Kritik membangun

Beberapa bulan ini, mungkin karena kesibukan, saya jarang membaca proposal dan tesis secara detail. Namun hari ini saya menemukan kelemahan yang sangat mendasar dari proposal mahasiswa PhD di Jabatan Kimia UTM setelah mendengar presentasi beliau tadi pagi. Sebelum saya memberikan komentar, saya memohon maaf dulu kepada pembimbing mahasiswa tersebut, bahwa tujuan saya memberikan komentar adalah untuk memperbaiki dan meluruskan pekerjaan PhD mahasiswa tersebut, karena tidak semua orang berlapang dada menerima kritik.


Budaya menulis

Nampaknya masyarakat kita lebih berminat dengan budaya lisan. Jika menulis, itupun untuk SMS, Whatapp, Facebook ata Twitter. Tidak terbiasa dengan menulis untuk keperluan intelektual dengan tulisan yang teratur dan analitik sifatnya. Untuk bisa menulis dengan baik, budaya membaca perlu ditingkatkan.

What can we learn from the detection of Einstein’s gravitational waves

On February 11, 2016, a group of scientists named as LIGO Scientific Collaboration (LSC) announced that they had detected gravitational wave that has been predicted by Einstein 100 years ago. I foresee this discovery will lead to a Nobel prize in 2016!

Einstein Gravitational Wave Laboratory at UTM

Coincidentally, Universiti Teknologi Malaysia (UTM) used to have a Gravitational Wave Laboratory as the backbone of Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, UTM. On June 14, 1997, UTM has received a detector to detect gravitational waves, that is, a 100-m DL laser interferometer (Tenko-100), which was awarded as a grant by the Institute of Space and Astronautical Sciences (ISAS), Japan.

Below are some explanations of the discovery:

“LIGO research is carried out by the LIGO Scientific Collaboration (LSC), a group of some 950 scientists at universities around the United States, including MIT, and in 15 other countries. The LIGO Observatories are operated by MIT and Caltech. The instruments were first explored as a means to detect gravitational waves in the 1970s by Weiss, who along with Kip Thorne and Ronald Drever from Caltech proposed LIGO in the 1980s.

This has been 20 years of work, and for some of us, even more,” Evans says. “It’s been a long time working on these detectors, without seeing anything. So it’s a real sea change and an interesting psychological change for the whole collaboration.”

So, what can we learn from this discovery:

  • Good research requires times
  • Impact of research, not impact factor for publication!
  • Appreciate that fundamental research requires critical mass
  • Research teams provide critique exchange of ideas, promote competition, and foster humility
  • Research teams are incubators of “idea-multipliers”
  • Superior researchers are intellectual “masochists”
  • They must accept the most new ideas to dead-ends
  • They must learn to accept failure, yet persevere to keep trying over-and-over
  • They live for the rare thrill of a “breakthrough”
  • Prolonged periods of personal time are required to “think deeply”
  • High-quality research cannot be done in one`s “spare time”
  • Intense concentration and “well-being” are essential

Menilai sebuah prestasi – Manusiakan universitas

Kadang-kadang kita sangat takjub bagaimana seseorang atau organisasi dapat berprestasi tinggi. Untuk menilai prestasi, digunakanlah instrumen penilaian yang terukur yang disebut sebagai Key Performance Indicator (KPI). KPI menjadi bahan perbincangan hangat di universitas di Malaysia dan juga Indonesia karena digunakan untuk kenaikan pangkat dosen atau pensyarah. Hal ini bagus karena dapat mendorong prestasi. Semua staf dinilai dengan KPI, yang terukur dan diterjemahkan kepada angka-angka. Nah, angka-angka inilah yang dikejar oleh dosen atau pensyarah. Bagaimana cara mengejarnya adalah urusan lain. Boleh dengan cara yang bijak dan manusiawi atau dengan cara sebaliknya. Cara-cara inilah yang kadangkala tidak nampak karena semuanya sudah dibutakan dengan tujuan angka-angka tersebut. Banyak indikator yang diperlukan untuk kenaikan pangkat, seperti publikasi di jurnal ilmiah, jumlah dana riset dan lain sebagainya.

