kami, dengan nasihat mamak, bisa layu bagai bunga kena panas teriknya matahari bahkan kami dibuatnya menangis tersedu-sedu. Mamak dan bapak adalah suatu tim yang kompak. Perbedaan sifat keduanya dijadikannya penyatu, saling mengisi kekurangan satu sama lain. Mamak tidak suka ke luar rumah, maka bapaklah yang selalu bersedia pergi ke pasar untuk berbelanja atau mengurus keperluan. Bila bapak membuat penelitian, mamaklah penyumbang ide-ide cemerlangnya.

Sampai pada suatu ketika, mamak terpilih diantara calon-calon yang mendapat beasiswa belajar ke luar negeri. Dari hasil ujian, nilai mamak merupakan nilai tertinggi untuk bahasa Inggris. Kalau sekarang mungkin namanya TOEFL atau Test of English as a Foreign Language, rasa gembira menghiasi wajahnya. Mamak di terima di Macquarie University di Australia. Mulailah disiapkan segala keperluan, dari baju dingin sampai hal-hal yang sekiranya diperlukan disana. Semua sudah siap dalam koper, tinggal menunggu jadwal keberangkatan.

Menjelang keberangkatan mamak sering merenung, berdiam dalam bisu. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Bapak sudah ikhlas mengantar kepergian mamak, dan siap mengurus anak-anak serta rumah. Karena bapak tahu, ini adalah kesempatan yang tidak boleh terlewati bagi seorang mamak yang pintar dan cerdas untuk mencapai cita-citanya. Bagimanapun mamak tidak tega membiarkan ke empat arjunanya tumbuh kembang tanpa seorang ibu. Baginya menuntut ilmu adalah pekerjaan yang mulia, tetapi lebih mulia lagi menjaga dan mengurus anak-anaknya sampai mencapai cita-cita mereka. Oh mamak! Allah SWT memberikan jalan yang terbaik untuk mamak sekeluarga, mamak tidak jadi meneruskan sekolahnya ke Australia.

Keputusan mamak yang penuh perhitungan akhirnya bermuara di telaga yang indah. Mamak dapat mengantar ke empat anak-anaknya menyelesaikan sekolah yang diinginkan. Pekerjaan mamak dan bapak yang penuh dedikasi, membuat aku bertekad ingin bekerja seperti mereka. Ketika aku lulus S1 dari jurusan Kimia ITB, mamak menawarkan aku untuk melanjutkan sekolah lagi sampai aku mau, dia siap menjadi penyandang dana. Bahkan ketika aku memutuskan menikah mudapun, bapak dan mamak tidak menghalanginya, padahal aku belum bekerja. Istriku tidak keberatan, ketika aku mengatakan padanya bahwa aku ingin menjadi dosen, baginya asal halal saja itu sudah cukup. Aku menamatkan masterku di jurusan Teknik Material ITB dengan predikat cumlaude. Setelah itu aku melanjutkan S3 di Malaysia, dan mendapat beasiswa dari UTM yaitu Universiti Teknologi Malaysia.

Mamak memintaku untuk fokus dalam pelajaran, sampai dia menawarkan diri menjaga istri dan anakku di rumahnya. Istriku pun selalu mendukung aku, dia bersedia tinggal di rumah mertua sampai selesai belajarku. Dengan demikian semangatku semakin terpacu dan aku bisa menyelesaikan thesis doktorku dalam waktu 1 tahun 8 bulan, dan lulus ujian doktor dalam masa 2.5 tahun. Cepat bukan?

Dengan lulusnya program doktorku, kesempatan menjadi dosen semakin terbuka lebar, tawaran dari ITB dan UTM mulai mengalir, tapi aku masih haus untuk terus belajar. Akhirnya aku mendapat kesempatan mengikuti postdoc di Hokkaido University, Jepang. Kali ini aku memboyong istri dan kedua anakku. Mengajak mereka dengan harapan pengalaman baru akan menambah wawasan dan memperluas ruang lingkup pembelajaran. Tiga tahun setengah berkelana, cukuplah bagi kami mengais pengalaman. Pendidikan anak-anakku mulai membias dipikirannku. Bukan berarti Jepang tidak bagus untuk proses pembelajaran, tetapi ada sesuatu yang memprihatinkan. Pendidikan agama anak-anakku dan kecenderungan makanan halal yang susah didapat. Aku dan istriku sepakat kembali ke Malaysia. Alasannya adalah, pertama UTM paling gencar memintaku menjadi dosen. Kedua, pendidikan agama anak-anakku lebih terjamin dan ketiga Malaysia dekat dengan kampung halaman.