Untuk mengejar angka-angka tersebut, dosen dan pensyarah mempunyai banyak strategi. Strategi yang paling manjur adalah dengan memperbudak mahasiswa. Hal ini sama sekali tidak boleh dilakukan oleh seorang dosen atau pensyarah, karena tujuan seseorang menjadi dosen atau pensyarah adalah untuk mendidik mahasiswanya. Saya melihat sendiri kolega yang “mempergunakan” mahasiswanya untuk mengejar KPI dengan cara yang saya nilai tidak patut. Tersenyumpun mahasiswa tersebut tidak bisa karena dilingkungi oleh suasana stress yang berlebihan karena ditekan untuk mengejar KPI dosen atau pensyarahnya. Dosen atau pensyarah tersebut dapat berkilah jika ditanya kenapa mereka melakukan hal tersebut. Jawabannya adalah, ini adalah bahagian dari proses pendidikan katanya. Tentu hasilnya dapat kita bayangkan. Produktivitas dalam menghasilkan data-data penelitian dan akhirnya publikasi meningkat. Nah, apakah ini dapat kita lihat sebagai sebuah prestasi? Kita perlu bijak melihat hal ini, terutama untuk saya dan juga rekan-rekan yang bekerja di universitas. Jangan lupa, tujuan utama sebuah universitas didirikan adalah untuk mendidik generasi penerus. Pikirkan dan renungkanlah.

“Memanusiakan manusia”, kata Profesor Fuad Hassan, mantan menteri pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia. Atau “Humanizing the University”, kata Profesor Graham Spainier, mantan presiden University of Penn State.

Humanizing the University
Graham Spanier
January 01, 2000

Early in my presidency at Penn State one of our deans called me, concerned that one of the college's best young faculty members, a rising star, was about to leave for another institution. "Please call and convince this person to stay," the dean asked. I invited the faculty member to meet with me. I can be persuasive, and I certainly tried to be.

I learned that this recently tenured associate professor had an offer from a top-ten department, whereas our department at Penn State was currently ranked in the second ten. The salary was going to be the same, so that wasn't an issue. We had given a huge amount of support during the faculty member's tenure here, favorable teaching assignments, release time to get a research program going. No complaints. I then proceeded to hear an analysis of the comings and goings of people in the field, an analysis of likely future ranking shifts due to retirements and hires, and other variables that reflected an undebatable, yet cold-blooded logic about academic hierarchies. The analysis gave me the chills. By the end of our conversation, I was almost glad this person was leaving. Why? Because I found, in listening, no attachment to Penn State after eight years, no feeling of gratitude for all that departmental colleagues had done, no expression of emotional attachments to Penn State students, in short no compelling reason to stay.

Nationwide, there is a conversation occurring about how to get faculty to be more actively involved with their universities. Many faculty members are really independent operators who are only marginally tied into the life of the university. Their allegiance is not to the institution for which they work, but to their discipline nationally and internationally, an orientation that tends to be reinforced by the academic reward structure. Hiring, promotion, and tenure decisions are based in the department, or college, and the department's strongest frame of reference is its academic discipline viewed globally. Our nation's research universities have spawned two faculties: those who do and those who don't—those who believe it is their responsibility to engage fully with each cohort of students and those who do not see this as their primary responsibility.

Must this be viewed as an "either/or" struggle? I believe an allegiance to one's university, pride in our shared mission and stature, commitment to our students, and loyalty to our colleagues can be entirely compatible with standards of academic excellence, prominence as a scholar, and national recognition as a department. I wish to challenge our faculty in particular to get more involved in the lives of our students.

I prefer not to fault individuals, since this situation exists at all leading universities. It is a situation of our own collective making. And despite all protestations to the contrary, we continue to orient the reward structure so that interaction outside the classroom with undergraduates counts for very little. To be honest, every experienced department head can point to casualties—cases of junior faculty members ultimately denied tenure because they became so immersed with student advising and programming that they neglected their scholarship. So let's admit up front that we indeed expect an exceptional level of scholarship from our faculty. Balance is the key. Balance.

Graham Spanier, Ph.D., is the president of Penn State. He holds four academic appointments—as professor of human development and family studies, sociology, demography, and family and community medicine. This essay is an excerpt from his 1999 State of the University Address.

Psikologi dari publikasi ilmiah

Sudah semua maklum dan mengetahui bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia. Dalam tulisan ini, saya ingin mengaitkan perilaku dengan publikasi ilmiah. Publikasi ilmiah adalah tulisan ilmiah yang dipublikasikan oleh manusia yang melakukan penelitian. Biasanya publikasi ilmiah ini diterbitkan di jurnal-jurnal ilmiah. Ada jurnal ilmiah yang ternama dan ada pula jurnal yang hanya sekadar untuk menampung tulisan-tulisan ilmiah yang tujuan dipublikasikannya adalah hanyalah untuk keperluan bukan ilmiah. Idealnya, tujuan untuk mempublikasikan hasil penelitian adalah untuk menyebarkan ilmu pengetahuan dan juga untuk mengembangkan ilmu itu sendiri. Namun, sekarang ini, itu bukan menjadi tujuan yang utama. Kadang-kadang hanya untuk menaikkan prestige universitas. Ada yang namanya impact factor dan h-index, yang merupakan istilah yang dipakai untuk keperluan bibliografi. Jujur saja, saya tidak mengenal istilah ini sewaktu saya postdoc di Hokkaido University tahun 1999-2002. Pada waktu itu, hal yang saya pikirkan adalah bagaimana membuat penelitian dengan sebaik-baiknya dan mempublikasikan di jurnal yang dikenal.

Melihat perkembangan saat ini, universitas-universitas di negara-negara berkembang lambat laun ingin meningkatkan profile universitas mereka sehingga menjadi universitas yang dikenal. Salah satu caranya adalah mengikut kriteria ranking yang ditetapkan oleh badan-badan tertentu, yang sebahagian dari badan-badan tersebut adalah perusahaan swasta, contohnya adalah QS Quacquarelli Symonds Limited. Sudah pasti tujuan utama dari perusahaan swasta ini adalah mendapat keuntungan finansial. Caranya adalah, mereka menetapkan kriteria ranking, dan universitas-universitas yang ingin masuk ranking mengikut program-program yang dibuat oleh perusahaan ini, yang biasanya mahal, untuk meningkatkan ranking mereka. Salah satu kritera dari ranking adalah jumlah dan juga citation dari publikasi ilmiah. Alhasil, banyak strategi dan upaya dilakukan, diantaranya adalah dengan memberikan reward oleh universitas. Contohnya adalah dengan insentif berupa uang dan kenaikan pangkat atas hasil publikasi ilmiah.

Alhasil, hal ini memberikan dampak yang saya pikir tidak begitu sehat dalam dunia pendidikan tinggi, dan juga mengubah perilaku. Tidak dipungkiri, ada yang menjadi lebih baik, dan ada juga sebaliknya. Ini yang saya sebut sebagai psikologi dari publikasi ilmiah. Semua orang berlomba-lomba untuk mengejarnya. Ada yang ‘licik’ dan ada pula yang ‘idealis’. Sifat ‘licik’ dan ‘idealis’ dapat dengan mudah dilacak dari profile publikasi mereka melalui Google Scholar, Scopus dan juga Researcherid. Salah satu kelicikan yang mudah nampak dari publikasi diantaranya adalah, ‘self-citation‘ dan mempublikasikan hasil penelitian yang mirip-mirip di berbagai jurnal (untuk meningkatkan jumlah). Karakter seseorang dapat terbaca dari psikologi dari publikasi ilmiah ini. Ada beberapa orang yang saya kenal yang karakternya sangat tepat digambarkan oleh cara mereka publikasi.

The power of ideas in scientific research

One believes that the use of the sophisticated equipment is an important factor in the success of the scientific research particularly in the field of heterogeneous catalysis. Not all the good research depends solely on modern equipments. Sometimes, in my opinion, the idea of research is the most determining factor compared to the equipment to produce high impact researches. I always tell my students that the scientist is a ‘problem seeker‘, not ‘problem solver‘. Below (please click the link at the end of this article) is the publication was published when I was a postdoctoral researcher at Hokkaido University. Through a good idea the research was published in a prestigious journal. Here, we only use a gas chromatograph as the only one analytical instrument. This proves that this manuscript published not based on the use of sophisticated equipment but based on a novel idea. In this research, we proposed a new concept in heterogeneous catalysis termed as as ‘Phase Boundary Catalysis‘. Another example of our research was powered with a novel idea was ‘Synthesis of well-aligned titanium dioxide with very high length to diameter ratio synthesized under magnetic field‘. In this paper, we demonstrated for the first time to control the synthesis of titanium dioxide containing surfactant by a simple technique under a magnetic field. This research was a topic of my PhD student.