Akhirnya pertengahan tahun 2002, aku bekerja menjadi dosen di UTM. Tangga demi tangga aku tapaki, kudedikasikan ilmuku untuk mahasiwa dan penelitianku. Rasa syukur dan suka cita membelengguku tatkala aku diangkat menjadi salah satu profesor di UTM. Predikat profesor kini menyandang pundakku dalam usiaku di angka 41. Jatuh bangun proses pembelajaranku tidak ada apa-apanya dibandingkan pengorbanan mamak. Gigihnya mamak tidak bisa dibayar dengan kesuksesanku semata, tetapi aura dalam menjalani proses menuju keberhasilan itu yang terpatri dihatiku. Saat pidato pengukuhan profesorku, kujemput mamak dan bapak dalam suka cita. Kulepaskan seluruh asa yang terpancar. Ini adalah hadiah terindahku untuk Mamak. Terima kasih mamak dan bapak, berkat kalian dan doa yang tak pernah putus, semuanya bisa kuraih. Aku tetap meneladanimu, bahwa aku ingin gigih seperti kalian dan menjadi teladan juga buat anak-anakku.

Diceritakan kembali oleh penulis dari kisah suami tercinta, Prof. Dr. Hadi Nur, dosen di Universiti Teknologi Malaysia.

Etika akademis

Tulisan ini adalah opini pribadi, yang dapat diperdebatkan. Tujuannya adalah untuk memberikan perspektif (yang sebenarnya tidak baru) bahwa fungsi sebahagian universitas sekarang ini dalam kehidupan masyarakat sudah mulai bergeser. Ilustrasi di bawah ini menggambarkan opini yang terinspirasi oleh artikel yang ditulis oleh Prof. Richard Ernst, penerima hadiah Nobel kimia tahun 1991.

Saya melihat ada sebahagian universitas sudah mulai lupa pada tujuannya, yaitu mendidik manusia untuk mencari ‘kebenaran’ melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Universitas sudah mulai dijajah oleh kepentingan prestise dan juga ekonomi. Universitas harus menjadi lembaga yang bijaksana. Mengapa universitas harus menjadi lembaga yang bijaksana? Jawabnya karena lembaga ini bertugas mendidik manusia menjadi orang yang berguna dan bijaksana dalam hidupnya. Menurut wikipedia, bijaksana atau dalam bahasa Inggrisnya “wisdom” didefinisikan sebagai berikut:

“Wisdom is a deep understanding and realization of people, things, events or situations, resulting in the ability to apply perceptions, judgements and actions in keeping with this understanding. It often requires control of one’s emotional reactions (the “passions”) so that universal principles, reason and knowledge prevail to determine one’s actions. Wisdom is also the comprehension of what is true or right coupled with optimum judgment as to action. Synonyms include: sagacity, discernment, or insight.”

Universitas juga harus bebas dari segala bentuk ‘penjajahan’. Penjajahan dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk penguasaan yang ‘keterlaluan’ kepada orang lain, yang dalam konsisi yang paling parah dapat disebut sebagai penindasan. Penjajahan dalam bentuk apapun dalam kehidupan manusia dapat meninggalkan efek yang negatif. Perasaan rendah diri merupakan efek yang terjadi pada orang yang dijajah. Terdapat banyak bentuk penjajahan model baru pada zaman modern ini, sebagai contoh adalah penjajahan ekonomi, penjajahan media dan penjajahan dalam dunia akademik, yang seringkali tidak disadari oleh orang yang dijajah. Saya akan memberikan contoh bentuk penjajahan dalam bidang akademik.