Mau dibawa kemana pendidikan kita?

[Tulisan ini adalah bahan renungan untuk kita memikirkan kemana tujuan pendidikan di universitas]

Kemaren saya jalan-jalan ke toko buku di Jusco Tebrau, Johor Bahru dan menemukan buku di bawah ini yang berjudul “A Whole New Mind: Why Right-Brainers Will Rule The Future” karangan Daniel H. Pink. Saya sempat memfoto sampul belakang buku tersebut, yang saya foto secara diam-diam (karena dilarang dilakukan di toko buku). Setelah saya telurusi di internet, ternyata buku ini adalah salah satu buku “New York Times bestseller“.

Adalah menarik, karena dalam buku tersebut dijelaskan bahwa untuk memasuki zaman konseptual (conceptual age), manusia perlu diasah untuk memanfaatkan “otak kanan” mereka. Orang yang ber-otak kanan adalah orang yang berperan dimasa sekarang dan masa yang akan datang. Kenapa? karena kemampuan otak kiri lambat laun akan digantikan oleh otomasi dan komputer. Pada zaman pertanian, industri dan informasi (zaman sekarang), ekonomi dan masyarakat dibangun di atas landasan logis dan kemampuan seperti kemampuan komputer. Gambar di bawah ini menggambarkan bagaimana otak kiri dan kanan berfungsi.

Di zaman sekarang, pengetahuan dan pemikiran manusia diarahkan untuk membentuk masyarakat yang lebih cenderung mempunyai kemampuan memanfaatkan otak kiri. Lihat saja, negara-negara maju banyak mencurahkan waktu dan dana untuk menghasilkan manusia yang mempunyai kemampuan otak kiri yang hebat. Tes-tes yang menguji otak seperti PSAT, SAT, GMAT, LSAT, MCAT telah menjadi alat yang sangat penting untuk masuk dalam masyarakat elit dan kelas menengah.

Nah, menurut Daniel H. Pink, dalam zaman konseptual, zaman yang akan datang setelah zaman informasi sekarang, kemampuan otak kanan akan lebih banyak digunakan. Terjadi pergeseran dari “otak kiri” ke “otak kanan”. Di zaman konseptual, kita perlu dilengkapi oleh enam hal seperti di bawah ini.

• Tidak hanya fungsi tetapi juga DESAIN
• Tidak hanya argumen tetapi juga CERITA
• Tidak hanya fokus tetapi juga SYMPHONY
• Tidak hanya logika tetapi juga EMPATI
• Tidak hanya keseriusan tetapi juga BERMAIN
• Tidak hanya akumulasi tetapi juga MAKNA

Secara ringkas, penjelasannya adalah seperti berikut:

DESAIN – Bergerak melampaui fungsi dengan melibatkan estetika.
CERITA – Kemampuan bercerita, bukan hanya argumen.
SYMPHONY – Menambahkan inovasi dan tidak hanya fokus kepada hal-hal rinci.
EMPATI – Di luar logika dan melibatkan emosi dan intuisi.
BERMAIN – Membawa humor dalam kehidupan sehari-hari.
MAKNA – memberikan makna bagi kehidupan.

Seperti yang diperlihatkan dalam gambar “otak kiri dan kanan” di atas, hal-hal yang disebutkan di atas akan membawa kebahagiaan hidup. Kebahagian tersebut didapatkan dari melakukan pekerjaan memuaskan, menghindari emosi yang negatif, jaringan sosial yang kaya, bersyukur dan optimisme.

Kembali lagi kepada perenungan. Universitas yang hanya mementingkan angka, seperti impact factor dari publikasi ilmiah, daripada proses yang lebih memberdayakan “otak kanan” akan menghasilkan orang-orang yang digambarkan oleh gambar “otak kiri” (silahkan lihat gambar di atas).

Hadi Nur (Guru kimia di Universiti Teknologi Malaysia)