Para ‘penjajah’ tentunya dengan sadar ‘menjajah’ dan mengaut keuntungan dari yang dijajah. Belum tentu yang dijajah sadar. Salah satu ciri dari mentalitas orang yang terjajah adalah, orang yang dijajah biasanya ‘mendewa-dewakan’ dan ‘mengikuti’ kehendak sang penjajah. Sebagai contoh adalah sistem ‘university ranking‘. Dapat kita lihat bahwa University Ranking (yang dibuat oleh perusahaan swasta, yang berorientasi keuntungan) dapat menyetir (menjajah) universitas-universitas yang mengejar ‘permainan’ ranking. Sebagai contoh, salah-satu kriteria ranking adalah jumlah publikasi ilmiah yang diindeks di ISI atau SCOPUS, yang kedua-duanya adalah produk dari perusahaan yang mengait keuntungan dari database jurnal-jurnal yang mereka indeks. Alhasil, universitas mencoba meningkatkan publikasi ilmiah di jurnal-jurnal yang diindeks didua perusahaan pengindeks jurnal ini. Banyak cara dan strategi digunakan oleh universitas untuk itu seperti memperketat kenaikan pangkat dengan melihat jumlah publikasi yang diindeks di ISI dan SCOPUS dan juga dengan memberikan imbalan dengan penerbitan di jurnal yang diindeks. Para dosen dan profesorpun berpikir dengan segala akalnya untuk itu. Yang paling mudah adalah dengan menggunakan para mahasiswa mereka menjadi mesin penulisan jurnal, yang seringkali dengan tidak mengabaikan ‘academic ethics‘ yang tidak mendidik. Yang terjadi adalah ‘penjajahan’ bukannya ‘pendidikan’ terhadap mahasiswa yang dibimbing. Akhirnya, naiklah jumlah publikasi ilimiah yang dindeks di SCOPUS dan ISI. Namun sayang, aspek negatif yang tidak terpikirkan dari strategi ini adalah, universitas tidak lagi menjadi tempat untuk ‘wisdom‘ dan ‘compassion‘. Yang dihasilkan adalah hanyalah orang-orang ‘opportunist‘ dan ‘greedy‘ yang lebih mengutamakan ‘hasil’ daripada proses. Mereka lupa bahwa sebenarnya tugas utama dari seorang dosen itu adalah mendidik.

Idealism dan realism mungkin dua perkataan yang dapat menggambarkan keadaan sekarang. Dalam realism-nya, apa yang ingin dicapai oleh semua universitas saat ini adalah prestise. Salah satu sasarannya adalah masuk dalam kelompok elit universitas yang mempunyai ranking yang tinggi, dan pada akhirnya mempunyai ‘branding‘ dan daya jual tinggi. Dengan prestise, orang akan melirik kita. Orang lain akan melihat kita berkualitas. Namun, hendaknyalah disadari bahwa semua itu dicapai tanpa mengabaikan idealism. Perlu diingat, dengan idealism-nya, universitas mempunyai tugas yang lebih mulia, iaitu mencetak orang-orang yang tidak hanya trampil tetapi juga bijaksana dan bermoral tinggi.

Real authors wanted

Judul tulisan di atas diambil dari majalah Nature terbitan 3 November 2011. Ternyata banyak ‘penulis hantu’ (ghost author) dan ‘penulis kehormat’ (honorary author) yang ditemui di 6 jurnal dalam bidang biomedik berimpak tinggi. ‘Penulis kehormat’ adalah orang yang sama sekali tidak berkontribusi (secara ilmiah) kepada artikel tersebut, sedangkan ‘penulis hantu’, adalah orang yang mempunyai kontribusi dalam artikel tersebut, tetapi namanya tidak dimasukkan dalam artikel.

Secara jujur, saya banyak menemui ‘penulis hantu’ (ghost author) dan ‘penulis kehormat’ (honorary author) yang saya ketahui disekitar saya !

Ini data yang diambil dari majalah Nature terbitan 3 November 2011.

Ini artikel yang dirujuk oleh Nature: http://www.bmj.com/content/343/bmj.d6128

Professional mentality of a professor

phd-comics-professoriat-hair-growth

Since I was promoted to a full professor last year, a lot of my friends call me “professor,” a title which sometimes makes me embarrassed and thinks: “Do I deserve to be called a professor?” I am still embarrassed because I feel my mentality does not reflect the professional quality of a ‘real’ professor. This article aims to describe the attitude and mindset that need to be possessed by a professor. I will strive toward it, Insha Allah.

Quality Mentality

This is the main characteristic of a professor, which is concerned with quality than quantity. Please read my article entitled Quantity or Quality? (in Indonesian). I tried to explain the importance of quality in research and teaching in that article. I think someone is not worthy of being a professor if he’s just relying on the quantity of his/her academic works only – although he/she has had long teaching experience.

Altruistic mentality

This is the second mentality that must be possessed by a professor – after he/she meets on the quality mentality. A dedication drives this mentality to teach and dissemination of his/her knowledge to others. According to Wikipedia: “Altruism is a concern for the welfare of others. It is a traditional virtue in many cultures, and a core aspect of various religious traditions, though the concept of ‘others’ toward whom concern should be directed can vary among cultures and religions. Altruism is the opposite of selfishness.“. This is very important because the professors are always dealing directly with the scientific community and students.

Educating mentality

Educating is not the same as teaching. In teaching, a professor is expected to be a role model for his/her students. It can not be said “educating” if a professor told that plagiarism is a disgraceful act, while he/she did not appreciate the hard work of students – such as by putting his/her name at the forefront of scientific publication – although all the results in scientific papers based on the outcome of hard work of students, from idea, making proposal and writing publication.

Learning Mentality

The professor should always update his/her knowledge all the time. Do not let students said he/she is not feasible as a supervisor. I once met a student who told me about this. It was very embarrassing.

Devotion Mentality

Devotion to science and knowledge is the professional mentality of a professor. There are still many “administrative professors” who do not have this mentality – where a person was appointed as a professor not because of his/her academic and scientific achievement but based on his/her administrative position. For example, a person is promoted to the rank of the professor because of his/her administrative positions such as dean or deputy rector.

Creativity Mentality

Creativity does not only belong to a professor but also by everyone. However, if the professors are not creative, there will be no discoveries generated by them.

Ethical Mentality

In this age of materialism, ethical issues are rarely addressed. Please refer to my article on this subject with the title: Scientific Ethics in Research and Higher Education in Indonesia (in Indonesian). Since the professor working in higher education, the ethic is the most important aspect to be considered and noticed.

Cara sukses mendidik anak: Pengalaman Prof. Amy Chua

Walaupun banyak yang tidak setuju, namun Prof. Amy Chua, profesor berbangsa Cina yang sekarang adalah profesor di Yale University menceritakan pengalamannya mendidik anak dengan ‘keras’. Beliau berpendapat dengan cara itulah banyak anak-anak Cina banyak berhasil dalam bidang pendidikan, musik dan olah-raga. Pendidikan dengan cara ini telah dibuktikan oleh keluarga beliau. Ayahnya, Prof. Leon O. Chua, adalah Profesor di University of California, Berkeley, dan adik beliau Prof. Katrin Chua, adalah profesor di Stanford University.

Apakah perlu kita mendidik anak kita seperti ini?

http://farm7.static.flickr.com/6088/6038612205_b5254b839b_o.jpg

Artikel lengkap yang ditulis oleh Prof. Amy Chua dapat dibaca dari link berikut ini:

Why Chinese Mothers Are Superior [3.7 MB]

Panggil saja saya ‘Cikgu Hadi’

Panggil saja saya Cikgu Hadi kata saya kepada mahasiswa saya. Walaubagaimanapun, tidak satupun mahasiswa saya yang berani memanggil saya dengan perkataan tersebut. Mereka tetap memanggil saya dengan gelar resmi di universitas, iaitu Doktor Hadi atau Prof. Hadi. Hal ini beralasan karena panggilan terkait dengan makna sosiologis dari gelaran tersebut, yang dalam ilmu sosiologi disebut sebagai status dan peran. Karena alasan status ini jugalah yang menyebabkan beberapa kawan saya marah kepada mahasiswa yang tidak memanggil diri mereka dengan panggilan yang mereka anggap tidak sesuai dengan prestasi mereka, yang (mungkin) sudah dengan susah payah memperoleh gelar doktor dan profesor tersebut.

Dalam ilmu sosiologi, status didefinisikan sebagai posisi dalam sistem sosial, seperti orang tua atau guru yang juga berkaitan erat dengan peran dan prestise seseorang yang mengacu pada perilaku yang diharapkan orang dalam status tersebut. Nah, dalam hal ini sangat beralasan jugalah saya menyuruh mahasiswa saya memanggil saya dengan gelaran ‘Cikgu’ karena inilah sebenarnya peran utama saya, iaitu mendidik dan mengajar para mahasiswa di universitas. Saya memperhatikan bahwa peran atau peranan sosial ini sudah mulai tidak diperhatikan oleh para dosen atau pensyarah yang sebenarnya adalah ‘Cikgu’ atau guru, karena mereka lebih mementingkan penelitian (research) dibandingkan dengan mengajar dan mendidik. Wallahualam bi shawab

Selamat merayakan hari Cikgu 2011!